Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 21. The Real Me


__ADS_3

"Tanganmu masih sakit." Vincent mengerlingku ke arahku.


"Tidak, kurasa semua akan baik-baik saja. Andreas juga bilang tak ada yang perlu dikuatirin. Polisi sudah memintaku datang untuk diperiksa lusa. Mereka sudah menangkap Hera kemarin.."


"Jalani saja, bicara sesuai yang kau tahu. Jika kau tidak tahu atau ragu-ragu kau boleh bilang tidak tahu. Ini pidana, kau tak boleh terjebak pusaran kasusnya. Berikan keterangan sesuai yang kamu tahu, bukan pura-pura tahu demi menjatuhkan atau asumsi. Nanti di persidangan jaksa dan penasihat hukum tersangka akan menekanmu dengan hal seperti ini. Jadi yang kau tahu adalah kau mengajukan audit, komite menjatuhkan sanksi, kau tidak terlibat satu katapun sebagai pengamat dalam sidang dan berakhir kau yang ditusuk. Itu saja..."


"Iya, mengerti pak pengacara...." Aku tersenyum padanya. Dan dia mengambil tanganku dan menggengamnya. Gengaman tangan pertama kami.


Sudah lama sejak terakhir seseorang memegang tanganku. Kupikir aku tak bisa mengalaminya lagi, cukup bersyukur dengan apa yang kudapatkan sekarang. Ternyata Tuhan memberiku seseorang disampingku hari ini. Perasaan melambung bahagia ini, kadang aku takut dia akan menghilang lagi, entah jika sesuatu terjadi berganti dengan kesedihan.


"Apa yang kaupikirkan."


"Tak ada..." Aku menyender ke bahunya, terakhir aku berpura-pura mabuk dan menganggap bahunya adalah sandaran sementara yang menyenangkan. Sekarang aku bisa membiarkan diriku mencium wangi parfum yang tertinggal di bajunya. Sekarang aku mempunyai seseorang disampingku. "Aku hanya senang bisa bersandar."


"Belakangan pasti berat buatmu."


"Aku sudah terbiasa kukira..."


"Kau bisa meminta bantuan apapun yang kau perlu padaku." Itu kata-kata yang melegakan buat semua wanita. Punya seseorang untuk tempat meminta bantuan.


"Kenapa kau begitu baik padaku. Kata Sandra aku tak punya sesuatu untuk ditàwarkan. Bahkan aku paling jelek diantara pacar-pacarmu." Dia tersenyum mendengar pertanyaanku.


"Kau tak perlu mendengar omongannya. Dia hanya ingin menjatuhkanmu..."


"Dok, apa mantan istrimu membencimu?" Dia melihatku.

__ADS_1


"Kurasa iya. Aku membuat hidupnya kacau dan tidak bahagia. Tapi akan lebih kacau lagi jika kami tidak bercerai. Aku pernah merasa sangat bersalah padanya. Setelah itu aku selalu menjaga jarak terhadap hubungan dekat dengan siapapun. Sekarang dia punya keluarga sendiri, aku lega dia sudah punya kebahagiaannya sendiri kurasa entahlah... mungkin dia hanya mengangapku sebagai bagian episode yang harus dilupakan. Kenyataan bahwa dia juga tahu setelah bercerai darinya aku sendiri sekian lana mungkin menjelaskan padanya semua perkataanku yang mungkin terlihat tak masuk akal..."


"Apa yang tak masuk akal."


"Bahwa aku memilih melepaskannya untuk membuatnya bahagia. Itu memang absurd. Saat itu aku benar-benar tak siap terhadap tuntutannya akan waktuku, aku merasa masih banyak yang harus kukejar."


"Kenapa kau selalu merasa masih banyak yang perlu kau kejar."


