Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
29. Kesepakatan 3 Bulan


__ADS_3

Amelia Santono menggeleng. Ia menunjukkan gesture seolah tak mau lagi mendengar penjelasan putranya.


Tapi tentu Edward tidak menyerah. Ia merangkul pundak mamanya. Berharap kalau ia bertingkah manja lagi seperti dulu mamanya akan luluh.


"Kan Kalula memang bukan istri orang, Ma. Kalula cuma pacar orang. Belum tunangan juga. Masih aman, lah. Pokoknya Mama tenang aja. Begitu dia putus dan dia jatuh cinta beneran sama aku, aku pasti jujur.


Yang penting Mama jangan macam-macam, ya. Bisa kacau rencana aku kalau Mama ikut campur. Makanya aku masih pura-pura jadi barista. Lagian aku lagi bisa ngontrol kerjaan kok dari sana.


Bukannya Mama senang ya. Artinya aku malah jadi kerja beneran, kan? Aku bisa tahu dari lingkungan terbawah, bagaimana karyawan di sana, atau kurangnya apa.


Anggap saja ini pemanasan, Ma. Anak-anak orang sukses di luar sana juga disuruh merintis dari awal, kan? Mama seharusnya bersyukur aku mau belajar bisnis dari bawah. Anggap aja aku lagi merintis.


Ya bulan 2 sampai 3 bulan lah. Nanti baru aku ngantor. Aku janji, Ma. Asal Mama enggak ikut campur. Titik. Oke, Ma?"


Edward masih mengeluarkan jurus bujuk rayunya.


Amelia Santono masih menutup wajahnya dengan tangan. Kelakuan Edward lebih parah dari bayangannya.


Edward lalu menarik-narik tangan mamanya seperti anak kecil minta permen.


Amelia tampak lelah. Ia menatap mata putranya dengan dahi berkerut dan keriputnya itu, yang sudah ia tanam benang dan segala jenis perawatan untuk membuatnya kencang lagi.


Baru kali ini setelah bertahun-tahun lamanya Edward tumbuh dewasa dan anak itu memohon-mohon padanya bahkan sampai memeluknya dan merayu-rayu seperti bayi lagi. Dan ia melakukannya demi seorang gadis biasa?


Sejujurnya Amelia Santono merindukan momen ini. Bertahun-tahun Edward ada tapi ia merasa seperti kehilangan putranya. Begitu putranya tumbuh dewasa dan menjadi pria berhati keras dan pembangkang, ia kesepian.


Amelia Santono sebenarnya hanya kesepian. Apalagi setelah suaminya meninggal. Ia buru-buru ingin menjodohkan Edward dengan anak teman-temannya yang sama-sama dari golongan konglomerat agar segera dapat cucu.


Intinya dia hanya ingin kehidupan normal seperti orang-orang. Menikmati masa tua, menimang cucu. Makanya kemarin begitu Edward bilang ia tidak akan mau menikah seumur hidupnya, Amelia sempat stress. Anak cuma satu, malah begini kelakuannya.


"Berapa bulan? 3 bulan cukup? Oke, 3 bulan, ya. Kamu janji dulu sama Mama. Lewat dari 3 bulan, kalau gadis itu belum kamu bawa ke Mama dan belum siap kamu nikahi, maka kamu harus bersedia mengikuti jodoh pilihan Mama. Gimana?" Amelia membuat perjanjian ulang.


Amelia tahu sepertinya gertakannya kemarin di mobil tidak cukup membuat Edward ciut.


Edward masih diam. Ia tampak ingin mengeluh tapi kalau ia menolak belum tentu hati mamanya luluh lagi seperti sekarang. Maka dengan berat hati ia jabat tangan mamanya dan ia mengiyakan janji itu.


"Laki-laki itu yang dipegang omongannya, Ed. Janjinya. Kalau kamu ngancam-ngancem mau ninggalin Mama lagi, nggak mau nerusin bisnis lagi, atau nggak mau nikah lagi berarti kamu bukan laki-laki.


Mama tunggu sampai akhir bulan. Gadis itu harus sudah keluar dari apartemen. Mama akan awasi." Amelia Santono tegas, tidak bisa ditawar lagi soal ini.

__ADS_1


"Oke."


Keluar juga kata itu dari bibir Edward.


Edward memeluk mamanya. Amelia Santono ingin pura-pura benci dan kesal, tapi momen kedekatan ini sebenarnya sedikit menghangatkan hatinya. Ia menikmati pelukan kecil bocah ini yang sekarang sudah tumbuh dewasa.


Ia tepuk-tepuk pelan punggung bidang yang kini bahkan sudah melampaui tubuhnya sendiri. Padahal di matanya Edward masih ia anggap bayi berpunggung kecil yang dulu ia timang-timang.


Edward sudah dewasa, tapi ia kecil di mata mamanya. Selamanya.


