
Sesampainya di ruangan rawat, perawat tampak sedang membantu Shanty naik ke tempat tidur. Kalula yang tadi membawakan tas dan barang-barangnya menaruhnya dengan rapi di tempat. Amelia Santono hanya berdiri dan mengamati gerak-gerik Kalula dari ujung matanya.
Baru saja suster keluar dari ruangan dan Amelia hendak membuka mulutnya untuk menanyakan soal Kalula, tapi ternyata gadis itu sudah menggenggam ponselnya yang menyala dengan panik. Ia pamit pergi.
"Mbak Santi sebentar ya aku angkat telpon dulu dari manager-ku. Dia pasti bingung karena aku nggak masuk kerja tanpa mengabari." Wajah Kalula sudah sepucat kertas.
Ia tahu Dika baik dan tidak pernah marah. Tapi ia sudah dua kali tidak masuk terhitung sebulan masa training ini. Betapa buruk riwayat kerjanya.
Kalula langsung bergegas keluar ruangan dan menutup pintu, meninggalkan Shanty dan Nyonya Amelia Santono berdua saja.
"Shan, aku turut prihatin dengan keadaanmu. Tapi bisa kamu ceritakan soal anak itu?" Amelia Santono benar-benar tanpa basa-basi.
"M--maksunya, Bu?" Shanty yang sedang terbaring di kamar rumah sakit tampak bingung.
Amelia Santono mendekat dan duduk di sampingnya. Diganggamnya tangan Shanty.
"Iya soal Kalula. Anak itu kerja di salah satu cabang cafe milikku yang sekarang kulimpahkan tanggung jawabnya pada Edward. Shan, ingat waktu kepalaku sakit dan marah-marah seharian di kantor gara-gara kelakuan Edward?" Amelia Santono agak berbisik saat mengatakannya.
Shanty mengangguk-angguk. Ya, soal hubungan majikannya dengan sang putri itu sudah Shanty pahami betul. Mereka kadang tak akur. Edward sudah sejak 5 tahun lalu Shanty kenal. Kadang Amelia Santono sering curhat tak sengaja sambil mengomel sendiri saking stress-nya dengan kelakuan Edward. Jadi sedikit banyak Shanty tahu secara tak langsung masalah pelik ibu anak itu.
Masalah yang tak jauh-jauh dari si ibu ambisius yang ingin mengatur sang putra. Lalu sang putra yang susah diatur membangkang.
"Gadis itu yang disukai Edward. Ingat kan waktu aku manggil Bram untuk memata-matai Edward beberapa waktu lalu? Ya aku senang sih akhirnya Edward jatuh cinta lagi. Ia jadi tampak normal untuk anak lelaki seusianya. Kamu tahu kan Shan betapa stress-nya saya saat Edward bilang nggak mau nikah.
Coba sekarang apa yang kamu tahu soal anak itu? Kamu ceritakan apa saja yang kamu tahu soal Kalula. Dia tinggal di kost milik mamamu, kan?" Amelia Santono tak bisa menutupi wajah antusiasnya.
Shanty sedang terkaget-kaget mencerna fakta ini. Oh, betapa sempitnya dunia. Gadis antah berantah yang dibenci bossnya beberapa waktu terakhir ini ternyata gadis yang menolongnya.
"Aduh saya nggak tahu banyak, Bu. Kalula baru pindah semalam Bu diantar temannya." Shanty tak bisa banyak berkata-kata.
"Diantar teman? Laki-laki? Edward?" Amelia Santono makin-makin penasaran.
Shanty menggeleng lagi. "Jelas bukan. Kan saya kenal pak Edward, Bu. Beliau juga kenal saya. Iya temannya cowok. Aduh saya lupa namanya. Tapi dia yang minjemin uang. Kalula bilang gajinya bermasalah dan tidak bisa turun. Temannya itu yang antar pinjami uang dia. Begitu katanya."
Amelia mengernyitkan alisnya saat mendengar penjelasan Shanty.
