
Begitu melihat Kalula berjalan kembali menuju cafe, Dika langsung berlari menuju kantornya.
Beberapa menit yang lalu Edward baru saja menelponnya untuk menanyakan soal Kalula. Sekarang gadis itu berjalan lewat area samping cafe dengan wajah sedih.
Dika tak tega. Tapi ancaman Edward membuat dirinya takut juga. Ia segera menelpon Edward lagi.
"Pak, Kalula ke sini lagi bawa koper sama tasnya. Dia pasti mau menanyakan soal gajinya, Pak. Saya nggak tega. Saya harus gimana, Pak?" Dika mengintip dari jendela ruangannya dan melihat Kalula hanya berjarak beberapa meter dari pintunya.
"Ya tinggal bilang kayak tadi. Ada kesalahan dan problem sama rekeningnya. Pokoknya buat dia nyerah. Kamu janjikan saja gajinya akan diurus ulang secepatnya. Kalau dia minta bantuan uang pribadimu atau apapun itu, jangan dikasih. Awas saja!"
Suara perintah dari Edward membuat Dika gentar juga. Dan akhirnya ketika pintu ruangannya diketuk, Dika hanya bisa menyeka keringatnya dan membuka pintu dengan gugup.
"Oh, hai, Kal. Ada apa? Bukannya jam shift kamu udah selesai?" Dika membuka pintu dan menyapa.
"Iya, Pak. Tadi saya sudah pulang. Saya mau nanya soal gaji saya. Kenapa belum turun ya, Pak? Saya butuh uangnya untuk membayar kost." Kalula bertanya tanpa basa-basi. Ia sudah buntu.
Dika menggaruk-garuk kepalanya. Dengan berat hati ia akhirnya mengatakan kebohongan itu. Soal teknis pihak pusat yang tidak bisa ia handle. Kalula menyimak penjelasan bohong Dika dengan wajah memelas. Gajian yang ia tunggu-tunggu ternyata begini ujungnya.
Padahal kalau ia gajian hari ini, maka untuk pertama kalinya seumur hidupnya, ia bisa memakai gajinya sendiri tanpa diminta mama Sastri atau Karina.
"Saya usahakan secepatnya ya, Kal. Soalnya bukan wewenang saya. Nanti kalau ternyata yang bermasalah rekening kamu, kamu buat rekening lagi ya yang baru. Nanti saya bantu." Dika berkata dengan nada kasihan.
Kalula menunduk. Ia lalu menatap Dika dengan tatapan memohon.
"Saya nggak megang uang dalam jumlah yang cukup. Sedangkan saya harus bayar uang kost. Apa Pak Dika nggak bisa gaji saya cash saja?" Kalula membuang rasa malunya. Ia menanyakan ini pada Dika dengan penuh harap.
Dika menggeleng dengan berat hati. Ia punya uang pribadi untuk meminjamkan pada Kalula, tapi ia takut ketahuan Edward dan semua malah jadi kacau. Bisa-bisa ia yang kena semprot.
"Aduh, Kal. Saya nggak bisa bantu. Soalnya itu wewenang pusat. Saya cuma handle teknis dan lapangan. Soal gaji di luar wewenang saya. Mmm, apa mungkin kamu bisa minta tolong langsung ke Pak Edward?" Dika menyebut nama sang boss yang ia takuti itu dengan ragu.
Kalula menggeleng lemah.
Nggak! Jangan sampai ia menghubungi Edward lagi! Ia sudah memutuskan untuk menghindar. Sudah cukup sebulan ini ia 'ditipu' oleh pesona Edward. Diperlakukan seperti gadis bodoh yang gampang dibohongi membuat ego dalam diri Kalula tersentil juga. Ya walau harus diakui, pesona Edward memang memikat.
__ADS_1
Bukan karena wajah tampan atau fisik sempurnanya saja. Kalula lebih tersentuh dengan cara pria itu menghargainya, caranya perhatian dan peduli dalam bentuk yang berbeda.
Edward mungkin hanya teman baginya. Tapi Edward selalu tahu bagaimana Kalula ingin diperlakukan. Edward memberinya ruang untuk mengungkapkan kelemahannya, rasa lelahnya, rasa putus asanya. Baru setelah itu ia bisa membuat Kalula bangkit dengan cara yang menakjubkan.
Kalau bersama Edo, Kalula justru merasakan sebaliknya. Edo tak memberinya celah untuk merasa lemah. Edo selalu menyuruhnya kuat dan bertahan, padahal kadang Kalula ingin sesekali berhenti juga karena lelah.
