Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
68. Kita Malu


__ADS_3

Tanpa dikomando, semua orang di meja makan mendadak hening. Bahkan Aldo yang tadinya menyiapkan makanan dengan lahap dan rakus ikut meletakkan sumpitnya.


Ajeng menggembungkan pipinya dengan imut. Anak itu memang satu-satunya yang paling kekanakan di antara yang lain. Ia masih sibuk menyikut-nyikut Beni. Ia tahu Beni yang pertama kali memancing keributan.


Posisi mereka yang saling berhadap-hadapan membuat situasi makin mencekam. Mereka berlima saling tatap satu sama lain secara bergantian. Tapi jelas tatapan utama ya Edo. Dia bintangnya malam ini.


Edo merasa bagai dijadikan tersangka. Apalagi ia tahu sejak kemarin ia memang pusat keributan di antara teman-temannya ini.


Edo meraba bibirnya lagi dan mengusapnya dengan punggung tangannya. Walau bibir itu tadi kemungkinan bertemu dengan bibir Seira dan meninggalkan bekas lipstik, tapi sudah terhapus kan seharusnya? Apalagi Edo sudah makan dari tadi. Pasti sudah ikut tertelan misalnya ada bekasnya.


"Tidak merah? Noda lipstik? Erina tahu dari mana? Pertanyaan Beni juga menjurus ke sana." Edo bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Erina menatapnya tanpa berkedip. Gadis itu memang paling dewasa di antara mereka. Paling pintar juga makannya dipilih menjadi ketua tim.


"M--maksunya, Er?" Edo memebrnika diri menatap mata gadis yang sempati dicemburui Kalula itu.


"Bukan di bibir kamu. Di kerah baju kamu tuh." Erina lalu menatap kerah kemeja Edo seolah dengan tatapan yang jijik.


Edo spontan meraba kerah kemejanya. Ah, sial! Ia lupa memakai kemeja putih. Saat bersentuhan, berpelukan, atau dengan posisi Seira yang suka dekat-dekat dan bermanja dengannya, kemungkinan noda lipstik menempel itu pasti besar.


Tapi kalau menempel di kerah bajunya, alias dekat area leher, tentu jadi agak mencurigakan. Kesannya jadi negatif, kan? Edo tahu itu. Maka ketika dilihatnya ke arah kerahnya ia langsung salah tingkah.


"Eh, oh tadi kita duduknya deketan. Ini lipstik Seira nempel sedikit." Harus Edo akui, ia malu mengatakan ini. Ditambah kini semua mata menatap ke arahnya.


Oh, apa alasan alasan cukup masuk akal? Entahlah Edo hanya tidak tahu mau beralasan apa.


Aldo mulai mengambil sumpit dan mengunyah lagi. Ajeng memainkan pipi gembungnya sambil melirik Beni.


Beni yang posisi duduknya tepat di depan Edo nenyeriangi lalu tertawa kecil.

__ADS_1


"Kenapa, Ben? Curiga yang enggak-enggak? Udahlah nggak usah nuduh-nuduh." Edo langsung peka dan membangun benteng pertahanan. Ia tahu Beni masih ingin menyerangnya lagi.


Erina berdehem lalu melanjutkan makan karena mungkin merasa alasan Edo cukup masuk akal dan malas untuk didebatkan lagi. Tapi suara tawa Beni yang terkesan meledek membuat Erina kembali mengangkat kepalanya.


Erina tahu dan peka saat pertengkaran akan terjadi. Sebagai pimpinan anak-anak ia merasa perlu mencegah sebelum pertengkaran terjadi. Erina tahu Beni si sumbu pendek dan Edo sama saja sikapnya.


"Siapa yang nuduh? Cuma heran aja lipstiknya nempel sampai leher." Beni lalu tertawa lagi.


Edo yang tadinya lapar mendadak tidak berselera. Ia mulai mengerutkan alisnya, tanda kalau emosinya mulai terpancing.


Ah, begini terus rasanya pertemanan ini. Perasaan kemarin baik-baik saja. Mereka sangat menjunjung solidaritas dan akur dari Jakarta. Sekarang begitu di Tokyo dan Seira muncul di hidup Edo, pertemanan ini mulai retak.


"Ben, aku mencoba sabar ya. Jangan memancing perdebatan tidak penting. Coba kamu duduk deketan dan ngobrol sama Ajeng. Mungkin kalau Ajeng pakai lipstiknya tebal dan baju warna putih, bisa jadi nodanya nempel di baju. Nggak usah memancing perdebatan.