Amelia merasa Edward yang dulu ceria telah kembali. Setidaknya gadis yang tidak ia sukai itu membawa perubahan ini. Edward jadi merasa lebih hidup dan punya tujuan lagi. Diam-diam Amelia mensyukuri juga soal ini.


Ia senang kalau putranya bahagia. Hanya saja ada ego orang tua dan ego ibu. Ego seorang ibu yang ingin ia menangkan.


Amelia tentu ingin punya menantu yang tidak membuat malu kalau dipamerkan pada teman-temannya.


Tapi ya sudahlah. Yang penting anaknya bahagia dan tak membuat malu keluarga. Ia rasa itu saja sudah cukup.


***


Akhirnya lewat tengah malam itu Edward nekat pulang ke apartemen dengan hati lega. Entah sampai kapan mamanya akan berhenti mengganggu begini. Tapi yang jelas kini ia tahu ia punya tenggat waktu 3 bulan.


***


"Kal, aku nggak bermaksud bohongin kamu, kok. Selama ini aku baik, kan? Aku nggak pernah jahat atau macam-macam sama kamu, kan? Lagian kamu nggak pernah nanya juga soal aku secara pribadi.


Aku jujur kok soal papaku yang sudah meninggal. Aku jujur juga soal aku yang lagi nggak deket sama mamaku karena ada problem.


Udahlah, Kal. Jangan marah lagi, ya. Aku seperti ini karena aku sayang sama kamu. Dan aku nggak tahu lagi jalan untuk deketin kamu gimana lagi setelah tahu kamu masih punya Edo.


Jadi tolong jangan tinggalin aku ya, Kal..."


Dalam mimpinya Kalula melihat adegan itu. Entah mereka sedang di mana, tapi ada bau rumput dan angin sore yang semilir. Lalu matahari tenggelam membuat langit menjadi oranye.


Kalula berusaha pergi. Edward menahan tangannya sambil menangis.


Dalam mimpi itu Kalula terlihat bimbang. Tapi ia bingung ketika melihat ke depan ada sosok Edo yang datang mengulurkan tangannya juga. Ia ingin berjalan menghampiri Edo tapi Edward menarik tangannya dengan kuat hingga ia jatuh.


Dan ketika jatuh itulah ia terbangun.

__ADS_1


***


"Ya ampun!" Kalula memegangi kepalanya dan menatap jam.


Oh, sudah jam tujuh pagi. Kenapa tidurnya lama sekali, ya? Mungkin karena pengaruh obat yang ia minum sebelum tidur semalam.


Kalula lalu menggosok-gosok matanya dan menyadari tangannya yang luka semalam terasa perih sedikit.


"Kalula? Kal? Tok tok tok!"


Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Kalula langsung berjingkat turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya yang ia kunci ganda. Jelaslah Edward yang mengetuk.


"Hei, kamu kenapa? Kamu nggak papa, kan? Aku ngetuk pintu kamu dari jam lima pagi, loh. Aku pikir kamu mulai senang lari pagi karena kita kemarin lari pagi terus. Aku bangunin kamu kau ajakin lari pagi tapi kamu nggak bangun. Aku cemas. ku takut kamu kenapa-kenapa.


Aku sampai nelpon ke handphone kamu berkali-kali, Kal. Tapi nggak keangkat. Kamu nggak apa-apa, kan?" ucap Edward yang tangannya dengan spontan memegang dahi Kalula untuk mengecek apakah ia demam atau tidak.


Keadaan Kalula memang sedikit aneh dan kacau seperti orang sakit. Edward menatapnya dengan tatapan bingung.


"Y--ya. Aku nggak papa." Kalula menjawab singkat.


Kalula masih nyengir saja di depan pintu. Ia bingung harus bagaimana. Ia sudah memegang kunci kebohongan Edward. Apa yang harus dilakukannya sekarang?


Haruskah ia menuntut kejujuran Edward dan memaksanya untuk mengaku soal kebohongannya? Tapi perlakuan Edward dan setulus dan semanis ini membuat hatinya luluh juga.


"Ya ampun apa sih tujuannya bohong padaku?" batin Kalula dengan bingung.


Kalula lalu memegang tangan Edward yang masih berusaha mengecek suhu tubuhnya yang sebenarnya normal-normal saja.


"Aku nggak papa, Ed. Serius. Cuma habis minum obat sakit kepala aja semalam. Jadi mungkin tidurnya lewat waktu. Maaf, ya. Oh ya, semalam kamu pulang jam berapa?" tanya Kalula.


"Aku pulang dari rumah Mam...,maksudnya aku pulang dari rumah temenku jam satu pagi. Ya sekitar itu."


Ugh! Edward hampir saja keceplosan.


Kalula terdiam. Ia menatap curiga.


Mam...?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2