
"I--ini mobil sepupu aku juga, Kal. Rusak kalau jarang dipakai. Kadang kupanasin doang karena aku sayang uang untuk beli bensin kalau kupakai keluar.
Tapi kan kamu mau ambil barang-barang. Walau kamu bilang cuma baju-baju dan sedikit, tapi tetap aja kan repot kalau naik taksi. Mendingan aku pakai mobil sepupuku ini aja. Iya, kan?" ucap Edward sambil nyengir.
Edward sedang berada di basement parkir apartemen itu. Jelas ia berbohong soal mobil. Mana ada mobil sepupunya? Ini mobilnya sendiri. Bahkan dua mobil lain di samping mobil warna hitam yang ia tunjuk itu juga mobilnya.
Kalau dipikir-pikir biaya parkir eksklusif untuk 3 mobilnya di sini lebih besar biayanya dibandingkan gaji Edward sebulan penuh di Cafe itu sebagai barista.
"Oh. Oke. Beneran nggak papa?" tanya Kalula dengan tidak yakin. Ia kembali memakai bajunya kemarin yang dikeringkan seadanya.
"Ya, nggak papa. Aku bebas mau pakai mobilnya juga apartemennya. Malah dia yang suruh. Tenang, Kal," ucap Edward meyakinkan.
"Oke. Kamu beneran bisa nyetir?" Kalula masih tampak tidak yakin.
"Bisa. Aku punya SIM. Bahkan SIM internasional juga punya. Aku bisa nyetir dari umurku 15 tahun," ucap Edward santai.
Edward lupa ia sedang menyamar. Ia sadar ia keceplosan banyak sekali dalam satu kalimatnya tadi.
Bisa nyetir dari umur 15? Punya SIM internasional?
Kalula langsung menoleh dengan curiga ke arahnya.
Edward agak gelagapan, tapi ia pandai menyelamatkan situasi.
"Iya. Dulu diajari sama om-ku, Kal. Terus soal SIM internasional, itu karena aku pernah kerja setahun di luar negeri. Jadi aku dibuatkan SIM internasional oleh perusahaanku," ucap Edward lalu ia tertawa untuk menutupi keceplosannya.
Kalula mengangguk percaya. Lalu singkatnya mereka masuk ke dalam mobil dan Edward menyetirnya pulang.
Di sepanjang jalan itu Kalula lebih banyak melamun. Sesekali ia mengecek notifikasi ponselnya lagi. Edo tidak menghubunginya sejak pertengkaran tadi pagi. Entahlah, ia mencoba tak peduli tapi kepikiran juga.
Yang jelas, ia ingin pergi dulu dari rumah. Ia sudah terlalu lelah menghadapi semua sikap mamanya.
__ADS_1
"Karina mungkin masih di sekolah Mama nggak tahu ke mana. Kalaupun dia di rumah, kamu diem aja ya, Ed. Tunggu di pintu. Aku tahu dia pasti banyak omong atau marah dan mencegah aku pergi.
Tapi aku akan berusaha ambil baju-bajuku, berkas-berkasku, dan barang-barangku secepat mungkin," ucap Kalula.
Edward mengangguk lalu ia menghentikan mobilnya di ujung gang. Edward sekalian putar balik agar nanti mereka bisa cepat kabur kalau ada apa-apa.
"Siap?" tanya Edward sambil menatap ke arah Kalula dengan tegang.
Kalula mengangguk tegang. Ia melepas sabuk pengaman lalu turun dan berjalan dengan tegap menuju pintu rumahnya sendiri. Edward mengikutinya di belakang.
"Nggak dikunci," ucap Kalula lagi setengah berbisik sambil menoleh ke arah Edward di belakangnya.
"Masuk aja. Aku tunggu depan pintu, ya." Edward menyahut dengan berbisik juga.
Kalula lalu masuk dengan cepat ke rumah kontrakan sempit itu. Edward mengamati keadaan dari depan pintu.
Seumur-umur, baru kali ini ia melihat langsung rumah sempit di pemukiman padat begini. Bahkan sekarang ia menginjakkan kaki di dalamnya.
Semakin Edward melangkah masuk ke dalam rumah yang penuh barang itu, semakin pula ia mendengar jelas teriakan wanita yang ia kenali sebagai suara mama Kalula.
"Mama nggak pilih kasih. Kamu sama Karina Mama perlakukan dengan sama. Seharusnya kamu tahu diri dan tahu balas budi. Setelah papamu meninggal, kamu yang mengemban tanggung jawab ini.