Edo memang menang secara jumlah tahun dan intensitas waktu bersamanya. Edo mewarnai masa remajanya.
Tapi Edward lain. Ia hadir dalam hidup Kalula ketika ia sudah dewasa. Ketika Kalula banyak masalah hidup dan kepelikan yang lebih rumit lagi.
Edward tahu cara me'ratu'kan Kalula.
"Nggak usah, Pak. Saya tunggu Pak Dika aja yang urus. Secepatnya ya, Pak. Saya butuh uang." Kalula menatap Dika dengan wajah kecewa lalu ia pamit pergi.
Sungguh, Dika sebenarnya tak tega. Dipandanginya Kalula yang berjalan pergi sambil menyeret kopernya.
Entah kemana ia akan pulang malam ini...
***
"Iya, Pak. Sekitar dua puluh menit yang lalu. Saya mau langsung hubungi Bapak tapi tadi ada sedikit insiden di cafe. Jadi saya baru sempat ngasih kabar sekarang."
Suara Dika di ujung panggilan telepon ini membuat raut wajah Edward yang tadinya sumringah berubah menjadi murung.
Loh? Sudah lewat dua puluh menit yang lalu tapi kenapa Kalula tidak juga menghubunginya? Kemana dia? Apa jangan-jangan dia pulang ke rumah mamanya?
Edward jadi panik. Ia lalu mematikan telepon dengan Dika. Takut kalau-kalau Kalula tak bisa menghubunginya karena panggilannya terhalang oleh Dika.
Selama lima menit itu Edward mondar-mandir di apartemennya yang mewah. Sekarang rasanya hampa tanpa Kalula.
Sambil mondar-mandir ia pandangi layar ponselnya. Sungguh ia ingin Kalula menghubunginya secepatnya.
"Ed, aku boleh numpang di apartemen kamu lagi nggak?"
__ADS_1
Oh, hanya kata-kata itu yang ia tunggu-tunggu. Tapi telepon maupun pesan singkat dari Kalula tak kunjung datang.
Tiba-tiba Edward merasa cemas. Kemana Kalula pergi? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan anak itu?
Mana sudah malam lagi.
Edward menggigit bibirnya sendiri dengan gusar. Wajah tampannya tampak murung karena dahinya berkerut.
***
Drttt! Drttt!
Akhirnya panggilan telepon itu datang.
Bukan! Bukan Kalula menelpon Edward. Tapi Edo yang menelpon Kalula dari Tokyo.
"Kal? Roby udah ke situ ya. Kamu jangan pindah tempat. Tetap di lokasi yang kamu share ke aku tadi. Pokoknya kamu tenang. Roby baik. Aku jamin itu." Suara Edo terdengar cemas.
Ya, begitu ada masalah soal gajinya dan buntu karena bingung harus apa dan kemana, Kalula dengan spontan mengirim pesan singkat pada Edo.
Edo adalah orang pertama yang sejak dulu ia hubungi kalau ia ada masalah. Mungkin sebelum putus mereka banyak problem, salah paham, prasangka, cemburu, dan pertengkaran tiada ujung. Tapi setelah putus, Kalula masih merasa ia bisa menghubungi Edo kapan pun.
Ya, Edo bukan hanya mantan pacar. Edo adalah sahabatnya, kakaknya. Hampir 20 tahun usianya, 5 tahunnya ada Edo di setiap momen hidupnya, dalam susah dan senang.
"Thanks, Do. Aku nggak ngerti lagi harus gimana. Perasaan kemarin rekening bank-ku baik-baik aja. Nggak ada masalah." Kalula menjawab dengan suara lemas.
"Ya ampun, Kal. Udah, pokoknya tenang. Aku bersyukur kamu mau menghubungi aku di saat begini. Yang penting kamu sudah keluar dari apartemen Edward." Suara Edo masih terdengar risau.
"Ya, thanks, Do. Aku nggak tahu lagi mau gimana. Aku nggak mau pulang lagi ke rumah Mama." Suara Kalula kini mulai serak. Mau dikuat-kuatkan bagaimanapun kalau sedang merasa lemah ya lemah saja.
"No! Jangan balik ke rumah itu lagi, Kal. Pelase jangan. Mama Sastri sama Karina sudah cukup memperalat kamu bertahun-tahun..."
"Do! Roby pakai jaket coklat bukan? Kayaknya dia datang." Kalula memotong ucapan Edo ketika dilihatnya ada seorang cowok berlari-lari menuju ke arahnya.
__ADS_1
Benarkah cowok itu Roby?
Bersambung ...