Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
20. Dua Hantaman


__ADS_3

"Ini Edo pacarmu, kan?" Edward bertanya dengan sok panik.


Kalula mengangguk-angguk dengan lemah.


"Duduk dulu. Duduk sini dulu, Kal," ucap Edward yang langsung merangkul pundak Kalula dan mendudukkannya di sebuah kursi tunggu panjang di dekat area ganti karyawan.


Kalula menatap Edward dengan tatapan bertanya-tanya. Wajah kuyunya yang lelah makin tampak menyedihkan lagi.


Sebenarnya Edward tak tega berbuat begini, tapi egonya sebagai laki-laki yang pantang menyerah untuk memenangkan Kalula lebih dominan. Lagi-lagi egonya pun yang menang.


"Aku punya sepupu yang beberapa tahun lalu pindah ke Tokyo karena mama papanya cerai dan dia sedang kuliah di sana. Namanya Seira. Kayaknya dia satu kampus sama Edo.


Kita sangat akrab dan sering ledek-ledekan karena sama-sama jomblo. Terus dia ngirim foto ini. Katanya dia lagi deket sama cowok. Bahkan katanya cowok itu sudah nembak dia. Ini beneran Edo pacar kamu bukan, sih?" ucap Edward.


Kalula mengiyakan. Ia lalu menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan.


"Serius dia bilang gitu, Ed?" tanya Kalula lagi dengan tatapan menyelidik.


"Ya, kamu boleh lihat chat-nya," ucap Edward yang lalu memberikan ponselnya ke arah kalula.


Memang, sih. Seira sungguhan chat begitu. Kalula pun rasanya percaya tidak percaya tapi bukti ini sungguh nyata.


Kalula mengembalikan ponsel itu pada Edward lalu ia menatap Edward lagi dengan bingung.


"Mungkin sepupu kamu bohong?" ucapnya dengan suara serak tapi terdengar hampir menangis.


"Nggak mungkin Seira bohong. Ya udah kita pulang dulu. Nanti kamu telepon sendiri saja Edo dan tanya langsung, deh. Aku temenin biar kamu nggak panik. Kamu jangan langsung nuduh, nanti malah berantem lagi.


Kamu pancing-pancing aja, tanya apa dia deket sama temen cewek atau apalah," ucap Edward sok memberi saran.


Kalula lagi-lagi hanya bisa mengangguk-angguk percaya. Lalu malam itu mereka pulang menyeberangi jalanan pusat kota yang indah oleh gemerlap gedung-gedung tinggi pencakar langit.


Cuaca cukup cerah. Seharusnya mereka bisa asyik mengobrol sambil memakan bakso langganan Kalula. Tapi begitu Edward menyarankan ide itu, Kalula menolak mentah-mentah. Ia bilang ia hanya ingin cepat cepat pulang ke apartemen Edward dan menelepon Edo.


"Belum tengah malam sih kalau kita cepet-cepet pulang. Aku mau langsung nelpon Edo aja," ucap Kalula. Edward pun mengiyakan.


***


Edward dan Kalula duduk di ruang tengah apartemen. Televisi dengan layar besar itu mati. Mereka sudah mandi dan rapi. Lalu Kalula sudah siap dengan ponsel di tangannya.


Nada tunggu sudah terdengar.


Tut...tut...tut...


Kalula sudah mengatur ponselnya dengan loud speaker agar Edward bisa ikut mendengar. Sebenarnya Edward yang memintanya dan Kalula menurutinya tanpa curiga.

__ADS_1


"Halo, Kal. Aku lagi deadline tugas, nih. Ada apa, ya? Sorry ya tadi siang aku nggak banyak ngabarin karena padat banget jadwal di kampus."


Edo langsung bicara panjang lebar seolah menghindar. Padahal Kalula bilang 'halo' pun belum.


"Oh, oke. Ya udah. Besok aja lah kita telponan. Mmm, kamu beneran lagi ngerjain tugas? Di kamar atau di mana, Do?" tanya Kalula pelan.


"Y--ya. Di kamar kok. Ya, di kamar. Ya udah ya, Kal. Besok aja ya teleponnya," ucap Edo yang kemudian memutus panggilan itu cepat-cepat.


***


"Ciye... . Ditanyain tuh."


"Ciye, bohong. Jujur aja kenapa sih, Do. Bilang aja lagi kumpul-kumpul sama temen-temen sambil nugas. Malah bilang di kamar." Aldo meledek.


Edo yang fokus mengerjakan tugas tambahannya karena tadi terlambat mengumpulkan hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan malas. Kedua teman barunya yang berangkat bersama dengannya dari Jakarta itu memang selalu mengusiknya dengan ledakan-ledekan.


Maklum mereka berdua tidak punya pacar, sedangkan Edo punya Kalula. Jadi Aldo dan Beni sering meledeknya dan itu sedikit membuatnya tidak nyaman, tapi Edo tak enak hati untuk menjauh dari mereka.


Pasukan 5 penerima beasiswa ini sudah sepakat untuk solid dan saling bantu di perantauan. Merantau di negara orang memang mengharuskan kita punya banyak teman, kan?


Erina dan Ajeng yang baru datang langsung tertawa-tawa. Mereka tampaknya habis bercanda. Tangan Erina yang membawa ponsel langsung mengabadikan momen itu dengan video.


