Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
52. Ketika Sang Nyonya Bertemu Kalula


__ADS_3

"Mbak! Mbak Shanty berdarah." Kalula berseru sambil bersimpuh untuk membantu Shanty berdiri.


Shanty terlihat meringis dan pucat begitu Kalula mendudukkannya di kursi teras.


Kalula yang sudah siap berangkat kerja ikutan pucat menatap genangan air di lantai, dan sedikit darah di sana.


Oh, rupanya Shanty terpeleset saat menyiram tanaman.


"Kal, kamu bisa nyetir? Aku harus ke rumah sakit sekarang!" Shanty tampak menahan sakit sambil menekan perutnya.


Kalula bingung. Shanty menunjuk mobil warna merah di car port depan rumah itu.


"Bi--bisa, Mbak. Tapi matic. Aku nggak bisa nyetir manual." Kalula menjawab dengan ragu.


Ya, dulu papanya sempat mengajarinya menyetir. Waktu itu papanya sempat bekerja menjadi sopir ekspedisi. Mobilnya sering dibawa pulang dan Kalula diajari sendiri sampai bisa.


Katanya lumayan daripada bayar kursus mobil mahal-mahal.


"Oke. Ambil kuncinya di meja kamarku. Sekalian tas di meja rias sama dompet aku masukin ke sana. Kelamaan kalau pesan taksi. Ayo Kal cepetan!" Shanty sudah tidak meringis lagi. Ia sedang setengah berteriak karena panik melihat ada darah yang mengalir lagi di sela-sela kakinya.


"Tapi saya nggak punya SIM, Mbak." Kalula ikutan panik karena teriakan kesakitan Shanty membuat suasana makin tegang.


"Nggak papa, Kal. Yang penting bisa nyetir. Cepetan. Aku kesakitan, Kal! Please!" Shanty mulai memejamkan mata dan keringat dingin muncul di dahinya.


"Oke." Kalula lalu berlari ke dalam rumah menuruti instruksi Shanty. Sungguh padahal tas dan dompet yang dimaksud Shanty ada di depan matanya, tapi Kalula yang gugup kesulitan menemukannya.


Mungkin karena teriakan Shanty di teras membuatnya makin panik juga. Kebetulan rumah ini agak tertutup dari tetangga kanan kiri juga. Jadi mau sekencang apapun Shanty berteriak juga tidak ada yang dengar.


"Mbak, Ayo! Kunci rumahnya gimana?" Kalula menutup pintu dan memapah Shanty setelah sebelumnya menyalakan mobil.


"Nggak usah dikunci. Cepetan kamu buka gerbang. Keluarin mobilnya. Terus kamu keluar dari mobil lagi buat gembok pagar dari luar. Gemboknya di sana. Aku kesakitan, Kal. Ayo cepetan!" Shanty benar-benar membuat Kalula berkeringat dingin.


Dengan susah payah dan banyak drama akhirnya Kalula yang tidak seberapa lancar menyetir mobil karena sudah lama tidak latihan lagi itu berhasil berhenti di depan sebuah IGD rumah sakit terdekat.


Kalula langsung bergerak cepat mencari tempat parkir dan menyusul ke IGD.


Dilihatnya Shanty sedang ditangani dokter.


"Mbak keluarganya bu Shanty? Administrasinya di sebelah sana ya." Suster mengarahkan Kalula begitu Shanty sudah sedikit tenang.


"Iya, Sus. Dia adik saya. Ini, Kal. Dompet aku. KTP, kartu asuransi semua di dalam. Tolong ya, Kal. Aku nggak ada yang urus. Kamu izin kerja dulu, pelase." Shanty tampak menangis sambil tangan gemetarnya mengulurkan dompet.


"I--iya, Mbak. Jangan pikirin aku. Biar aku urus." Kalula lalu menatap suster yang lalu membimbingnya keluar untuk mengurus administrasi.

__ADS_1


***


Kalula sedang gugup menandatangani berkas rumah sakit. Ini kedua kalinya ia menjadi wali pasien. Sebelumnya dulu ia sempat mengurus dokumen ayahnya juga sebelum beliau meninggal.


Rasanya rumah sakit selalu meninggalkan kesan trauma terhadap dirinya.


Walau Shanty baru ia kenal kemarin sore, tapi wanita itu sangat baik dan ramah padanya.


Melihatnya berbaring lemah dan berdarah membuatnya takut. Kehamilannya begitu muda. Kalau keguguran bagaimana? Kalula ikut cemas hingga ia lupa untuk mengecek pesan Edward tadi. Ia juga lupa mengabari Dika kalau ia tidak bisa masuk kerja.


Sedangkan Shanty terbaring lemas. Dokter bilang bayinya aman, tapi ia harus bedrest total sambil terus dipantau kondisinya. Diputuskan oleh tim dokter agar ia dirawat inap.


Shanty berusaha menghubungi suaminya tapi tidak bisa. Maklum, resiko kerja di lapangan dan pedalaman jadi susah sinyal. Kadang beberapa hari baru bisa memberi kabar.


Shanty tampak lebih tenang saat para perawat sudah memasang infus dan alat lain di tubuhnya. Ia juga sudah berganti pakaian memakai pakaian khusus pasien.


Kalula kembali lagi ke ruang administrasi untuk menandatangani persetujuan rawat inap saat Bu Rudy alias mamanya Shanty barusan menelpon dan bilang tantenya meninggal.


