
Kalula menghadap Dika untuk minta maaf soal ia tak masuk kemarin tanpa izin sakit. Kalula sudah takut dimarahi tapi ternyata sang manager cafe itu malah ramah dan menanyakan apa ia baik-baik saja dan sudah sehat sekarang.
Kalula senang tapi agak sedikit heran juga. Namun itu tak ia pikirkan. Ia kembali bekerja melayani para pengunjung tempat yang selalu ramai itu.
Kalula tak tahu saja kalau Dika sudah di-briefing oleh Edward agar tak marah soal izin sakit. Dika tentu iya-iya saja. Ia hanya manager cafe sedangkan Edward-lah pemiliknya. Apapun perintah Edward akan ia lakukan.
Sepanjang hari itu Kalula benar-benar fokus bekerja. Ia mematikan ponselnya sesuai saran dari Edward.
Di jam istirahat pun Edward sengaja menyamakan jadwalnya agar bisa terus dekat dengan Kalula. Ia terus memepet tanpa memberikan jeda bagi Kalula untuk berpikir. Tuluskah Edward?
"Sudah berapa kali cek ponselmu sampai sore ini?" tanya Edward sambil tertawa.
Kalula menggeleng. "Nope. Masih kumatikan sejak pagi."
"Nice." Edward menyahut lagi sambil menyodorkan segelas cappuccino dingin untuk Kalula.
Kalula tersenyum senang. Mereka sedang duduk di area samping cafe yang dikhususkan untuk karyawan. Ada pagar tanaman hidup yang menjuntai di antara teralis panjang-panjang itu. Dimana posisi mereka bisa kelihatan jelas dari luar.
Baik Edward maupun Kalula tak tahu, ada seseorang yang sedang mengintai mereka dan mengambil beberapa foto.
Pria yang membuntuti mereka itu adalah Bram-orang suruhan Amelia Santono.
[ "Pak Edward bersama seorang gadis di cafe-nya yang di Jalan Aksara, Bu. Kelihatan dekat dan akrab. Ini fotonya." ]
***
Amelia Santono menerima pesan itu saat ia sedang bersantai menikmati pijatan kepala di salon langganannya. Ia terkejut melihat foto yang dikirim Bram sampai terbangun dari kursi keramas itu sehingga pegawai salon yang menanganinya panik.
"Maaf, Bu. Apa airnya terlalu panas? Atau pijatan saya mengenai bagian yang sakit?" tanyanya dengan makin panik. Pegawai itu tentu tahu kalau Amelia Santono adalah pelanggan VVIP di salon ini.
"Oh, nggak, kok. Nggak. Sorry sorry. Saya hanya sedikit kaget aja tadi. Oke nggak papa. Tenang-tenang," ucap Amelia lalu kembali duduk dan membaringkan dirinya dengan nyaman.
Tangan bercincin berlian dan bercat kuku warna merah itu terus mengetuk-ngetuk layar ponselnya. Ia perbesar lagi foto yang dikirim Bram untuk melihat secara lebih jelas seperti gadis yang sedang bersama putranya itu.
Amelia langsung mengernyitkan alisnya. Gadis ini memakai seragam pelayan cafe? Oh, tunggu!
Tadi pagi ia sekilas melihat Edward menyeberang jalan tepat di depan mobilnya dan gadis itu berada di gandengannya. Gaya rambut gadis ini sama. Poni rata di atas alis. Ya, mungkin memang banyak sih gadis berponi. Tapi sepertinya mereka gadis yang sama, batin Amelia sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Masih sambil menikmati pijatan manja di kepalanya, Amelia Santono mendekatkan ponselnya ke arah telinga.
"Bram, ikuti Edward sampai apartemennya, ya. Kamu bawa mobil, kan? Ikutin mobilnya, jangan sampai lolos. Mungkin Edward akan mengantar gadis itu pulang. Jangan lupa lapor. Kalau bisa fotokan. Ngerti?"
