Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
45. Pengakuan Jujur


__ADS_3

"Oke. Aku dengerin kamu. Tapi cepat ya. Aku mau kemasi baju-baju aku. Takut telat berangkat kerja." Kalula menjawab dengan tenang.


Tangan gadis itu diletakkan dengan manis di meja. Sarapan yang tinggal beberapa suap ia taruh di piring juga. Kalula begitu manis, dalam keadaan apapun itu.


Edward menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Ia ingin menyingkirkan rasa gugup yang menyergap dirinya.


"Kal, aku nggak bermaksud bohong sebelumnya. Saat pertama kali ketemu kamu, aku sedang audit di cafe. Ya, aku pemilik cafe tempat kamu bekerja. Tapi entah kenapa naluriku yang ingin kenal dekat denganmu membuatku mengaku kalau aku barista di sana."


Pengakuan pertama keluar dari bibir Edward yang gugup.


Kalula mengangguk pelan. Ya, ia sudah menduga ini.


Edward jadi bingung. Ia pikir respon Kalula akan kaget atau marah karena dibohongi. Tapi Kalula kelihatannya biasa saja.


"Ya, aku tahu. Aku baru sadar kemarin. Pak Dika selalu mendunduk takut tiap bicara sama kamu. Seharusnya aku menyadari kejanggalan ini sejak awal. Tapi kamu tahu sendiri sejak kerja di cafe aku serasa seperti setengah hidup saja. Pikiranku tidak fokus karena banyak masalah. Udah? Kamu mau ngomong itu aja? Ada lagi?" Kalula tampak masih setenang itu.


Edward kelihatannya tenang saja tapi di dalam hati dan pikiran ia sedang panik.


Oh, bahkan dahinya sampai berkeringat padahal ruangan ini ber-AC. Ia pun juga baru selesai mandi. Tapi keringat dingin itu datang sebagai respon tubuhnya atas kepanikannya.


"Mmm, apartemen ini, dan mobil juga..."


"Itu punya kamu. Iya, kan? Bukan punya sepupumu." Kalula mendahului bicara dengan agak memotong perkataan Edward. Ia tahu Edward kesulitan menjelaskan.


"Y--ya. Ka--kamu tahu dari mana? Dari Edo?" Edward malah menyebut nama itu karena panik.


"Edo?" Kalula mengernyitkan alisnya.


Edward diam saja. Ia merasa salah langkah. Seharusnya ia tidak menyebut nama Edo. Kalau begini kesannya ia seperti menuduh Edo.


"Edward, Edo nggak ada hubungannya dengan ini. Aku tahu sendiri. Sorry. Kemarin waktu aku nelpon kamu nanya dimana kotak obat, kamu nyuruh aku cari sendiri di laci kamar kamu.


Lalu kotak obatnya ketemu. Ketemu dengan banyak dokumen soal kamu yang seharusnya nggak aku lihat. Aku tahu aku lancang. Tapi dengan kelancanganku akhirnya aku tahu semuanya.


Album masa kecil kamu yang memperlihatkan semua kemewahan hidup kamu, ijazah kuliah kamu di luar negeri, paspor, visa liburan."


Dan kata-kata Kalula mengalir dengan lancar dan tenang. Edward yang tergagap-gagap tak mampu merespon.


Kalula sungguh setenang air dalam danau. Tenang, menenggelamkan tanpa disadari. Dan Edward tenggelam dalam setiap kata-kata yang diucapkan gadis itu.


Oh, seharusnya ia tahu kalau resiko orang berbohong adalah ketahuan.


"Cerita soal sepupu kamu itu kalau kupikir cuma karangan. Iya, kan? Sepupu cowok yang kuliah di luar negeri itu nggak ada. Sepupu kamu cuma Seira. Itu yang kamu ceritakan sendiri waktu kita membahas soal Edo.


Jadi, Ed. Aku bingung dengan semuanya. Apa alasan kamu bohong dan segala macam. Sampai akhirnya aku tahu alasan kamu apa begitu kamu mengaku tadi.

__ADS_1


Oke, kamu suka aku dan ingin dekat. Oke, aku nggak bisa larang kamu soal itu. Tapi kenapa? Apa spesialnya aku? Aku cuma gadis malang yang bernasib buruk. Kamu bahkan tahu semua kebobrokan hidupku serta keluargaku.


Ed, ini aneh. Izinkan aku jaga jarak ya setelah ini. Kamu pantas dapat gadis yang lebih layak. Aku nggak bisa disukai sebegininya. Terlebih oleh kamu. Kita beda. Aku akan cari kerja lain sambil bertahan di cafe sementara waktu."


Deg!


Jara jarak...


Kita beda...


Aku akan cari kerja di tempat lain...


Kata-kata itu terdengar sangat lembut keluar dari bibir seorang Kalula. Tapi efeknya terhadap Edward sungguh mematikan.


Hatinya tercabik-cabik.


