
Kalula merebahkan diri di kamar ibu kost-nya yang nyaman ini. Memang tidak semewah kamar yang ia tempati di apartemen Edward, tapi ini sudah cukup membuatnya bersyukur.
Ditatapnya jam dinding di kamar bercat putih ini. Waktu menunjukkan pukul 11 malam lewat 10 menit waktu Jakarta.
Oke, berarti di Tokyo kira-kira pukul 12 lewat. Edo sudah tidur belum ya? Kalula merasa perlu untuk mengabari Edo. Ia berhutang budi lewat mantan pacarnya dan Roby. Kalula merasa ia harus mengucapkan terima kasih lagi.
Dirabanya ponselnya. Ternyata setengah jam yang lalu Edo mengirimnya pesan dan sempat menelpon tapi tak terangkat.
Kalula tahu Edo dulu suka begadang untuk sekedar main game atau menonton anime. Maka ia pikir Edo masih bangun. Tanpa ragu sedikit pun ia telponlah mantan pacarnya itu.
Ia pikir kalah sekedar mengirim pesan rasanya tidak terlalu sopan. Ia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung.
"Tut... tut..."
Nada tunggu terdengar. Kalula sudah selimutan sambil berbaring ketika menunggu panggilannya diangkat.
"Halo, Do?" Suara Kalula menyapa lebih dulu.
"Halo? Ini Kalula ya?" Suara yang muncul justru suara perempuan.
Kalula yang tadinya sudah memejamkan separuh matanya langsung melek seratus persen. Bahkan sekarang posisinya sudah duduk tegak, tidak berbaring lagi. Selimut yang tadi menutupi separuh tubuhnya bahkan sampai terlempar ke lantai.
Dada Kalula langsung berdebar hebat.
Astaga! Suara perempuan! Suara siapa ini? Dimana Edo?
Bukan! Ini bukan Suara Erina atau Ajeng! Walau cuma kenal sebentar Kalula tahu persis suara teman kuliah Edo itu. Ini suara...
Ya. Ini Seira...
Ketika sedang stalking sosial media Seira, Kalula sempat mendengar suaranya di dalam video.
Kalula menunduk menatap sarung bantal. Hatinya kenapa agak sakit begini ya. Kenapa ia harus terkejut kalau handphone Edo dibawa Seira. Mereka memang sedekat itu kan kalau menilik dari postingan Seira di sosial medianya?
Tapi tetap saja rasanya sakit di hati. Ada rasa tercabik-cabik sekaligus lega. Sakit karena merasa Edo cepat sekali move on dan mencari penggantinya. Kalula mendadak merasa tak berharga lagi. 5 tahun berlalu dan berakhir begini saja.
Lalu di sisi lain ia lega karena sekarang ia sudah putus. Bayangkan saja statusnya dengan Edo masih berpacaran dan ketika menelpon nomornya yang mengangkat adalah gadis lain. Oh! Betapa sakitnya! Sekarang memang sakit, tapi kalau masih pacaran mungkin lebih sakit lagi rasanya.
Jam 12 lewat. Artinya sudah tengah malam lewat waktu Tokyo. Kenapa Seira dan Edo masih bersama? Dimanakah mereka?
Pikiran Kalula makin tak karuan kemana-mana.
"Halo? Ini Kalula, kan?" Suara Seira kembali terdengar dengan merdu.
Kalula menelan ludahnya sambil berkaca-kaca. Ia bingung sendiri kenapa hatinya sesakit ini, ya?
Mendengar suara lembut Seira membuat Kalula minder juga.
__ADS_1
"Oh, eh, iya. I--ini Kalula." Suara Kalula sedikit bergetar. Ia semi menggigit lidahnya sendiri untuk membuang rasa gugup ini.
***
Seira tersenyum dengan penuh kemenangan. Ponsel Edo menempel di telinganya. Kalula yang selama ini hanya ia dengar ceritanya akhirnya ia dengar juga suaranya secara langsung.
Dan menilik dari suara yang terdengar gemetar itu Seira bisa menyimpulkan : Kalula lemah, minder, takut, malu, gengsi, dan gampang sekali dikalahkan.
Seira tahu itu. Dan ia senang dengan fakta ini.
Ditatapnya wajah Edo yang tertidur nyenyak di sofa rumahnya setelah tadi Roby habis mengabarinya soal Kalula.
Seira tahu betul betapa paniknya Edo malam ini mengurus Kalula dari jauh. Ia baru bisa tenang setelah Roby menelpon dan bilang Kalula sudah aman. Setelah itu barulah Edo ketiduran. Seira pikir cowok itu tak akan bisa tidur sebelum memastikan Kalula baik-baik saja.
Seira merasa iri. Betapa konyolnya Edo! Sudah diputuskan, sekarang dicari lagi karena butuh. Ia jadi sebal pada Kalula. Tapi tentu ia harus pura-pura baik dan bersikap manis.
Seira menyingkir agak jauh dari Edo yang tidur agar ia lebih leluasa mengobrol via telepon dengan Kalula. Ia ingin mengetes seberapa Kalula punya nyali.
"Ada apa ya, Kal? Di Tokyo udah tengah malam lewat, loh." Suara Seira terdengar santai.
"Mmm, i--iya. Edo-nya mana? Aku mau ngomong." Kalula masih saja belepotan cara bicaranya. Maklum, suara lembut Seira mengintimidasi secara tidak langsung.
"Edo tidur, Kal. Kasihan capek banget kayaknya kalau mau aku bangunin. Dari pagi jadwal kuliahnya padat. Jadi gimana? Mau aku bangunin?" tanya Seira.
