
Sementara mamanya sedang menjebak Kalula dan membujuknya bercerita dengan polos, Edward justru sedang termenung di ruangan Dika.
Dika duduk di depannya dengan takut-takut.
"Pak, Bapak yakin mau melakukan ini? Kasihan Kalula, Pak. Bapak dengar sendiri kan suaranya bergetar menahan tangis waktu saya bilang mau pecat dia," ucap Dika dengan perasaan bersalah.
Edward diam saja. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela. Tangannya mengetuk-ngetuk meja sambil melamun. Ia bingung apakah langkah ini tepat? Apa cara yang ia tempuh akan berhasil?
Memang sedikit kejam sih. Dika yang disuruh pura-pura marah dan menggertak saja tak tega. Tapi Edward tak punya pilihan lain.
Masalahnya Kalula benar-benar seperti sudah tidak ingin mengenalnya lagi. Ia menghilang dan tidak muncul di cafe. Edward panik. Ditambah lagi pesannya tidak dibalas, teleponnya tidak diangkat.
Yang Edward tidak tahu, Kalula sebenarnya tak bermaksud begitu. Ia hanya belum sempat saja mengecek ponselnya. Dari pagi ia sibuk mengurus Shanty dan mondar-mandir mengurus dokumen rumah sakit.
Edward makin dibuat frustasi karena tidak tahu di mana keberadaan Kalula. Dia sudah berusaha mencari ke tempat kost di Gang Cendana alias kost Bu Rudy yang saat ini dijaga sementara oleh Shanty. Tapi sampai sana ia bingung sendiri.
Ya, Edward benar-benar ke sana barusan karena ia ingat betul waktu itu ia menemani Kalula mencari kost di sana. Tapi kost putri itu tertutup rapat pintu gerbangnya. Ia tentu tidak bisa masuk karena itu kost khusus putri.
Edward lalu ingat tempat tinggal ibu kost-nya yang letaknya tidak seberapa jauh dari tempat kost itu. Tapi pintu gerbangnya juga tergembok rapat dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Ketika buntu dan tidak menemukan petunjuk apapun akhirnya Edward kembali menemui Dika di cafe untuk menelepon Kalula.
Edward mencoba mencerna kata-kata yang ia dengar dari Kalula barusan. Keadaan darurat? Menolong orang jatuh dan keguguran? Apa cerita ini nyata? Atau mengada-ada? Sungguh ia bingung.
Terbersit ketakutan di hati kecilnya kalau Kalula membual untuk menghindarinya.
__ADS_1
"Sudahlah, Dika. Saya nggak punya cara lagi biar dia mau menghubungi saya langsung. Saya akan di sini. Siapa tahu dia memang nggak mau nelpon saya lagi dan memilih untuk menemui kamu di sini seperti kemarin." Edward benar-benar tidak kau mendengar opini Dika.
Dika hanya mengangguk. Ah, anak buah bisa apa sih kalau suaranya saja tidak didengar boss-nya.
Dika keluar dari ruangannya dan mengecek cafe. Tinggallah Edward sendirian di ruangan ini. Pria kaya yang tampan itu memelototi layar ponselnya.
Mungkin ia berharap Kalula secara menghubunginya.
Tapi hampir setengah jam menunggu, tak ada satu notifikasi pun yang masuk dari Kalula.
Edward tak tahu Kalula masih sibuk dengan mamanya. Mamanya benar-benar mengoreknya habis-habisan.
***
Kalula entah mengapa merasa nyaman dan percaya saja dengan mama Edward yang ia panggil Bu Amel itu.
Dan ketika Amelia Santono yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu itu mengajaknya bicara dengan lemah lembut dan pengertian, hatinya terenyuh. Apalagi Amelia Santono tidak segan untuk menyentuh tangannya, menepuk pundaknya, mengelus rambutnya, dan memperlakukannya seperti anak gadisnya sendiri.
"Malangnya nasibmu, Kal. Tapi saya penasaran kenapa kamu menolak dan menjauh dari bos kamu yang kaya itu. Bukannya dia bilang dia mencintai kamu dengan tulus? Dia juga membantu kamu waktu kamu susah.
