Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
11. Siapa Gadis Itu?


__ADS_3

Edo terduduk di lantai kamar tinggalnya yang sempit ini. Semilir angin malam bulan April yang menyejukkan di Tokyo tak membuat hatinya sejuk. Ia justru makin suntuk.


Ia tutup jendela kamarnya dan ia merebahkan dirinya di kasur.


Edo bisa dibilang beruntung karena menempati kamar ini sendirian. Karena dari tiga kamar yang ada, Erina dan Ajeng menempati kamar pertama. Lalu Aldo dan Beni menempati kamar kedua. Sedangkan ia sendirian. Ada ranjang susun di atasnya yang kosong.


Sendirian bisa membuatnya lebih leluasa menelpon Kalula, melakukan video call, atau semacamnya. Ia pun terhindar dari ledekan teman-temannya yang selalu menyebutnya budak cinta karena tidak ada satupun di hari-harinya di sini tanpa memikirkan Kalula di Jakarta.


Eh, ternyata yang dipikirkan malah sama cowok lain...


"Apa yang aku ucapkan tadi? Astaga! Kenapa mulutku tak terkendali. Ya ampun! Bagaimana sekarang?" ucap Edo menyesali perkataannya sendiri.


Ia tadi benar-benar merasa gemas dan kesal mengingat soal Edward. Ia kesal karena Kalula tidak jujur padanya. Ia tidak suka Kalula dekat dengan pria lain. Makanya ketika ia bilang Kalula murahan layaknya wanita bayaran, Edo benar-benar tidak bisa mengontrol diri.


Emosinya meledak-ledak dengan tak terkendali.


Yang lebih membuatnya kesal sekarang adalah barusan ia bertatapan langsung dengan pria yang ia benci itu.


Oke, Edward yang disebut-sebut Mama Sastri dan juga Kalula itu ternyata memang tampan. Edo menyaksikkannya sendiri dari layar ponselnya saat panggilan video call itu diambil alih oleh Edward.


Ego dan harga diri Edo sebagai pacar Kalula langsung merasa tersentil. Sejujurnya ia cemburu.


"Apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Andai aku tahu kemana Kalula pindah. Sudah kusuruh temanku untuk mengecek.


Awas saja sampai dia berani menyentuh Kalula! Ah, tapi aku yakin Kalula bukan cewek gampangan. Dia tak mungkin semudah itu mau dipeluk-peluk Edward! Tapi kemarin... . Arghhh!"


Edo yang berusaha menenangkan dirinya sendiri malah makin uring-uringan.


***


Nyatanya yang Edo cemaskan benar-benar terjadi. Kalula tengah nyaman menangis di pelukan Edward.


"Sudah, sudah. Nggak perlu nangisin cowok bermulut kasar macam itu, Kal. Sekarang fokus aja dengan dirimu sendiri. Terserah mama tirimu mau fitnah kamu apapun dan mengadu domba kamu sama Edo.


Kalau Edo sungguhan cinta, dia akan mencari tahu kebenarannya. Bukan nyalahin kamu terus-terusan. Jangan hubungi Edo dulu. Jangan diangkat juga kalau dia nelpon. Redamkan dulu emosi kamu. Oke?"


Lagi-lagi. Edward seolah berperan menjadi orang paling pengertian terhadap Kalula. Kalula tak sadar, Edward diam-diam menjatuhkan Edo dan menghasutnya agar makin membenci Edo dan semakin menjauh darinya.


Kalula lupa kapan pelukan itu selesai. Mentalnya benar-benar terguncang. Yang ia ingat terakhir ia menangis hingga ketiduran adalah ketika papanya habis meninggal. Ia tidur sambil memeluk baju papanya.


Tapi sekarang, ia terbangun dengan kepala berat tanpa ia ingat kapan tangsinya usai. Yang jelas ketika ia melihat jam, sudah pukul 4 pagi. Dan Edward tidur di sampingnya. Benar-benar di sampingnya.

__ADS_1


Kalula terkejut setengah mati. Dengan refleks ia langsung mengecek pakaiannya dengan jantung berdebar.


Rapi...


Tak ada yang aneh juga dengan tubuhnya. Kalula juga diselimuti dengan rapat.


Kalula menghela nafas panjang. Ia jadi menyesali pikiran buruknya pada Edward. Edward pasti ketiduran di sini karena tak tega meninggalkannya yang habis menangis hebat.


Kalula lalu menatap wajah pria tampan itu. Oh, mau tidur pun tetap terlihat tampan. Tanpa sadar ia tersenyum dan merasa bersyukur. Andai ia tak kenal Edward, entah bagaimana ia akan keluar dari situasi sulit ini.


"Hei, sudah bangun?" Edward tiba-tiba terbangun dan langsung terduduk. Rambutnya berantakan dengan lucu.


Kalula tersenyum ke arahnya.


"Jam berapa ini? Aku ketiduran di sini setelah menyelimutimu," ucap Edward sambil menggosok-gosok matanya.


"Thanks, Ed. Aku pasti merepotkan semalam." Kalula berkata dengan tak enak hati.


Edward hanya mengangkat bahu dengan santai lalu tersenyum.


"Nggak, kok. Gimana? Udah merasa baikan? Hampir jam setengah lima pagi. Aku mau lari pagi. Mau ikut?" tanya Edward yang tiba-tiba sudah berdiri dan meregangkan otot-ototnya.


"Boleh. Aku ikut." Tiba-tiba saja Kalula menyetujui ajakan ini. Padahal sebelumnya ia paling malas berolahraga.


