Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
26. Paspor dan Visa Edward


__ADS_3

Kalula sedang membereskan makanan di meja saat Edward keluar dari kamarnya sambil menggaruk-garuk kepala.


Handphone di tangan, kunci mobil ia sembunyikan di balik kantong celana cargonya.


Sungguh penampilan Edward bercelana cargo santai warna cokelat dan dada bidangnya yang terbalut kaos putih ketat sangat sempurna. Edward begitu tampan. Sangat 'tipe' Kalula.


"Ed? Kenapa? Ada masalah?" tanya Kalula yang menyadari perubahan air muka Edward.


Edward nyengir. Ia bingung mau beralasan apa yang sekiranya terdengar menyakinkan bagi Kalula.


"Mmm, ya. Tadi temanku menelpon. Dia mengajakku bertemu. Katanya dia mmm, mau merayakan ulang tahun. Aku diundang. Jadi aku pergi dulu, ya?" Edward masih berdiri sambil memandangi Kalula yang sedang memungut remah-remah pizza di karpet.


Kalula mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Edward.


"Iya. Pergi saja, Ed. Kamu nggak ganti baju?" Kalula tampak bingung. Di bayangannya orang yang merayakan ulang tahun pasti pestanya formal.


"Ng--nggak, kok. Pestanya di rumah. Aku nanti pulang malam. Jangan bukakan pintu, ya. Kalau ada yang mengetuk bukakan saja. Aku bawa kunci, kok." Edward menjelaskan.


Ya sejujurnya ia cemas meninggalkan Kalula sendirian di sini. Tapi mau bagaimana. Mamanya mengancam akan menyeret Kalula keluar dari apartemen jika ia tak mau pulang menemuinya.


"Oke. Tenang, Ed. Paling sebentar lagi aku juga tidur." Kalula lalu mengangkat sisa pizza dan berniat hendak memasukkannya ke dalam kulkas.


Edward lalu mengangguk dan berjalan menuju pintu. Sesekali ia menoleh ke belakang. Padahal Kalula juga sudah melenggang pergi ke dapur.


Edward cemas karena apartemen mewah ini dibeli atas nama mamanya. Walau mamanya tak memegang kunci, tapi tetap saja Edward paham betul mamanya bukan orang biasa. Pihak pengelola gedung apartemen ini tentu kenalan mamanya.


Mamanya bisa saja menyuruh anak buahnya untuk mendobrak pintu dan menyeret Kalula keluar. Maka dari itu ia berpesan agar Kalula tidak membukakan pintu sekalipun ada yang mengetuk.


Edward tahu ia harus cepat-cepat pulang ke rumah mamanya agar mamanya berhenti mengamuk dan mengancam-ngancam.


Sungguh hubungan ibu dan anak itu semacam love hate relationship. Mereka banyak bertengkar tapi tahu saling menyayangi satu sama lain walau terbalut tebal oleh rasa gengsi.


Rumah mamanya sih tidak terlalu jauh dari apartemen ini. Cuma ini jam malam, jam padat bertepatan dengan orang-orang pulang kerja. Pasti jalanan macet. Belum apa-apa Edward sudah terbayang emosinya menghadapi jalanan macet.


Edward sedang berjalan keluar dari lift ketika tiba-tiba Kalula menelponnya.

__ADS_1


"Apa? Obat merah? Perban? Kamu kenapa? Kamu luka? Apa aku perlu kembali ke apartemen? Aku belum jalan terlalu jauh, sih." Edward langsung panik begitu mendengar Kalula menanyakan dimana ia menyimpan kotak obat.


"Nggak papa, Ed. Serius. Cuma luka sedikit. Tadi waktu masukin pizza ke kulkas, aku melihat buah. Lalu aku ingin makan dan tentu memotongnya. Sialnya tanganku tergores pisau.


Lukanya agak dalam, sih. Aku pikir perlu dikasih obat merah dan plester. Soalnya besok waktu bekerja akan sangat mengganggu kalau terlalu perih.


Kalau tidak punya kotak obat, mungkin aku akan turun untuk ke apotek. Takutnya menjadi infeksi dan mengganggu pekerjaanku, Ed," ucap Kalula.


Edward sedang berada di depan mobil mewahnya yang terparkir di tempat parkir VIP apartemen ini. Kunci sudah di tangan yang satunya.