Oke aku tahu aku yang paling jarang kumpul sama kalian akhir-akhir ini. Kita juga sempat salah paham dan bertengkar. Aku mencoba dekat lagi tapi malah begini. Dituduh macam-macam.


Cuma noda lipstik tapi dibesar-besarkan seolah aku paling dosa dan hina di antara kalian." Nafas Edo mulai naik turun tak karuan saat mengatakan ini. Mungkin ia mencoba tidak meledak, jadi suaranya agak bergetar.


"Guys, kita dekat, kan? Erina dan Ajeng juga pakai lipstik. Walau cowok aku tahu itu. Aku juga punya adik cewek. Tapi sedekat-dekatnya posisi duduk kalian sama kita, kita juga sering bercanda kayak saudara sendiri, tapi pernah nggak lipstik kalian sampai nempel?" Beni ternyata belum puas.


Edo mengenggam sumpit seolah ingin menggunakannya sebagai senjata dan menusuk Beni, tapi ia tahan.


Erina diam saja. Tapi Ajeng yang polos menggeleng dengan cepat.


"Nggak! Nggak mungkin, lah. Kita kadang bercanda keterlaluan juga tapi kalau bibirnya sampai nempel ke baju atau anggota tubuh yang lain rasanya kelewatan, deh." Ajeng berkomentar lalu minum dengan santai.


Beni tertawa lagi. Aldo juga ingin tertawa tapi kelihatannya ia tahan. Tapi tetap saja ekspresinya sulit ditutupi.


Erina satu-satunya yang netral dan berusaha mengontrol keadaan. Sejujurnya Erina senang Edo datang. Ia pikir persahabatan mereka berlima bisa diselamatkan lagi. Tapi sekarang ia mendadak pesimis. Edo dan Beni tidak akan pernah bisa akur rasanya.

__ADS_1


"Er, ini bukan soal di kerah ya. Aku duduk di sini jadi kelihatan banget. Coba suruh Edo nolehin kepalanya ke kamu. Cek lehernya. Jelas banget ada noda lipstik lagi. Bukan di kerah. Kita semua bisa lihat kalau di kerah. Tapi ini di leher. Di kulit." Beni lalu mengangkat alisnya dan menatap penuh arti ke Edo.


Edo memelototkan matanya karena ia tahu kemungkinan Beni tidak bohong. Ia masih ingat belum apa yang terjadi pada ia dan Seira beberapa jam lalu.


Lehernya memang tidak bisa diselamatkan lagi. Edo ingat bagaimana Seira bermain di area itu. Bulu kudunya langsung meremang.


Belum sempat Edo menutupi bagian leher yang dimaksud, Erina langsung berdiri dan menolehkan pundak Edo.


Erina bahkan agak dramatis. Ia berdiri dan sedikit mencengkeram kerah kemeja Edo. Beberapa detik menatap, matanya berubah. Lalu ia lepaskan cengkeraman tangannya dan duduk lagi dengan lemas.


Edo langsung ikut lemas lalu menutupi lehernya dengan tangan seolah itu bisa membantunya keluar dari situasi ini. Padahal semua sudah melihat. Erina melihat belakangan karena posisi duduknya.


"Er... Aku..."


Entah kenapa Edo merasa perlu menjelaskan ini pada Erina. Tapi kata-katanya berhenti sendiri karena ia juga bingung mau bilang apa.


"Tau nggak. Tadi Yuki San langsung berubah mukanya begitu kamu datang dan duduk di samping dia. Aku nggak ngerti kenapa tadi dia begitu. Cuma membatin dalam hati aja.


Tapi sekarang aku tahu. Kayaknya dia juga lihat noda itu. Astaga, Do. Aku nggak ngerti lagi kamu sejauh apa sama Seira. Iya sih bukan urusan kita. Kita sama-sama dewasa dan punya kehidupan sendiri walau berangkat sama-sama dari Jakarta.


Kita cuma pengin saling jaga. Terserah kamu, Do. Tapi kalau bisa kelakuan kamu itu jangan terlalu kentara dan meninggalkan jejak gitu. Bangga kamu? Kita sih malu lihatnya." Erina langsung berkata dengan nada bicaranya yang menohok.


Deg!


Edo bagai ditampar.


Bangga kamu? Kita malu!


Edo tidak merasa ditampar lagi, tapi dibantai. Mukanya merah. Bukan karena marah, tapi karena malu.

__ADS_1


Oh, tertangkap basah ia.


Bersambung ...


__ADS_2