
Dika menyenggol-nyenggol lengan Edward dengan sikunya. Wajahnya panik dan mengeluarkan ekspresi konyol.
"Gimana, Pak? Saya harus jawab apa?" Dika bertanya pada Edward dengan gerakan mulut, tanpa mengeluarkan suara.
Edward memberinya instruksi dengan bisikan. Sementara itu Dika menyimak.
"Ayo bilang!" Edward memberi kode pada Dika untuk segera bersuara.
"Pak Dika? Halo? Kalau nggak jawab saya tutup telponnya, ya?" Suara Kalula terdengar sangat percaya diri. Jelas, ia sudah dapat pekerjaan baru sekarang. Tak perlu takut lagi ia diancam akan dipecat macam tadi.
"Eh, i--iya iya. Ini nggak ada hubungannya sama pak Edward ya. Dia aja nggak ke cafe kok hari ini. Saya emosi aja tadi karena kamu absen dan cafe ramai, jadi kurang orang.
Yaudah kamu dimana? Biar sekalian pulang saya samperin. Saya nggak enak karena kemarin telat ngurus gaji kamu. Besok kamu boleh kembali kerja lagi seperti biasa." Dika mencoba membuat wibawanya sebagai manager cafe kembali.
Kalula diam sejenak. Mungkin ia berpikir apakah ini sungguh kelakuan Edward atau bukan. Menahan gaji, ancaman pemecatan. Kalula yang termakan dengan omongan mama Edward rupanya goyah.
"Halo, Kal?" Dika mencoba memanggil Kalula karena gadis itu tidak segera menjawab.
Edward masih menunggu dan menguping dengan tegang.
Satu-satunya harapannya untuk kembali mengetahui dimana Kalula adalah dengan diam-diam mengikutinya.
"Pak Dika serius mau menemui saya? Pak Dika sendiri, kan? Nggak sama Pak Edward?" Kalula mulai curiga.
"I--iya, kok. Saya sendiri. Kan udah saya bilang pak Edward dari pagi nggak ke sini." Dika berusaha meyakinkan Kalula dengan aktingnya yang buruk itu.
"Pak Edward nggak ke cafe? Dia, mmm... dia nanyain saya, nggak?" Entah kenapa tiba-tiba Kalula menanyakan ini padahal nomor Edward saja ia blokir.
Dika melirik Edward yang mencoba tetap bersikap tenang dan dingin. Padahal dalam hati senang juga ia mendengar Kalula menyebut-nyebut namanya.
Edward langsung memberi kode pada Dika dengan gelengan kepala.
"Nggak. Dia nggak nanyain kamu. Emangnya kenapa?" Dika malah membalikkan pertanyaan Kalula.
Edward memelototinya. Dika hanya nyengir saja.
"Nggak papa, Pak. Yaudah saya di rumah sakit Bana 12. Nanti saya tunggu di halte depannya. Bapak kabari saya lagi kalau udah mau ke sini." Kalula menjawab.
Edward sedikit mengernyitkan alisnya. Rumah sakit? Siapa yang sakit?
"Tanya siapa yang sakit! Buruan!" Edward memberi kode pada Dika.
__ADS_1
Dika mengangguk lalu menanyakan ini pada Kalula.
"Kan saya udah bilang. Tadi saya nolongin anak ibu kost saya yang jatuh. Jadi saya menginap di rumah sakit sekarang karena orang tuanya masih dalam perjalanan dari luar kota. Saya tutup telponnya ya, Pak. Nanti Pak Dika kabari aja." Kalula mulai curiga karena manager-nya banyak tanya.
"O--oke." Dika menjawab sambil melirik takut ke arah Edward yang sibuk mengawasi.
"Oh ya, Pak. Satu lagi. Mulai besok saya nggak ke cafe lagi. Saya mengundurkan diri. Suratnya saya kirim via email besok. Terima kasih untuk semuanya."
Tut!
"Halo? Halo, Kal?" Dika panik karena panggilan ini diakhiri sepihak oleh Kalula.
Edward mendesak pasrah. Ia bingung dan kaget. Kenapa Kalula tiba-tiba mengundurkan diri? Apa dia dapat pekerjaan baru? Beribu kecemasan melanda dirinya.
"Gimana ini, Pak?" Dika sang saksi bisu betapa sejak awal Edward rela berbohong dan bersandiwara dengan menjadi barista menatap boss-nya itu dengan tatapan iba.
"Kamu temui di rumah sakit. Saya ikuti dari jauh. Kamu tolong tanya dia ya kenapa resign. Saya nggak bisa hubungi dia lagi karena nomor saya diblokir." Edward menjawab dengan lemas.
Dika hanya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.
Edward tertunduk lesu.
Ah, kenapa kisah cintanya begitu rumit? Apa ia jatuh cinta pada orang yang salah? Harusnya semua makanan mudah karena Kalula sudah putus dari Edo sekarang. Tapi kok malah jadi begini.
"Kal, sebenarnya aku bukan barista. Aku yang punya cafe ini. Aku juga mewarisi Gantara Group yang membawahi banyak cabang usaha lain. Aku mencintaimu dan ayo kita menikah. Hidupmu tidak akan susah lagi."
