Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
48. Malam Tanpa Rumah


__ADS_3

"Ya, benar tadi tadi Roby bilang dia pakai jaket warna cokelat. Dia tahu kamu, kok. Pernah kukasih lihat fotomu." Suara Edo agak lebih tenang sekarang.


"Oke. Kayaknya emang dia, Do. Dia nyamperin aku ke halte." Kalula menyahut lagi.


"Rambutnya botak, kan? Orangnya tinggi. Coba alihkan teleponnya jadi video call biar aku tenang dan bisa ngomong langsung ke dia." Suara Edo langsung terdengar lega.


Kalula mengiyakan setelah melihat Roby dalam jarak yang lebih dekat.


Dan cowok yang tempo hari memata-matai Kalula di cafe itu tampak terengah-engah. Ia tadi lari dari stasiun karena Edo meneriakinya agar ia cepat-cepat mencari Kalula.


Maklum sudah malam. Kota besar ini rawan kejahatan. Apalagi terhadap kaum rentan macam perempuan. Pantas kalau Edo cemas.


"Do! Mau buat aku jantungan, ya. Aman! Kalula udah ada sama aku." Roby langsung menyambar ponsel Kalula begitu Kalula mengulurkan benda pipih itu padanya.


Kalula hanya duduk dengan canggung di samping Roby yang sedang keringatan, terengah-engah, sambil marah-marah itu.


Jakarta-Tokyo. Sepasang sahabat, Roby-Edo bertemu di satu layar virtual. Saling mengumpat ala khas persahabatan antar cowok. Kalula hanya menyimak di samping Roby. Ia biarkan saja Roby yang baru ia temui hari ini itu mengumpat pada Edo lewat ponselnya.


Ugh! Untung halte bus tempat mereka duduk menunggu ini sepi. Kalau tidak Kalula pasti sudah panik sendiri mencoba mengingatkan Roby agar tak bicara terlalu keras.


"Ini. Udah, Kal. Matiin aja telponnya. Kita pergi sekarang aja sebelum terlalu malam. Oke?" Roby mengulurkan ponsel Kalula lalu menyeka keringat di dahinya.


Kalula menatap ponselnya yang memang sudah tak tersambung lagi panggilannya dengan Edo. Ia lalu menatap Roby dengan sedikit bingung.


"M--maksudnya gimana, Rob? Edo bilang aku bisa numpang sementara di kost adik kamu. Kita ke sana?" Kalula bertanya dengan nada kurang paham.


Roby menggeleng. "Kost adikku jauh dari tempat kerjamu. Kata Edo kamu udah deal kan sama tempat kost baru. Ke sana aja. Aku bayarin dulu uang kost kamu. Nanti kamu bisa ganti.


Kebetulan kemarin aku dapat job freelance. Ya lumayan lah. Ayo kita jalan. Dekat, kan? Sini kopernya kubawain." Roby tahu-tahu sudah berdiri dan menyeret koper Kalula.


Kalula tersenyum lega dan menjinjing tas kecil berisi dokumen pribadinya dan beberapa barang. Ia menyusul Roby.


Oh, entah bagaimana ia harus berterima kasih. Roby bahkan baru ia kenal hari ini tapi ia sudah sebaik ini. Kalula merasa haru. Matanya berkaca-kaca.


"Rob, thank you, ya. Kamu baik banget padahal kita baru kenal. Maaf ngerepotin kamu." Kalula berjalan di samping Roby sambil mengarahkan jalan.


"Nggak papa, Kal. Santai. Aku baru kenalan resmi sama kamu hari ini. Tapi cerita soal kamu sudah aku dengar dari Edo bertahan-tahun sampai telingaku panas.


Capek banget dengerin ocehan orang yang menceritakan pacarnya. Nggak mikir dan jaga perasaan itu anak. Kayaknya sengaja biar aku makin kesal karena aku dari dulu selalu jomblo." Roby ternyata cerewet juga.

__ADS_1


Kalula tertawa. Wajah Roby cukup jenaka juga kalau diperhatikan baik-baik. Apalagi dengan gaya berceritanya yang khas.


"Dia nggak akan kayak gitu lagi, Rob. Kita udah putus." Sambil terus berjalan menyusuri trotoar, Kalula menyahut dengan wajah sedikit sedih.


"Hah? Kalian sudah putus? Serius?" Roby tampaknya terkejut sekali. Sampai-sampai ia menghentikan langkahnya.


Kalula ikut menghentikan langkahnya dan menatap Roby dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


"Y--ya. Kita udah putus semalam." Kalula menyahut pelan.


"Astaga! Tahu nggak tadi dia sepanik apa waktu bilang kamu nggak punya tempat untuk tinggal malam ini. Edo sangat mencemaskan kamu dan menelponku tiap menit saat aku berjalan kemari dari kampus. Dia menyuruhku cepat-cepat karena takut kamu kenapa-kenapa.


Serius, Kal. Aku pikir kalian masih pacaran. Edo sayang banget sama kamu." Roby mengangkat bahu dan menyeriangi canggung. Ya, saat berhenti dan mendadak membicarakan topik ini, rasanya jadi aneh.


Kalula menarik nafas panjang lalu mengangkat bahu.


"Ya gimana lagi, Rob. Malah sakit kalau dipaksa bertahan. Udah beda situasinya. Aku malah lega karena kita putus. Dia bebas menentukan langkahnya di Tokyo. Dia bebas dekat dengan siapapun mulai sekarang tanpa aku harus stress sendiri karena curiga dan takut dia selingkuh lagi."