Apa? Gaji bermasalah dan ditahan? Pikirannya langsung tertuju pada Edward. Ia menduga ini kelakuan putranya. Edward sengaja menahan gaji Kalula agar anak itu tetap tinggal di apertemennya.
Amelia bisa menebak begitu karena semalam saat ia memanggil Edward pulang, anak itu menjelaskan soal Kalula yang sudah mau pindah dari apertemennya setelah gajian dengan wajah seolah tak rela.
Oh! Begitu! Amelia jadi punya rencana.
__ADS_1
"Saya sempat bilang kalau dia butuh pekerjaan lain saya bisa bantu. Saya bilang mantan boss saya buruh aspri baru. Dia bilang berminat, Bu." Shanty mengatakan ini dengan ragu.
Wajah Amelia Santono langsung berubah sumringah, seakan baru menemukan bongkahan harta karun.
"Bagus. Bagus kalau begitu." Amelia Santono tak kuasa menyembunyikan senyumnya.
Kini Shanty yang jadi panik. Senyuman boss-nya itu berarti lain baginya. Ia tahu seorang macam Amelia Santono akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Apa ia punya rencana untuk menyakiti gadis itu? Tiba-tiba Shanty merasa cemas juga. Walau baru kenal Kalula tadi sore, tapiĀ Shanty tahu Kalula anak baik. Kalula anak yang sopan dan tidak jahat. Kesalahannya hanya menjadi cantik dan membuat Edward jatuh cinta saja.
Apalagi Shanty merasa berhutang budi pada Kalula karena twkah ditolong. Shanty tahu Amelia Santono punya kuasa yang kuat untuk sekedar menghancurkan hidup orang dengan mudah. Koneksinya dimana-mana.
"Bu Amel. Kalula anak yang baik, Bu. Jangan sakiti dia. Dia butuh pekerjaan yang lebih baik dari sekedar pelayan di cafe. Soal Pak Edward yang suka sama dia, itu..."
"Stttt! Stttt! Udah, tenang aja. Saya nggak pernah jahat loh, Shan. Kamu tahu saya gimana lima tahun terakhir ini. Ini hanya trik saja. Saya mau Edward kalah." Amelia Santono tampak puas.
Shanty makin cemas. Apa sih yang ada di dalam pikiran mantan boss-nya itu? Merekrut Kalula jadi asisten pribadinya lalu menyiksanya dengan pekerjaan yang berat dan membuat stress?
Begitulah kecemasan Shanty. Ia benar-benar tak tahu saja pikiran Amelia Santono lain lagi isinya. Ia benar-benar punya rencana yang lebih besar lagi.
Shanty hendak bicara lagi tapi ia mengurungkan niatnya saat seorang perawat masuk ke kamar rawatnya diikuti seorang dokter.
"Ah, sepertinya saya harus keluar Shan sementara dokter memeriksamu. Biar saya cari Kalula dan bilang sendiri pada anak itu. Pastikan kamu nggak bilang apa-apa soal saya. Jangan sampai dia tahu saya mamanya Edward. Belum waktunya."
Shanty hanya bisa menatap punggung boss-nya yang berjalan menjauh pergi.
Dengan langkah penuh percaya diri dengan sepatu hak tingginya, Amelia Santono melewati koridor dan menatap Kalula yang tampak sedang menelpon sambil duduk di bangku taman.
"Ini saatnya untuk mengendalikan semua lewat tanganku. Biar kubuat putraku yang pembangkang itu kalah telak! Kubuat dia kelabakan dan tak berani macam-macam."
Amelia Santono membatin penuh kemenangan. Langkahnya makin dekat hingga akhirnya ia duduk tanpa ragu di samping Kalula.
Kalula terkejut juga tiba-tiba Amelia Santono yang ia ketahui adalah mantan boss Shanty itu menghampirinya. Wajahnya yang tadi murung jadi senyum dengan terpaksa saat matanya bertemu dengan mata Amelia Santono.
Sementara itu tanganya masih menyangga ponsel yang menempel di telinganya itu.
