Jakarta-Tokyo Love Story

Jakarta-Tokyo Love Story
69. Gosip Buruk Seira


__ADS_3

Edo merasakan suara nafasnya sendiri makin berat. Ia bagaikan tokoh kriminal yang tersudut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, Erina bagaikan interogator yang tak kenal ampun.


Harusnya ia pulang lebih cepat dan mandi dulu. Harusnya ia mengecek keadaannya sebelum muncul di depan teman-temannya. Paling tidak berkaca lah.


Edo yang baru kali ini sangat dekat dan intens secara fisik dengan perempuan mungkin belum berpengalaman untuk ini. Ia juga kaget dengan bekas lipstik.


Atau mungkin Seira memang sengaja meninggalkan bekas itu? Entahlah.


Erina, Ajeng, Beni, dan Aldo masih menatap Edo dengan tajam. Mereka tentu menunggu mulut Edo membuka dan bicara, tapi Edo masih bungkam.


Edo tahu ia tak akan bisa berargumen atau mengeluarkan alasan apapun lagi. Situasi ini terlalu kuat memojokkan dirinya.


"Sorry." Akhirnya kata-kata sepotong itu saja yang mampu keluar dari mulut Edo.


Erina menghembuskan nafas panjang hingga semua orang bisa ikut mendengar. Yang lainnya tentu tahu Erina sedang kesal. Mereka pun sama kesalnya. Mereka menganggap Edo keterlaluan.


"Do, bukan urusan kita ya kamu mau apa di luar sana. Termasuk kamu mau ngapain sama pacar kamu. Kesannya kita kayak menghakimi kamu. Kamu cuma khawatir. Apalagi track record Seira di antara anak-anak komunitas mahasiswa yang lain itu sangat mengkhawatirkan." Erina sang leader memaksakan diri bicara lagi, padahal dalam hati ia sudah muak.


Di antara 4 temannya yang lain, Erina merasa turut mengemban tanggung jawab. Maka ketika ada salah satu yang ia rasa menyimpang dari jalur, ia cemas setengah mati.


"Seira baik." Edo berucap lirih sambil menunduk. Ia terlalu malu mengangkat mukanya di depan Beni yang duduk tepat di depannya.


"Iya memang. Tapi teman-temannya? Hei, dia itu pergaulannya luas. Kamu tahu kan karakternya gimana. Ya, cantik, ramah, mudah membaur, mudah disukai orang.


Do, kakak tingkat kita di fakultas seni seangkatan sama dia. Dia lumayan sering main juga dan gaul sana-sini. Tau nggak, awal-awal Seira di sini, dia sempat ketangkep polisi sama teman-temannya waktu pesta." Erina sengaja menjeda ceritanya untuk melihat respon Edo.


"Kenapa ketangkep? Sekarang dia baik-baik aja dan nggak dihukum. Kenapa, sih?" Edo tampak mencoba membela Seira walaupun mendengar fakta barusan membuatnya kaget juga.


Seira pernah ditangkap polisi? Kenapa? Karena apa?


"Ya, teman Amerikanya mengkonsumsi obat teralarang. Kamu tahu lah. Sampai masuk koran dan jadi topik heboh di kalangan komunitas mahasiswa Tokyo." Erina entah kenapa ingin membuat mata Edl terbuka dan meninggalkan Seira. Jujur, ia macam tak rela tiap melihat kebersamaan Edo dengan Seira.


Erina merasa Seira ular dan Edo mangsa empuknya.

__ADS_1


"Tapi dia bebas, kan? Buktinya sekarang kuliah dan baik-baik aja." Edo denial dan terus menampik fakta. Entah kenapa ia melakukan ini.


Edo tahu Erina bukan tipe cewek tukang gosip. Jadi yang ia beritahukan ini pasti sungguhan fakta.


"Ya, karena dia di bawah umur sesuai undang-undang sini. Masuk ke club sebenarnya juga belum boleh. Dia itu pintar sebenarnya. Kata temannya di Jakarta dia bahkan masuk kelas akselerasi.


Cuma ya itu. Pas awal-awal di sini sampai sekarang, pergaulannya mengkhawatirkan. Bahkan ada yang meyakini dulu Seira bisa bebas walaupun hasil tesnya positif karena pengaruh kekayaan papanya. Entahlah." Erina rupanya sudah mulai lelah meyakinkan.


Dari tadi Edo berusaha untuk terus menampik fakta. Erina lama-lama kesal dan lelah. Begitu pula yang lain.


"Mungkin itu dulu kesalahan. Terus gosipnya dibesar-besarkan." Edo masih mencoba meluruskan padahal dalam hati yakin memang faktanya sudah bengkok.


