
Pelukan keempat.
Ini bukan pelukan biasa. Edward selalu berhasil menjadi penenang di setiap luka Kalula.
Pertama, pelukan sama di tengah hiruk pikuk jalanan dan suasana malam romantis ibukota.
Kedua, pelukan menenangkan saat pertama kali Kalula tahu statusnya sebagai anak tiri.
Ketiga, pelukan ketika Kalula bertengkar hebat dengan Edo dan Edo berkata kasar padanya saat menelepon.
Keempat,...
Pelukan ini makin dalam. Kalula menumpahkan tangsinya. Edward tahu ia mendamba gadis yang bergantung padanya, yang bisa ia atur sesuai maunya, yang cengeng seperti Kalula.
Gadis yang terakhir kali membuatnya jatuh cinta dan patah hati adalah tipe gadis mandiri dan dominan. Mungkin karena trauma itulah Edward sekarang lebih cenderung menyukai gadis-gadis semacam Kalula.
"Mendingan kamu jujur aja ke dia kalau kamu nggak bisa lanjutin hubungan ini. Memang kamu mau ya tiap hari makan hati begini. Selalu khawatir Edo selingkuh lagi di sana. Cemas takut Edo tergoda gadis lain.
Kemarin kamu cemburu dan mencurigainya dekat dengan Erina. Sekarang makin terbukti, kan? Ditambah lagi bukan Erina saja sekarang. Tapi Seira sepupuku juga.
Udahlah, Kal," ucap Edward sambil mengusap air mata Kalula. Hasutan-hasutan piciknya mulai berhembus perlahan tanpa Kalula sadari.
Malam itu Kalula tak bisa tidur. Ia duduk sofa sambil meringkuk. Edward duduk di sampingnya. Mereka saling diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Hening.
Tapi dari dinding kaca apartemen itu, mereka bisa melihat kalau di luar sedang hujan. Hujan seperti mata Kalula yang deras air mata.
"Aku kirim foto bukti itu ke Edo. Begitu dia bangun, dia pasti akan lihat. Entah apa reaksinya. Besok jadwal aku off kerja. Seharian libur kayaknya aku cuma pengin nangis di sini, Ed." Kalula berkata dengan lemas.
"Aku temenin. Besok juga jadwalku libur kerja." Edward menyahut.
Kalula diam lagi. Edward menggenggam tangannya. Kalula membiarkannya.
Jadi yang selingkuh itu siapa? Siapa yang berkhianat di sini? Edo atau Kalula?
Kalula selalu nyaman dengan Edward yang selalu ada di sampingnya. Tapi di sisi lain ia seolah tak terima jika Edo melakukan hal yang sama pada gadis lain.
***
__ADS_1
Pagi itu Edo bangun dengan kepala berat. Tidak ada jadwal kuliah hari ini. Sambil masih memejamkan matanya, ia meraba mencari handphone-nya.
Kemarin ia sudah berjanji untuk menelpon balik Kalula. Tapi baru saja tangannya membuka tombol kunci layar, matanya langsung terbuka lebar. Kalula mengiriminya beberapa pesan sekaligus tengah malam tadi waktu Jakarta, artinya dini hari di Tokyo.
Edo duduk dan membuang selimutnya ke samping. Matanya makin terbelalak saat melihat file foto kiriman Kalula.
Ada 2 foto terlampir. Foto pertama adalah gambar tangkapan layar dari postingan Erina. Di situ kelihatan Edo berfoto dan jaraknya sangat dekat dengan Erina. Foto kedua adalah foto Edo dengan Seira.
Hah! Seira? Kok Kalula bisa dapat foto ini?
Edo langsung terduduk dengan tangan gemetar. Ia tahu Kalula pasti menganggap ini salah paham besar. Nyatanya memang begitu.
Tapi satu hal yang membuatnya bingung. Bagaimana bisa foto Seira bisa sampai di Kalula?
Satu-satunya cara untuk mencari tahu adalah dengan menelepon Kalula. Edo mondar-mandir di kamarnya sambil mencoba menghubungi pacarnya itu.
Arghhh! Nomor Kalula malah tidak aktif. Edo mengumpat kesal
Dilihatnya daftar kontak di ponselnya lagi. Selain Kalula, ia bisa mencari tahu lewat Seira sendiri. Bisa-bisanya fotonya dengan Seira yang baru ia kenal kemarin itu sampai ke Kalula.
