
"Kenapa sih, Do?" Seira merangkul Edo menuju cafetaria.
Seira padahal seharusnya sudah pulang. Ia tak ada kelas lagi hari ini. Ia malah jauh-jauh berjalan dari gedung fakultasnya menuju tempat Edo.
"Nggak papa. Cuma pusing sedikit. Setengah jam lagi ada kelas lagi." Edo menggumam semi mengeluh. Ia biarkan saja yang Seira merangkulnya.
"Izin sakit aja ke dosen. Sini aku buatkan lewat aplikasi kampus. Nomor mahasiswa kamu berapa? Aku bilang aja lagi sakit ya karena adaptasi cuaca. Boleh kok pakai alasan gini buat mahasiswa asing." Seira mengambil ponselnya lalu menarik Edo duduk ke sebuah kursi.
(Nb : Cerita perkuliahan, aturan mahasiswa, dll hanya fiktif belaka untuk keperluan cerita)
Edo hanya iya-iya saja. Seira mencatat namanya dan mengajukan ke aplikasi izin kampus. Ia bilang mahasiswa asing tahun pertama boleh melakukannya.
Edo tentu tahu ini bukan tindakan yang benar. Entah apa komentar teman-temannya soal ini. Ah, ia tak peduli. Toh otaknya memang tak pintar-pintar amat. Kalau bukan karena menyontek jawaban Kalula, mana mungkin Edo sampai sini.
"Oke? Beres? Nanti dosennya kirim tugas pengganti di email kamu. Gampang, nanti aku bantuin. Yaudah. Jalan, yuk." Seira langsung mengamit tangan Edo dan mereka berjalan pergi.
Seira menyetir mobilnya. Gadis ini memang keren. Punya izin tinggal karena ikut papanya, punya SIM internasional, dan papanya yang kaya membelikannya mobil pribadi yang jelas harga dan pajak kepemilikannya tidak murah.
Edo duduk di kursi penumpang sambil merenung. Sakura-sakura yang bermekaran cantik itu tak menggerakkan hatinya untuk gembira. Ia murung.
Edo mulai pesimis. Baru bulan-bulan awal saja perkuliahannya sudah hancur dan kacau. Selain karena memang kapasitas otaknya tidak cukup mampu karena dari awal memang terbantu Kalula sampai lolos beasiswa, ia juga tidak fokus belajar karena bayang-bayang Kalula di Jakarta mengganggunya.
"Kenapa sih, Do? Kalula lagi? Katanya mau lupain dia kemarin." Seira bicara sambil menyetir.
Edo tersenyum tipis, tak langsung menjawab. Ya, kemarin di puncak marahnya ia memang bilang begitu pada Seira.
Ah, sepertinya Seira memang ditakdirkan datang padanya di saat terpuruk begini. Kadang Edo berpikir waktunya terlalu tepat untuk disebut takdir. Karena Seira memang membuatnya senyaman itu.
Seira juga membantunya mengerjakan tugas-tugas kuliahnya yang sulit. Karena selain cantik dan kaya, dia juga pintar. Otaknya tak kosong.
Edo tak tahu. Seira memang datang di waktu yang tepat karena disetting Edward. Seira datang dengan tujuan. Tujuan membubarkan hubungan Edo dan Kalula atas permintaan Edward. Tapi rupanya Seira terbawa perasaan.
Seira terpikat pada Edo dan mulai timbul benih-benih perasaan tak wajar.
Terlebih dengan semua perhatian, sentuhan yang berani, kode-kode natal dan banyak hal lagi; Edo cukup kokoh untuk runtuh pertahanannya.
"Sorry, Sei. Aku masih ada Kalula. Aku nggak bisa begini. Lagian, belum pernah aku seintens itu berkontak fisik dengan perempuan."
Dan bukan Seira namanya kalau menyerah. Semakin ditolak semakin pula ia gigih untuk mencoba menaklukkan.
__ADS_1
"Kita mau kemana, Sei?" Bukannya menjawab pertanyaan Seira, Edo malah mengalihkan pertanyaan. Ia sedang tak ingin membahas Kalula yang hingga kini belum mau membalas pesannya.
"Ke rumah aku. Papa pergi ke New York pagi tadi. Naik penerbangan paling pagi. Ya dua tiga hari mungkin baru pulang.
Nonton series aja, yuk? Di bioskop lagi nggak ada film yang seru. Oh ya, kamu orderin makanan dong, Do. Ambil deh handphone aku di tas. Buka app-nya.
Yang kita pesen kemarin itu, loh. Waktu habis pulang dari Disneyland. Tambain ekstra soda sama chicken wing 1 porsi lagi. Atau kamu mau pesen sesuatu yang lain?" Seira lalu dengan satu tangannya memberikan tasnya pada Edo. Tangan satunya tetap memegang setir.
Edo pun menuruti perintah Seira. Handphone Seira yang tanpa password itu ia buka. Ia memesan persis dengan apa yang Seira mau.
Sebenarnya Edo agak tak enak hati soal traktiran-traktiran ini. Tapi sejak kemarin Seira membawanya menginap di rumah dan ia perkenalkan dengan papanya, Edo jadi paham. Seira terlalu kaya dan uang yang ia keluarkan untuk mentraktirnya itu tak seberapa.