Keyakinannya itu Edo perkuat dengan ingatannya soal setiap kata alias komentar papa Seira ketika ia mampir ke rumah mereka, bahkan menginap.


"Oh, dia lagi. Jaga dia ya, Do."


"Oh, Sei. Bukan teman Amerika. Syukurlah. Sana naik ke atas."


"Papa benar-benar terkejut kamu lebih sering di rumah akhir-akhir ini. Tapi baguslah. Edo sepertinya cowok baik-baik. Tidak seperti teman-temanmu dulu.


Ajeng si polos menatap ekspresi Erina dan makin cemas. Ia pun langsung bicara tanpa diduga-duga. Mungkin maksudnya untuk membantu Erina menyakinkan Edo. Tapi hasilnya justru makin membuat salah paham.


"Seira juga pernah kesebar fotonya. Ya foto te..."


"Ajeng. Stop! Udah. Itu nggak usah dibilang. Nanti dikira kita mengungkit-ungkit masa lalu orang. Lagian semua orang juga sudah tahu kalau Seira membantah fakta itu. Di foto katanya bukan dia. Cuma mirip aja." Erina mencoba mengakhiri kata-kata dari mulut Ajeng yang tanpa filter.


Ajeng hanya nyengir.


"Tapi mirip. Kita udah lihat kan kemarin waktu dikasih tahu Kak Nita?" Ajeng si mulut tanpa rem mulai bicara lagi.


Erina memelototinya hingga anak itu diam.


Edo yang awalnya merasa posisinya sedang dihakimi kini mengangkat wajahnya. Ia merasa agak tak terima sekaligus penasaran di saat yang sama ketika kasus Seira disebut-sebut.

__ADS_1


"Foto apa, sih?" Edo mulai penasaran.


Erina mendecakkan bibirnya dengan gemas lalu mengeluarkan ponselnya dari mantel cokelat yang ia pakai.


"Ini. Lihat sendiri. Aku nggak nyari tahu ya, Do. Tapi kita dikasih tahu senior karena mereka tahu kamu lagi dekat sama Seira. Ya peduli nggak peduli tapi takutnya kamu kena masalah di sini." Erina menunjukan foto terlarang yang diperbincangkan sejak tadi itu.


Edo mengambil ponsel Erina dan mendekatkannya ke mata saking perasaannya.


"Iya sih di bagian mukanya agak remang-remang karena di club malam. Tapi fotonya jelas kan segila itu. 80% anak-anak percaya itu Seira. Kita no comment. Kamu terserah lah mau percaya atau nggak." Erina lalu mengambil lagi ponselnya dari tangan Edo.


Edo masih termenung. Ya, ia tahu waktu dalam remang. Gadis yang sedang menggila di foto itu Seira.


"Dia mabuk, Do. Sering sih kata anak-anak. Bahkan pas ke kampus sempat belum terlalu sadar. Agak-agak dia memang. Nggak tahu ada masalah apa di keluarganya, tapi dia di luar nalar pergaulannya. Sekarang kalau dia lagi sama kamu, kita nggak tahu kalian ngapain. Jujur, Do. Kita cuma khawatir sama kamu. Bukannya mau ikut campur. Seira itu..."


"Dia nggak pernah ajak aku ke tempat-tempat macam itu. Kita cuma di rumahnya..."


Edo menghentikan kata-katanya sendiri saat melihat lirikan mata Beni. Beni seolah ingin melanjutkan. "Di rumah dia ngapain?"


"Sorry. Gini mungkin kalian salah paham soal bekas lipstik ini. Tapi percayalah, kita nggak cuma... Arghhh! Seira bantu aku banyak hal. Soal kuliah, tugas-tugas. Dan papa Seira itu arsitek. Aku suka ngobrol dengannya di rumah. Pergaulannya yang macam-macam seperti yang kalian tunjukkan itu bahkan aku nggak tahu. Jangan cemas. Seira baik, kok. Kalian cuma salah paham."


Dan semua diam dengan kalimat terakhir Edo. "Seira baik. Kalian cuma salah paham."


"Oke." Erina menjawab lirih lalu kembali melanjutkan makan dengan canggung, begitu pula yang lain.


Edo jadi salah tingkah sendiri.


Salahkah ia membela Seira? Seira yang ia kenal begitu baik ternyata punya masa lalu begitu?


Tapi bukannya semua orang punya lalu buruk? Edo tanpa sadar berusaha membangun tembok kepercayaan sendiri untuk Seira.


"Sorry, aku merusak suasana, ya." Edo akhirnya bicara setelah semua diam.


Tidak ada yang menyahut. Termasuk Erina yang tadi cerewet meyakinkannya.

__ADS_1


Edo meletakkan sumpit dengan gerakan agak kasar di piring. Semua langsung menoleh.


Bersambung ...


__ADS_2