Lalu mereka berpelukan dan happy ending seperti kisah sinetron.
Tapi ternyata tidak. Endingnya justru sebaliknya.
Edward lupa ada harga diri yang ia usik secara tidak sadar. Kalula juga punya ego sebagai seorang perempuan.
Apa yang Edward lakukan bagai merendahkannya. "Nah, Kal. Aku cuma ngetes kamu. Ternyata walau aku cuma barista kamu tetap suka dan nyaman padaku. Sekarang aku akan memberi kejutan. Tadaaa! Aku ternyata kaya. Kamu lolos tes dan ayo jadi pacarku!"
Ya, kira-kira sekonyol itu. Edward lupa ini dunia nyata. Dimana kehidupan yang dilewati Kalula membuatnya tegar dan tak mudah goyah oleh kekayaan atau duniawi.
Buktinya ia memahami Edo, cowok biasa yang hidupnya juga tidak jauh lebih baik dibandingkan dirinya secara ekonomi dan status sosial. Padahal dengan wajah cantiknya Kalula bisa memacari cowok kaya macam Edward dan memanfaatkan uangnya.
Tidak! Kalula lebih dari itu. Mendiang papanya mendidiknya untuk menjadi gadis hebat yang punya integritas tinggi.
"Dik, buruan kabari Kalula lagi. Saya tunggu di dalam mobil. Nanti saya parkir di seberang jalan halte yang dimaksud Kalula." Pria yang sedang patah hati itu akhirnya berdiri dengan gontai menuju mobilnya.
__ADS_1
***
Kalula keluar dari loby rumah sakit setelah sebelumnya berpamitan pada Shanty. Ya, keadaan wanita yang sedang hamil muda itu makin stabil. Bu Rudy alias pemilik kost juga sedang dalam perjalanan pulang. Tadi Shanty akhirnya mengabari karena mamanya bilang beliau punya firasat buruk.
Kalula memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya. Entah kenapa udara malam Jakarta agar dingin malam ini.
Ditatapnya bulan sambil berjalan menuju halte. Ah, ternyata Pak Dika sudah duduk di sana menunggunya.
"Ah, dia sendirian." Kalula membatin dengan lega. Ia sempat cemas Edward akan ikut.
Entah kenapa perasaannya bilang begitu. Ditatapnya ke arah seberang jalan. Tampak sebuah mobil warna putih berkaca gelap terparkir di tempat yang tidak semestinya.
Alis Kalula mengernyit. Ia ingat mobil itu ada di tempat parkir apartemen. Ya, Edward kan sempat mengajaknya naik mobil. Mobil yang ia bilang punya sepupunya.
Kalula melenguh dalam hati ketika akhirnya menyadari Edward mengintai dirinya dari kejauhan. Ia makin yakin Nyonya Amelia Santono benar. Semua ini ulah Edward. Akal-akalannya saja untuk membuatnya tetap bergantung padanya.
"Kamu baik, Edward. Cuma kamu pembohong. Andai kamu jujur sejak awal dan tidak melukai harga diriku begitu dalam." Kalula kembali membatin hingga akhirnya ia sudah berdiri di depan Dika.
"Kal, kamu nginep di sini malam ini?" Dika langsung berdiri dari duduknya dan bertanya dengan nada tergagap.
"Iya, Pak. Bapak mau kasih gaji saya cash sekarang?" Kalula benar-benar tak mau basa-basi.
Memikirkan Edward sedang menatapnya dari mobilnya dengan mata cokelatnya membuat Kalula ingin terburu-buru pergi.
Dika mengeluarkan kantong amplop coklat dan menyerahkannya pada Kalula.
Kalula menerimanya lalu mengucapkan terima kasih dan pamit pergi.
Dika panik. Ia langsung menahan Kal.
"Ada apa lagi, Pak?" Kalula bertanya dengan nada malas.
"Mmm, ka--kamu bilang resign kerja, kan? Kalau boleh tahu kamu sudah dapat pekerjaan baru? Mmm di--dimana?" Dika benar-benar sangat tidak natural bertanya seperti ini. Suaranya seperti sedang tertekan. Mobil putih di seberang ia berdiri membuatnya terintimidasi secara tidak langsung.
"Bukan urusan Bapak. Pak Edward kan yang nyuruh Bapak nanya? Dia di mobil putih itu, kan? Di seberang jalan?" Kalula menunjuk mobil putih tanpa ragu.
Dika terbungkam. Kalula meninggalkannya sendirian sementara mobil dan kendaraan lain terus berlalu lalang membelah jalanan ibu kota yang tidak pernah sepi.
Kalula benar-benar membangun tembok yang tinggi untuk Edward sekarang. Mungkin karena ia sadar juga, kalau ia tak memberi jarak ia akan luluh dengan cepat.
Ya, Edward mempesona dengan segala bentuk perhatiannya untuknya. Ia sempurna. Kalula merasa harga dirinya harus ia junjung tinggi dan jual mahal. Kalau ia luluh pada Edward artinya ia sama saja seperti gadis lain di luar sana.
__ADS_1
Matre!
Bersambung ...