Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
19. Trik Ampuh


__ADS_3

Edward makan terasa gemas dan tak sabaran. Bukannya cepat-cepat menjawab pertanyaannya, Seira justru terdengar sedang menyedot minuman.


"Ya nggak kenal-kenal banget, sih. Kenalan biasa lah. Kan dia anak baru di komunitas Tokyo. Cuma kemarin dia nabrak aku waktu habis dari toilet. Acara ulang tahunnya kan kayak di resto gitu. Nah, terus aku kan bawa minuman, dia nabrak. Ya minumannya tumpah ke bajuku.


Dia kayak minta maaf-minta maaf gitu, Ed. Aku bilang nggak papa terus aku pergi. Mukanya kayak kusut gitu. Kayaknya habis angkat telepon dari toilet."


Seira mengunyah lagi. Edward benar-benar ingin mengomeli sepupunya ini.


"Terus terus..." Edward menyahut tak sabaran.


"Ya ganteng juga sih anaknya. Sama kayak yang di foto itu, cuma potongan rambutnya aja yang beda. Kulitnya cokelat, badannya tinggi, lumayan atletis tapi agak berisi sedikit. Oke juga. Memangnya kamu mau aku ngapain dia, Ed? Kenalan? Terus apa lagi?


Dia junior soalnya. Aku tahu sih fakultasnya di gedung apa. Cuma kalau untuk ketemu tiap hari di kampus dan pura-pura kebetulan kayaknya susah," ucap Seira.


Kali ini ia tak terdengar mengunyah atau minum, tapi kakinya terdengar melangkah atau berpindah tempat.


"Ayolah, Seira. Please. Aku tahu kamu banyak akal. Ya apalah gitu. Kamu cari tahu dia tinggal di mana, dia biasa makan di mana. Aku ngandelin kamu, Sei.


Aku sampai rela loh pura-pura jadi barista karena dia kerja di cafe-ku. Mama sampai marah. Tapi aku bilang kalau dia menghalang-halangi aku, aku mau ninggalin dia ke Paris. Mama sih udah oke. Cuma dianya masih punya pacar." Edward terus merajuk. Ia tahu Seira pasti akan membantunya.


"Astaga! Gila ya kamu! Sampai segitunya, Ed. Memang dia nggak curiga kamu yang punya cafe-nya? Emang nggak ada cewek lain apa? Tapi dari foto yang kamu kirim tadi, dia memang cantik, sih. Manis, imut-imut, ya tipemu, lah.


Eh, belum lama mama kamu telepon papa aku, ya. Biasalah nanya-nanya kabar. Dia bilang dia lagi stress karena kamu katanya nggak bakalan mau nikah. Dasar berandal! Janganlah bikin tante Amelia pusing." Seira tertawa-tawa.


"Ya makanya, Sei. Nanti aku nikahin Kalula. Kamu bantu aku singkirin pacarnya dulu. Oke?" Edward terus bersikeras.


Seira hanya iya-iya saja dan menyanggupi. Karena ia memang gadis petualang yang suka tantangan. Pacarnya saya sudah puluhan sejak SMA.


Baginya, jatuh cinta itu hal konyol. Ia tidak pernah patah hati ketika putus dari pacar-pacarnya. Ia mudah bosan. Ia hanya merasa puas kalau sudah bisa menaklukkan lelaki. Selebihnya ia bisa membuang mereka kapanpun ia mau. Itulah Seira.


Makanya dulu ketika ia mendengar Edward patah hati karena gadis yang dijodohkan dengannya ternyata hanya pura-pura mencintainya saja, Seira meledeknya habis-habisan.


Gadis petualang itu belum saja kena batunya. Andai ia sudah merasakan jatuh cinta sungguhan dengan dalam, pasti ia akan merasakan bagaimana susahnya menyembuhkan patah hati.


***


Ketika di Jakarta Edward dan Kalula sedang berjalan berdampingan menuju cafe, maka di Tokyo sana Seira sedang sibuk di kampus.


Seira yang baru keluar dari perpustakaan kampus tampak membelalakkan matanya. Ketika berjalan menuruni tangga, sosok di taman samping perpustakaan itu mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


Dilihatnya Edo sedang duduk manis menghadap laptopnya.


Sebuah kebetulan yang menyenangkan.


Tentu saja Seira tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kelasnya baru akan berlangsung 2 jam lagi. Jadi sekarang ia punya waktu untuk menyapa Edo.


Seira berjalan dengan penuh percaya diri. Dengan kecantikan Seira, semua lelaki pasti akan melirik padanya saat ia lewat, seperti sekarang ini.


Tapi cowok bernama Edo yang kemarin menumpahkan minuman di bajunya itu tampak cuek dan tetap fokus dengan laptopnya.


"Hei, kita ketemu di sini," ucap seira yang tiba-tiba sudah berkacak pinggang di depan Edo.


Edo yang tadinya fokus langsung mengangkat wajahnya dan ekspresi kaget. Wajah seriusnya berubah menjadi tersenyum canggung.


Edo tahu cewek di depannya itu adalah senior. Dan di komunitas pun ia terlihat menonjol karena paling cantik dan juga keren. Seira memang cukup disegani oleh mahasiswa lain.


