Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
61. Pengakuan Mengejutkan dari Beni


__ADS_3

[[  "Hei, Do. Maaf baru ngabarin kamu lagi. Terima kasih ya atas bantuan kamu kemarin dan sampai bikin repot Robby juga. Aku udah bikin janji sama Robby untuk balikin uangnya besok karena gaji aku udah cair.


Sorry ya, Do. Aku malah buat kamu terbebani selama ini padahal kamu udah jauh-jauh di Tokyo sana. Mulai sekarang aku janji nggak akan bikin kamu repot lagi. Aku nggak akan minta tolong lagi."  ]]


Dan pesan dari Kalula itu baru Edo baca keesokan paginya. Ia bangun lebih dulu sedangkan Seira tampaknya belum bangun di kamarnya.


Edo yang barusan meringkuk di sofa itu membaca pesan itu berulang-ulang untuk meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah baca.


Kemarin hubungan mereka sudah baik-baik saja. Setelah pertengkaran hingga putus, Kalula minta tolong dan Edo menyuruh Roby untuk menjadi perantara pertolongannya, seolah mereka kembali seperti dulu. Edo cukup senang.


Tapi ada apa sekarang? kenapa Kalula tiba-tiba bersikap seperti ini? Ia seolah ingin menjauh dan memberikan sinyal-sinyal kalau ia tidak ingin ada urusan apa-apa lagi dengan Edo.


Edo menggigit bibirnya. Diacak-acaknya rambutnya sendiri yang berantakan sehabis bangun tidur itu.


Andai Edo tahu kemarin ketika ia ketiduran, Seira sempat menyabotase handphone-nya tepat ketika Kalula menelpon.


Seira si gadis pemberani itu menyerang Kalula dengan kata-kata menyindir dan sinis. Ia juga berkomentar pedas dan merendahkan Kalula sampai Kalula tidak sanggup lagi mendengar dan menutup panggilan itu secara sepihak.


Seira yang manis bisa saja bermulut macam ular berbisa.


Edo yang tidak tahu apa-apa dengan perbuatan Seira di belakangnya tampak merenung. Ia bingung harus ia balas apa pesan dari Kalula ini.


Edo senang masalah gaji Kalula sudah beres. Dia sepertinya baik-baik saja juga. Tapi tetap saja Edo cemas.


Kalula sudah tidak punya rumah lagi untuk pulang karena konflik dengan mama tirinya. Dia punya pekerjaan tapi juga tidak bagus-bagus amat. Kalula perempuan, sendirian, di kota yang keras. Edo jelas cemas.


Kadang kalau ingat begini, ingin ia menarik kembali ucapannya semalam soal ia yang janji pada Seira untuk bertahan di Tokyo dulu.


Edo ingin pulang ke Jakarta. Ia ingin menemui Kalula dan memohon untuk memulai lagi dari nol. Dari awal.


Edo tahu sulit untuk melepaskan gadis itu, tapi keadaannya terlanjur rumit begini.

__ADS_1


Kalula juga rupanya tertampar dengan kata-kata Seira kemarin. Ia bisa saja mengadu tapi Kalula mungkin menyayangkan harga dirinya. Kalau ia mengadu pada Edo soal perbuatan Seira, makin-makinlah Seira akan menghinanya dan mengecapnya gadis manja tukang ngadu, atau entah apalah itu.


Kalula mungkin juga merasa ia tidak ingin merusak kebahagiaan Edo. Edo sudah bertemu Seira, gadis yang lebih baik darinya dari segi apapun.


Harus Kalula akui ia merasa minder juga seperti Edo yang minder ketika membandingkan dirinya sendiri dengan Edward.


Oh, 4 anak muda dengan kehidupan sosial dan ekonomi yang timpang drastis itu sedang berkonflik dengan asmara usia dua puluhan yang rumit. 


[[  "Kal, aku nggak ngerasa direpotin. Serius. Kalau ada apa-apa hubungi aku lagi, ya."  ]]


Akhirnya kalimat itulah yang Edo ketik dan kirimkan pada Kalula. Ketika selesai mengirim pesan, tepat pada saat itu Seira membuka pintu kamarnya dan menyapa Edo yang masih duduk di sofa.


"Aku ada kuliah pagi, Do? Kamu juga, kan? Kamu bisa pakai kamar mandi di sana, ya," ucap Seira lalu ia menutup pintu kamarnya lagi. Jelas Seira memakai kamar mandi yang ada di dalam kamarnya


Edo hanya mengangguk. Ketika mandi ia sambil melamun. Apa ya yang sedang dilakukan teman-temannya di asrama? Apa mereka tidak merasa kehilangan dirinya? Atau justru mereka malah senang karena akhirnya Edo menyingkir sendiri? Selama ini Edo harus mengakui ia sedikit menjauh dari mereka. Bahkan sejak awal.


