
Seira sedang berjalan di koridor menuju perpustakaan kampus. Edo sudah berpisah beberapa menit yang lalu menuju kelasnya.
Ketika menyadari tiba-tiba ponselnya bergetar dan melihat layar ponselnya terpampang nama Edward, Seira langsung menyingkir. Ia tidak jadi berjalan menuju pintu. Ia memilih turun ke tangga lagi menuju taman untuk mengangkat telepon Edward.
"Halo? Kenapa, Ed?" tanya Seira dengan santai.
"Kalula tahu soal identitasku. Kamu ngasih tahu Edo ya? Terus Edo ngasih tahu Kalula? Benar gitu?" tanya Edward yang langsung menyerang Seira saja tanpa basa-basi.
Seira yang baru saja menaruh tas laptopnya di meja taman langsung menarik nafas panjang. Ya ampun! Pagi-pagi Edward sudah menerornya begini.
Kalau menilik dari kata-kata yang terdengar dan nada suaranya. Seira tahu Edward pasti sedang gusar sekarang.
"Iya aku ngasih tahu Edo beberapa jam yang lalu. Itu pun karena Edo yang nanya sendiri, Ed. Dia bisa menebak kalau kamu bukan cowok biasa. Ya aku jujur aja.
Tapi habis itu dia nggak nelpon Kalula atau siapapun lagi, kok. Setelah itu kita berangkat ke kampus, kan. Ini dia lagi di kelasnya mungkin. Dari tadi aku sama dia terus. Jadi kujamin dia nggak ngasih tahu Kalula soal ini.
Mereka udah putus, Ed. Edo juga udah bilang semua sama aku. Ngapain dia ikut campur soal kamu sama Kalula? Lagian mungkin memang sudah waktunya semuanya terbongkar. Udahlah, ngaku aja." Seira malah menjawab dengan sekenanya.
Edward mendengus kesal. Dia berharap Seira menenangkannya, bukan malah merespon begini.
"Emang kenapa sih, Ed? Kalau ketahuan ya kan tinggal bilang aja. Tinggal ngomong, 'Hei, Kalula. Sebenarnya aku tuh kaya raya. Aku juga pura-pura jadi cowok miskin untuk ngetes kamu itu beneran suka sama aku karena memang aku orangnya atau karena kekayaanku.'
Tinggal bilang gitu, kan? Gampang." Seira justru menjawab dengan jawaban yang membuat Edward makin kesal lagi.
Edward pun tidak merespon Seira dan justru menutup panggilan itu secara sepihak.
Tut!
Seira menatap ponselnya lagi dengan santai. Panggilan telepon Jakarta-Tokyo sudah terputus. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya merespon kelakuan Edward.
Dengan karakter yang berbeda jauh bagaikan Bumi dan langit, Edward dan Seira adalah tipe orang yang berbeda untuk mengungkapkan perasaan. Seira lebih terang-terangan, tidak suka basa-basi, dan bertele-tele. Sedangkan Edward ini lain. Dia agak kaku dan gengsian sebenarnya.
"Ngapain sih Edward panik. Ssbagai cewek normal, bukannya Kalula malah seneng ya setelah tahu Edward sebenarnya orang kaya. Siapa sih cewek yang gak mau cowok kaya?" Seira bergumam sendiri lalu menyalakan laptopnya.
Sebenarnya Seira sedang tidak ada kelas hari ini. Ia beralasan pura-pura ada kelas agar bisa mengantar Edo ke kampus dan menghabiskan waktu bersamanya.
__ADS_1
Setelah apa yang terjadi semalam, Seira makin obsesif. Hubungan di antara mereka terjadi dengan aneh dan unik. Seira sangat menikmatinya. Ia tidak dapat melupakan Edo begitu saja seperti cowok-cowoknya yang sebelumnya.
Edo adalah cowok polos pertamanya. Edo adalah satu-satunya cowok yang menolaknya. Ia harus membuat Edo bertekuk lutut di depannya cepat atau lambat. Seira telah bertekad.
Seira mengangkat bahu lalu asyik sendiri dengan laptopnya.
Dan pagi itu ketika Samuel yang pernah dekat dengannya tiba-tiba datang menyapa dan duduk di kursi depannya, Seira tampak cuek.
Ya, Samuel cowok Singapura itu juga pernah menghabiskan malam panas dengannya. Seira tampak bosan dengan percakapan basa-basi Sam yang mengajaknya party nanti malam.
Seira jelas tahu, ketika Sam mengajaknya ke pesta dan minum-minum pasti ujung-ujungnya cowok itu ingin menghabiskan malam dengannya.