***


"Cafe buka jam 10. Masih 2 jam lagi. Sudah capek? Enak kan keluar lari saat masih gelap lalu pulang-pulang sudah ramai dan terang. Mau sarapan sekalian?" Edward menyodorkan botol air mineral untuk Kalula.


"Nggak bawa uang, Ed." Kalula menjawab dengan nafas terputus-putus.


Kalula menyeka keringatnya lalu menerima botol itu dan meminumnya. Nafasnya terengah-engah. Edward benar-benar kuat fisiknya. Kalula yang hanya terbiasa lari untuk mengejar kereta, bis, dan angkutan umum sungguh tak bisa mengimbangi.


Kini mereka duduk di bangku taman kota. Pukul 8 pagi, orang-orang sibuk berlalu lalang hendak ke kantor. Riuh dan menyenangkan rasanya melihat orang-orang bergerak gesit, bahkan berlari dengan sepatu mengkilatnya seolah besok akan kiamat.


Beruntunglah cafe milik Edward beroperasi dari jam 10 sampai 9 malam. Sebenarnya kurang cocok pengaturan waktunya dibandingkan cafe pada umumnya. Tapi Edward ingin tempat ini eksklusif. Jam-jam prime time saja agar orang-orang yang sudah reservasi saja yang mendapat meja.


"Enak kan lari? Bisa membuang suntuk di kepala. Badan jadi terasa ringan. Bohong kalau kamu bilang tidak." Edward berkacak pinggang sambil menatap Kalula yang masih duduk kelelahan.


Kalula tertawa. Ya, Edward benar. Kalau tak ada Edward pasti ia sedang mengurung diri di kamar dan lanjut menangis.


Kalula semakin percaya, Edward benar. Jangan pikirkan orang lain, pikirkan dirimu sendiri dulu. Soal mamanya, uang kontrakan, biaya sekolah Karina, soal Edo yang jarang memberi kabar tapi tahu-tahu menuduhnya macam-macam dan mengatainya dengan kasar. Ah, semua ia lupakan.

__ADS_1


Dari tadi Kalula tertawa-tawa karena Edward selalu saja menemukan cara untuk mneggelitik hatinya. Kalula merasa punya kesenangan baru. Ternyata melepas beban itu semudah ini. Ternyata membiarkan pundaknya bebas tanpa memikul apapun itu rasanya ringan.


"Ayo kembali ke apartemen dan kita buat kopi yang enak. Kamu bisa buat roti panggang untuk sarapan?" Edward mengulurkan tangannya ke arah Kalula.


Kalula mengangguk dan menerima uluran tangan itu.


Dua sejoli yang tampak serasi itu berjalan sambil bersendau gurau dan tertawa. Mereka tak lagi berlari. Toh sudah lelah dan matahari sudah naik.


Pemandangan yang kontras. Di antara lalu-lalang orang-orang berpakaian rapi yang terburu-buru berjalan takut terlambat masuk kantor, Edward dan Kalula berjalan santai dengan baju yang sedikit basah oleh keringat.


Mereka tak sadar, saking asyiknya mereka berdua, ada orang lain yang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam.


***


Amelia Santono duduk di kursi penumpang mobil mewahnya dengan terkejut. Beberapa meter di depannya tampak putranya sedang berjalan dengan seorang gadis yang ia tak tahu dia siapa.


"Pak! Stop di depan, Pak!" Amelia memerintahkan sopir pribadinya untuk berhenti.


"T--tapi, Bu. Lampu sudah hijau. Di depan ada polisi juga. Saya bisa ditilang," ucapnya dengan panik.


Pim! Piiimmm!


Suara klakson kendaraan di belakangnya itu juga makin membuat sang sopir bingung. Jelas mereka kesal. Lampu sudah hijau tapi mobil malah belum bergerak.


"Ya udah jalan." Amelia Santono merasa kesal karena telah melewatkan kesempatan untuk memergoki putranya dengan gadis yang ia duga sedang dekat dengannya.


Amelia sudah cukup angkat tangan ketika putranya minta keluar dari rumah dan tinggal di apartemen karena alasan privasi. Edward bilang ia sudah dewasa dan tak mau diatur-atur.


Tapi hatinya menangis ketika mendengar putranya itu bilang kalau ia tak mau dijodohkan. Bahkan bilang ia tak mau menikah. selama-lamanya.


Kini ketika ia melihat putranya punya gandengan, tentu ia senang. Tapi ia ingin juga tetap tahu gadis macam apa yang sedang dekat dengan putranya itu.


Amelia langsung mengeluarkan ponselnya. Ia tahu harus menghubungi siapa.


"Bram? Selidiki Edward diam-diam. Jangan sampai ketahuan. Kirim laporan ke saya ya. Foto atau videokan. Bayaran nanti gampang. Kerja aja dulu. Nanti kukirim alamat tinggalnya dan tempat-tempat yang biasa dia kunjungi."


Klik!


Pengusaha kaya itu menutup panggilan. Ia pakai kacamata hitamnya yang nyentrik itu begitu mobil sudah memasuki area gedung miliknya. Ia turun dari mobil dengan anggun.


Hari-harinya yang biasanya membosankan dan kesepian karena Edward sudah menghindarinya beberapa bulan terakhir ini jadi lebih ceria. Ia tersenyum begitu para karyawannya menyapa. Padahal biasanya ia lebih sering cuek.

__ADS_1


Ya, pagi ini ia melihat putranya berjalan dengan seorang gadis. Mereka juga terlihat akrab. Bukanlah itu berita bagus? Seorang putra pewaris yang bilang tak akan pernah mau menikah akhirnya menggandeng seorang gadis.


Bersambung ...


__ADS_2