
Mata Kalula terasa hendak berlinang tapi ia menahannya. Ia melawannya. Ia tak mau menangisi mimpinya yang direbut Edo.
Bukankah Kalula yang sebenarnya terobsesi mengejar beasiswa ke Tokyo? Cita-citanya adalah suatu saat nanti ia dan Edo akan datang bersama ke tempat itu.
Mereka sama-sama berasal dari golongan orang yang tak terlalu mampu. Disneyland itu terasa tak terjangkau. Dulu ketika teman-teman sekolah mereka habis liburan ke luar negeri, mereka hanya bisa mendengar ceritanya saja dan membayangkan betapa serunya Disneyland di Jepang.
Dan sekarang ternyata Edo-lah yang lebih dulu datang ke tempat itu. Tapi bukan bersamanya, melainkan bersama Seira-gadis antah berantah yang sialnya cantik. Bahkan Kalula merasa Seira lebih cantik darinya.
Kalula tidak ingin menangis lagi. Mungkin hatinya sudah terlalu lelah. Ia malah akan makin merasa menyedihkan kalau hanya bisa menangisi Edo yang sedang bersenang-senang di sana. Ia justru marah.
Edo menghianatinya lebih dari sekedar hubungan pacaran. Edo merebut mimpinya dan Kalula benci itu!
Ah, andai saja ide konyol itu tak muncul. Pasti Edo tidak akan mendapatkan beasiswa dan berangkat ke Tokyo. Pasti mereka akan masih baik-baik saja. Sibuk cari kerja sana-sini, menabung untuk biaya kuliah tahun depan, lalu tahun depannya lagi uangnya terpakai. Dan mereka bekerja keras lagi untuk tahun depannya, begitu terus tapi mereka tetap bersama dan bahagia.
"Udahlah, Kal. Mungkin memang bener sih kata Edo. Kemungkinan Seira bohong soal hubungan mereka biar Seira merasa menang taruhan aja sama aku soal siapa yang duluan punya pacar.
Tapi mereka sekarang lagi jalan berdua, tuh. Apa nggak mencurigakan. Aku sih nggak mau ikut campur ya sepupuku mau dekat sama siapa. Toh mungkin Edo juga ngaku nggak punya pacar di depan Seira. Bisa aja, kan?"
Mulut beracun Edward yang tampan mulai lagi memantra-mantrai pikiran Kalula yang kalut dan mudah terhasut.
"Iya, Ed. Aku aja yang bodoh. Seharusnya aku memang nggak ngasih dia kesempatan kedua setelah kesalahannya yang pertama. Sekarang keulang lagi, kan? Aku yang repot sendiri. Aku yang merasa makin sakit hati," ucap Kalula yang lalu menggeletakkan handphone-nya ke karpet.
Edward tertawa. Bukan menertawakan kesialan Kalula. Tapi lebih menertawakan ekspresi Kalula yang tidak lagi menangis. Ia terlihat tegar tapi bukan sok tegar. Ia terlihat seperti sudah rela saja dengan semua ini.
"Kenapa ketawa?" tanya Kalula sambil memiringkan posisi tidurnya ke arah Edward.
"Enggak. Aku pikir kamu bakal nangis-nangis lagi. Baguslah, Kal. Sayang air mata kamu. Mendingan kita jalan juga, yuk. Jangan kalah sama Seira dan Edo.
Jalan ke mana aja, lah. Yang penting jalan. Jalan kaki boleh, naik kereta boleh," ucap Edward.
__ADS_1
"Oke, yuk. Aku mandi dan ganti baju dulu kali, ya. Kok kamu nyaman sih dari pagi deket-deket aku yang belum mandi. Mentang-mentang libur kerja," ucap Kalula yang langsung duduk dan meregangkan tangannya. Tiba-tiba ia merasa punya semangat kembali.
Ada perasaan macam dendam dan keinginan untuk membalas Edo.
Oke, Edo jalan sama Seira. Seira si pirang yang wajahnya setengah bule. Kalula tahu dari segi wajah maupun fisik, Seira adalah tipe Edo.
Jadi sekarang, mari dendam dengan jalan bersama Edward. Edward si pria mata cokelat yang kalau dibandingkan dengan Edo secara fisik maupun wajah, Edo akan kalah jauh.
Kalula tak tahu saja, tindakannya ini makin membuat hubungan mereka yang sudah di ujung jurang makin terdesak hampir jatuh tak tertolong.
