
Edo memijit-mijit pelipisnya yang terasa pusing. Tokyo di bayangan indahnya ternyata membawa petaka. Belum juga genap sebulan di sini, sudah banyak ujian dan rintangan menghadangnya.
"Ya mereka nggak dekat yang gimana-gimana, sih. Entahlah. Mereka teman kerja. Tapi aku menduga Kalula sering cerita masalahnya ke dia. Mungkin dia juga cerita soal hubungan kita yang banyak berantemnya ini.
Kok kebetulan banget ya. Mungkin emang takdirnya gini. Kalula butuh cowok yang selalu bisa ada di sampingnya setiap hari. Nggak jauh gini kayak aku." Edo menjawab lirih.
Seira pura-pura terkejut.
"Wow! Ya, benar aja sih mereka dekat. Edward itu friendly dan tulus kalau temenan. Aku tahu banget dia kayak apa. Dia baik kok, Do. Lagi nggak punya pacar juga dia. Relain aja pacar kamu sama sepupuku." Seira berkata dengan entengnya.
Edo menatap Seira dengan kesal.
Bukannya ditenangkan atau diberi solusi, tapi malah disuruh melepaskan Kalula.
"Kenapa? Emang salah, ya? Banyak berantem itu artinya nggak cocok, Do. Realistis aja. Apalagi LDR. Apa yang mau diharapkan, sih?" Pembawaan Seira yang santai dan apa adanya membuat emosi Edo mereka sendiri.
Malah kini dalam hati ia seperti mengiyakan ucapan Seira. Seira ada benarnya juga. Tapi kan Kalula itu cinta pertamanya. Hubungan mereka juga sudah 5 tahun lebih. Tak semudah itu untuk 'putus.'
"Do? Kenapa, sih? Cerita, deh. Inti masalahnya itu apa? Pacar kamu tahu foto itu terus dia salah sangka yang nggak-nggak, kan? Berarti secara nggak langsung dia asal nuduh. Seenggaknya dengerin dulu penjelasan kamu, dong.
Emang kenapa sih, Do. Masak foto kayak gitu aja bikin berantem. Foto biasa, nggak ada pelukan, nggak deketan juga. Orang aku aja foto dari seberang meja.
Pacar kamu posesif banget sih. Cemburuan. Udah LDR itu susah, kamu lagi struggle sama studi kamu di sini, penyesuaian kuliah ini itu. Nggak usah lah nambahin masalah dengan tetap macarin cewek kayak gitu.
Udah putusin aja. Daripada ribet. Ya nggak?" Seira berkata dengan enteng lagi soal 'putus.'
Edo diam saja. Ia menyuap sarapannya yang terlambat itu dengan tak berselera.
Ya, hubungannya dengan Kalula makin hari makin ada-ada saja. Jujur, kepala Edo makin pusing tujuh keliling sekarang.
Ia sadar diri ia pernah melakukan kesalahan besar dengan berkhianat dan selingkuh. Tapi itu kan dulu. Kalula seolah-olah tidak menghargai usahanya untuk tetap setia.
__ADS_1
Mau ia membuktikan sebanyak apapun ia setia, tetap selalu ada bibit-bibit curiga dari Kalula. Dan itu membuat Edo tak nyaman. Harga dirinya sebagai lelaki terkoyak.
Dituduh-tuduh terus itu rasanya tidak enak, apalagi ia dituduhkan melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan sama sekali.
"Udah lupain. Diemin aja dulu. Makin besar kepala dia kalau kamu mohon-mohon minta maaf terus ke dia. Nanti kalau mau balikan pasti ngejar-ngejar kamu lagi. Enjoy, Do. Nggak usah terlalu dipikirin." Seira lalu minum lagi.
"Aku udah jelasin lewat pesan sejak baca pesan itu. Aku nelpon lagi saat perjalanan ke sini tapi dimatiin. Pesanku cuma dibaca aja, nggak dibalas." Edo menjawab lesu.
"Hmmm, yaudah, lah. Diamkan aja dulu. Kamu ada kuliah nggak hari ini? Mau temenin aku nggak? Aku ada dua tiket ke Disneyland?" Seira menaikkan turunkan alis tebal yang membingkai wajah cantiknya itu.
Edo masih diam saja tak merespon.