"Ng--nggak usah. Mmm, kalau boleh tahu kalian dimana, ya? Kamu nginep di asrama Edo rame-rame sama temannya?" tanya Kalula yang masih mencoba berpikiran positif..
Jleb!
Kalula pasti sedang merasa tercabik-cabik sekarang.
"Di kamarmu? Sekamar maksudnya?" Suara Kalula memang terdengar seperti sedang tercabik-cabik.
"Iya. Dia memang sering kok nginep di rumahku. Memang ada apa sih Kal kamu nelpon dia semalam ini? Ada yang penting banget? Biar aku sampaikan besok kalau dia sudah bangun." Seira menyahut lagi dengan suara sok polos padahal sedang mengimitidasi Kalula secara tidak langsung.
Kalula hening beberapa menit. Mungkin kehabisan kata-kata.
Ia jadi merasa bukan siapa-siapa lagi di hidup Edo. Semua tergantikan oleh Seira dengan begitu cepat. Kalula tersingkir tanpa punya tempat lagi.
"Ngg--nggak sih. Tadi dia cuma nelpon tapi nggak keangkat. Jadi aku telpon balik." Kalula menjawab pelan.
"Oh..." Seira hanya menjawab singkat. Senyumnya tersungging dengan sangat lebar. Ia tahu di Jakarta sana Kalula pasti sedang syok.
Seira jelas sengaja memanas-manasi Kalula. Ia sadar betul walau Edo dan Kalula sudah putus, tapi hubungan mereka masih sedalam itu untuk mudah dilupakan.
Seira ingin menyingkirkan Kalula. Ia kesal karena setelah diputuskan, Kalula malah mencari Edo lagi untuk minta bantuan. Ia menganggap Kalula tak tahu diri.
"Kenapa kamu kayak syok gitu Kal waktu aku bilang Edo sering menginap di rumahku?" Seira mulai memancing. Rupanya ia belum puas membantai Kalula dengan kata-katanya.
__ADS_1
Kalaula tergagap menjawab ina inu dan berakhir dengan jawaban, "Nggak papa. Cuma kaget. Nggak nyangka aja."
Lalu respon Kalula itu direspon Seira dengan tertawa terbahak.
"Oh! Kaget? Nggak nyangka? Ya ampun, Kal. Nggak usah sok polos, deh. Emangnya aku nggak tahu apa kamu di Jakarta juga nginep berminggu-minggu di apartemen Edward. Apa bedanya? Iya, kan?"
Ugh! Kata-kata Seira tepat di sasaran. Kalula merasa tertampar sendiri.
Seolah ia ingin menghakimi Edo dan Seira. Padahal tanpa sadar ia sendiri juga melakukan hal yang sama.
"I--iya. Aku numpang tinggal sama Edward. Tapi sekarang udah nggak lagi. Udah pindah kost sendiri." Kalula menjawab dengan mencoba membela dirinya.
Seora tertawa lagi dengan sengaja. Ia ingin membuat harga diri Kalula jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Iya udah tahu. Dari sore kan Edo sama aku. Aku dengar dia repot-repot nelponin temannya karena kamu terlantar di jalanan. Syukur deh kalau udah kelar urusannya.
Edo repot banget ya harus ngurusin kamu padahal kalian udah putus. Kamu kan yang mutusin? Edo kemarin cerita ke aku. Hebat banget udah bikin dia patah hati besoknya nelpon-nelpon minta bantuan."
Jleb! Jleb!
Seira benar-benar habis-habisan membuat Kalula tak bisa berkata-kata lagi. Ia menyindir langsung terang-terangan begini. Ia ingin membuat Kalula menjauh dari Edo dan punya sedikit rasa malu.
Seira tidak tahu saja, Kalula dan Edo bukan hanya sekedar mantan pacar. Hubungan mereka mendalam lebih dari sekedar itu. Seira tak mengerti. Dan ia memang tidak ingin mengerti.
"Kok diam? Tersinggung sama kata-kataku. Aduh, Kal. Basi banget kalau kamu pikir aku nggak tahu apa-apa soal kamu. Aku dengar cerita kamu dari dua sisi. Dadi Edo sama dari Edward. Aku tahu kamu kayak apa orangnya bahkan sebelum kita ngobrol langsung begini.
Udahlah, tinggalin Edo sepenuhnya. Biar dia fokus kuliah di sini tanpa direpotkan sama cewek rewel macam kamu.
Harusnya kamu bersyukur, Kal. Ada Edward yang tulus sama kamu. Ia bahkan pura-pura nyamar kerja biar bisa deket sama kamu. Gila ya tuh anak! Tapi yang namanya jatuh cinta, siapa yang bisa disalahkan.
Ngapain kamu repot-repot keluar dari apartemen Edward. Bukannya cewek miskin kayak kamu harusnya seneng dong disukai cowok kaya? Iya, kan? Kamu ha..."
Tut!
"Halo? Halo, Kal? Oh, dimatikan. Segitu aja nyalinya." Seira terkikik sendiri.
Dengan jemari tangannya yang lentik, Seira menghapus riwayat panggilan di ponsel Edo.
Darimana Seira tahu kunci akses ponsel Edo? Gampang! Ia mengintip saat Edo membuka kunci layar ponselnya. Kode yang cukup mudah diingat. Ia bisa membukanya sekarang.
Seira yakin dengan pedasnya kata-kata ini, Kalula tidak akan berani mengadu pada Edo. Kalau sampai ia berani mengadu, maka memang tak tahu diri dia. Begitu pikir Seira.
Seira mengembalikan ponsel Edo di meja seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kemudian menyelimuti Edo yang ketiduran lalu kembali ke kamarnya.
***
Di Tokyo Seira sedang tertawa-tawa. Di Jakarta Kalula sedang menangis.
__ADS_1
Bersambung ...