"Ngerti, Bu."
__ADS_1
***
Bram sudah berada di belakang setirnya dan siap membuntuti mobil Edward. Ia tahu mobil Edward terparkir di dekat area cafe. Tentu Amelia Santono yang memberitahunya, berikut nomor-nomor plat-nya.
"Loh, kok nggak naik mobil?" Bram langsung menggumam sendiri. Lengannya yang seram bertato tampak mengendurkan posisi siapnya.
Edward yang menjadi target untuk ia ikuti malah berjalan kaki dengan gadis itu. Mobilnya ia lewati begitu saja. Bram tentu bingung. Ia harus apa? Mengikuti orang berjalan kaki dengan mobil tentu akan susah.
Sekali mobil ini masuk ke jalanan utama di depan sana, maka tertabraklah ia kalau jalan pelan-pelan.
"Arghhh! Aku jalan kaki saja." Bram akhirnya turun dari mobilnya. Tak lupa ia mengambil topi untuk makin menyempurnakan penyamarannya.
Edward sih belum pernah melihat Bram secara langsung. Tapi Bram tahu anak itu karena Amelia sudah mempekerjakannya untuk mamata-matai dari anak itu pindah ke apartemen. Bram tetap merasa ia perlu topi untuk berjaga-jaga.
Diikutinya Edward dan Kalula. Bram mengambil jarak aman beberapa meter di belakang mereka. Sambil pura-pura berjalan macam orang biasa, tangan Bram juga sambil mengeluarkan ponselnya untuk memotret diam-diam dan melapor.
Hingga akhirnya Edward dan Kalula masuk ke dalam apartemen, langkah Bram tertahan sampai lobby. Ia tak punya kartu akses sampai lift karena ia tak tunggal di sana. Tamu hanya menunggu di sini, kecuali ikut masuk bersama pemilik unit yang membawa kartu.
[ "Nyonya, Pak Edward masuk ke apartemennya bersama gadis itu. Saya hanya bisa sampai lobby. Sekarang saya harus bagaimana? Pulang saja?" ]
Bram mengirimkan pesan sambil duduk di sofa tunggu yang nyaman. Nafasnya masih naik turun dengan tak teratur. Jarak cafe dan apartemen sebenarnya tidak terlalu jauh, makanya Edward dan Kalula berjalan kaki saja ke sini.
Hanya saja Bram ini memang berbadan agak gemuk dan ia tidak terbiasa berjalan jauh apalagi sambil mengikuti orang, makanya ia masih merasa lelah.
Dipelototinya layar ponselnya. Ia menunggu balasan pesan dari Nyonya-nya, tapi ternyata Sang Nyonya tidak membalas pesan. Janda kaya itu justru meneleponnya secara langsung.
Jadi kamu tunggu saja di dekat situ ya, Bram. Jangan di lobby. Di luar saja, nanti satpam curiga kalau kamu lama-lama di sana."
Tapi ternyata sudah tengah malam lewat dan Bram sudah mengantuk menunggu, Kalula tidak juga keluar dari gedung apartemen itu. Bram pun menelepon kembali Sang Nyonya yang mempekerjakannya itu.
"Bu Amelia, gadis itu nggak keluar. Saya sampai ngantuk. Jadi saya harus gimana, Bu? Saya pulang ya?" Bram menggaruk-garuk kepalanya dengan bosan karena dari tadi hanya mengamati lalu-lalang orang tanpa hasil.
"Aduh, jangan. Kamu tidur saja di situ. Parkirin mobil kamu dekat situ, lalu kamu tunggu sekalian sampai besok waktu jadwal berangkat kerja. Atau biasanya Edward suka lari-lari pagi, kan?
Kamu pantau terus. Nanti saya bayar dua kali lipat, deh. Gimana? Mau kan, Bram?" Amelia Santono merayu.