"Ayo, Do. Bawa mobil aku aja. Mobil papa aku, sih. Aku punya SIM. Aman, kok. Atau mau naik kereta? Ayolah. Aku udah hampir 4 tahun di sini. Biar aku jadi tour guide-mu. Yuk?" Seira tahu-tahu sudah berdiri dengan wajah cerianya.
Edo tak kuasa menolak saat tangan berjari lentik itu menggandengnya.
"Ah, biarin, sih. Cuma gandengan tangan. Kalula saja pelukan sama Edward. Dia lebih parah!" Edo membatin.
Kini mereka berdua satu sama.
Edo dan Seira.
Mana janji setia sebelum mereka sepakat untuk LDR? Lenyap tercecer di Samudra saat pesawat membawa Edo terbang ke Tokyo.
***
Sepanjang hari itu Edward berusaha menghibur Kalula dengan memesan banyak makanan lewat kurir. Mereka hanya berdiam diri di apartemen sambil menonton film yang sebenarnya tidak ditonton juga. Hanya terputar di layar TV besar di ruang tengah apartemen itu.
Sesekali Kalula menatap layar ponselnya itu. Edo tidak lagi menghubunginya. Kalula yang masih panas hanya membaca pesan berisi penjelasan basi itu lalu menolak panggilan Edo dua kali.
Ah cuma dua kali saja Edo berusaha menghubunginya.
__ADS_1
Ke mana Edo yang dulu ketika habis berbuat kesalahan pasti memohon-mohon padanya? Bahkan mendatanginya dengan kaki yang masih cedera dan terpincang-pincang?
Kemana Edo yang datang ke rumah sambil hujan-hujanan untuk membuat hatinya luluh lagi?
Mungkin Kalula bisa paham dengan jarak yang membuat usaha Edo yang terbatas. Tapi kenapa hanya dua kali menghubungi? Lalu setelah itu dari pagi hingga siang ini senyap.
Kalula lalu mengecek update akun sosial media Erina. Ia lihat Erina membagikan postingan ia dan teman-temannya sedang berkumpul di pinggir danau menikmati sakura yang sedang mekar sambil berpiknik.
Tapi dari semua foto ada rekaman video yang dibagikan Erina, Kalula tidak menemukan sosok Edo.
Ke mana dia? Apa dia baik-baik saja? Kenapa tidak ikut? Ada sedikit rasa cemas juga di hati Kalula.
Lalu dengan nekat, untuk pertama kalinya Kalula menghubungi Erina lewat pesan.
[ "Kok tumben Edo nggak ada? Dia nggak ikut kalian piknik, Er?" ]
Kalula lalu mendiamkan ponselnya dan meletakkannya di atas perutnya yang sedang rebahan itu. Tak menunggu waktu lama, satu menit berselang Erina membalas pesan itu.
[ "Nggak ikut, Kal. Waktu kita panggil, di asrama juga nggak ada. Beni bilang sih tadi sempat keluar, katanya nemuin teman. Kirain kamu malah tahu. Memang ada apa, Kal?" ]
Kalula menggigit bibirnya dan mengetikkan pesan, [ "Nggak ada apa-apa, Er. Kamu nggak usah bilang Edo ya kalau aku nanyain dia ke kamu. Thanks." ]
Edward dari tadi diam saja. Ia pura-pura sibuk sendiri dengan ponselnya. Padahal ia melirik dan ikut menyimak chat Kalula.
Bibir Edward menyunggingkan senyum tipis. Ia tahu Edo sedang bersama siapa sekarang. Tentu saja ia sedang bersama Seira. Seira yang mengabari tadi, bahkan mengirimkan foto diam-diam.
"Aku pengen ngasih lihat kamu ini, Kal. Tapi kamu jangan marah, ya. Aku menuruti saran kamu sih buat nggak usah nanya-nanya soal Edo ke Seira. Tapi lihat mereka lagi di mana sekarang," ucap Edward sambil menunjukkan update foto di sosial media milik Seira.
Kalula berkata dengan getir, "Disneyland."
Hatinya terasa sedikit teriris melihat foto Edo dan Seira di tempat itu.
__ADS_1
Disneyland itu tempat impiannya. Edo tahu betul itu. Tapi ini...
Bersambung ...