Apalagi papa Seira sangat terbuka. Ia menjabat tangan Edo dan tampak senang begitu Edo bilang ia dari Jakarta.
Ia malah bilang agar Edo tak udah sungkan. Jika mau menginap malah dipersilakan karena rumah ini punya banyak kamar.
"Seira, lain kali kalau bawa teman yang begini saja. Papa nggak suka teman-teman Amerikamu yang terakhir itu. Astaga! Papa akan panggil polisi kalau mereka datang merusuh lagi."
Pria berambut botak itu menepuk pundak Edo dan pergi begitu saja. Edo agak kaget juga kemarin. Bahkan pria itu tak berniat tahu di lantai dua putrinya ngapain saja dengan teman lelakinya.
"Beneran nggak papa kalau aku main ke rumah lagi?" Edo masih menggenggam handphone Seira. Ia menunggu konfirmasi pesanan.
Sepercaya itu Seira pada Edo. Pin akun bank saja disebutkan tanpa ragu. Dan saat mengkonfirmasi pembayaran, terlihatlah sedikit saldo akun yang Edo lirik. Ia mencoba tak kaget lagi. Ya, papa Seira kaya. Pantas uang jajannya banyak.
"Dibilang nggak papa. Papaku itu bebasin aku mau apa aja asal nggak melanggar hukum. Eh, udah belum pesanannya. Kita udah mau sampai rumah. Aku mandi dulu ya, Do. Nanti kamu ambil aja kalau kurir makannnya sampai di rumah." Seira lalu membelokkan mobilnya menuju rumahnya.
Edo mengangguk dan bilang pesanan makanan aman. Ia mencoba biasa saja saat melihat Seira memencet remote dan pintu gerbang rumah itu terbuka otomatis.
Seira membuka sabuk pengaman dan mengulurkan tangannya untuk meminta kembali handphone-nya yang dipegang Edo.
Edo menyerahkannya tapi di saat yang sama handphone itu bergetar. Sebuah notifikasi masuk. Notifikasi dari Edward.
Drttt! Drttt!
Edo membeku. Matanya langsung melirik tajam. Wajah Seira langsung berubah jadi panik. Keduanya sama-sama menatap pop up pesan yang muncul di layar ponsel.
[ "Seira, kamu lagi dimana? Kamu lagi sama...]
Uh! Untung saja pesannya terpotong. Edward pasti hendak menanyakan apa Seira sedang bersama Edo atau tidak. Tapi Seira tentu lebih cerdas menutupi.
__ADS_1
"Oh, mana handphone aku, Do. Edward pasti lagi nanya apa aku sama papa atau nggak." Seira lalu menyahut dengan cepat benda pipih itu.
Edo pun melepaskan handphone Seira dengan rela tak rela. Sebenarnya ia agak sungkan dan gengsi menanyakan soal Edward pada Seira. Tapi ia penasaran juga lama-lama.
Edward itu sosok yang seperti apa, sih? Kok Kalula nyaman dengannya dan dalam waktu cepat Kalula dekat dengannya.
Seira tampak mengalihkan perhatian dengan turun dari mobil secepatnya.
Seira pun pamit naik ke lantai atas menuju kamarnya karena ingin cepat-cepat mandi karena ia bilang tadi tak sempat mandi saat kelas pagi.
Tak lupa Seira bilang pada Edo nanti masuk saja tak usah mengetuk pintu. Edo mengangguk dan menunggu di teras.
Dipandanginya handphone-nya lagi. Sekarang hampir jam setengah dua belas waktu Tokyo. Di Jakarta pasti pukul setengah sepuluh. Edo melamun.
Jam segini Kalula pasti udah hampir masuk jam kerja. Masak sih dia nggak ngecek handphone?
Edo lalu membaca pesan-pesannya pada Kalula yang ternyata sudah dibuka. Tapi cuma dibaca saja, tidak dibalas.
Isi pesannya hanya Edo bilang kalau ia ingin bicara. Itu saja. Edo lalu memutar otak. Oke, kalau pesan tak dibalas, panggilan tak diangkat, maka to the point saja sekarang.
Tangannya lalu sibuk mengetikkan pesan.
[ "Kal, kenapa menghidar terus? Kita perlu bicara. Sampai kapan kita bertengkar begini? Semua soal Erina dan Seira salah paham. Kamu saja yang cemburuan.
Seharusnya aku yang curiga sama kamu. Aku kirim Roby untuk mata-matain kamu. Dia bilang nggak ada kasir cewek di cafe tempat kamu kerja. Nggak ada yang namanya Andin dan Tari juga seperti yang kamu bilang.
Jujur aja, kamu tinggal sama siapa setelah kabur dari rumah? Kos sendiri? Bohong! Kamu numpang dan tinggal berdua sama Edward itu, kan?
Kalau berani share location. Biar kukirim Roby lagi untuk ngecek kamu bohongin aku atau nggak!" ]
Send!
Edo menekan tombol send bertepatan dengan kurir makanan memencet bel rumah Seira. Edo berdiri dari duduknya dan membuka gerbang.
Oh, sudah macam rumah sendiri saja.
Edo tak tahu kalau detik itu pula Kalula menerima pesannya tapi mengabaikannya karena ada hal yang lebih penting lagi.
Kalula sedang menyelidiki sesuatu.
__ADS_1
Bersambung ...