
"I--itu teman aku juga, Do. Kita...mmm, ki--kita nginep rame-rame di tempat teman aku tadi." Kalula dengan mulut spontannya dan kepanikannya membuat Edward langsung mundur.
Apalagi Kalula memberi kode padanya agar mundur. Ia tak mau kamera ponselnya menangkap keberadaan Edward. Masalahnya dengan Edo bisa makin parah kalau Edward terlihat.
"Cowok? Yang mama kamu bilang antar kamu pulang itu? Kenapa dia harus ikut nginep?" Edo menurunkan tensi bicaranya tapi nadanya tetap terdengar geram.
Kalula menatap Edward yang berdiri di depannya dengan tak enak hati. Edward tampak ingin menunggunya. Ia tak mau menyingkir.
"I--iya karena tadi pas nganterin ke tempat teman aku yang cewek itu udah kemalaman. Hujan lagi, Do." Kalula makin pandai membuat alasan.
Edward tersenyum saja mendengar ini. Tangannya ia masukkan ke saku celana.
"Oh, gitu? Harus ya begitu? Padahal kamu tahu kan kamu sama mama bertengkar karena cowok itu. Mama cuma nanya loh Kal kenapa kamu diantar cowok. Mama pasti kasihan sama aku karena kamu di sana malah jalan sana cowok lain. Kamu..."
"Do! Udah aku bilang, kan? Kita nggak bertengkar karena Edward! Mama sama aku beran..."
"Oh, jadi namanya Edward? Oke. Mulai ya kamu belain dia? Mungkin memang benar kata mama. Baru ditinggal berapa minggu, udah selingkuh aja. Deket-deket sama cowok lain tanpa merasa bersalah sama sekali, padahal aku di sini lagi berjuang buat..."
"DO!" Kalula berteriak frustasi. Ingin rasanya ia menangis. Jarak membuat pertengkaran ini makin berlarut-larut.
Edo diam. Wajahnya tampak kesal. Kalula menatap Edo di layar ponselnya dengan geram. Sedangkan Edward yang tadinya berdiri mengawasi di depannya kini ikut duduk di lantai. Ia tak mau meninggalkan Kalula sendirian dalam keadaan seperti ini.
"Mending kamu nanya sama mama lagi apa sebenarnya penyebab kita berantem sampai aku kabur dari rumah. Kamu kenal aku kan, Do? Kalau karena masalah sepele, mana mungkin aku bersikap separah itu. Aku malas jelasin. Percuma.
Kamu nggak nanya aku kenapa. Kamu malah fokus nuduh aku selingkuh dan cemburu sama teman kerja aku yang sebenarnya dia nolongin aku.
Do, kamu jarang ngasih kabar. Sekalinya kita komunikasi, kamu selalu ngeluh soal kuliah, soal kepusingan kamu adaptasi ini itu. Aku selalu dengar. Pernah nggak kamu nanya apa aku baik-baik aja di sini? Nggak. Selalu sepihak. Selalu soal kamu.
Edward selalu ada di sini. Tulus nolongin aku dan sama sekali nggak kayak yang kamu tuduhkan. Aku capek, Do." Suara Kalula benar-benar setengah menangis. Tangannya sibuk mengusap air mata. Edward yang peka berdiri mengambilkan tisyu.
Edo diam melihat pacarnya sepertinya sudah lelah bertengkar. Apalagi apa yang dikatakan Kalula benar semua. Ya, sejak di Tokyo, obrolannya dengan Kalula hanya seputar keluhannya dan dirinya saja. Tak pernah ia bertanya soal Kalula.
"Maaf, Kal. Aku lagi adaptasi sama keadaan. Aku juga agak kesulitan soal studiku. Aku nggak punya banyak waktu. Aku..."
"Kamu punya banyak waktu, Do. Ada tuh waktu buat makan-makan sama teman-teman kamu. Pergi jalan-jalan. Kamu bahkan selalu kelihatan senang dan ketawa-tawa di dekat Erina.
Kalau kamu mau dan niat, kamu bisa sekedar kirim kabar lewat chat barang semenit dua menit. Nyatanya kalau mama nggak nelpon dan ngadu yang nggak-nggak, ada kamu hubungin aku? Nggak, kan?" Tangis Kalula benar-benar pecah.
