
Klik!
"Halo?"
"Kal..."
Hening.
Kalula memejamkan mata. Ponsel tetap di telinganya. Ia sudah bertekad, kalau kali ini Edo mengajak bertengkar lagi, maka ia akan minta putus. Ia sudah lelah.
Tapi sudah semenit berlalu tak terdengar suara bentakan Edo. Yang mengherankan adalah suara lelaki itu serak, seperti orang yang sedang menanggung kesedihan yang berat.
"Kal, kenapa kamu nggak bilang?" tanya Edo.
Kalula membuka matanya. Mulutnya terkunci. Nada suara Edo sudah berubah. Ia menjadi seperti dulu lagi. Lembut, manis, dan penuh perhatian.
"I'm so sorry. Aku emosi. Aku nggak bisa ngontrol diri. Aku malah jadi sumbu pendek yang gampang terhasut omongan Mama kamu. Soal penyebab kalian bertengkar dan kamu pergi dari rumah..."
Edo tampaknya tak sanggup berkata-kata. Tak mungkin ia bisa bilang dengan entengnya, "Oh, kamu anak tiri, ya. Mama kandung kamu sebenarnya sudah meninggal waktu melahirkan kamu!"
Tidak! Edo tak sanggup. Keluarga sangat penting bagi hidup Kalula. Ini topik yang sensitif.
Kalula tak menjawab. Oh, akhirnya Mama Sastri jujur pada Edo. Baguslah. Tapi tetap saja ia menangis.
"Kal... . I'm so sorry." Edo kembali berucap lirih. Sekarang ia tak tahu harus bagaimana untuk menenangkan Kalula yang menangis. Jarak membuat Edo sulit.
Kalula masih menangis tersedu. Seolah ada kelegaan tersendiri.
Ya, hati tak bisa bohong. Edo telah menjadi separuh hidupnya semenjak mereka remaja. Mereka tumbuh bersama, dewasa bersama.
Begitu mendengar fakta menyakitkan itu kemarin, satu-satunya orang yang ingin ia peluk adalah Edo. Tapi Edo terlalu jauh, dan yang selalu ada di sampingnya adalah Edward.
"Hei, kamu punya aku untuk menumpahkan semua. Kenapa nggak cerita, Kal?" Edo bertanya dengan lembut.
"Ka--kamu malah marah. Kamu malah salah paham sama aku. Kamu nuduh yang nggak-nggak. Aku terlalu capek untuk menjelaskan karena nada kamu sudah tinggi duluan. Kamu tahu kan Do aku nggak bisa diginiin?" Kalula mencoba berkata-kata di sela-sela tangsinya yang pecah.
"Oke, sorry. Mulai sekarang aku nggak akan marah-marah. Aku akan dengerin penjelasan kamu dulu. Oke? Sekarang kamu tinggal dimana? Biar aku suruh Roby untuk cek kamu." Edo langsung sigap bertanya.
Kalula langsung berhenti menangis. Matilah. Mana mungkin ia bilang kalau sekarang ia tinggal menumpang di apartemen Edward.
"Kal? Kok diam? Maaf ya bukannya aku mau ngajak berantem lagi. Tapi kemarin kamu sama Edward-Edward itu. Jangan bilang kamu numpang tinggal di tempat dia?" Nada Edo masih terdengar lembut, tapi Kalula bisa merasakan keseriusan dalam nadanya.
Ya, mana ada pacar yang rela melihat pacarnya menginap di tempat pria lain?
__ADS_1
"D--Do, aku... . Aku masih numpang, belum pindah kost. Belum gajian, Do. Aku nggak punya uang. Tapi..., tapi ini rame-rame kok, Do. Cewek cowok. Mereka udah temenan lama. Ada Edward karena dia juga tinggal di sini. Mereka nyewa apartemen gitu, Do. Aku akan segera cari kost begitu gajian." Kalula menyahut cepat.
"Kapan?" Edo menyahut dengan nada datar. Terasa sekali kalau ia tak menyukai situasi ini.
"Minggu depan mungkin. Akhir bulan." Kalula menjawab dengan agak tak yakin.
Hening lagi. Kalula kembali merebahkan dirinya ke kasur. Sejujurnya setelah ia akur dengan Edo, ia masih menyembunyikan ketakutan. Ia takut ketahuan tinggal berdua dengan Edward.
Roby teman Edo tak mungkin bisa mengecek sampai apartemen. Tapi tetap saja Kalula takut.
"Oke. Jaga diri ya. Aku mau kirim uang buat kamu, Kal. Tapi tabungan aku habis. Kemarin Mama Sastri pinjam." Edo berkata lirih.
