
Kepala Kalula mendadak berdenyut-denyut. Fakta yang masih samar-samar ia temukan ini membuatnya pusing.
Tentu Edward bukan orang biasa kalau ia bisa berjalan-jalan ke luar negeri sebanyak itu. Dan menilik waktu yang tercantum di sana, dalam kurun waktu 5 tahun saja sudah banyak sekali negara yang ia kunjungi.
Mungkinkah ia sambil bekerja? Tapi kerja apa? Lagipula jelas tercantum di visa kan kalau tujuannya liburan?
Kalula lalu menatap dua laci lainnya yang belum ia buka. Dan juga masih ada satu kotak di lemari paling bawah yang begitu menggodanya untuk melihat isinya.
Kalula tahu ini ide gila. Tapi rasa keingintahuan Kalula tidak bisa terbendung lagi. Ia lalu berdiri dari posisi jongkoknya dan mulai menggeledah laci itu dengan hati-hati.
Kalula tidak ingin membuat berantakan. Pokoknya ia mengingat di mana ia mengambil dan lalu ia mengembalikannya ke tempat semula.
20 menit lebih Kalula hanya terdiam membisu. Mulutnya bungkam tapi tangannya makin lama makin gemetar ketika membuka-buka kertas itu.
Dokumen pribadi Edward ia baca semua. Ia tahu itu salah. Tapi semakin mengetahui fakta baru, semakin membuat Kalula enggan untuk berhenti kebenaran yang lain.
Sampai akhirnya Kalula menyimpulkan. Edward memang bukan orang biasa. Ia lulusan kampus ternama di luar negeri. Semua dokumen bukti ia pastikan asli.
Ada satu album foto lagi yang tampak usang dan diletakkan di bagian paling bawah. Seperti sebuah buku yang terlupakan.
Kalula tahu ia sudah kelewatan, tapi album foto ini membuatnya penasaran. Ah, biar sekalian saja. Toh dari tadi ranah privasi Edward sudah ia obrak-abrik luar dalam.
Kalula terduduk di lantai kamar dan mulai membuka album foto itu. Lututnya sudah terlalu lemas setelah akhirnya ia sadar kalau selama ini Edward membohonginya.
Di album itu Kalula melihat foto masa kecil Edwrad, kenangan foto di masa sekolahnya, foto saat kelulusannya. Di foto-foto itu ada mama dan papanya yang mendampinginya.
Foto-foto liburan mereka di berbagai belahan dunia ada di sana. Sejak Edward kecil sampai remaja. Sungguh potret keluarga bahagia.
Tempat-tempat indah yang hanya bisa Kalula lihat lewat layar televisi dan internet ternyata sudah hilang Edward kunjungi sejak ia kecil.
Kalau dipikir, betapa kontras nasib mereka berdua. Semua tergambar jelas di album foto itu.
Baru dapat separuh album, Kalula memutuskan menutup album itu lalu mengembalikannya lagi ke tempat semula.
__ADS_1
Kepalanya mendadak pusing. Kalula tentu bukan orang bodoh. Ia tahu foto itu pasti foto asli. Dan dari nama sekolah, foto-foto liburan di luar negeri, background foto rumah mereka yang mewah; tentu ia tahu Edward bukan orang miskin sama seperti yang ia katakan selama ini.
Kalula menghembuskan nafas panjang. Sambil menengadahkan kepalanya dan melihat ke atas kamar, mulutnya mengatup rapat. Matanya menerawang.
"Oh, apartemen mewah ini jangan-jangan milik Edward juga. Dia bilang punya sepupunya tapi semua barang dan pakaian di sini miliknya. Astaga! Kenapa aku begitu bodoh dan baru menyadari hal ini?
Tapi apa maksud semua ini? Kenapa Edward menutupi soal kekayaannya? Lalu soal dia jadi barista di cafe? Oh, waktu itu dia diterima di hari yang sama denganku."
Kalula makin flash back kepada ingatan-ingatan janggal yang ia lewati bersama Edward.
"Oke. Cukup dulu pusingnya, Kal. Ayo pergi dari kamar Edward." Kalula lalu menutup semua laci dan memastikan tidak ada yang berubah posisinya.