Seira tahu ia sangat menarik bagi para pria pengincar macam Sam. Jujur saja, dulu ia menikmati semua hal itu. Menjadi pusat perhatian, menjadi wanita penakluk di setiap pesta dan pergaulan hedonis. Tapi sekarang ia bosan. Ia tak tertarik lagi.
Sebenarnya pengalaman terakhirnya membuatnya berpikir ulang. Di dekat toilet sebuah club malam, Seira mendengarkan para cowok sedang menggunjingkan tubuhnya sambil mabok.
Ya, Seira sadar ia hanya 'sekedar tubuh indah' di mata para cowok. Dan sejak itu ia sangat selektif. Ia sedikit menutup diri dan menghindar.
Sampai akhirnya ia menemukan sisi lain dari cowok biasa bernama Edo. Edo menganggapnya lebih dari sekedar seonggok 'tubuh'.
Seira menatap Sam yang terus membual soal menariknya pesta di rumah Nicky-cowok Amerika yang juga pernah dekat dengannya.
"Sudahlah, Sam. Aku tidak tertarik. Go away!" Seira berkata cuek tanpa menatap Sam.
Sam berdehem agak kesal lalu ia beranjak dari kursi taman. Ia meninggalkan Seira sendiri dengan wajah kecewa.
***
Lalu di Jakarta yang 2 jam lebih lambat zona waktunya.
Edward membuang ponselnya ke kasur dan mandi dengan cepat. Ia tak mau Kalula meninggalkannya ke tempat kerja lebih dulu untuk menghindar. Ia ingin memberi penjelasan walau bingung mau memulai darimana.
Tapi betapa terkejutnya Edward ketika sedang mengeringkan rambut, tiba-tiba Kalula mengetuk pintu kamarnya.
Suasananya jadi canggung. Kalula tampak sudah berpakaian rapi dan bilang ia sudah menyiapkan sarapan seolah-olah dari tadi tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
Edward sedikit melirik wajah Kalula yang sudah segar. Ya, walaupun begitu mata bengkaknya sisa-sisa menangis semalam itu masih terlihat lumayan jelas.
Edward mengangguk dengan perasaan yang masih bingung, tapi langkah kaki panjangnya mengikuti Kalula menuju meja makan.
Di meja makan Kalula menyiapkan roti panggang favorit Edward. Entah bagaimana ia bisa dengan cepat melakukannya padahal Edward baru meninggalkannya menelpon Seira sebentar lalu mandi.
Biasanya Edward akan cerewet mengajak mengobrol sambil menyiapkan cappucino hangat favorit Kalula. Tapi pagi ini ia terlalu tegang untuk melakukannya. Ia memilih duduk di kursi meja makan dan membiarkan Kalula menyiapkan sarapan untuknya.
Kalula lalu duduk di depannya dengan tenang. Tangannya memang roti dan sibuk mengunyahnya.
"Untuk semua percakapan kita beberapa menit yang lalu, aku minta maaf kalau terlalu emosional dan berapi-api. Tapi thanks Ed untuk semuanya. Untuk tumpangan tinggal di apartemen ini, untuk sarapan dan obrolan seru untuk mengalihkan rasa sedihku, untuk semua momen yang tak luput terjadi karena kebaikan hatimu.
Mungkin ini hari terakhir aku di sini. Aku sudah menghubungi ibu kost sambil menyiapkan roti tadi. Beliau menelponku dan bilang nanti sore ada satu kamar yang sudah bisa ditempati.
Aku bisa langsung membawa koper dan tas pagi ini sambil berangkat kerja. Toh barang-barangku tidak seberapa banyak. Bisa aku taruh dulu di ruang ganti. Nanti pulangnya aku langsung ke tempat kost, nggak ke sini lagi."
Edward yang baru menelan satu kunyahan roti panggang favoritnya hanya bisa terdiam membeku.
Rasanya sedih, seolah ia kehilangan sesuatu yang penting dan berharga. Dan memang begitu kenyataannya. Kalula penting dan berarti untuknya. Tapi gadis itu bilang ini adalah momen terakhirnya di tempat ini.
Edward panik, cemas, terkejut, bingung, dan mendadak gelisah. Sedangkan Kalula tampak mengunyah sarapannya dengan santai.
Arghhh!
Apa ini saatnya? Apakah waktunya tepat untuk menjelaskan semuanya. Edward ingin meluruskan kesalahpahaman yang ia buat sendiri.
"Kal, aku mau ngomong. Aku mau jelasin semuanya." Edward berkata dengan mendadak. Roti panggang di tangannya sudah ia taruh di piring saji lagi. Nafsu makannya hilang.
Kalula menatapnya. Lesung pipinya terlihat hilang timbul seiring kunyahan sarapannya.
"Please, dengerin aku dulu." Edward benar-benar berkata dengan nada memohon sekarang.
Kalula menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Please..."
__ADS_1
Bersambung ...