Dan yang makin mendorongnya jatuh ini adalah Edward yang ia sangka sedang menolongnya. Edward yang kini senyumnya makin lebar padanya.
"Kamu pikir aku udah mandi, Kal? Aku belum mandi juga. Dari semalam terlalu sibuk menemani kamu menangis." Edward tertawa dan Kalula pun ikut tertawa dengan tawa renyahnya.
Oke, jadi beginilah akhirnya. Edo dengan kelelahannya pada hubungan ini. Dan Kalula dengan kejenuhannya akan sikap Edo.
Bubar jalan. Semua jalan sendiri-sendiri, dengan sosok pengganti masing-masing.
Edward menatap Kalula yang tersenyum senang mengunyah gulali sambil naik bianglala murahan di pasar malam kampung pinggiran itu.
Mereka tadi jalan-jalan saja sambil mengobrol. Hingga sore berubah menjadi malam dan keramaian tempat hiburan menengah ke bawah ini menarik perhatian Kalula.
Ia menarik tangan Edward yang seumur hidupnya baru pertama kali datang ke tempat seperti ini.
Sebenarnya Disneyland atau tempat serupa manapun di belahan bumi ini sudah pernah ia kunjungi. Ia sudah jalan-jalan ke manapun keliling dunia sejak kecil, karena waktu papanya masih ada dulu ia sangat dimanjakan.
Selain karena anak tunggal, dulu Mama Edward alias Nyonya Amelia santono hobi sekali berjalan-jalan.
"Seru nggak, Ed? Kamu belum pernah datang ke tempat kayak gini, ya?" tanya Kalula di tengah suara hiruk pikuk musik pinggiran yang terputar dari speaker bersuara pas-pasan.
__ADS_1
"Belum. Kamu suka, kan? Ini lebih keren daripada Disneyland." Edward tertawa senang. Tawa sungguhan yang tak ia buat-buat. Ia senang bukan karena tempatnya, tapi karena orang yang ada di sampingnya, yaitu Kalula.
Kalula ikut tertawa. Padahal dalam hati ia masih menyimpan sedikit sakit hati dan dendam. Disneyland di Jepang adalah mimpinya, bukan pasar malam di lapangan becek begini.
Setelah pusing mencoba aneka wahana dan hanya berjalan-jalan saja, akhirnya Edward memaksanya mampir ke sebuah restoran cepat saji ketika perjalanan pulang. Ia tahu Kalula lapar setelah dari pagi ia tak menyentuh makanan apapun karena terlalu menikmati patah hati.
"Aku yang traktir, Kal. Masih ada kok uangnya. Kan bentar lagi gajian." Edward memaksa. Padahal kartu di dompetnya berjajar tanpa limit.
Kalula mengangguk karena tangan Edward menariknya masuk. Mereka memilih duduk di dekat jendela lebar itu, yang berhadapan dengan trotoar rindang dengan latar belakang gedung tinggi perkotaan.
Mereka makan sambil bercanda tawa. Kalula benar-benar bisa sejenak membuang Edo dari pikirannya ketika Edward bersamanya.
Kalula tak tahu, malam itu Karina lewat jalan di dekat tempat ia duduk bersama temannya.
Karina si adik tiri yang kelakuannya sebelas dua belas dengan Mama Sastri itu menatap sinis dengan kata nanar.
Cekrek!
Karina mengambil foto Kalula yang makan lahap sambil tertawa-tawa.
"Awas! Gue aduin ke Mama! Udah blokir nomor gue, nggak pulang, nggak ngasih uang, eh malah enak-enakan sama cowok. Makan enak lagi. Gue sama Mama di rumah makan nasi sama garam! Biar besok Mama cari lo ke tempat kerja. Biar lo malu! Biarin!"
Karina lalu berlari cepat menyusul teman-temannya.
Kalula tak tahu soal keberadaan Karina yang sepintas itu karena terlalu fokus mengobrol dengan Edward.
Ya, Karina si tengil. Mama Sastri memperlakukannya seperti tuan putri, sedangkan Kalula diperlakukan seperti pembantu.
Karina yang masih SMP itu pintar mengadu. Ia tahu Mama Sastri akan makin kesal kalau tahu ternyata Kalula hidup enak setelah keluar dari rumah.
__ADS_1
Sastri yang tak tahu malu dan nekat bisa berbuat apapun, termasuk mencari Kalula ke tempat kerjanya dan membuat keributan.
Bersambung ...