
Tinggal selangkah lagi jarak antara Nyonya Amelia Santono dengan Kalula. Ketika hendak mendekat ke arah Kalula, Amelia Santono menghentikan langkahnya karena ragu. Dilihatnya gadis itu sedang sibuk menandatangani sesuatu.
Ah, nanti saja dan tunggu sampai gadis itu selesai. Begitu pikir Nyonya Amelia.
Niatnya ia hendak menyapa dan menanyakan dimana keberadaan Shanty. Karena Shanty bilang tadi ia diurus oleh anak kost yang tinggal di rumah mamanya.
"Mbak, ditulis juga ya namanya di bawah tanda tangan. Atau gini aja saya tulisin. Namanya Kalula, kan?" Sang perawat tampak mengecek dokumen.
"Iya, Sus. Nama saya Kalula." Kalula menjawab tanpa ragu.
Amelia Santono membeku di tempat. Kalula? Ya, nama Kalula memang cukup umum dan pasaran. Banyak gadis bernama Kalula, kan?
Tapi firasat Nyonya Amelia Santono cukup tajam. Ia segera mengeluarkan ponselnya lagi dari tas mewahnya itu dan membuka galeri fotonya. Ia mencari foto Kalula yang dulu dikirim Bram.
Nah! Ketemu!
Amelia Santono mengamati dengan tajam foto Kalula dan mengingatnya baik-baik. Setelah beberapa detik ditatapnya kembali gadis di depannya yang ia tahu bernama Kalula itu.
Oke, sekarang ia masih membelakanginya. Amelia Santono sabar menunggu sampai gadis itu menoleh agar ia bisa mencocokkan wajah Kalula di depannya dengan Kalula di foto.
Tapi rupanya Kalula masih belum tahu kalau di depannya ada Amelia Santono. Tahu kalau ada orang di belakangnya pun pasti ia pikir hanya orang lain yang sedang mengantri saja di area administrasi rumah sakit.
Memang sih Kalula sempat melihat foto Amelia Santono dari album foto masa kecil Edward beberapa hari yang lalu. Tapi foto itu hanya sekilas saja masuk ke memorinya. Waktu itu ia terlalu syok dan fokus pada keterkejutannya setelah menemukan identitas asli Edward.
"Mbak Kalula, ini berkasnya. Klaim asuransi dan yang lainnya sudah diproses. Bu Shanty bisa dipindahkan ke ruang rawat inap sekarang. Ini kartu pendamping pasien. Tunjukkan kartu ini pada penjaga kalau Anda keluar masuk di luar jam besuk, ya."
Suara perawat terdengar ramah. Kalula menerima berkas dan kartu lalu berterima kasih. Ia bergegas menoleh ke belakang karena ingin cepat-cepat ke IGD menemui Shanty. Ia tak tahu Amelia Santono alias mama Edward sedang mengintainya.
"Astaga! Benar! Dia gadis itu! Gadis yang dikejar-kejar Edward. Oh! Betapa sempitnya dunia!" Amelia Santono membatin dalam hati sambil dengan cepat mengikuti Kalula yang langkahnya cukup cepat juga ternyata.
__ADS_1
"Kalula?" Amelia akhirnya memilih cara terakhir. Ya, panggil saja langsung.
Mengejar langkah gadis muda itu membuatnya ngos-ngosan.
Kalula berbalik badan dan menatap Amelia Santono dengan bingung. Di matanya Amelia Santono hanya wanita kaya biasa yang berpenampilan nyentrik.
Agak heran juga Kalula karena Amelia Santono tahu namanya.
"Saya, Nyonya?" Kalula menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.
"Ya. Kamu Kalula, kan? Saya boss-nya Shanty. Tadi saya nelpon dia katanya dia lagi di IGD." Amelia Santono mengeluarkan jurus senyum ramah sedunianya.
Kalula sedikit tercengang.
Oh, percakapan tentang boss Mbak Shanty baru terjadi beberapa jam lalu di meja makan. Sekarang secara mengejutkan dia bertemu dengannya di sini.
Kalula tampak sedikit ling-lung. Maklum, semua rentetan kejadian ini cukup cepat dan membuatnya bingung.