Edo merasa bersalah. Tapi egonya tetap tersentil. Edo paling tak suka disalah-salahkan. Kalula tahu itu tapi ia tak peduli.
"Aku ketiduran, Kal. Maaf. Aku..."
"Udahlah, Do. Kalau kamu masih nuduh aku yang nggak-nggak dan percaya sama kebohongan mama, nggak usah hubungi aku dulu. Aku capek, Do. Nggak usah cari-cari aku dulu. Sorry kalau mama udah bikin kamu repot dan kurang tidur. Udah matiin." Kalula menangis dan meletakkan ponselnya di lantai.
__ADS_1
Edward datang menghampiri. Ia mengulurkan beberapa lembar tisyu. Kalula mengambilnya.
Tapi yang Kalula lupa, ponselnya masih menyala. Edo belum mengakhiri panggilannya. Dan wajahnya masih terpampang di layar yang digeletakkan di lantai itu.
Edward melirik licik. Ia langsung berjongkok di depan Kalula dan mendekatkan dirinya sedekat mungkin agar kamera ponsel Kalula menangkap keberadaannya. Edward ingin Edo makin kesal.
"Kal, udah jangan nangis ya. Ayo berdiri. Jangan di sini. Lantainya dingin. Kita ke atas kasurku, oke? Nanti kamu sakit." Edward bersikap bagaikan pahlawan. Ia merengkuh pundak Kalula dan membantunya berdiri.
Kalula yang sudah terlalu pusing dengan semuanya mengira panggilan video dengan Edo itu sudah berakhir, padahal belum. Ia tadi terlalu kesal dan lelah hingga gaya nenggeletakkan benda canggih itu di lantai. Ia tak tahu, Edo masih memata-matainya dengan wajah marah.
Edward sedikit melirik ke bawah. Ia senang karena saat posisi mereka berdiri begini, kamera menangkap video mereka dari bawah dengan lebih jelas.
Edward tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Dengan jarak sedekat ini dan tangannya masih berada di pundak Kalula, ia langsung memeluk gadis itu seolah ingin menenangkannya. Padahal ia hanya ingin Edo cemburu dengan pelukan ini.
"Kamu tidur di kasur. Masih terlalu pagi, Kal. Kaki kamu dingin. Nanti kamu sakit. Kan aku udah bilang semalam. Kaku tidur di kamarku aja. Ayo sini," ucap Edward dengan lemah lembut begitu pelukannya terlepas.
Kalula mengangguk. Ia meninggalkan ponselnya begitu saja di lantai. Ia tak tahu setelah itu Edo langsung mematikan ponselnya dan membanting buku-buku di mejanya untuk meluapkan amarah.
Sedangkan Kalula...
Edward menyelimuti kakinya dan mengambilkannya minum. Ia bilang badan Kalula mulai demam. Kalula sampai tak sadar. Mungkin ini efek kehujanan, telat makan, kurang tidur, dan ditambah lagi ia sedang stress.
"Aku bilang pada pak Diki ya kamu lagi sakit dan nggak masuk besok. Aku akan jagain kamu. Tenang. Semua beres. Kalau kamu nekat berangkat kerja besok dan pingsan, pak Diki malah makin kesal karena kamu jadi merepotkan. Udah. Kamu tidur dulu."
Tapi ketika Edward membelai kepalanya dan menggenggam tangannya, ia terlena. Ia membiarkan saja. Bahkan ia malah makin memejamkan mata karena nyaman.
Ternyata begini ya diperlakukan dengan lemah lembut dan penuh perhatian. Edward sangat berbeda dengan Edo. Edward memberikannya kesempatan untuk menangis dan meluapkan perasaannya. Apapun itu.
Edo cenderung berbeda. Sejak dulu ia memperlakukannya dengan tegas. Kalau Kalula sakit, Edo akan perhatian tapi ia pasti akan memberinya semangat agar tetap kuat dan masuk kerja.
Edo membentuknya jadi kuat hingga Kalula lupa kalau ia boleh juga mengeluh dan menyerah kalau memang perlu.
Edward dan Edo adalah dua pribadi yang berbeda.