Dia kan kaya. Maaf, bukan bermaksud untuk meredakan status sosial kamu. Sebagaimana saya tahu, tapi kebanyakan gadis di luar sana tentu tidak akan pernah bisa menolak pria kaya, kan?" Amelia Santono kini benar-benar ingin mendengar jawaban Kalula dengan jujur.
Amelia Santono merasa kalau Edward ikut memilih wanita dari kalangan biasa maka ia hanya akan dimanfaatkan uangnya. Ya walaupun Edward sudah membuktikan kalau pilihan mamanya dulu juga menyukainya karena harta saja. Tapi tetap saja Amelia Santono ingin calon menantunya itu gadis kaya juga.
Kalula menatap ke arah pepohonan yang bergoyang-goyang ditimpa angin dengan tatapan menerawang. Bibirnya tersenyum kecil.
__ADS_1
"Entahlah, Bu. Baru-baru ini setelah tahu kalau mama yang saya anggap mama kandung saya ternyata mama tiri, saya jadi berpikir ulang. Dulu mama tiri saya itu bilang kalau sudah besar nanti saya harus bekerja keras dan menghasilkan banyak uang.
Atau kalau tidak saya harus menikahi pria kaya. Ya, itu definisi sukses menurut dia. Terbukti kan selama ini saya diporotin terus sampai bahkan beli sepatu yang layak pun saya nggak mampu karena uang saya habis untuk mereka," ucap Kalula sambil menunduk menatap sepatunya.
Amelia Santono ikut menatap kaki Kalula dengan spontan. Ya ampun! Memang benar sepatu Kalula sangat butut.
Amelia Santono lalu menatap sepatunya sendiri yang mengkilat dan mahal. Mungkin kalau sepatunya dibelikan sepatu biasa macam sepatu Kalula bisa untuk membeli sepatu satu toko. Amelia Santono yang menyukai barang-barang branded sangat tidak relate dengan Kalula yang sepatunya sudah butut dan solnya hampir lepas itu.
"Tapi bagi papa saya, yang penting saya bahagia. Papa tahu saya punya mimpi untuk kuliah di luar negeri. Papa selalu membela saya kalau mama saya nyuruh-nyuruh saya bantu pekerjaan rumah. Saya suruh disuruh belajar. Dan saya memang suka belajar.
Dari SMP saya selalu mendapat beasiswa, jadi tidak pernah bayar uang sekolah. Itu cukup meringankan papa saya. Papa sudah menganggap saya sukses karena hal itu. Dia bilang dia bangga.
Lalu saya tamat SMA dan bekerja serabutan sana-sini hingga lolos seleksi beasiswa sampai tahap wawancara. Tapi sayangnya saya gagal. Malah pacar saya yang sekarang putus ini yang lolos. Sekarang dia di Tokyo
Sedih ya, Bu. Lalu boss saya itu datang menghibur kesedihan hidup saya. Saya cukup senang akan itu sampai akhirnya saya tahu dia membohongi saya soal identitas aslinya.
Kalau saya gadis biasa, tentu saya tidak masalah dan menerima cintanya. Ya walau saya harus pura-pura mencintainya agar hidup saya terangkat. Saya bisa minta uang dia, atau memanfaatkan kekayaannya yang lain.
Tapi saya tidak bisa bohong sama perasaan saya. Saya tidak serendah itu. Bagi sayang yang hidupnya sudah hancur berantakan dan bertahan susah payah begini, apa sih yang membuat kita bahagia. Ya, cinta.
Dan saya tidak cinta pada bos saya itu. Mungkin belum. Mungkin saya bisa jatuh cinta kalau saya diberi waktu dan kesempatan untuk mengenal dia dengan lebih jauh lagi. Saya tahu pada dasarnya dia baik.
Tetapi dia sudah mencederai kepercayaan saya dengan berbohong mentah-mentah di awal soal identitasnya. Saya merasa sedikit kecewa dan terhina karena dianggap seolah-olah seperti cewek matre di luar sana pada umumnya. Kaya bukan segalanya untuk saya.
Saya benci dibohongi. Terus saya bingung sekarang. Gaji saya tertahan, bahkan diancam akan dipecat. Manager cafe saya menyuruh saya nelpon dia langsung. Ah, saya benar-benar enggak mau hubungi dia lagi dan ingin menjauh," ucap Kalula.
__ADS_1
Bersambung ...