Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
24. Mata-Mata Edo


__ADS_3

Kalula memakai apronnya di depan cermin ruang ganti karyawan. Ia menatap dirinya sendiri dan berusaha tersenyum.


"Semangat, Kal. Ingat kata papa dulu. Kamu harus jadi gadis yang mandiri dan keren. Berhenti menggantungkan kebahagiaan pada Edo. Lupakan soal mama dan Karina. Mereka hanya ingin uangmu."


Kalula mengatakan hal itu di dalam hatinya, seolah itu mantra. Lalu ia tersenyum penuh semangat lagi dan berjalan dengan ceria. Ia siap bekerja hari ini.


Seperti biasa, semuanya tampak lancar. Edward sering mencuri pandang ke arahnya dan mereka beberapa kali mengobrol sedikit di sela-sela kesibukan.


Harus Kalula akui, Edward tampak keren dengan seragam baristanya. Otot tangannya yang kekar, potongan rambutnya yang keren,dan senyumnya yang manis, juga mata coklatnya. Ia tampak sempurna.


Kalula tidak tahu kalau Roby yang merupakan teman dekat Edo datang ke tempat kerjanya. Ia bahkan duduk di sebuah meja di pojokan dengan memakai topi.


Edo yang mengirimnya ke sini. Ia ingin Roby memata-matai Kalula dan melapor padanya.


Sebenarnya Roby tak perlu takut-takut menyamar atau apalah itu. Toh Kalula belum pernah bertemu secara langsung dengannya. Hanya saja ia tahu soal Roby karena Edo sering menyebut-nyebut nama temannya itu ketika mereka mengobrol.


"Mbak Mbak, saya mau nanya boleh nggak? Itu kasirnya cowok? Yang shift berikutnya atau yang kemarin cewek bukan?" tanya Roby ke arah salah satu pelayan yang di name tag-nya tercantum nama Lisa.


"Oh, memang cowok kok kasirnya. Selalu cowok. Nggak pernah pak Dika nugasin kasir cewek, karena dulu pernah ada yang datang merampok dan mengancam dengan senjata di meja kasir. Makanya sekarang petugas kasir cowok semua, Mas. Tapi ada apa, ya?" tanya Lisa dengan bingung.


Roby hanya nyengir. Ia lalu membuka ponselnya dan membuka chatnya dengan Edo. Ia lupa tadi Edo menyuruhnya menanyakan apa lagi.


"Oh nanya lagi dong, Mbak. Mmm, ada yang namanya Andin sama Tari nggak yang kerja di sini?" tanya Roby.


Pelayan yang merupakan senior Kalula di sini itu tampak menatap Roby dengan makin bingung. Ia menggeleng dengan wajah curiga.


"Nggak ada, Mas. Nggak ada yang namanya Andin sama Tari di sini. Mohon maaf ada apa, ya? Kok dari tadi Mas bertanya-tanya terus soal karyawan di sini? Apa perlu saya panggil manajer saya?" tanya Lisa.


Roby langsung menggeleng cepat. Ia lalu meminum kopi pesanannya dengan buru-buru kemudian berdiri, siap pergi alias kabur.


Pelayan yang makin curiga langsung memberi kode ke arah Dika. Dan ketika laki-laki itu datang menghampirinya, Robby sudah pergi.


"Kenapa, Lis?" tanya Roby kepada Lisa.


"Nggak papa, Pak. Itu tadi ada tamu nanyain mulu soal karyawan di sini. Nanyain soal kasirnya kenapa bukan cewek. Nanya apa ada yang namanya Andin sama Tari di sini. Pokoknya aneh banget," ucap Lisa kepada Dika.

__ADS_1


Dika langsung mengernyitkan alisnya. "Ya udah kalau gitu. Lain kali kalau ada yang gitu lagi kamu langsung panggil saya dan nggak usah dijawab. Oke?"


Lisa mengangguk lalu pergi.


Sementara di sebuah taman terbuka di dekat cafe, Roby membuka topinya dan mengirim pesan dengan cepat pada Edo di Tokyo sana.


[  "Kasirnya cowok, Do. Aku udah nanya sama yang kerja di situ juga, katanya kasirnya memang selalu cowok. Terus soal Andin sama Tari, katanya nggak ada yang namanya Andin sama Tari di sana.


Sebenarnya ada apa sih, Do? Kamu jelasin lah ada apa. Memang Kalula bilang apa ke kamu. Kulihat dia baik-baik aja. Kelihatan senang-senang aja kerja di situ."  ]


Roby lalu pergi. Ia tahu Edo pasti tidak segera membalas pesannya karena ia pasti sibuk kuliah. Roby berjalan menuju jalan raya untuk naik kereta. Ia ada jadwal kuliah beberapa jam lagi.


Mau tak mau tadi ia harus meluangkan waktunya ke sini karena permintaan Edo.