"Oke. Ya, saya ambil mobil dulu kali, ya," ucap Bram dengan lemas dan setengah mengantuk. Walaupun begitu tawaran bayaran 2 kali lipat membuatnya memaksakan dirinya berjalan terseok-seok tengah malam menuju mobilnya yang terparkir dekat cafe.
***
Tengah malam itu Edward terus membuat Kalula sibuk dan lupa akan segalanya.
Setelah pulang kerja, ia mengajak Kalula membuat makan malam di dapur lalu mereka makan bersama, mencuci piring, dan bercanda ria.
__ADS_1
Kemudian setelahnya, Edward menarik tangan Kalula untuk duduk di sofa dan memutar satu film untuk mereka tonton bersama sambil mengobrol. Hingga akhirnya sekarang Kalula ketiduran tanpa sempat mengaktifkan kembali ponsel yang ia matikan.
Edward tersenyum penuh kemenangan. Ia tidurkan Kalula lagi di sofa dan ia selimuti. Ia lalu tidur di karpet tebal di bawahnya seperti biasa.
Kalula adalah satu-satunya gadis yang membuat Edward obsesif begini. Tapi itulah dia keunikannya. Edward yang sudah trauma jatuh cinta merasa menemukan kembali apa yang ia inginkan.
Dunia Kalula yang rumit membuatnya makin penasaran. Ia merasa ia harus menyelamatkan gadis itu dari keluarganya yang toxic dan dari pacarnya.
Edward tahu Kalula harus menjadi miliknya, entah bagaimanapun caranya. Ia merasa Kalula adalah takdirnya.
***
Edward terbangun saat Kalula duduk mematung dengan mata menatap layar ponselnya.
Agak kecewa juga malah Edward melihat Kalula asyik dengan ponselnya lagi. Ia takut Edo kembali merayu Kalula dan mereka baikan.
"Kal? Udah bangun? Kenapa? Edo hubungi kamu selama ponsel kamu mati kemarin?" Edward langsung mengambil posisi duduk di samping Kalula.
Kalula menggeleng. "Nggak. Dia nggak hubungi aku. Kayaknya senang-senang aja tuh kulihat dia sama teman-temannya lewat story di sosmed Erina.
Cuma Mama yang hubungi aku lewat handphone Karina. Dia minta dikirimi uang karena katanya uangnya jatuh tempo dan dia diteror rentenir."
Edward mendecak-decakkan bibirnya.
"Kal, kamu tahu harus apa kan soal Mama kamu?" Edward merentangkan tangannya ke sandaran sofa seolah ingin memeluk pundak Kalula.
"Abaikan. Iya, kan?" Kalula mencoba tertawa cuek, walau dalam lubuk hatinya ia sedih ternyata seharian ia sengaja mematikan ponsel tapi Edo tidak berusaha mencarinya atau menghubunginya.
Dalam hati kecilnya ia ingin pacarnya itu mohon-mohon maaf padanya seperti dulu.
"Mau lari pagi lagi?" Edward menawarkan diri saat melihat jam menunjukkan pukul 5.
Kalula mengangguk tanpa ragu. Ia tahu, lari bisa membuat pikirannya teralihkan.
***
[ "Bu Amelia, jam 5:10 Pak Edward keluar dari apartemen. Pakai pakaian olahraga sama gadis itu. Ini fotonya. Saya sudah kejauhan untuk mengikuti mereka." ]
Bram beralasan. Padahal ia hanya malas berjalan lagi dan mengantuk.
Pesan terkirim. Bram lanjut ketiduran di mobilnya. Amelia Santono yang menerima pesan itu ketika bangun tidur langsung memutuskan.
Ya, hari ini ia akan ke cafe itu langsung. Seperti apa sih gadis yang membuat Edward-nya jatuh hati? Apalagi putranya itu membawa sang gadis menginap di apartemennya.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, Amelia cemas...
Bersambung ...