Kamu yang ngurus menghidupi Mama dan Karina! Bukannya kabur begitu sama cowok nggak jelas. Kamu mau ngapain bawa baju-baju segala?" Sastri menarik ransel Kalula yang sudah setengah terisi oleh baju-bajunya itu.
"Nggak, Ma! Stop! Aku mau pergi dari sini! Aku udah capek. Mama memperlakukan aku seperti sapi perah. Mama tahu kan aku nabung susah payah buat kuliah?
Tapi uangku habis untuk sekolah Karina dan untuk memenuhi kebutuhan Mama yang suka foya-foya dan beli nggak jelas. Padahal Mama tahu sendiri ekonomi kita sesulit apa. Mama juga masih bisa kerja kan kalau mau? Aku capek, Ma. Mengalah terus.
Lagian Mama kan bukan mama kandungku. Aku cuma anak tiri. Aku cuma anak pungut. Mama mengurus aku bukan karena sayang, tapi karena tuntutan dari papa, kan? Karena papa yang nyuruh.
Sekarang papa udah nggak ada. Aku nggak ada kewajiban lagi untuk Mama maupun Karina. Terserah kalian mengurus diri kalian sendiri. Jangan ganggu aku lagi," ucap Kalula sambil merebut kembali ransel itu dan masukkan baju-bajunya sebanyak mungkin yang bisa ia bawa.
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar! Tak tahu diuntung. Seharusnya waktu kamu bayi, Mama buang kamu ke panti asuhan! Atau ke tong sampah sekalian!" ucap Sastri dengan matanya yang memerah. Urat-urat kepalanya sampai keluar, juga tangannya menunjuk-nunjuk kasar.
Kalula menghentikan gerakan tangannya yang memasukkan baju-baju itu. Ia lalu berdiri dengan nafas naik turun tak beraturan. Matanya ikut memerah dan tangannya terkepal
Membuangnya ke tong sampah? Oh, betapa kasar kata-kata itu.
Dikatai anak pungut atau anak tiri tak tahu diri masih bisa ia terima. Tapi hendak dibuang ke tong sampah waktu bayi? Sebegitukah tidak berharganya ia?
"Kenapa kamu lihatin Mama begitu? Berani kamu sekarang? Mau lawan Mama?" Lalu Sastri maju dan menjambak rambut panjang Kalula.
Kalula tahu ia harus berubah. Ia harus melawan. Cukup bertahun-tahun ia diperlakukan kasar begini dan diam saja. Tapi tetap saja memori masa kecilnya dan mengingat perempuan itu pernah membesarkannya membuat tangannya hanya bisa ia kepalkan saja tanpa bisa bergerak.
Tapi tentu Edward yang gemas.
Setelah dari tadi hanya mengintip dari balik pintu, Edward masuk ke dalam kamar lalu melepaskan tangan Sastri pada rambut Kalula.
Sastri rupanya terkejut melihat ada orang lain di rumahnya. Edward mendorongnya hingga ia terjatuh ke lantai. Kalula agak terkejut juga, tapi ia diam karena Edward menahan tangannya.
Dengan badannya yang sangat besar, Edward mampu menjatuhkan Sastri yang badannya cukup kecil dalam sekali dorong. Untuk melawan Edward, tenaganya tak setimpal.
"Udah, Kal. Ayo kita pergi," ucap Edward lalu ia mengambil ransel Kalula yang bahkan belum sempat ditutup itu.
Kalula menatap mamanya yang masih terduduk di lantai. Ibu tirinya itu menatapnya dengan nanar.
"Oh, ternyata kamu mau kabur sama cowok ini? Awas aja ya, Kal! Mama aduin kamu ke Edo!" ucap Sastri mengancam. Rupanya ia belum terima.
Kalula yang sedang mengambil tas berkasnya dari lemari dan hendak mengikuti Edward pergi langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap sinis ke arah ibu tirinya itu.
"Aduin aja, Ma. Toh sebelum ini Mama sudah memfitnah aku juga kan dengan bilang yang nggak-nggak soal aku ke Edo. Edward cuma temanku, Ma. Dia yang menolong aku.
Aduin, Ma! Aduin aja semuanya dengan cerita karangan Mama itu. Aku nggak peduli," ucap Kalula lalu air matanya yang mulai bercucuran ia ucap kasar dengan punggung tangannya dan ia pergi.
__ADS_1
Bersambung ...