Bukan! Bukan hanya masalah karena dulu Beni dan Aldo meledeknya dengan sebutan budak cinta kalau Edo asyik menelpon Kalula di Jakarta.


Alasan Edo lebih dari itu. Alasan Edo menjauh adalah karena ia tidak cukup percaya diri bergabung bersama mereka. Di kelas, nilainya paling rendah di antara keempat anak yang lainnya. Edo sangat frustasi soal ini. Tapi mau bagaimana, otaknya tidak cukup pintar untuk memahami perkuliahan.


Lalu ketika kebohongannya kini sudah terungkap oleh Aldo dan Beni, Edo makin menjadi panik. Entah bagaimana ia akan menyelesaikan ini. Masih terlalu pagi sekarang bagi Edo untuk memaksa otaknya berpikir keras.


***


Akhirnya bertemulah mereka pagi itu.


Edo yang baru berpisah dari Seira dari tempat parkir kampus berjalan menuju satu pintu ruangan yang sama.


Dari sisi seberang tampak empat sekawan itu berjalan sambil tertawa-tawa dan bercanda, tapi tahu-tahu mereka berhenti begitu melihat kehadiran Edo.


Erina yang kemarin masih mencoba untuk peduli padanya dan merangkulnya agar berbaikan tampak sedingin es pagi ini.

__ADS_1


Erina yang paling dekat dengan Ajeng karena sama-sama perempuan tampak menatap Edo dengan ujung matanya. Sedangkan Beni dan Aldo juga ikut menatapnya.


Kelas masih 15 menit lagi. Daripada menunggu di dalam kelas, Edo memutuskan untuk menunggu di luar.


Bukannya ikut masuk, ia malah duduk di kursi luar. Padahal di dalam ia bisa mengobrol dengan anak kontingen dari negara lain yang juga sama-sama penerima beasiswa.


Edo memilih hening sendirian di sini. Di dalam kelas yang ceria Edo malah merasa sesak. Ah, entah kenapa setiap duduk di meja kelas membuat Edo panik sendiri karena tahu materi yang diterangkan tidak bisa ia tangkap dengan mudah. Ia tahu sekelilingnya mahasiswa pintar semua.


Oh, andai semua ini bisa jalan seperti yang mereka pikir dulu. Edo dan Kalula. Jepang dan beasisiwa. Ternyata tidak. Sekarang Edo dan Kalula putus. LDR Jakarta-Tokyo ternyata juga berat.


Kayaknya kalau Kalula yang menerima beasiswa dan Edo yang LDR di Jakarta, hubungan mereka akan tetap bertahan. Kalula sangat menjaga kesetiaan dirinya. Edo harus mengakui itu.


Edo merasa bersalah. Tapi bagaimana pun, semua kejadian ini kita terlalu basi untuk diselamatkan.


Ketika Edo sedang duduk mengamati sakura yang rindang yang mulai berguguran sedikit demi sedikit itu, Beni datang dari dalam kelas.


Edo melirik sekilas dan makin kaget saat Beni tiba-tiba duduk di kursi sampingnya. Agak terkejut juga ia.


Yang pertama kali Edo lirik adalah luka di wajah Beni. Oh, bekas tonjokannya apakah masih ada? Ya, tapi tidak separah kemarin. Tinggal samar-samar sekarang.


Andai Edo minta maaf dengan gentelmen pada Beni, teman seperjuangannya dari Jakarta, mungkin mereka sudah perbaikan. Tapi bukan Edo namanya kalau gengsinya kalah.


"Kamu ngadu sama Seira soal kecurangan beasiswa kamu? Do, Edo. Seira sampai tahu detail, loh. Terus dia menghubungi aku semalam lewat direct message sosial mediaku.


Terkejut juga aku dia seniat itu mencariku demi membelamu. Cukup mudah kan mencari aku? Beni si cowok biasa yang bahkan tidak ia lirik satu kedip-pun di pesta senior kemarin." Kata-kata tajam Beni membuat Edo menoleh dengan kaget.


Apa daerah menghubungi Beni? Untuk apa? Tunggu! Beni menyebut-nyebut soal beasiswa tadi.


Edo masih diam. Mulutnya bungkam. Ia tahu Beni akan melanjutkan bicara lagi, makannya ia menunggu.


"Seira mohon-mohon ke aku secara personal..."

__ADS_1


"Mohon-mohon apa?" Edo makin panik.


Bersambung ...


__ADS_2