"Do, kan udah kubilang. Kenapa kamu kasih, sih? Nggak mungkin dibayar, Do! Asal kamu tahu, Mama baik kelihatannya di depan kamu. Tapi dia jahat, Do. Aku dipukul, disiksa, itu sejak aku kecil.
Seharusnya aku sadar ada yang salah. Ternyata memang benar. Aku bukan anak kandungnya. Aku nggak pernah bilang ke kamu karena malu. Sekarang jangan pernah lagi kamu percaya ucapannya.
Aku blok nomor Karina. Dia terus hubungi aku pakai nomornya karena handphone-nya rusak. Kamu blok nomor dia juga, ya. Soalnya tadi nelpon aku maksa-maksa minta uang lagi.
Aku nggak peduli, Do. Dia mau bilang aku anak durhaka atau apa. Aku capek diperas. Kalau papa tahu, aku yakin dia akan belain aku. Please, jangan terhasut lagi sama Mama Sastri." Kalula memohon.
"Ya. Aku blokir nomornya nanti. Maaf ya, Kal. Aku bisa sebenarnya kirim uang bulananku buat kamu. Tapi aku nggak tahu mau pinjem siapa. Nggak enak pinjam uang ke anak-anak." Edo merasa bersalah.
"Nggak papa. Jangan dipikirin." Kalula memejamkan mata lagi.
Ah, leganya. Ia kini merasa tak sendirian lagi. Memang selama ia bertengkar dengan Edo, ada Edward yang selalu mengisi kekosongannya. Tapi rasanya berbeda. Edo ia kenal sejak ia belum dewasa. Lalu Edward baru ia kenal beberapa minggu.
Kalula membuka matanya. Ingin ia pukul kepalanya sendiri.
Astaga! Apa yang telah ia lakukan beberapa hari terakhir ini? Pelukan nyaman, gandengan tangan, rangkulan Edward di pundaknya. Bahkan mereka pernah juga tidur seranjang. Ya walaupun Edward mengaku ketiduran. Tapi tetap saja...
Kalula merasa bodoh. Kalau Edo tahu, jelas ia akan dicap selingkuh. Astaga!
Tiba-tiba kepala Kalula memikirkan hal serupa terjadi pada Edo dan Erina.
Nggak!
Melihat Edo dan Erina duduk bersebelahan saat makan bersama saja membuat Kalula cemburu.
Apa ia sudah bisa dibilang selingkuh?
"Ya, tentu saja Kalula. Kau konyol sekali! Benar kata Edo kemarin. Kamu murahan!" Kalula tiba-tiba tersadar. Ingin ia tampar dirinya sendiri.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Kal! Mau makan malam nggak? Udah mandi belum?" Edward memanggil dari balik pintu.
Mata Kalula langsung melotot. Ya ampun! Ia harap Edo tak mendengar.
"Kal? Itu siapa?" Edo rupanya mendengar. Ia bertanya dengan curiga.
"Eh, itu teman yang tinggal di sini juga. Tadi kita masak bareng. Tari sama Andin pasti udah nunggu. Yaudah ya, Do. Nanti aku kabari lagi. Udah hampir jam 12 malam di Tokyo. Kamu tidur ya. Oke?"
Tut!
Kalula langsung mengakhiri panggilan dan berlari menuju pintu. Ia sengaja menyebutkan nama perempuan asal saja agar Edo makin percaya padanya.
Jegrek!
Edward menatapnya dengan terkejut.
"Loh, Kal. Aku pikir kamu udah mandi."
Kalula diam saja dan hanya bisa membalas dengan senyum.
"Aku ketiduran, Ed. Aku mandi dulu, ya?" Kalula lalu nyengir.
"Oh, oke. Aku tunggu di ruang tengah. Tadi aku pesan makan malam buat kita." Edward tersenyum manis.
"Oke," sahut Kalula lirih.
***
Kalula menatap makanan yang dipesan Edward di depannya dengan bingung. Untuk ukuran orang biasa, bukankah makanan ini terlalu mewah? Kalula tahu harganya juga pasti lumayan.
Edward langsung tanggap. Ia bilang ia pesan lewat aplikasi online dan mendapat promo.
"Makanlah, Kal." Edward mengulurkan sumpit.
Kalula mengangguk lalu makan dengan canggung.
Sebenarnya ia canggung karena tiba-tiba ia merasa bersalah pada Edo. Kalula sadar, seharusnya ia tak tinggal di sini.
"Ed, aku boleh ngomong nggak?" Kalula bertanya dengan ragu.
Edward mengangkat bahu, mempersilakan dengan santai.
"Aku boleh pinjam uang? Kayaknya aku harus keluar dari sini dan cari tempat kost. Nanti gajian langsung aku ganti."
__ADS_1
Wajah santai Edward langsung berubah.
Bersambung ...