Sikap lembut Edward adalah perwujudan dari perlakuan yang ingin Kalula dapatkan selama ini.
***
Edo masuk kuliah dengan wajah kusut. Walau satu tahun pertama ia dan penerima beasiswa lain baru menjalani pendidikan bahasa dan penyesuaian, tapi tetap saja ini berat bagi Edo.
Ia diterima karena bantuan Kalula, kan? Makannya kalau sedang kusut begini Edo merasa otaknya memang tak mampu. Keceriaan teman-temannya yang lain dan perhatian Erina serasa angin segar untuknya.
Dan entah darimana Kalula tahu kedekatan mereka. Bahkan tadi pagi ia mengungkit-ungkitnya. Edo merasa sebal.
__ADS_1
Ia merasa perhatian Erina hanya sebatas teman. Tapi Kalula dan Edward? Arghhh! Edo teringat kata-kata manis dan lembut cowok itu pada Kalula. Bahkan mereka berpelukan segala. Ia merasa panas.
"Kenapa, Do?" Erina yang duduk di bangku sampingnya menyapa.
"Nggak papa. Aku cuma agak nggak enak badan. Eh, aku ke toilet dulu ya. Mau nelpon keluarga di Jakarta. Ada hal penting. Nanti kalo Miss Yuki sudah masuk kelas dan absen tolong bilangin ya." Edo lalu pergi tanpa Erina sempat bertanya-tanya lagi.
Di toilet pria yang kosong itu Edo menahan rasa kesalnya. Ia sudah mendesak mama Kalula dan bertanya mereka bertengkar soal apa tapi perempuan itu tetap bersikeras bilang kalau mereka bertengkar karena Edward. Padahal tadi pagi sewaktu video call, Kalula bilang bukan itu masalahnya.
Edo memijit pelipisnya dengan frustasi.
"Ma! Mama bujuk sendiri deh. Dia mau pulang atau nggak aku nggak mau tahu. Dia malah kayaknya nyaman dengan Edward-Edward itu. Aku pusing, Ma. Capek. Udah ya aku tutup. Aku ada kuliah."
Edo lalu menarik nafas panjang dan ketinggalan pelajaran 10 menit. Ia merasa makin berat saja hidupnya di sini.
Kalula yang menjadi alasannya di sini malah membuatnya sakit kepala. LDR memang sulit. Salah paham dan komunikasi yang kurang membuatnya lebih sulit lagi.
***
Pukul sepuluh pagi Kalula bangun dengan mata bengkak. Ia langsung mengecek ponselnya yang Edward taruh di sampingnya.
Edward dengan wajahnya yang teduh dan mengayomi memandangnya sambil tersenyum.
"Ada apa lagi?" Edward bertanya pada Kalula yang wajahnya tambah kusut setelah mengecek ponselnya.
Kalula tak menjawab. Ia hanya mengulurkan benda pipih itu ke arah Edward.
[ "Kal, bisa nggak sih lo pulang? Ngerepotin aja. Handphone Mama rusak dan dia kebingungan hubungin lo. Gue harus bawa handphone gue ke sekolah.
Lo bayar tuh uang kontrakan. Beliin juga Mama handphone baru juga tuh biar nggak nyusahin gue minjem-minjem. Oh, ya. Uang sekolah gue paling lambat minggu depan dibayar, kalau nggak gue nggak bisa ikut ujian." ]
Kalula menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
"Adik kamu ngomong kayak gini ke kamu? Nggak ada sopan-sopannya. Kal, kamu diperas dan dimanfaatkan aja. Jangan pulang ke rumah itu, Kal!" Edward yang justru naik darah.
"Aku tetap harus pulang, Ed." Kalula mengangkat wajahnya yang kacau.
"Kal..." Edward menatap iba sekaligus gemas. Bisa-bisanya Kalula tetap pulang ke rumah itu.
"Ya, pulang untuk ambil baju dan barang-barang aku. Kamu nggak berubah pikiran kan ngasih aku tumpangan di sini sementara?" Kalula menatap Edward dengan serius.
Edward tersenyum. Ia mengangguk. Hatinya berbunga-bunga.
"Selama apapun yang kamu mau, Kal," batinnya sambil bersorak dalam hati.
__ADS_1
Bersambung ...