Edo segera menghubungi Seira, tapi ia tidak menyebutkan tujuannya untuk menemui seniornya di kampus itu. Seira menyambut baik ajakannya untuk brunch di sebuah resto yang tak jauh dari tempat tinggal Edo.
[ "Kamu selalu bilang nggak suka main sosmed karena buang waktu. Tapi kamu ternyata punya akun anonim dan nggak follow aku sama sekali, tapi kamu follow Erina dan kalian saling mention.
Selain itu entah kamu sadar atau tidak, di setiap postingan foto kebersamaan kalian berlima, kamu dan Erina selalu dekat. Kalian selalu duduk bersandingan. Padahal kamu bisa kan duduk bareng yang lain?
Aku udah terlalu capek loh Do curigain kamu terus. Aku udah tahu gelagat Erina yang kayaknya suka sama kamu dari awal kita ketemu waktu seleksi beasiswa.
Aku pikir sudah cukup Erina saja yang jadi penghalang kita. Tapi ternyata ada Seira juga. Entah dia gadis dari mana, tapi lihatlah foto ini. Seira mengaku kalian sedang dekat, bahkan kamu sudah nembak dia.
Mau kamu apa sih, Do? Aku udah capek. Kayaknya semenjak kamu ke Tokyo, hubungan kita selalu ada masalah. Kalau mau break ya udah. Udahin aja, Do. Nggak usah hubungin aku dulu.
Cari tahu sendiri apa yang kamu mau soal hubungan kita. Lanjut atau terus. Tapi kalau begini lagi ujungnya, mendingan kita udahan." ]
Pesan itu ditulis panjang lebar dengan huruf yang disingkat-singkat dan banyak typo. Edo tahu pasti Kalula sangat marah saat mengetiknya. Edo menggigit bibirnya sendiri dengan panik.
Ia ingat kemarin Seira bilang ia mengirimkan foto itu untuk meledek sepupunya. Berarti Kalula mendapatkan foto itu dari sepupu Seira?
Edo lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Daripada ia menduga-duga tak jelas begini, lebih baik ia cepat bersiap. Seira akan menemuinya setengah jam lagi.
__ADS_1
***
Seira mengaduk jus jeruknya dengan alis mengernyit. Sebelum menemui Edo ke sini, tadi ia sudah menghubungi Edward.
Edward Bilang improvisasi saja sesuai perannya. Yang penting Edo tetap percaya pada Seira dan menganggapnya tak tahu apa-apa.
"Ya aku cuma ngirim foto itu ke sepupu aku lewat chat pribadi, Do. Nggak ke sosmed atau apa. Aku nggak chattingan lagi sama dia sekarang soalnya dia lagi kerja di Jakarta," ucap Seira.
Edo langsung mengeditkan alisnya. Di Jakarta? Oke, ini makin meruncing saja kepada dugaannya.
"Seira, sepupu kamu cowok, kan? Siapa namanya?" tanya Edo tak sabaran.
Seira menyedot minumannya lalu ia tampak berpikir dan menimbang. Kalau ia bohong, nanti lama-lama juga akan terbongkar. Lebih baik jujur saja, kan?
"Namanya Edward. Memang kenapa? Kamu kan nggak kenal dia?" ucap Seira santai.
Edo langsung menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan.
Arghhh!
Benar, kan!
Dari sekian banyak nama Edward di muka bumi ini, Edo sangatlah yakin Edward sepupu Seira adalah cowok yang sama yang sedang dekat dengan Kalula-nya.
"Boleh aku lihat fotonya nggak?" tanya Edo.
"Boleh. Bentar, ya. Aku cek akun sosmed-nya aja." Lalu tak menunggu lama, Seira membuka handphone-nya dan menunjukkan salah satu foto Edward pada Edo.
Sialan!
Benar lagi! Ini Edward yang muncul di layar ponselnya saat ia sedang video call dengan Kalula. Ini si bre*gs*k itu, batin Edo dengan gemas dan emosi
"Kamu nggak kenal dia, kan? Kita kan beda angkatan, Do. Aku sama Edward senior kamu. Jakarta kan luas, Do. Emang kenapa, sih?" Seira masih sok polos.
Edo menghela nafas panjang.
"Edward ini cowok yang lagi dekat sama Kalula," ucap Edo pelan.
"Hah?" Reaksi Seira sok kaget.
__ADS_1
Bersambung ...