Penjelasan Kalula membuat Roby bungkam. Ya, ia tahu soal itu. Edo pernah cerita soal kelakuan busuknya sendiri di masa lalu. Jadi ia paham kenapa Kalula ingin putus.


"Oh, aku nggak bermaksud ikut campur, Kal. Lupain aja omonganku. Yang penting kamu dapat tempat dulu malam ini. Jadi perempatan depan belok kiri atau kanan?" Roby cepat-cepat mengalihkan obrolan.


"Kanan. Ayo, keburu malam. Sekali lagi thanks ya, Rob."


Dan di bawah langit gemerlap Jakarta, malam itu pukul 9, Roby dan Kalula masuk ke sebuah gang dan menekan bel sebuah gerbang bangunan bertuliskan "Kost Putri Cendana."


***


Shanty sedang mengelap bibirnya sambil memegangi perut saat ia mendengar suara bel gerbang rumahnya dipencet. Ia baru saja diserang mual lagi dan membuatnya sulit tidur.


Siapa tamu malam-malam begini? Batinnya dengan malas sambil berjalan menuju pintu untuk mengecek.


Ini kehamilan pertamanya. Mual tiada henti yang muncul dan hilang tanpa kenal waktu membuatnya kewalahan. Trimester pertama kehamilan membuat suaminya cemas dan menyuruhnya berhenti kerja saja.


Shanty yang merupakan mantan aspri alias asisten pribadi Amelia Santono itu membuka pintu gerbang rumah mamanya dan menatap Kalula juga Roby dengan bingung.


"Mau cari siapa, ya?" tanya Shanty.


Kalula dan Roby saling berpandangan. Kalula sempat bilang pada Roby tadi kalau pemilik kost tidak bisa dihubungi lagi sejak sore. Mungkin karena Kalula telat datang jadi dikira ia tak jadi.

__ADS_1


Kalula cukup kaget. Kenapa bukan Bu Rudy yang membukakan pintu gerbang? Ini kan rumahnya? Kenapa perempuan muda ini?


"Mmm, maaf Mbak. Saya Kalula. Tadi pagi sudah janjian sama Bu Rudy kalau sore saya mau nempatin kost yang di belakang. Tapi saya agak telat dan kemalaman karena ada sedikit masalah." Kalula mencoba menjelaskan.


Shanty mengangguk lalu menggaruk-garuk kepalanya. Aduh! Ia tidak tahu menahu soal ini. Masalahnya sore tadi mamanya benar-benar langsung pergi begitu saja tanpa berpesan apapun soal anak kost.


Ya, tadi mamanya menerima kabar kalau adik iparnya sakit keras. Keluarga besar diminta berkumpul. Ya walau suaminya sudah meninggal, tapi Bu Rudy rupanya masih akrab dan menjaga hubungan baik dengan para iparnya.


"Aduh. Mama nggak sempat bilang tadi. Aku juga nggak tahu dia naruh kunci dimana. Mau nelpon takut ganggu karena beliau sedang menunggu iparnya alias tante saya yang sakit keras. Tadi beliau ditelpon mendadak dan langsung pergi." Shanty masih memegangi perutnya.


Kalula dan Roby saling berpandangan lagi. Masalahnya sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam.


"Mbak, tapi saya butuh tempat menginap malam ini. Ini bukti chat saya sama Bu Rudy. Saya bisa kasih pembayaran awal ke Mbak. Tolong saya, Mbak." Kalula menatap Shanty dengan tatapan memohon.


Ya, tadi sambil menunggu pintu gerbang dibuka, Roby memberikan uang cash pada Kalula sebagai pinjaman. Sungguh Roby tak ingin membuat harga diri Kalula jatuh dengan memberikan uang pinjaman itu di depan orang lain. Apalagi di depan calon ibu kost.


Shanty menatap Kalula dengan iba. Ya, sudah terlalu malam juga sekarang. Tapi ia benar-benar tidak tahu dimana kunci kost milik mamanya.


"Mmm, pembayaran nanti ke mama aja langsung. Jangan saya. Eh, kalian masuk dulu aja gimana. Nggak enak mengobrol di depan gerbang. Nanti sambil saya coba hubungi mama saya.


Oh, ya. Nama kamu siapa? Kamu yang mau kost, kan? Dan ini siapa?" tanya Shanty sambil menunjuk Roby.


"Oh, saya sepupunya." Roby tersenyum untuk menutupi kebohongannya.


Kalula meliriknya lalu ikut tersenyum canggung. Ah, betapa baik dan perhatiannya Roby ini.


"Saya Kalula, Mbak." Kalula menjawab.


"Ah, gitu. Saya Shanty anaknya bu Rudy. Oke, oke. Masuk dulu yuk. Handphone saya di dalam. Biar nanti saya hubungi mama." Shanty berjalan masuk diikuti Kalula dan Roby.


***


Kalula dan Roby duduk di sebuah sofa ruang keluarga yang nuansanya terasa hangat.


Shanty yang telah memperkenalkan dirinya sebagai putri Bu Rudy masuk ke dalam mencari handphone dan bilang akan menelpon mamanya dulu.


Sambil menunggu Roby tampak sibuk mengamati lukisan dan panjang ruang tamu yang unik ini.


Sementara itu mata Kalula justru tertarik menatap koper besar dan dokumen yang teronggok di meja depannya.

__ADS_1


Logo di map itu adalah logo Gantara Group, alias perusahaan keluarga Edward.


Bersambung ...


__ADS_2