Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
46. Trik Licik Si Cowok Kaya


__ADS_3

Edward agak menyingkir dari ruangan mamanya saat menelpon Dika. Ia berjalan menuju balkon yang sepi.


"Ini perintah! Cukup lakukan saja sesuai sama yang saya bilang." Edward terlihat gusar karena Dika malah berbelit-belit.


"Tapi kenapa, Pak? Pagi tadi saya lihat Kalula bawa koper. Katanya mau pindahan ke kost baru karena hari ini gajian. Kalau gajinya saya tahan, anak itu gimana?" Dika terdengar lemas begitu mendengar perintah mengejutkan ini.


Dika tahu argumennya tak akan pernah bisa menang melawan Edward sang boss. Tapi ia tak tega kalau harus menahan gaji Kalula.


Dika tahu betapa Edward menyukai Kalula bahkan sampai-sampai sebulan penuh ini ia menjadi barista gadungan untuk sekedar dekat dengan Kalula. Soal Kalula sendiri Dika juga tak banyak tahu. Tapi soal kesulitan ekonominya ia tahu karena waktu itu mama Kalula sempat datang ke cafe dan mengamuk, kan?


"Udah. Pokoknya diam aja. Nanti begitu dia sadar gajinya hari ini nggak masuk, pasti dia akan menghubungi kamu. Nah, kamu bilang aja kamu lupa ngasih tahu kalau nomor rekening yang dia kasih bermasalah jadi nggak bisa ditransfer.


Kamu atur aja lah alasan itu. Kalau dia minta gajinya cash, bilang aja dari pusat nggak bisa. Harus via transfer dan lama, paling nggak 10 hari atau berapalah. Atur aja. Ngerti?" Edward memaksa.


Dika terdengar mengiyakan permintaan ini dengan terpaksa. Oh, pria kaya. Apapun akan dilakukan untuk mencapai apa maunya. Dika hanya bisa membatin dalam hati.


"Edward! Pak Walikota akan segera datang. Kamu lagi nelpon siapa, sih?"


Sebuah suara muncul. Edward buru-buru menutup panggilan.


"Bukan siapa-siapa, Ma." Edward tampak dengan gerakan yang cepat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


Amelia Santono menatap putranya dengan curiga. Ia berkacak pinggang dan menatap Edward dengan tatapan menyelidik.


"Kamu nelpon Kalula-Kalula itu?" tanya Amelia Santono dengan nada ketus.


Edward menggeleng. Ah, ia masih saja kesal tiap mamanya menyebut nama Kalula dengan nada meremehkan.


"Kenapa lagi anak itu? Kamu belum bilang jujur sama dia? Dia masih numpang di apartemen kamu?" Amelia Santono makin bertanya dengan nada sinis.


Bagaimana tidak sinis. Ia hanya ibu biasa, yang pasti tetap kesal membayangkan putranya membawa seorang gadis menginap di apertemennya berminggu-minggu. Jelas bukan hanya kesal, tapi cemas juga.


Edward tampaknya tidak tertarik membahas ini dengan mamanya. Mengingat pengakuannya tadi pagi, mendengar keputusan Kalula untuk menjauh membuatnya uring-uringan. Ia tak mau menambah rasa kesal di hatinya dengan perdebatan tanpa ujung dengan sang mama.


"Kalula keluar dari apartemen hari ini. Aku sudah bilang kan dia tidak semurahan itu. Dia menempati janji. Begitu gajian, langsung keluar dari tempatku. Jangan menyebut namanya dengan nada sinis lagi, Ma. Jangan membuatku kesal."


Suara Edward benar-benar terdengar kesal. Amelia Santono mengangkat bahu sok tidak peduli. Padahal hatinya senang juga mendengar gadis itu sudah keluar dari apartemen putranya.

__ADS_1


"Bu Amelia, Bu Walikota datang duluan. Beliau sedang di toilet bawah. Sebentar lagi naik ke ruangan Ibu. Pak Walikota katanya agak telat sedikit karena masih ada rapat. Nanti menyusul." Shanty sang sekretaris pribadi Amelia Santono melapor.


Amelia Santono mengangguk. Ia berjalan menuju Shanty dan menepuk pelan pundaknya.


"Udah. Pulang aja. Jangan memaksakan diri. Nggak papa hari ini nggak sampai jam pulang. Toh ini hari terakhir. Bibirmu sudah pucat begitu. Dokumen kantor yang belum sempat kamu kemas biar dibereskan Cyntia saja. Nanti saya suruh kirim ke alamat kamu lewat kurir."


Amelia Santono yang galak terlihat begitu perhatian pada pegawainya. Ya, tampang galak dan tegas kan hanya covernya. Alisnya ia sangat pengertian pada karyawannya.


Shanty mengangguk dan berterima kasih. Amelia Santono bahkan tak ragu memeluk sekretaris pribadinya itu. Shanty membalas pelukan itu sambil menangis haru. Edward hanya menyaksikan pemandangan ini dengan bingung.