"Maaf, Pak Dika. Tapi tadi benar-benar darurat. Saya nolongin orang yang jatuh dan nyaris keguguran. Beliau sedang ditinggal suami dan orang tuanya di luar kota. Saya nggak tega ninggalin dia dan ke cafe sekarang. Dia nggak punya siapa-siapa, Pak. Mohon saya izin tidak masuk dulu hari ini."
Amelia Santono bisa mendengar jelas suara Kalula tampak takut. Ia menahan senyum.
Pak Dika yang ia sebut-sebut namanya tadi jelas dikenali Amelia. Dika adalah manager cafe yang akhir-akhir ini sering ia teror dengan panggilan telpon untuk memata-matai Edward dan Kalula di cafe.
__ADS_1
"Tapi, Pak. Saya nggak bermaksud mangkir kerja. Dipecat gimana, Pak? Hah? Memang ada aturan begitu? Saya mohon, Pak. Apa? Saya harus bilang langsung ke Pak Edward? Lalu gaji saya gimana, Pak?" Kalula tampak makin sedih.
Amelia Santono hanya menatap dengan menebak-nebak. Kira-kira yang dilakukan Dika itu atas perintah Edward atau inisiatifnya sendiri?
"Ya udah, Pak. Baik, Pak."
Tut!
Lalu panggilan telepon itu berakhir dengan Kalula yang langsung menangkupkan wajahnya dan menyembunyikannya di balik tangannya.
Amelia menatapnya dengan kasihan juga. Bisa ia tebak pasti ini permainan Edward.
Menilik dari Kalula yang sudah memanggil Edward dengan sebutan 'Pak' sih sudah ia duga kalau gadis ini tahu kebohongan Edward soal identitasnya.
Amelia Santono benar-benar menahan senyumnya sekarang. Ia makin menyukai permainan ini sekarang.
Ia bisa meraba kalau gadis ini menolak putranya. Apalagi Edward bilang kemarin Kalula punya pacar, kan?
Agar terkesan juga ia karena menyadari Kalula tidak murahan dan meninggalkan pacarnya demi Edward yang kaya.
"Kalula? Kamu kenapa?" Amelia Santono menepuk pundak Kalula yang sedang tertunduk dengan penuh perhatian.
Kalula mengangkat wajahanya lalu mencoba tersenyum padahal tangannya sibuk mengusap air matanya.
"Nggak papa kok, Bu." Kalula sedikit menunduk.
Angin sepoi-sepoi membuat taman makin sejuk. Dua wanita beda usia ini duduk berdampingan dengan akur.
"Nggak papa kok nangis gitu. Ayo cerita sama saya. Shanty barusan cerita kamu pengin keluar dari tempat kerja kamu sekarang. Shanty udah ngasih tahu kamu kan kalau saya butuh aspri? Saya bisa tawari kamu pekerjaan ini. Gajinya berkali-kali lipat dibandingkan pekerjaan kamu sekarang." Amelia Santono mulai menghembuskan janji-janji surga.
Kalula langsung menatap mata Amelia Santono dengan berbinar-binar.
Oke. Gaji lebih besar, peluang karir, bisa melanjutkan kuliah. Kalula sudah membayangkan yang indah-indah.
"Iya, Bu. Saya butuh pekerjaan baru." Kalula langsung antusias walau air matanya masih menetes sedikit.
"Nah, ceritakan soal pekerjaan kamu sekarang. Kenapa kamu mau keluar kerja? Jangan ada rahasia. Cerita aja dengan jujur. Saya orang yang objektif dan bijak, kok. Saya tahu kamu anak baik. Buktinya kamu lebih memilih menolong Shanty daripada nekat ke tempat kerja. Ayo cerita..."
Dan Kalula mulai membuat mulutnya tanpa ragu. Kata-kata Amelia Santono seolah terdengar seperti mantra hipnotis.
Ayo cerita...
__ADS_1
Dan ia benar-benar menceritakan semuanya dengan polos...
Bersambung ...