Erina memang sangat aktif meng-update kegiatannya selama di Tokyo di akun pribadinya.


"Guys, tau nggak. Tadi Beni ngajak kenalan cewek terus..."


Ajeng dan Erina tertawa-tawa. Aldo jelas terbahak. Sedangkan Edo tetap fokus pada laptopnya. Ia tahu kalau kumpul berlima, teman-temannya selalu ledek-ledekan begini.


Ya, tadi Beni mengajak kenalan seorang gadis asal Korea di kampus dan ditolak. Itulah yang menjadi bahan ledekan mereka sekarang.


Erina langsung mengunggah video itu dengan menge-tag akun 4 orang lainnya. Ajeng, Beni, Aldo, dan Edo. Edo tak tahu soal ini karena fokus pada tugas yang ia kerjakan.


Kebetulan tadi pagi saat sarapan, Edo mengaku ia punya akun sosial media anonim yang ia buat sebelum ia berangkat ke Tokyo. Katanya untuk memata-matai Kalula. Nyatanya Kalula mem-privat akunnya dan Edo bingung.


Erina mentertawakannya. Edo memang gaptek soal sosial media. Erina mengajarinya dan bilang kalau akun diprivasi, maka Edo harus follow dulu dan menunggu diaccept permintaanya. Baru bisa memata-matai.


"Ah, nggak seru kalau gitu dong, Er. Kalau aku follow, Kalula pasti tahu kalau ini akunku." Begitu yang ia bilang tadi pagi.


"Kan anonim, Do? Darimana Kalula tahu?" Erina yang masih mentertawakannya lagi.


"Kan foto profil sama nama akunnya anime favorit-ku. Kalula pasti tahu lah."


Dan percakapan itu berujung Erina yang akhirnya mem-follow akun anonim Edo. Lalu untuk pertama kalinya semenjak ia sering mengunggah kebersamaan mereka selama di Tokyo, Erina menyebut nama akun itu di dalam story videonya.


Erina tidak tahu kalau satu keisengan itu bisa membuat hubungan Edo dan Kalula makin salah paham dengan runyam.

__ADS_1


***


Ketika di Tokyo Edo sedang mencoba fokus menyelesaikan tugas dengan hiruk-pikuk bercandaan teman-temannya yang riuh, maka di Jakarta Kalula dan Edward hanya duduk berdua dengan saling diam.


Hening.


"Udahlah, Ed. Dia lagi sibuk nugas di kamar. Pasti lagi capek dan pusing. Ed, kamu tanyain deh sama sepupu kamu. Mungkin dia bohong atau mereka temenan doang, terus dia ngaku-ngaku biar nggak kamu ledekin jomblo terus.


Mungkin nggak, sih?" Kalula masih mencoba untuk menghalau pikiran buruknya walaupun sejujurnya ia sangat cemas kalau ternyata hal itu benar.


"Oke, besok aku tanyain." Edward tersenyum. Senyum yang hanya merupakan topeng. Sebenarnya ia tertawa senang. Ia merasa menang lagi sekarang.


Tring!


Sebuah notifikasi muncul langsung menyambar ponselnya Edward menengok dengan ingin tahu


"Bukan siapa-siapa, Ed. Nomor Karina sama mama udah aku blokir. Ini cuma notifikasi kalau Erina upload story atau postingan terbaru. Aku freak banget, ya?


Aku segitunya cemburu dan curiga sama dia karena terlalu dekat sama Edo, sampai-sampai aku se'kepo' ini ngikutin keseharian Erina di Tokyo. Aku kayak stalker nggak, sih?" ucap Kalula sambil tertawa untuk menutupi malu.


Edward ikut tertawa, sementara tangan Kalula bergerak mengecek notifikasi itu.


"Guys, tahu nggak. Beni tadi..."


Kalula menghentikan video dan menyipitkan matanya. Matanya mengawasi dengan tajam nama 4 akun yang disebutkan Erina. Biasanya hanya 3 akun saja karena Edo tak punya akun sosial media. Tapi ada satu akun baru yang...


Kalula langsung mengeklik akun itu dan terbukalah profil akun anonim dengan satu postingan bertanggal 2 bulan yang lalu.


Dari username dan foto profil, Kalula sangat yakin 100% kalau ini akun Edo. Lagian mana mungkin Erina menandai akun orang lain sedangkan di video itu hanya ada mereka berlima?


"Kenapa, Kal?" Edward makin mencondongkan tubuhnya ke arah ponsel Kalula. Ia penasaran ingin tahu.


"Bener kata kamu tadi pagi. Edo punya akun anonim. Dia nggak follow aku, tapi follow Erina dan artis favoritnya. Kenapa sih Ed..."


Kalula tak sanggup mengucapkan kata-kata apapun lagi. Ia hanya bisa menangis.


"Dia juga bohong. Nggak nugas di kamar. Tapi lagi kumpul-kumpul di luar. Dia bohongin aku, Ed..."


Edward justru tersenyum ketika Kalula menelungkupkan wajahnya pada lututnya sambil menangis. Kecengengan Kalula adalah kemenangannya.


"Semua cowok sama aja, Kal."


Bukannya menenangkan, Edward malah makin mengipaskan api itu...


Dalam satu sore yang muram, Kalula terhantam oleh dua salah paham yang rumit.

__ADS_1


Seira dan Erina...


Bersambung ...


__ADS_2