
"Oh, berani ya kamu sekarang!" Sastri tampak makin memerah wajahnya.
"Ya. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa Mama kasari. Yang bersembunyi di bawah meja. Yang menurut saja saat Mama bilang jangan lapor ke papa. Aku bukan anak Mama. Anak Mama cuma Karina, bukan aku.
Karina selalu makan enak sejak kecil dan aku makan sisanya. Karina selalu pakai baju baru sedangkan aku tidak. Mama malah suruh aku bilang ke papa kalau aku yang nggak mau dibelikan.
Aku bukan anak kecil penakut lagi, Ma. Apalagi setelah aku tahu aku bukan anak kandung Mama. Aku bukan siapa-siapa Mama sekarang. Anggap aja begitu.
Aku nggak peduli Mama nggak bisa bayar kontrakan, ditagih utang. Aku nggak peduli! Aku pakai tabungan kuliah aku karena Mama minta semua. Katanya kasihan Karina pengin sekolah di tempat yang bagus.
Ma, aku selalu pakai uang aku untuk Mama. Itulah yang membuat Mama masih anggap aku anak, kan? Karena aku masih mau diperas. Sekarang aku nggak mau lagi!"
Sambil mengatakan semua perasaan terpendamnya selama ini, Kalula masih menahan tangan mamanya yang hampir menjambaknya di udara.
Sastri makin panas dan dilepaskanyalah tangannya. Ia lalu terduduk lagi dengan nafas tersengal.
Kalula masih berdiri. Matanya masih menatap nanar. Edward tahu kini saatnya ia bertindak.
"Bu Sastri, manajer cafe ini bisa melaporkan Anda ke polisi atas tuduhan penyerangan dan perusakan properti. Setiap sudut tempat ini ada CCTV-nya. Bukti kami kuat, saksi kami banyak," ancam Edward.
Melihat Edward berkacak pinggang sambil melontarkan kata-kata mengancam, Sastri jadi terlihat sedikit menciut juga.
"Y--ya..., biar Kalula lah yang tanggung jawab. Saya ke sini dan marah-marah kan gara-gara dia," ucapnya dengan agak terbata dan panik begitu mendengar ancaman polisi.
Kalula sudah merasa dadanya membara, terbakar oleh kemarahan. Bisa-bisanya mamanya bilang begitu.
"Apa sih tujuan Mama ke sini? Mau buat aku malu? Mau minta uang? Atau mau ngapain? Aku sudah keluar dari rumah dan sudah memutus hubungan kekeluargaan di antara kita.
Mama pernah bilang kan mau buang aku waktu aku bayi? Sekarang tanpa Mama repot-repot membuang aku, aku sudah membuang diriku sendiri.
Jangan pernah temui aku lagi atau hubungi aku lagi! Aku bukan sapi perah Mama lagi! Aku tidak akan memberikan uang sepeser pun pada Mama. Sudah cukup semuanya! Selama ini aku diam karena aku takut. Tapi sekarang aku tidak takut lagi.
Mama mau apa? Mau mengamuk lagi, menjambak, menendang, mau berbuat kasar padaku lagi? Silakan tapi aku akan melawan, Ma. Aku tidak takut lagi dibilang durhaka.
Dan benar kata Edward tadi. Bahkan aku sendiri yang akan laporin Mama ke polisi kalau Mama sampai berani ke sini lagi!"
Mendengar nama polisi disebut-sebut lagi berulang kali, Sastri makin menciut.
Ia lalu menatap Kalula dan Edward secara bergantian dan menggebrak meja.
__ADS_1
"Anak-anak sialan! Karina lihat semalam kamu berdua-duaan sama dia di restoran. Mama laporin ke Edo ya!" Sastri menggunakan ancaman pamungkasnya yang ia pikir akan membuat Kalula takut.
Tapi Kalula malah tertawa. "Lapor aja aku nggak peduli, Ma. Aku sama Edo sudah putus. Dan satu lagi, Ma. Uang Edo habis. Mama nggak bisa pinjam alias minta lagi ke dia.
Sekarang Mama pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Atau aku akan panggil polisi!" Kalula telah mencapai ambang batas kesabarannya.
Sastri menatap Kalula dengan marah tapi tak berani melawan lagi. Ia keluar ruangan dan pergi setelah membanting pintunya.
Kalula langsung menjatuhkan diri di lantai setelah mamanya pergi. Berteriak marah seperti tadi rupanya cukup menguras emosinya juga.
"Nggak papa, Kal. Nggak papa. Bangun. Sini duduk. Kamu nggak salah. Mama tiri kamu perlu diperingatkan. Dia sudah keterlaluan." Edward lalu merengkuh pundak Kalula dan mendudukkannya di kursi kantor Dika.