Tanpa sadar, di jalan Roby berpapasan dengan seorang wanita tua. Tidak terlalu tua sebenarnya. Garis amarah dan raut wajah galaknya yang membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. 


Sastri berjalan dengan dagu tegak dan tangan terkepal. Karina putri kesayangannya sudah mengadu padanya semalam. Dan hari ini ia nekat harus mencari Kalula di tempat kerjanya. Ia tak peduli akan tindakannya. Pokoknya ia nekat saja.


***


Byar! Prang! Pyar!


Sastri membanting apapun yang ada di atas meja sambil mengamuk. Para pegawai lain, tamu, dan Dika sang manajer tampak sibuk menenangkan sekaligus mengamankan diri.


Masalahnya Sastri ini brutal sekali. Ia melempar apapun yang menghalanginya dan makin mengamuk.


"Saya bilang saya cari Kalula!" Sastri berteriak marah setelah puas mengamuk dan memecahkan barang-barang.


Semua orang terdiam. Dika langsung menarik tangan Sastri dan membawanya masuk ke ruangannya.


Semua menyingkir. Kalula yang baru datang dari belakang setelah membuang sampah tampak bingung dengan dengan apa yang terjadi. Baru saja ia hendak bertanya keributan apa yang sedang terjadi, tiba-tiba keributan berhenti dan dilihatnya Dika menarik tangan mamanya menuju ke arahnya.


"Kal, Mama kamu bikin ribut di sini." Dika menatap Kalula dengan wajah berkeringat dan panik. Jelas, sebagai manager cafe tentu ialah yang bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini.


Kalula hanya bisa ternganga. Dilihatnya kondisi cafe yang berantakan. Bangku-bangku terbalik, gelas pecah, pot bunga ambruk, dan tamu-tamu menyingkir ke pinggir karena ketakutan.

__ADS_1


Ditatapnya mata mama tirinya itu dengan nanar. Tak ada lagi tatapan ketakutan di sana. Sastri pin malah tampak makin menantang.


"Anak durhaka! Anak nggak tahu diri! Anak..."


Dan Edward yang entah datang dari mana tiba-tiba membungkam mulut Sastri. Ia tak peduli wanita itu lebih tua darinya. Yang ia pedulikan hanya ia tidak ingin Kalula mendengar kata-kata kotor dan sumpah serapah wanita itu, apalagi di depan semua orang begini.


Kalula tahu semua orang kini menatap ke arah mereka. Matanya sudah panas dan bulir-bulir air mata karena rasa malu, sedih, dan marah itu bercampur menjadi satu. Tangannya terkepal.


Edward lalu menariknya masuk setelah ia memberi kode Dika untuk menyeret Sastri masuk juga ke dalam ruangan tertutup.


Sastri didudukkan dengan wajah memerah. Dika berdiri di sampingnya. Ia tampak memegangi kepalanya karena pusing memikirkan semua kekacauan ini.


"Tunggu di sini!" ucap Edward lalu ia menarik tangan Dika untuk keluar dari ruangan.


Kalula sudah tidak terlalu memperhatikan apa yang mereka berdua lakukan. Jadi perhatiannya sudah penuh ke arah mama tirinya yang ia benci itu.


"Tutup cafenya, suruh semua beres-beres, dan yang datang di jam ini gratiskan semua. Bilang minta maaf atas kekacauan ini dan bujuk mereka agar tidak membesar-besarkan masalah.


Kalau perlu janjikan promo khusus untuk kedatangan selanjutnya. Pastikan nggak ada yang mengunggah keributan ini ke sosial media atau apapun itu. Ngerti?" ucap Edward yang langsung melakukan briefing manajemen control pada Dika yang panik.


Dika mengangguk mengerti lalu Edward kembali masuk ke dalam ruangan itu. Tak lupa ia menutup pintu rapat-rapat.


Dilihatnya Kalula masih menatap tajam ke arah Sastri. Sastri pun sama. Bedanya ia duduk dan Kalula berdiri.


Sastri menatap Edward yang tadi membungkam mulutnya. Makin kesallah ia. Dan kini ia makin kesal saat Kalula yang ia pikir akan takut padanya malah melihatnya dengan tatapan berani.


Ia pikir dengan gertakan ini Kalula akan minta maaf lalu berjanji akan pulang, atau setidaknya memberinya uang. Tapi gelagat Kalula mencerminkan sebaliknya.


Sastri tahu tak boleh begini. Ia merasa ia harus makin menggertak Kalula. Ia langsung berdiri dan hendak menjambak Kalula seperti biasa, tapi ternyata tangan Kalula sendiri menahannya.


Ibu tiri kejam dan putri yang tersakiti itu saling tatap dengan sengit.


Edward ada di antara mereka. Ia diam. Ia menunggu. Ia tahu Kalula sedang mengolah emosinya. Sudah saatnya gadis malang yang penakut harus berani melawan...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2