
Shanty sedang mondar-mandir sambil mendengarkan penjelasan mamanya. Kalula mendengar suaranya samar-samar dari sofa ruang tamu.
Kalula begitu cemas. Kalau ia ditolak di kost, mau menginap dimana ia malam ini? Di kost Roby? Arghhh!
Kalula mengalihkan rasa cemasnya dengan menatap koper. Bukan kopernya. Kopernya berukuran sedang. Yang ia lihat adalah koper besar milik Shanty.
Kalula belum tahu saja kalau barang-barang itu milik Shanty. Sejak kemarin koper itu masih teronggok di sini. Ia belum sempat membereskan ke kamarnya lagi karena terlalu lemas oleh serangan mual trimester pertama kehamilannya.
Shanty yang awalnya pindah ikut suaminya setelah menikah memilih kembali ke rumah mamanya yang tinggal sendirian ini karena keputusan bersama.
Ya, setelah memutuskan resign dan fokus dengan kehamilannya, Shanty malah mendapatkan kejutan yang lain. Suaminya harus tugas luar kota beberapa bulan.
Masalahnya luar kota yang dimaksud adakah daerah agak pedalaman, dimana akses rumah sakit dan yang lainnya cukup jauh dan sulit. Jadi suaminya menyarankannya untuk kembali ke rumah mamanya agar tidak sendirian dan ada temannya. Ia bisa pulang beberapa bulan sekali nanti selama tugas.
Selama hamil, memang lebih tenang rasanya kalau didampingi ibu sendiri. Suami Shanty pun akan lebih tenang meninggalkan istrinya. Maka keputusan itulah yang mereka ambil.
Setelah bosan menatap koper, Kalula akhirnya melirik ke arah sebuah map bertuliskan "Gantara Group."
Map itu berisi dokumen resign milik Shanty yang ia bawa dari kantor tadi. Yang Kalula tidak tahu Gantara Group adalah nama perusahaan keluarga Edward yang sekarang dikelola mamanya.
Namanya saja 'Gantara.' Diambil dari nama 'Megantara' yang merupakan nama belakang Edward.
Edward Antono Megantara...
Setelah sekian menit menunggu, akhirnya Shanty muncul. Mulutnya sudah setengah terbuka hendak bicara, tapi ia langsung menutup mulut dan berlari ke belakang lagi.
Ya, ia mual lagi.
Kalula dan Roby saling berpandangan lagi.
"Kayaknya hamil, Kal. Kakakku juga begitu waktu hamil keponakanku." Roby menyeletuk.
"Emang iya? Mungkin juga bisa jadi dia lagi sakit, Rob. Kasihan sampai pucat gitu. Aduh, malah tambah bingung aku. Jadi gimana keputusannya, ya. Apa aku bisa langsung nempatin kost di belakang rumah ini? Kalau nggak boleh aku harus nginep dimana Rob?" Kalula agak berbisik.
__ADS_1
Suara Shanty yang mual-mual terdengar samar-samar.
"Di tempatku dulu kalau terpaksa. Nanti aku nginep di tempat temanku, di samping kamarku. Bisa sih. Cuma harus ngumpet-ngumpet karena tempatku kost khusus putra." Roby mencoba menenangkan Kalula padahal ia sendiri tidak yakin bisa lolos menyelundupkan seorang gadis ke kost-nya.
Kalula mencoba berpikir positif dengan penuh harap. Sampai akhirnya Shanty muncul lagi dan minta maaf karena tadi malah langsung kabur ke belakang.
"Mbak Shanty sakit? Mbak nggak papa, kan?" Kalula yang rasa empatinya tinggi bertanya dengan cemas.
Shanty hanya tersenyum dan menggeleng.
"Tenang. Saya nggak papa. Cuma mual hamil biasa, kok," jawabnya.
Lalu Kalula dan Roby saling berpandangan lagi dan kompakan bilang "Oh."
"Jadi, Kal. Kuncinya kebawa Mama. Tadi udah disiapkan karena dipikir kamu datangnya sore. Nah, karena Mama buru-buru pergi, kuncinya kebawa di tasnya. Soalnya tadi gugup banget begitu dengar kabar dari saudara.
Nah, karena sudah malam, kalau mau kamu nginep aja deh di sini. Sambil nunggu Mama pulang. Kunci duplikatnya soalnya juga lupa ditaruh dimana. Maklum, Mama udah tua, agak pelupa.