Kotak obat sudah ia temukan dan ia sudah mengambil yang ia butuhkan. Selain obat merah dan plester, ia juga mengambil obat sakit kepala.
Kalula mematikan kembali lampu kamar itu dan keluar dari kamar Edward. Ia berjalan menuju kamarnya sendiri dengan gontai.
Kalula membuka pintu kamarnya lalu berdiri saja di depannya. Ia amati kamar yang ukurannya memang lebih sempit dari kamar Edward itu. Barang-barang dan furniture-nya juga tidak terlalu lengkap. Tapi tetap saja bagi Kalula yang sejak kecil tinggal di kontrakan sempit, kamar ini adalah kamar paling mewah yang pernah ia punya seumur hidupnya.
Kalula mendadak takut setelah ia sadar Edward banyak berbohong padanya. Apa tujuannya? Ia bingung.
Kalula lalu masuk ke kamar. Dilihatnya jam dinding. Oh, entah jam berapa Edward pulang.
Dan untuk pertama kalinya sejak menumpang tinggal di sini, Kalula merasa perlu mengunci pintu kamar ini rapat-rapat. Bahkan dengan kunci ganda.
Kalula lalu mengobati lukanya dan meminum obat sakit kepala. Direbahkannya tubuhnya di atas kasur. Matanya melihat ke atas. Melamun.
"Ada apa dengan Edward?"
Pikirannya tak terkendali. Begitu saja angan-angannya membangun skenario kemungkinan soal Edward. Siapa dia? Kenapa Edward baik padanya? Apa tujuannya?
Kalau ia jahat, kenapa Kalula masih baik-baik saja hingga sekarang. Edward tak pernah macam-macam, melecehkan pun tidak padahal ia punya kesempatan. Edward tak meracuni makanannya.
Dia justru baik. Sangat baik.
__ADS_1
Arghhh! Tapi kenapa bohong soal...
"Tunggu! Tunggu, Kal! Dia mungkin tidak bohong. Dia cuma menutupi saja. Dia hanya tidak memberi tahu." Kalula bicara pada dirinya sendiri.
Ya, tidak memberi tahu bukan berarti berbohong, kan? Bukankah itu dua hal yang berbeda?
Kalula memiringkan tubuhnya dan memeluk guling.
Obat sakit kepala yang ia tenggak beberapa menit yang lalu rupanya mulai berefek. Matanya perlahan terpejam dan ia ketiduran dengan semua pikiran abu-abu dan rasa penasarannya itu.
***
Sementara Kalula ketiduran, Edward baru sampai di rumah mamanya. Macet membuatnya stress dan kesal.
Memang sudah terlalu malam jadinya sekarang. Mamanya sudah memakai piyama tidurnya yang bermodel kimono itu ketika Edward masuk ke dalam rumah.
"Oh, Mama kira kamu lupa jalan pulang ke rumahmu sendiri." Nyonya Amelia Santono menyindir.
Wanita separuh baya yang penampilannya begitu modis dan kadang nyentrik itu menaruh gelasnya di meja. Ia baru minum suplemen dari anjuran dokternya.
Edward menarik kursi meja rias mamanya lalu duduk. Amelia Santono tentu lebih memilih duduk di bibir ranjang kamarnya yang empuk dan nyaman itu.
"Macet, Ma. Aku baru datang. Jadi tolong jangan pancing emosiku. Aku langsung nyetir buru-buru ke sini setelah Mama nelpon lagi." Edward mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
Amelia Santono menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berapa bulan kamu nggak pulang? Hah? Sekarang Mama cuma sedikit mengancam akan menyeret gadismu itu dari apartemen saja kamu langsung terbirit-birit pulang. Ckckck!"
Amelia Santono mendecak-decakkan bibirnya sambil melipat tangannya ke dada. Matanya menatap penuh kemenangan ke arah putranya.
Edward membuang muka dengan kesal. Ia benci dihakimi begini. Tapi mau bagaimana. Mamanya mengancamnya balik. Dan yang diancam adalah Kalula.
"Ed, Mama sudah selidiki. Gadis itu bermasalah. Keluarganya..."
__ADS_1
"Stop, Ma!"
Bersambung ...