"Untuk menyokong semua orang. Sama sepertimu. Aku lahir di Bali, dari sebuah kecelakaan semalam. Ayah biologisku tidak menginginkanku ada, dia hanya bermain cinta dengan Ibuku lalu dia meninggalkan Bali. Keluarga Ibuku berbesar hati menganggap aku sebagai bagian dari mereka, Ibuku bekerja keras untuk membesarkanku, walau aku anak tak punya Ayah, aku tak kekurangan kasih sayang. Aku selalu merasa aku adalah pembayar hutang dari Ayah biologisku yang tak pernah ada. Bahwa keluarga Ibuku adalah hutang dalam hidupku. Aku mati-matian dalam studi, karier untuk membayar hutang hidupku, membuat mereka bangga, setiap melihat senyum bangga Ibuku merasa aku bisa membayar hutang itu. Aku selalu punya pikiran aku harus bisa lebih kuat untuk bisa menyokong mereka, untuk membayar semuanya. Entahlah kenapa aku merasa seperti itu. Tapi kurasa itu bukan motivasi yang buruk..." Dia menghela napas panjang, aku jadi tahu sebenarnya siapa dia.


"Mungkin keadaan kemudian menjadi lebih mudah saat Ibu bertemu Ayah tiriku yang sekarang. Aku melihat Ibu jadi lebih bahagia. Kekhawatiranku menjadi lebih mereda, tapi saat aku menganggapnya Ayah tiriku adalah keluarga dan bisa menerimanya karena dia membahagiakan Ibu, aku berpikir lebih jauh untuk bisa menyokong mereka sebisaku. Itu habit yang membentuk kerja kerasku, membuatku bisa menduduki posisi ini dalam waktu muda. Selalu ada dorongan untuk melakukan lebih lagi, mencapai lebih lagi, dan akibatnya aku mengorbankan kehidupan pernikahanku. Dan entah kenapa begitu melihatmu aku tahu kau tak ada bedanya dengan Ibuku, aku tahu kau selalu berusaha menanggung semuanya, berpura-pura semuanya baik-baik saja..."


"Kau tak pernah bertemu Ayah biologismu..."


"Tidak, kurasa bahkan dia tidak tahu aku ada." Dia tertawa. "Aku sepenuhnya dibesarkan oleh Ibuku dan keluarga besarnya. Dan aku merasa itu berkah terbesarku..."


"Hanya kau yang tahu. Hanya orang-orang terdekatku yang tahu siapa aku, bahkan Sandra tidak pernah tahu, karena kami hanya teman. Karena aku mengganggapmu penting aku cerita siapa sebenarnya aku."


"Terima kasih sudah begitu terbuka padaku."


"Mantan suamimu dimana dia?"


"Mana kutahu, aku tak mengurusi mantan. Aku tak mau tahu cerita hidupnya." Aku menjawabnya dengan ketus. Kurasa aku tak pernah memaafkan hanya melupakan. Vincent melihat reaksiku yang masih getir.


"Dia tak pernah mencoba menghubungimu lagi."

__ADS_1


"Pernah, tapi aku merasa tak ada perlunya dia menghubungiku."


"Dia sudah menikah lagi?" Aku tak menjawab.


"Aku tak tahu. Aku hanya ingin melupakannya, jangan tanya lagi soal dia. Setiap kali aku ingat tentang dia aku hanya ingat sepertinya aku naif sekali. Dia memperlakukanku sebagai porselen, memujaku seakan aku satu-satunya, tapi ditempat lain dia membeli banyak porselen lain untuk memuaskan egonya."


"Siapa mantan suamimu?"


"Kenapa kau mau tahu?"


"Aku hanya ingin tahu."


"Simon Ishak." Dia pasti tahu karena keluarga itu bermain di bidang farmasi, bidang yang masih ada hubungannya.


"Simon Ishak... Maksudmu keluarga pemilik bisnis farmasi dan laboratorium besar itu."


"Iya."


"Ohh..."


"Bisa kita sudahi soal mantan." Aku ingin ganti pembicaraan. Aku benar-benar tak ingin membicarakan mantan.


"Sorry. Baiklah."


Setelah itu dia membelokkan mobil ke sebuah kawasan perumahan kurasa. Ehh, aku mulai bertanya. Kita bukannya mau makan, makan di mana ini adalah perumahan...

__ADS_1


"Kita kok masuk ke perumahan?"


 


__ADS_2