Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
30. Kita Sudah Putus


__ADS_3

Edward sedikit nyengir. Ia tahu keceplosannya akan sangat fatal akibatnya kalau tadi kata-kata "mama" terucap dengan utuh.


Kalula pun masih berusaha tak curiga walau isi kepalanya sudah kemana-mana.


"Mam? Mam apa? Maksudnya Mama?" Kalula membatin dalam hati.


Biasanya kalau Edward keceplosan begini dan meralat kalimatnya, Kalula tidak terlalu memperhatikan. Tapi sekarang Kalula sudah lebih peka.


Mungkinkah semalam itu Edward juga berbohong soal pergi ke pesta ulang tahun temannya? Dan ternyata ia ke rumah mamanya? Oh, berarti mamanya tinggal di kota ini juga?


Arghhh! Entahlah. Pagi-pagi kepalanya sudah dibuat pusing saja. Ia memutuskan untuk tak mempermasalahkan soal ini.


"Oh, oke. Aku mandi dulu kali, ya. Nanti aku bikinin sarapan. Kemarin kita beli bahan-bahan kan di kulkas?" ucap Kalula sambil menggaruk-garuk kepalanya. Rambutnya yang terlihat berantakan sekali.


"Aku udah bikinin sarapan buat kamu. Buat kita maksudnya. Kamu mandi aja, deh. Aku tunggu di meja makan, ya," ucap Edward lagi sambil tangannya mengacak-acak rambut Kalula dengan gemas.


Edward tertawa kecil kemudian pergi.


Kalula menutup pintu lalu menyadarkan tubuhnya. Berjalanlah ia melihat cermin.


Astaga!


Penampilannya kacau.


Walaupun sangat dekat dengan Edo dan sudah menjalin hubungan bertahun-tahun, tidak pernah sekalipun Kalula percaya diri muncul di depannya dalam keadaan begini.


Tetapi di depan Edward, ia selalu tampil apa adanya. Edward pun malah tampak menatapnya dengan gemas tadi.


Kalula menepuk-nepuk jidatnya lalu ia kepikiran lagi dengan mimpinya.


"Aku melakukan ini karena aku sayang sama kamu."


Ah, Kalula benar-benar dibuat pusing dengan semua ini. Ia lalu mandi. Di bawah guyuran air shower itu ia jadi berpikir ulang. Kalau benar Edward melakukan semua ini karena menyukainya, tapi kenapa?


"Aku nggak terlalu cantik. Nggak punya kerjaan yang jelas. Nggak kuliah. Nggak punya value apa-apa. Kalau dia cowok kaya, dia pasti juga sukanya sama gadis kaya juga, kan? Kenapa malah suka sama aku? Apa dia baik dan perhatian saja karena kasihan?"


Kalula merasa makin pusing lalu ia mempercepat mandinya.

__ADS_1


Kalula lalu berganti pakaian, kemudian ia berjalan ke meja makan dengan satu keputusan : ia akan pura-pura tidak tahu dulu sambil menyelidiki diam-diam. Sebenarnya Edward siapa? Kenapa dia berbohong dan menutupi kekayaannya? Itu misinya.


"Omelete, roti bakar, dan cappucino hangat favorit Kalula," ucap Edward menyajikan semua makanan lezat itu di depan Kalula yang baru duduk.


Kalula yang masih membungkus rambutnya dengan handuk menatap Edward dengan mata yang gemas.


Oh, ya ampun. Edward ini kenapa baik sekali padanya?


"Tapi bener juga ya, kalau dia begini karena kasihan padaku, kenapa sikapnya selalu semanis ini? Dia sangat perhatian, dia membelaku waktu Edo ngata-ngatain aku. Dia juga membela aku di depan mama Sastri. Jangan-jangan mimpi itu benar! Edward sungguhan suka sama aku!" seru Kalula dalam hati.


Kalula tidak tahu harus senang atau sedih. Tapi tetap saja intinya Edward kan berbohong padanya. Ia jadi bingung. Tapi aroma cappucino dan kepulan asapnya yang menggoda ini membuatnya lupa semua.


Ah, yang penting yang makan dulu. Toh yang penting di balik kebohongannya atas alasan apapun itu, Edward tidak pernah jahat padanya.


Mereka terus mengobrol. Dan Kalula kini menatap Edward dengan berbeda. Bukan tatapan yang biasa. Tapi tatapan penasaran. Apa sih maunya cowok ini?


Kalula jadi tidak berminat lagi untuk mengecek notifikasi handphone-nya. Padahal benda itu menjerit-jerit sejak tadi.


Edo menghubungi berkali-kali sejak semalam. Handphone itu kini hanya tergeletak di kamar.


Sementara itu pukul 10 pagi waktu Tokyo.


Edo punya break kelas untuk satu jam ke depan. Kini tangannya sibuk menghubungi Kalula lagi tapi ternyata gadis itu tidak merespon.


Seharian kemarin Edo sibuk.