"Oh, ya ampun, Kal. Aku kira kenapa. Ada sih di kamarku. Seharusnya ada di ruang tengah. Tapi aku kemarin mengambilnya waktu jari kelingking kakiku terantuk meja dan berdarah.


Mmm, kalau tidak salah di sekitar nakas di samping ranjang, deh. Mungkin kamu bisa membuka laci-laci itu. Aku lupa di laci yang mana. Kamu masuk aja ke kamarku ya, Kal."


Edward berkata dengan santai. Ia tidak tahu kalau perkataannya barusan bisa membuka sebuah rahasia besar selama ini sembunyikan dari Kalula.


Di dalam laci-laci nakas itu tersimpan dokumen-dokumen pribadinya. Paspor, visa, ijazah kuliah, album foto, dan banyak hal lagi.


"Oh, oke. Ya udah, Ed. Hati-hati di jalan, ya. Sebentar aku matikan dulu teleponnya, ya. Aku kau cuci lagi lukaku karena darahnya masih mengalir," ucap Kalula lalu ia mematikan panggilan itu.


***


Sedangkan di apartemen itu, setelah mengeringkan lukanya, Kalula membungkus jari tangannya seadanya dengan tisu dapur.


Ternyata darahnya belum berhenti juga. Tadi ia melamun sampai-sampai pisau itu menggores terlalu dalam ke dalam jarinya.


Untung yang luka tangan kiri. Kini dengan tangan kanannya yang tak luka, Kalula memutar kenop pintu kamar Edward.


Jegrek!


Dinyalakannya lampu.


Cklik!


Ia lalu berjalan menuju ke arah nakas di samping ranjang yang Edward sebutkan tadi.

__ADS_1


Dilihatnya ada tiga laci yang berjajar ke bawah dan juga satu kotak berukuran sedang di paling bawah. Kelihatannya tidak dikunci.


Kalula membuka laci pertama dan tidak menemukan apapun. Laci itu hanya berisi charger, earphone, dan ada berapa aksesoris lain.


Lalu kini laci nomor dua ditariknya. Kalula belum menemukan kotak obat itu, tapi matanya tertuju pada sebuah buku paspor.


Kalula tahu, membuka barang-barang pribadi yang bukan miliknya adalah hal kurang ajar. Sangat lancang. Artinya ia melanggar privasi orang lain.


Tapi entah kenapa tangannya mengambil buku kecil itu. Dan ketika ia mengambilnya, sebuah dokumen visa ikut terangkat.


Kalula lalu membuka-bukanya karena iseng. Jelas menilik dari identitas pemiliknya, maka dokumen perjalanan itu milik Edward. Ia pikir milik sepupu Edward yang sering ia ceritakan itu.


Soal luar negeri, Edward memang pernah bercerita sih kalau ia pernah bekerja di luar negeri. Tapi melihat isi-isi dokumen ini membuat mata Kalula terbelalak.


Mata Kalula menatap nanar.


"Astaga," bisiknya pelan.


Oh, begitu banyak stempel negara-negara yang pernah dikunjungi Edward. Dan sebagian besar riwayat perjalanan bertuliskan kalau maksud kedatangannya adalah untuk liburan. Jelas ini bukan visa kerja. Ada beberapa visa mahasiswa juga.


Kalula mulai curiga.


Ia menilik negara-negara itu satu per satu. Ia raba tulisan di dokumen itu dengan jemarinya. Kalula tahu itu bukan negara yang lazim untuk dikunjungi turis biasa.


Bahkan di negara-negara tertentu, ia tahu sangat sulit untuk menembus visanya.


"Sekaya apa Edward?" Pertanyaan itu langsung terbersit di otaknya.


Kalula menutup dokumen perjalanan Edward itu dan memasukkannya lagi ke dalam laci.


Kalula terduduk di lantai. Ia lalu membekap tangan kirinya yang luka tadi. Setelah ia cek lagi ternyata darahnya sudah berhenti. Cuma luka bekas goresan itu terlihat sedikit menganga.


Mendadak luka perihnya seakan hilang. Yang ada di pikiran Kalula sekarang adalah rasa penasaran yang makin memenuhi isi kepalanya.


"Siapa Edward sebenarnya?"

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2