Oh, rasanya tak sanggup Shanty mendengar suara tangisan sedih mamanya. Apalagi menambah beban pikirannya dengan mengatakan ia habis terpeleset dan pendarahan.


Shanty hanya bilang agar mamanya di rumah duka dulu dan tidak usah mencemaskannya.


"Ada Kalula, Ma. Dia pulang kerja lumayan sore, kok. Jadi aku ada temannya di rumah. Anaknya baik, Ma. Mama nggak usah khawatir. Oke?" Lalu panggilan telepon itu diakhirinya tanpa memberi tahu kondisinya sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Bayangan keguguran membuatnya ketakutan setengah mati. Dokter bilang ia diberi obat penguat kandungan dan diminta bedrest sementara waktu. Bahkan untuk buang air kecil saja ia tidak boleh ke toilet. Ia dipasangi kateter agar tetap berbaring saja sementara ini.


"Bu Shanty tunggu sebentar, ya. Kamar rawat sedang disiapkan. Nanti begitu wali ibu selesai mengurus dokumen, kita antar ke ruangan." Suster mengangguk sopan lalu pergi meninggalkannya.


Shanty mengucapkan terima kasih dan mengangguk.


Sekarang ketika sudah agak lega ia jadi kepikiran pada Kalula. Gara-gara menolongnya anak itu jadi bolos kerja. Ia merasa bersalah juga. Tapi kalau tidak ada Kalula dan ia di rumah sendirian, entah apa jadinya ia tadi.


Drttt! Drttt! Drttt!


Ponsel yang masih ia genggam setelah selesai menelpon mamanya tadi bergetar.


"Bu Amelia?" Shanty menggumam lirih.


Apa bossnya itu lupa kalau mulai hari ini ia sudah tidak jadi asisten pribadinya lagi? Kok masih ditelpon saja.


"Halo, Bu?" Dengan sisa-sisa tenaga Shanty masih mengangkat telepon dari mantan boss-nya itu.


"Shan, saya mau check up ke rumah sakit. Dokter Betrand minta salinan hasil tes saya waktu di Singapura bulan lalu. Saya lupa naruh dimana. Kamu tahu, kan? Aduh pusing banget saya padahal baru sehari kamu resign! Irene saya suruh cari nggak ketemu."

__ADS_1


Amelia Santono sungguh tanpa basa-basi. Tanpa menyapa selamat pagi atau menanyakan apakah ia mengganggu waktu mantan karyawannya ia langsung to the point bertanya.


"Mmm, di rak berkas ruangan ibu di kantor. Dekat brankas, Bu. Ibu minta saya ngumpetin semua riwayat check up di kantor karena takut ketahuan pak Edward." Shanty menjawab dengan nafas agak putus-putus.


"Oh, oke. Iya saya baru ingat. Kamu kayaknya lemas banget, Shan? Suara kamu kayak orang yang lagi sakit. Masih parah mual-mualnya? Kamu oke?" Amelia Santono akhirnya menyadari hal ini.


"Saya sedang di IGD, Bu. Habis terpeleset dan pendarahan." Shanty jujur juga dengan kondisinya.


"Astaga, Shan! Kamu di rumah sakit mana?" Amelia Santono terdengar begitu terkejut.


Shanty menjelaskan ia sedang di rumah sakit mana. Ia juga bilang mamanya ke luar kota karena tantenya meninggal, jadi dia diurus oleh anak kost mamanya. Begitu ia bercerita.


"Saya lagi mau check up juga ke rumah sakit itu. Ini baru turun di lobby. Kamu masih di IGD? Saya diizinkan masuk nggak ya sama suster. Nanti saya samperin. Ini saya lagi jalan. Saya tutup telponnya ya, Shan."


Tut!


***


Amelia Santono dengan penampilan mencolok khas nyonya sosialita yang mentereng tampak menatap area loby rumah sakit dengan bingung.


Setahunya IGD adalah area terlarang untuk menjenguk selain keluarga dan wali pasien.


Ia sedang berdiri di depan Kalula yang duduk di ruang tunggu.


Sungguh jaraknya hanya satu meter saja. Mereka begitu dekat tanpa saling tahu satu sama lain.


"Wali pasien atas nama Nyonya Shanty Waluyo?" Perawat memanggil lewat pengeras suara.


Mata Amelia Santono langsung tertuju pada area administrasi begitu mendengar nama Shanty disebut. Ketika dilihatnya gadis di depannya tiba-tiba berdiri dan berjalan ke sana, Amelia langsung mengikutinya.


Di detik itu Amelia Santono belum sadar kalau gadis di depannya adalah Kalula, gadis pujaan hati putranya yang membuatnya stress belakangan ini.


Oh, akankah Amelia Santono menyadarinya?


Kalula mungkin tidak tahu siapa Amelia Santono dan hubungannya dengan Edward. Tapi Amelia Santono tahu siapa Kalula. Bram alias anak buahnya pernah ia suruh untuk membuntuti Edward dan Kalula.


Bram mengirimnya beberapa foto Kalula yang ia ambil diam-diam. Selain itu Amelia Santono juga pernah melihat foto Kalula lewat CV karyawan yang ia minta dari Dika.


Amelia Santono terus mengikuti Kalula sampai meja administrasi. Ia sedikit menjaga jarak.


Seandainya detik itu pula Kalula menoleh, maka Amelia Santono akan menyadari kalau gadis itu adalah gadis kesayangan Edward yang ia benci itu.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2