Selain sibuk karena Seira terus menempelnya kemana-mana, ia juga sibuk merenung tentang laporan Roby yang ia suruh memata-matai Kalula.


Oke, jadi selama ini Kalula banyak berbohong soal di mana ia tinggal. Itu poin pertama yang Edo simpulkan.


Edo ingat betul waktu pertama kali mereka bertengkar dulu, Kalula sempat menjelaskan kalau ia kabur dari rumah dan menginap di rumah teman kerjanya yang baru.


Katanya dia kasir di cafe itu. Tapi setelah Roby mengecek, kasirnya cowok.


Okelah, mungkin mereka menyewa rumah atau satu tempat yang ditempati bersama-sama dan ada banyak kamar. Mungkin saja. Tapi nama teman yang sempat Kalula sebut, yaitu Andin dan Tari ternyata tidak ada juga.


Roby bilang tidak ada pegawai bernama Andin dan Tari di cafe itu. Roby benar-benar sangat yakin. Bahkan ia sampai kesal sendiri karena Edo menanyakan ini berulang-ulang seolah mengira Roby berbohong.

__ADS_1


Kemarin akhirnya Edo jujur pada Roby soal masalahnya dengan Kalula. Ia juga menceritakan soal Edward. Dan setelah diceritakan, Roby malah mengatakan sesuatu hal yang membuat Edo makin kesal.


"Oh, kayaknya Edward itu yang kayak bule kemarin, deh. Dia jadi barista, kan? Waktu aku melihat, dia memang kayak deket gitu ngobrol akrab sama Kalula. Mereka ketawa-ketawa lagi.


Ya pantes, Do. Mereka sesama karyawan di situ. Pantas aja dekat. Edward ganteng banget, lah. Jauh kalau dibandingkan sama kamu." Roby malah berkata dengan entengnya.


Edo pun makin kesal dengan temannya. Bukannya ditenang-tenangkan malah makin dikompor-kompori.


"Kamu mau aku bilang apa sih soal Edward? Jelek-jelekin dia? Ah, nyatanya dia memang oke tampangnya. Secara jarak dia lebih dekat lagi sama Kalula, tiap hari ketemu. Gimana dia nggak berpaling?


Ya udah lah, Do. Kalau makin banyak berantemnya ya putus aja. Toh kalau jodoh, pas balik ke Jakarta nanti kalian juga balikan. Ya itu sih kalau 4 tahun lagi Kalula belum nikah," ucap Roby kemarin.


Dan sekarang ucapan Roby kembali terngiang-ngiang di telinganya. Ditambah lagi Kalula yang tidak bisa dihubungi begini. Edo jadi makin kesal.


Dari kelas pertama tadi ia sudah tak fokus. Break kelas makin kesal. Ia benar-benar sudah tak berminat mengikuti kelas berikutnya. Kepalanya serasa ingin meledak.


Apalagi ia semakin kesal begitu Mama Sastri alias mama tiri Kalula yang nomornya juga nomor Karina sudah ia blokir itu menghubunginya lewat nomor lain.


Apa sih maunya? Edo membatin dan menyesal karena tadi asal angkat saja. Kalau tahu panggilan dari mama Kalula, pasti tak akan ua angkat.


Mama tiri Kalula itu curhat soal Kalula yang katanya sudah nggak mau lagi ngasih uang, nggak mau lagi pulang dan bantu mereka. Lalu ujung-ujungnya mau pinjam uang lagi.


Edo pun akhirnya menyadari. Pantas saja Kalula tak betah dan kabur dari rumah. Edo merasa kasihan juga pada Kalula yang terhimpit keadaan itu. Ia tidak menyangka kalau selama ini Kalula menyembunyikan deritanya karena perlakuan ibunya yang tidak adil.


Lalu sekarang setelah tahu ternyata mamanya itu hanya mama tiri, Edo pun sepertinya akan mendukung Kalula untuk memutus hubungan saja dari orang tua toxic itu.


"Aku udah nggak mau ada urusan lagi sama Mama, sama Karina juga. Aku udah banyak bantu Mama. Aku di sini nggak kerja, Ma. Aku kuliah. Dan kalau sampai aku melamar kerja paruh waktu atau ketahuan kerja, maka beasiswa aku akan dicabut.


Lagian kalau aku punya uang, mending aku kasih Kalula. Karena aku tahu dia pasti kesulitan. Bukan aku kasih Mama atau Karina!" ucap Edo karena emosinya sudah di ubun-ubun.


"Kalula udah hidup enak kok sama cowok itu. Dia bahkan udah bilang kalau kalian udah putus waktu Mama samperin ke cafe. Do, kamu kan kenal Mama udah lama. Bahkan dari papanya Kalula ada. Masak minjemin beberapa juta aja nggak ada?"


Sastri ternyata masih saja ngeyel.


"Hah? Kalula bilang kita sudah putus, Ma?" Edo tampak terkejut.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2