Harus menjelaskan dengan apa agar Kalula paham kalau ia sangat layak dicintai. Harus bagaimana? Kenapa ia malah ingin menghindar dan pergi.


"Kal, kamu beda. Kamu spesial. Dan aku tidak bisa menahan untuk tidak jatuh cinta walau aku tahu kamu kemarin masih punya Edo. Pelase, jangan pergi. Kasih aku kesempatan. Kasih diri kamu kesempatan juga untuk mencoba mencintai aku."


Tapi kata-kata itu tak mudah untuk keluar begitu saja. Hanya bersemayam di kepala Edward. Bibirnya terasa kelu.


"Udah kan, Ed? Oh, mungkin aku harus mengganti panggilanku dengan sebutan yang lebih sopan lagi. Aku panggil kamu 'Pak' mungkin. Nggak usah pura-pura lagi jadi barista di cafe. Aku tahu tempat kamu bukan di sana.


Terima kasih untuk semua..."


Edward hanya bisa memegangi kepalanya.


Apa menjadi pria kaya sesulit itu? Hanya ingin menemukan gadis yang tepat saja harus berbelit-belit jalannya.


Dan begitu Edward ingin beranjak dari kursi meja makan, ponsel di saku celananya menyala.


"Mama memanggil."


Begitulah tulisan yang tertera di layar.


Sambil berjalan lagi masuk ke dalam kamar, Edward mengangkat panggilan itu.


"Halo, Ma? Kenapa lagi?" Suara Edward terdengar tidak bersahabat.


"Kamu ke kantor. Kan sudah tanda tangan setuju untuk pelan-pelan mengambil alih urusan bisnis. Ada Pak Walikota mau datang. Kolega Mama. Dia mau join cabang dan nawarin modal besar. Datang jam 10 tepat waktu. Mama tunggu!"


Tut!


Lalu panggilan dimatikan sepihak. Edward hanya menarik nafas panjang. Ia merasa sesak.

__ADS_1


Kenapa menjalin cinta sesulit itu? Padahal bisa dibilang ia sosok pria sempurna. Uang ada, cukup tampan, pendidikan bagus, keluarga terhormat.


Oh, sedangkan pria sialan macam Edo beruntung sekali dicintai Kalula dengan begitu dalam. Bahkan setelah putus cowok biasa yang tampang maupun uangnya hanya pas-pasan itu dikejar-kejar Seira.


Arghhh! Kadang hidup memang tidak adil!


***


Kalula sedang mengelap meja begitu Dika lewat di sampingnya. Sudah siang lewat begini dan Edward belum muncul di cafe.


Kalula diam-diam mencemaskan walau gengsi untuk bertanya langsung.


Entahlah, ia bingung dengan perasaannya sendiri sekarang ini.


"Mmm, Pak Dika. Ehmmm, Pak Edward nggak masuk hari ini?" Suara Kalula pelan tapi jelas terdengar.


Dika mengernyitkan alisnya. Kalula hanya nyengir saja.


"Pak Edward?" Dika bertanya balik dengan ragu. Ia mulai curiga karena Kalula mulai memanggil Edward dengan sebutan 'Pak.'


Telepon Edward tadi pagi juga membuatnya bingung. Edward hanya bilang ia akan ke kantor pusat hari ini dan tidak akan datang ke cafe. Dika mengangguk paham dan menunggu instruksi selanjutnya tapi ternyata Edward memutus panggilan.


Dika pikir Edward akan bilang padanya untuk membohongi Kalula soal kepergiannya ini atau bagaimana. Tapi ternyata tidak.


Dan siang ini Dika makin dibuat bingung. Kalula menatapnya dengan kata beningnya.


"Saya sudah tahu semuanya soal Pak Edward. Dia nggak ke cafe hari ini?" tanya Kalula.


Dika agak tergagap lalu mengangguk. "Ya, Pak Edward ada meeting penting di kantor pusat katanya."


Dika lalu berlalu pergi kembali ke ruangannya karena merasa canggung dengan Kalula.


Kalula kembali mengelap meja tapi sambil melamun. Oh, kenapa ia tiba-tiba merasa hampa begini? Merasa ada yang hilang?


Bukankah ini maunya? Ia ingin menjaga jarak dan Edward mempermudahnya dengan tidak muncul di depannya lagi.


Tapi kenapa Kalula malah merasakan sedikit kehampaan tanpa kehadiran Edward?


Kalula berlalu pergi membereskan meja lain yang baru ditinggalkan pelayan. Perasaan boleh saja galau, tapi pekerjaan harus tetap jalan.


Kalula tak tahu saja kalau dari jendela kantornya, Dika sedang mengintipnya diam-diam sambil satu tangannya memegang ponsel, menerima telepon dari Edward.


"Tapi Pak. Saya nggak tega. Kasihan Kalula..."


Apa sebenarnya yang sedang dibicarakan Edward pada Dika?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2