Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
70. Mana yang Duluan


__ADS_3

Erina yang tadinya mengunyah makan malamnya ikut meletakkan sumpitnya. Ia lalu menatap Edo dengan tatapan yang menggambarkan kalau ia sudah lelah bicara.


"Iya Seira baik. Iya. Udah ya, Do. Kita udah ingetin. Selebihnya terserah kamu. Tapi kalau ada apa-apa jangan bawa-bawa kita. Kita satu angkatan. Senior tahu semua.


Kita cuma berusaha peduli sama kamu. Tapi kalau kamu menutup diri, punya pemikiran sendiri, punya prinsip sendiri, its okay.


Beni memang yang agak keras sama kamu. Kamu mungkin benci dia. Tapi percayalah, dia hanya cemas. Dia yang nyari kamu waktu kamu nggak pulang-pulang. Dicarinya lewat semua senior soal keberadaan kamu. Nggak tahunya kamu muncul di story sosial media Seira.


Udah ya, Do. Sekarang terserah. Jangan dibahas lagi. Kita juga udah capek peduliin kamu. Kamu mau pura-pura nggak kenal lagi sama kita mentang-mentang udah ada Seira juga nggak papa."


Erina lalu menunduk menatap piringnya lagi lalu melanjutkan makan seolah tak terjadi apa-apa.


Sikap cuek Seira diikuti yang lain. Mereka lanjut makan. Ajeng bahkan sudah sibuk mengobrol membahas sushi bersama Aldo.


Edo yang salah tingkah karena ucapannya tidak didebat Erina lagi seperti perkiraannya itu hanya bisa berdehem canggung lalu pamit ke kamar, meninggalkan piring makannya yang masih banyak isinya di meja. 


Seharusnya Edo tetap membersihkannya dulu sebelum pergi. Tapi karena sudah lelah, malu, bercampur bingung; piring kotor itu ditinggalkannya begitu saja.


Erina menatap piring kotor Edo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Udah ntar aku beresin." Beni mengangkat bahu dengan santai padahal biasanya ia yang emosi.

__ADS_1


***


Lalu begitu sampai di kamar asrama itu Edo langsung lari ke kamar mandi. Ia ingin buru-buru melihat ke cermin untuk memastikan noda lipstik di lehernya.


"Ah, sial! Ada sungguhan!" Edo meraba lehernya dengan kesal. Dilihatnya juga noda yang sama di dekat area kerah bajunya.


Edo menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Kacau. Aku nggak mungkin marah ke Seira karena ini. Aku nggak bisa." Edo menggerutu sendiri lalu ia melepas kemejanya dan mandi.


Edo merasakan kebingungan yang aneh. Hidupnya macam terjungkir balik. Di bawah guyuran air ia merenung.


Di Jakarta menjalani hidup yang bisa dibilang senang susah menjadi satu. Besar tanpa orang tua, dewasa tanpa banyak bantuan orang lain. Lalu bertemu Kalula saat SMA, jatuh cinta, dan membuatnya semangat menjalani hidup.


Tekad Edo tidak muluk-muluk. Kuliah serius, Kalula menyusul kalau lolos beasiswa lagi, lulus tepat waktu, punya pekerjaan mapan, lalu menikahi Kalula.


Namun rupanya hal sederhana di kepalanya bisa menjadi ngitung rumit di kehidupan nyata. Edo seharusnya realistis dan mengerti kalau mimpi hanya indah saja di dalam tidur. Begitu bangun, fakta dunia nyata akan menamparmu. Edo begitu naif.


Tokyo mengubahnya. Mengubah begitu banyak aspek kehidupannya. Masalah demi masalah perlahan datang. Komunikasi dengan Kalula mulai parah dan membuat mereka berujung putus.


Edo merasa lelah karena Kalula tidak mengerti posisinya. Padahal di Jakarta Kalula juga sedang berjuang dengan masalah hidup dan keluarganya.

__ADS_1


Jarak dan komunikasi yang buruk tidak bisa menyelamatkan hubungan yang sudah terjalin 5 tahun lebih itu.


Edo berusaha berjuang dengan ketakutannya tidak bisa mengikuti kuliah dan lulus tahap awal. Ia stress. Teman-temannya membuatnya minder karena mereka pintar sungguhan. Mereka lolos sungguhan. Sedangkan ia lolos seleksi melalui jalur konyol alias contekan Kalula karena iseng-iseng.


Edo yang stress lalu bertemu dengan Seira. Seira sungguh istimewa. Selain karena suruhan Edward, gadis itu pada akhirnya mendekati Edo karena ia suka sungguhan.


Angin segar Seira membuat Edo terlena hingga berakhir di bawah pancuran kamar mandi sambil merenung memikirkan jalan kehidupannya di Tokyo yang berliku.


Lama-lama dingin juga. Edo lalu mematikan air dan mengambil handuk.


Berjalan ke kamar lagi, mengganti baju, mengeringkan rambut; semua ia lakukan dengan tatapan hampa. Raganya bergerak tapi jiwanya diam di tempat.


Edo yang kemarin masih berjuang dengan patah hatinya diputuskan Kalula. Edo yang sekarang tampak termenung memikirkan Seira.


Benarkah tuduhan anak-anak terhadap Seira? Segelap apa masa lalu gadis itu? Edo kan tahunya Seira adalah gadis ceria, pintar, dan cantik. Dan yang paling penting Seira mengaku menyukainya.


Edo merebahkan kepalanya yang banyak pikiran di bantal. Ia tak peduli rambutnya masih sedikit basah.


Diambilnya handphone-nya dan matanya langsung menangkap 2 pesan dari orang yang berbeda. Ya, dari 2 orang yang sama-sama punya tempat spesial di hatinya.


Seira dan Kalula. Masing-masing mengirim pesan. Mana yang harus dibuka duluan?

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2