"Makasih ya, Bu. Saya nggak tahu harus bagaimana lagi untuk berterima kasih. Nanti saya bantu untuk cari pengganti yang pas. Saya banyak kenalan." Shanty lalu menuduk sopan sambil mengusap air matanya.


Amelia Santono mengangguk lalu membiarkan wanita muda itu pergi.


Edward berjalan mendekat ke arah mamanya.


"Shanty kenapa, Ma? Dia resign?" Edward bertanya dengan penasaran.


"Ya. Lagi hamil muda. Kasihan semenjak hamil jadi sakit-sakitan. Suaminya nyuruh dia keluar kerja. Ah, padahal Mama sudah cocok 5 tahun sama dia. Susah nyari asisten pribadi yang bagus kerjanya, paham dan tahan kelakuan dan ritme kerja Mama."


Perkataan Amelia Santono terputus begitu Ibu Walikota yang mereka tunggu-tunggu datang diantar ajudannya.


Cerita soal Shanty yang resign dan mamanya buruh asisten pribadi baru berlalu begitu saja. Edward tidak menganggapnya penting. Padahal dari kejadian inilah takdir Kalula menuju pintu yang lain terbuka.


Dan siang itu Edward membual sok akrab dengan Pak Walikota yang terus membicarakan klub bola favoritnya. Padahal Edward tidak suka. Ya, kadang memang harus begini. Pura-pura suka saja agar semua berjalan lancar.


Sambil menikmati waktu yang berlalu dengan begitu menjemukan, sesekali Edward mengecek ponselnya. Berharap Kalula menelponnya atau mengirimkan pesan.


"Ed, aku boleh numpang tinggal di apartemen lagi, nggak? Gajiku bermasalah dan belum ditransfer."


Ah, cukup satu kalimat itu saja dan Edward akan senang. Tinggal serumah dengan Kalula akan membuatnya punya kesempatan lebih untuk meyakinkan gadis itu.


"Ayo kita mulai dari awal, Kal. Kamu sudah putus dari Edo. Aku suka sama kamu. Jadi kenapa nggak? Jangan pikirkan perbedaan di antara kita. Aku suka kamu apa adanya."


Ah! Andai saja semudah itu mengatakannya.


"Ed? Edward?" Pak Walikota menegurnya karena melamun.

__ADS_1


"Eh, oh. I--iya, Pak. Maaf. Sampai dimana tadi?" tanya Edward berusaha fokus lagi dan membuang Kalula sejenak dari pikirannya.


"Itu, kandang utama klub favorit saya kan di kota tempat kamu kuliah. Kamu pernah nonton pertandingannya langsung?" Pak Walikota ternyata masih begitu antusias membahas klub bola favoritnya.


"Oh, nggak pernah, Pak. Nggak sempat waktu itu. Tapi saya pernah nonton waktu tanding di Milan..."


***


Edward sedang menyetir pulang menuju apartemennya ketika Kalula sedang berdiri di depan mesin ATM nya dengan wajah panik.


Kenapa uang gajiannya belum masuk? Padahal tadi di ruang ganti ia mendengar teman-teman kerjanya yang lain asyik membicarakan gajian yang sudah masuk ke rekening.


Kalula memang punya aplikasi banking di ponselnya. Ia memang bisa mengecek dulu tadi. Tapi ia pikir tak perlu. Langsung ambil saja sekalian pulang dan jalan kaki ke tempat kost baru.


Kalula menarik kartu ATM-nya dengan lemas. Tatapannya jadi makin lemas saat menatap koper dan tas pakaiannya yang tadi pagi ia angkut dari apartemen Edward.


Hari sudah gelap. Sudah pukul 7 sekarang. Apa yang harus ia lakukan?


Ia tak mungkin berjalan ke tempat ibu kost tanpa uang. Pembayaran harus dilakukan di muka, baru kamar kost bisa ditempati.


Apa ia pulang saja ke rumah kontrakan Mama Sastri lagi sambil menunggu kejelasan gaji?


Arghhh! Tidak!


Kalula merinding membayangkan. Ia sudah terlalu muak dan tersiksa. Kembali ke rumah itu rasanya seperti pulang ke neraka.


"Apa aku kembali ke tempat Edward lagi? Arghhh! Tidak! Aku sudah janji akan jaga jarak! Berhubungan dengan pria kaya akan membuat hidupku makin rumit nantinya." Kalula bergumam sendiri sambil berjongkok di lantai.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ah, kebetulan ia belum terlalu jauh dari cafe. Apa ia kembali saja ke sana dan menemui Pak Dika? Hanya Dika yang bisa menjelaskan kenapa gajinya belum masuk hari ini.


"Ya, Pak Dika masih handle shift berikutnya. Pasti dia belum pulang." Kalula bergumam lagi.


Lalu sambil kembali menyeret-nyeret koper, ia berjalan menuju cafe.


Entah bagaimana nasibnya nanti...


Alangkah trik Edward dengan menahan gajinya berhasil?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2