Kalula menangis. Padahal kemarin sudah sok kuat ia tahan-tahan. Oh, ternyata wanita kuat bukan karakternya. Ia merasa lemah dan cengeng.
"Hei, its okay." Sambil berdiri, Edward memeluk Kalula yang sedang duduk dan mengelus kepalanya.
"Tadi aku bilang aku sudah putus sama Edo. Padahal belum. Hubungan kami nggak jelas. Tapi waktu aku bilang soal itu, entah kenapa hatiku lega.
Aku ingin lepas dari semuanya. Edo, Mama Sastri, Karina. Aku sayang mereka. Ya, dulu setidaknya begitu. Tapi sumber masalahnya adalah mereka sekarang. Aku ingin lepas." Kalula berkata pelan sambil mengusap air matanya.
"Ya, itu bagus. Akhirnya kamu tahu apa yang kamu mau." Edward mengelus kepala Kalula lagi penuh sayang.
"Di luar kacau banget, Ed. Pasti banyak barang-barang yang rusak," bisik Kalula lirih.
"Dika, maksudku Pak Dika pasti akan minta potong gaji. Nggak papa. Biar aku bilang padanya buat motong gajiku juga. Jangan ditolak. Nanti kamu ganti uangnya kalau udah punya." Edward memenangkan.
***
Kalula menunduk dengan rasa bersalah saat menghadap Dika. Dika yang sebelumnya sudah di-briefing Edward agar jangan galak-galak dan bilang potong gaji saja tampak canggung. Bagaimana tidak, dari sudut ruangan Edward memelototinya.
Sore itu cafe sudah tutup setelah kekacauan dibereskan. Pegawai lain tampak menetap Kalula dengan prihatin. Kalula rasanya malu menghadap mereka. Tapi ia tetap minta maaf dengan sungguh.
Padahal sebenarnya mereka senang. Karena kekacauan ini mereka bisa pulang lebih cepat.
Kalula pun pulang. Edward merangkul pundaknya saat menyeberang jalan. Kalula merasa lemas.
Sementara seluruh karyawan sudah bubar, Dika masih di kantornya di cafe itu. Tangannya sedang gemetar saat nama Nyonya Amelia Santono tertera di layar ponselnya. Boss besar itu menelponnya.
"H--halo, Bu Amel." Dika menjawab panggilan dengan gemetar.
__ADS_1
"Pradika, saya dengar dari salah satu karyawan di cafemu kalau hari ini ada kekacauan. Saya butuh penjelasan." Suara Amelia terdengar menakutkan.
"B--bu, kata pak Edward..."
"Boss-nya masih saya, Dika. Bukan, Edward!" Amelia kembali menyentak.
Dika langsung gelagapan.
***
"Cheers untuk Kalula yang baru." Edward mengulurkan gelasnya ke depan.
Kalula lalu tertawa dan melakukan selebrasi tos. Gelas berisi minuman bersoda warna cokelat itu mereka teguk. Sekotak pizza yang isinya tinggal separuh itu tergeletak di meja.
Layar televisi berukuran besar itu memang sedang menayangkan film, tapi tidak mereka tonton juga sebenarnya. Mereka masih asyik mengobrol sejak tadi.
Kalula tak lagi sibuk mengecek notifikasi ponsel. Nomor Edo tak ia blokir tapi ternyata pria itu juga tak menghubunginya.
Mungkin ini yang dinamakan putus tapi tanpa kata-kata.
Biasanya kalau Edo tanpa kabar begini, Kalula akan cemas. Ia pasti khawatir jangan-jangan Edo sakit atau kenapa-kenapa. Tapi setelah kemarin ia melihat update foto dan video di akun sosial media Seira, ia merasa sudah tidak ada gunanya mempedulikan cowok itu.
Edo terlihat bahagia. Ia bahkan tampak tertawa. Kalula melihat itu semua dan ia pikir hubungan mereka sudah tak ada harapan lagi.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, wajah ceria Edward langsung berubah begitu melihat ponselnya menyala. Seseorang menelponnya.
"Sebentar, Kal. Ada telepon penting." Edward langsung berdiri dan menyingkir ke kamarnya.
Kalula mengangguk saja, walau ia agak heran juga. Tak biasanya Edward begini.
"Halo, Ma?" Edward menjawab panggilan itu dengan wajah malas.
"Gadis itu masih tinggal di apartemenmu? Kudengar ibunya datang ke cafe dan mengacau. Ed, lupakan gadis bermasalah itu!" Amelia Santono makin meradang.
Edward terdiam.
Sial! Darimana mamanya tahu soal insiden tadi siang? Edward langsung merasa kesal dan terpojok.
Bersambung ...
__ADS_1