Edo tentu merasa takut dan bingung karena rasa bersalah soal insiden kemarin.


"Oh, hai, Kak. Sorry ya yang kemarin. Karena kutabrak, minuman Kakak tumpah ke baju..."


"It's oke. Nggak papa," ucap Seira memotong ucapan itu lalu ia duduk begitu saja di depan cowok itu tanpa meminta izin.


"Kamu sibuk, ya? Aku ganggu nggak kalau duduk di sini?" tanya Seira yang langsung mengambil posisi seolah mereka hendak mengobrol lama.


"Nggak sih," ucap Edo masih agak canggung.


Seira pun mengirim pesan pada Edward.


[  "Aku ketemu Edo. Kebetulan sekali. Tunggu kabar selanjutnya, ya. Kita lihat secepat apa aku bisa memancing dia masuk perangkapku."  ]


"Oh ya, nama kamu Edo, kan? Jangan panggil aku 'Kak' dong. Panggil Seira aja. Paling selisih berapa tahun sih kita? Oh ya, kamu jurusan apa di sini? Belum kuliah normal, ya? Baru penyesuaian bahasa, kan?" Lalu Seira menggunakan kemampuan merayunya yang selama ini sudah terbukti ampuh sehingga Edo pun lupa diri.


Nyatanya selain cantik, Seira ini jago soal komunikasi. Edo yang awalnya serius mengerjakan tugas pun terpikat. Padahal sebenarnya ia bisa menolak mengobrol karena deadline tugasnya adalah nanti sore.


Sedangkan yang ia kerjakan belum juga dapat separuh karena kemarin-kemarin ia sibuk dengan masalahnya juga pertengkarannya dengan Kalula sehingga pikirannya tidak fokus.


Di tengah obrolan tiba-tiba Seira sok sibuk dengan ponslenya dan mulai meluncurkan triknya.


"Do, aku lagi sambil chat sama sepupu aku. Dia mau video call terus aku larang. Ngomong-ngomong aku jomblo dan dia ngira aku nggak mau angkat video call-nya karena aku lagi sama cowok.

__ADS_1


Do, aku boleh minta foto kamu nggak? Maksudnya aku foto sama kamu. Aku sama sepupuku memang sering ledek-ledekan gitu, sih. Aku bilang aja sekarang aku punya pacar. Oke? Lihat sini, Do. Senyum! Satu, dua..."


'Cekrek!'


Dan Edo mau tak mau tersenyum ke arah kamera. Foto selfie berhasil diambil dan Seira kirimkan kepada Edward saat itu juga.


"Sorry ya, Do. Nggak papa, kan? Dia juga nggak tahu kamu siapa. Kita taruhan dulu-duluan siapa yang lebih cepat punya pacar lagi. Nah, kalau dia percaya maka aku yang menang. Aku bilang aja kamu udah nembak aku," ucap Seira sambil tertawa-tawa.


Sungguh akting yang menakjubkan, seolah-olah itu nyata. Edo pun hanya mengangguk-angguk saja dengan tak enak hati.


Edo tidak curiga apapun soal foto yang barusan diambil Seira. Mereka lanjut mengobrol lagi sampai akhirnya mereka berpisah.


Tak usah tanya bagaimana mulusnya cara Seira yang berhasil mendapatkan kontak Edo.


"Waktu awal-awal aku ke sini, aku juga berat banget kok menyesuaikan soal bahasanya. Ya udah lancar, sih. Tapi tetap beda kan kalau untuk bahasa perkuliahan. Kamu boleh nanya-nanya aku, Do. Siapa tahu aku bisa bantuin. Jangan sungkan-sungkan. Kamu udah save nomor aku, kan?"


Itulah yang Seira katakan tadi sambil mengedipkan sebelah matanya penuh arti. Edo hanya mengangguk-angguk saja.


Edo pikir ia hanya senang karena mendapat kenalan baru. Ia tak tahu kalau Seira adalah perangkap mematikan untuknya. Seira adalah jebakan.


***


Menjelang jam pulang dan tanda tulisan "Close" pada cafe sudah dipasang, para pegawai lain tampak sibuk sendiri-sendiri.


Kalau sudah selesai dengan tugasnya tampak meregangkan tangannya untuk melepas lelah. Seharian ini cafe ramai sekali.


Tiba-tiba dari arah dalam, Edward berlari-lari dengan wajah panik menuju ke arahnya. Jelas, ia sedang berakting.


"Kenapa, Ed?" tanya Kalula sambil melepas apronnya dan melipatnya untuk ia simpan kembali.


"Kamu harus lihat ini, Kal," ucap Edward dengan dramatis.


Edward lalu menunjukkan layar ponselnya ke arah Kalula.


Ekspresi wajah lelah Kalula langsung berubah menjadi syok saat ia melihat foto Edo yang terlihat sedang bersama seorang gadis yang kelihatannya sangat cantik.


"Edward... A--apa ini? Maksudnya apa?" tanya Kalula yang langsung memegangi kepalanya yang tiba-tiba serasa dihantam batu. Ia pusing seketika.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2