Shanty menjelaskan dengan tenang dan solutif.
Kalula menatap Roby yang mengangkat bahu, seolah ingin bilang, "Terserah kamu, Kal."
"Oke, Mbak. Nggak papa. Saya mau Mbak. Jadi saya di sini sementara? Bayarnya gimana, Mbak?" Kalula memutuskan. Tangannya sudah meraba tas untuk mengambil uang pinjaman dari Roby.
"Oh, besok aja sama Mama. Kamu tinggalin KTP kamu aja buat jaminan dan keamanan. Yaudah ini kakak kamu mau pulang, kan? Cuma nganter aja, kan?" Shanty menatap Roby.
"Eh, i--iya, Mbak. Saya pulang kok habis ini. Kalau gitu saya pulang ya, Mbak. Titip adik saya." Roby mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum ke arah Kalula.
Kalula mengangguk dan ikut berdiri ketika Roby pamit. Oh, ingin rasanya ia mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Roby. Tapi kalau ia bilang di sini takut sandiwara kakak adik palsu ini terbongkar di depan Shanty.
Setelah Roby pergi dan Shanty kembali setelah mengunci kembali pintu gerbang rumah, Kalula diarahkan ke sebuah kamar di dekat tangga.
Shanty bilang dulu kamar ini ditempati sepupunya yang dari luar kota. 5 tahun ia tinggal sini karena kampusnya dekat sini. Tapi sekarang dia sudah lulus dan kembali ke kotanya.
__ADS_1
"Mama kesepian setelah Lona balik ke kotanya. Apalagi habis itu aku nikah. Aku sih bingung mau gimana. Aku kasihan Mama sendiri, tapi suami aku pengin aku tinggal di rumahnya."
Sambil membantu Kalula mengganti seprei dan sarung bantal, Shanty malah bercerita banyak. Bahkan ia menceritakan juga kenapa ia pindah ke sini lagi. Ia menjelaskan soal tugas suaminya ke luar kota dan yang lainnya.
Sekarang Kalula baru paham kenapa ada koper besar di ruang tamu tadi. Ternyata milik Shanty yang baru kemarin sore pindah ke sini lagi.
"Saya tadinya kerja, Kal. Jadi asisten pribadi nyonya pengusaha. Orangnya baik banget. Ya kesannya agak galak, sih. Tapi aslinya baik. Lima tahun aku kerja sama dia. Dia itu yang punya Gantara Group. Bisnisnya banyak. Tempat gym, salon, toserba, resto, cafe. Cafe di dekat sin...,"
"Huek!"
Belum sempat melanjutkan kata-katanya Shanty sudah lari ke belakang lagi karena diserang mual.
Padahal ia hampir bilang soal cafe tempat Kalula kerja. Andai ceritanya lengkap, Kalula pasti sadar. Oh, mantan boss Mbak Shanty ini mamanya Edward.
Tapi ternyata kata-kata Shanty malah terpotong.
Kalula menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan menghampiri Shanty yang sedang berdiri sambil memegangi perut.
Setelah diperhatikan dari dekat, memang keliatan agak membuncit sih perutnya. Walaupun belum terlalu terlihat jelas. Namanya saja hamil muda.
"Aduh, sorry, Kal. Aku masih mual-mual terus. Oh ya, kamar mandinya di sana ya. Kamu bisa pakai. Kalau haus atau lapar di kulkas juga ada makanan. Ambil aja jangan sungkan." Shanty menjelaskan dengan sangat ramah sebelum berlalu pergi masuk ke kamarnya.
Kalula mengangguk berterima kasih. Oh, beruntunganya malam ini ia tak jadi gelandangan di luar sana. Sudah dibantu Roby, dipinjami uang, diizinkan menginap sementara, disambut baik dan ramah begini pula. Ia merasa terharu.
Kalula lalu memutuskan untuk mencuci muka saja dan tidak mandi. Sudah terlalu malam. Ia takut sakit.
Kalula berjalan menuju sofa lagi untuk mengambil koper dan tasnya untuk dibawa ke kamar. Saat melewati meja di mana ada map berlogo "Gantara Group," ia rupanya masih belum sadar juga.
Ah, padahal takdirnya bersinggungan dengan begitu dekat dengan logo itu.
Hanya menunggu waktu saja sampai garis takdir itu bertemu. Semesta selalu tepat waktu mengatur semuanya.
Bersambung ...
__ADS_1