"Oh, iya Nyonya. Saya yang ngurusin Mbak Shanty. Ini dia mau dipindahkan ke kamar rawat untuk observasi." Kalula menjawab.
"Aduh. Jangan panggil saya Nyonya. Panggil Bu saja. Saya Amelia Santono. Panggil Bu Amel atau Bu Amelia. Ayo bawa saya ke Shanty. Saya mau jenguk dia." Amelia Santono masih seramah ibu peri.
Kalula mengangguk dengan canggung. Ia sedikit gugup juga. Ia ingat betul Shanty menawarinya pekerjaan untuk menggantikannya menjadi asisten pribadi Nyonya Amelia ini. Kalula rasanya tertarik dengan pekerjaan itu.
Maka karena sekarang mereka sudah ketemu langsung, Kalula secara tidak langsung ingin menunjukkan kalau ia gadis yang mengesankan. Siapa tahu ia diterima bekerja.
"Lewat sini, Bu Amel." Kalula mempersilakan Amelia Santono untuk masuk duluan. Ia bahkan membukakan pintu.
Amelia Santono mengangguk. Cukup terkesan juga ia pada kesopanan Kalula. Kemarin saat mendengar cerita dari Edward soal Kalula, ia begitu meremehkan.
__ADS_1
Tapi setelah sekarang bertemu langsung begini ia jadi sedikit luluh juga. Harus diakui kalau Kalula lebih cantik dibandingkan dengan yang ia lihat di dalam foto kiriman Bram.
Kalula tampil sederhana tanpa riasan, tapi garis wajahnya cukup menggambarkan kecantikannya yang alami. Gaya pakaiannya memang biasa seperti gadis kelas menengah pada umumnya. Tapi mata Amelia yang tajam bisa membayangkan kalau gadis ini bisa ia ubah penampilannya menjadi gadis kelas atas dengan pakaian-pakaian mewah, branded, dan mahal.
Ya setidaknya tidak bikin malu lah kalau akhirnya Edward benar-benar akan menikahinya. Setidaknya Amelia tidak ingin kehilangan muka di depan teman-temannya.
Kalau tidak berasal dari golongan kaya, setidaknya menantunya harus cantik dan pintar.
Tingkah Kalula juga cukup sopan. Gesturnya dan gerak-geriknya menggambarkan kalau ia adalah gadis yang berhati-hati, lemah lembut, dan santun. Cukup pantas untuk mendefinisikannya sebagai gadis yang anggun.
"Astaga! Shanty." Nyonya Amelia Santono langsung berjalan lebih cepat dengan sepatu hak tingginya ke arah Shanty yang sedang dipapah suster naik ke kursi roda.
"Ya ampun, Bu Amel. Ibu beneran ke sini?" Shanty agak terharu juga.
Hubungan bos dan karyawan antara ia dan Amelia Santono memang sangat tegas garisnya. Amelia sangat perfesionis, profesional, dan keras. Tetapi di luar urusan pekerjaan, Shanty tahu Amelia Santono hanyalah seorang ibu biasa yang berarti lembut.
Bahkan ia rasa di dalam hatinya ia menyimpan sebuah kesepian yang mendalam setelah suaminya meninggal lalu Edward alias anak laki-lakinya satu-satunya itu agak kurang dekat dengannya.
Amelia Santono tampak mencemaskan Shanty. Mereka mengobrol sebentar soal kondisi Shanty sembari menunggu suster. Mereka ingin mengobrol lebih lanjut lagi tapi sudah waktunya suster mendorongnya menuju ruang rawat.
Jadilah Amelia Santono dan Kalula berjalan berdampingan di belakang perawat dan kursi roda itu. Kalula hanya menunduk dengan mendekap berkas rumah sakit Shanty di dadanya.
"Tahan Amelia! Tunggu sampai kalian di kamar rawat, lalu kamu baru bisa mengulik Kalula sepuasmu." Amelia Santono membatin sambil ujung matanya terus melirik ke arah Kalula.
Mata mereka bertemu. Amelia Santono tersenyum. Kalula membalas senyum dengan bingung.
Oh, andai ia tahu kalau nyonya kaya di sampingnya itu adalah mamanya Edward.
Sampai berapa lama kira-kira rahasia ini akhirnya akan terungkap?
__ADS_1
Bersambung ...