
POV VINCENT
Kami kembali ke Jakarta keesokan harinya. Keributan kemarin malam sebenarnya tak direncanakan, aku hanya meu mengancamnya. Tapi mendengar mulut sampah Simon mengatakan hal yang tidak senonoh, kemarahanku tak bisa dibendung. Kelakuan minusnya itu perlu mendapatkan ganjaran setimpal. Aku tak takut dia mencari masalah, dia lebih bermasalah dengan dirinya sendiri, jika dia berani akan sekalian kujadikan masalah.
“Bambang kau yakin Simon bersedia minta maaf.” Sementara nampaknya Melisa cukup khawatir tentang Simon yang akan mencari masalah lagi dengannya nampaknya plus aku masih tak mengerti dengan panggilan sayangnya itu sampai sekarang.
“Dia tidak punya pilihan, dia tak akan mengambil resiko bermasalah dengan keluarga istrinya. Keluarga Gunawan bukan hal yang bisa dikompromikan. Mereka keluarga old money, cabang keluargapun masih mempunyai kekuatan besar. Mantanmu itu bisa mendapat kesulitan besar jika mengecewakan mereka. Pak Herman itu, kurasa dia punya hubungan dengan keluarga Gunawan. Aku terlambat menyadarinya kemarin, dia mengenal Simon. Entahlah, mungkin ini akan sampai ke keluarga Gunawan cepat atau lambat.”
Kemarin saat pembicaraan berlanjut Herman yang memberitahuku bahwa istri Simon yang sekarang adalah keluarga Gunawan. Aku berpikir entah bagaimana Herman juga bagian dari firma hukum yang digunakan oleh keluarga Gunawan.
“Pengacara kriminal itu yang membantu kasus Ardy itu kenal istri Simon?”
“Dia bukan hanya pengacara kriminal, dia punya firma keamanan, yang punya cabang di Jawa dan Bali. Jaringannya sangat luas, dan punya sumber daya manusia yang terlatih, pertama aku mengenal Gendhis istrinya. Dan kemudian dia menikah dengan Herman. Kami jadi teman kemudian. Kemarin saat minta bantuannya dia yang tahu istrinya adalah keluarga Gunawan, aku sama sekali tak tahu. Keluarga Gunawan juga punya saham disini, cuma melalui salah satu firma keuangan mereka bukan atas nama pribadi, aku pernah sekali bertemu anak bungsu keluarga utamanya Richard Gunawan, tapi sepertinya Simon tak tahu, bagaimanapun istrinya ini sepupu dari keluarga utama, kalau dia tahu ada orang keluarga Gunawan dia tak mungkin memamerkan Lola. Tujuanku hanya agar Simon tak macam-macam lagi padamu, tapi perkembangan selanjutnya aku tak tahu.”
“Ohh begitu...”
“Sudahlah, anggap sudah selesai, bogem mentah itu sudah cukup sebagai bayaran, plus kita punya kartu AS yang bikin dia ribuan kali menggangumu. Aku akan menelepon Pak Herman untuk mengusahakan foto itu tidak sampai kemanapun. Kurasa dia pun tahu tak ada gunanya mencampur adukkan masalah. Kemungkinan besar ada orang Keluarga Gunawan melihat kelakuan Simon sendiri. Tak akan lama lagi akan ada badai menerjang...”
Hmm... itu bukan urusanku. Aku hanya berpikir jika benar begitu, kali ini dia mendapatkan ganjarannya.
“Kita tak akan mengurus Simon lagi. Aku tak ingin bertemu dia lagi. Jika lain kali dia datang padamu, aku tak mau menemuinya.”
“Baiklah, kita akan sudahi ini.” Aku tak akan membahas masalah ini dengan Melisa lagi, harus kuselesaikan sendiri. Dan secepatnya aku akan membawanya bertemu dengan Mama, Mama sudah meneleponku beberapa kali sebenarnya tapi kesibukan belakangan membuatku menunda hal penting ini.
Aku duduk bersama dr. Joshua dan dr. Andreas sedang makan siang. Melisa tak kelihatan biasanya dia sudah muncul disini. Dr. Joshua melihat ponselnya, dan menggelengkan kepala.
“Aigooo, kenapa dengan dia...” Dia mengomel sekarang.
“Kenapa kau Dok.” Aku bertanya pada Joshua Woo yang sudah memegang kepalanya.
“Bekerja dengan dokter muda itu memang benar-benar harus bersabar. Dia tahu aku perlu keahliannya bahasanya. Tapi dia menjadikanku perahan juga...”
__ADS_1
“Kau dijadikan perahan?” Andreas dan aku langsung berpikir bagaimana seorang dokter muda bisa menjadikannya perahan, apa dia punya skandal dengan wanita muda.
“Kau menghamilinya?” Andreas langsung membuat tuduhan sekaligus pertanyaan.
“Menghamili siapa?” Joshua langsung melihat ke kami.
“Kau mengatakan perahan, itu hanya terjadi jika kau menghamilinya dengan apa lagi dia akan memerasmu? Kau benar-benar menghamili seorang dokter muda disini?” Aku langsung menjelaskan perkataan Andreas karena akupun berpikir sama.
“Dia memerasku untuk menemaninya ke Korea musim liburan mendatang bersama teman-temannya, menjadikan guide pribadinya. Dia memang pekerja keras, dan sangat banyak membantu, cepat belajar menjadi assistenku saat berhadapan dengan pasien, aku sungguh sangat terbantu, bahasa Koreanya juga sangat lancar. Tapi dia juga memusingkan dengan permintaannya.”
“Kau ingin pergantian assisten?”
“Tidak, aku hanya ingin dia tidak cerewet...”
Well, ini aneh. Dia terganggu tapi dia tidak ingin berganti assisten.
“Dokter Joshua,.... “ Seorang gadis duduk didekatnya, sebuah rentetan bahasa Korea cepat dari seorang gadis membuat perhatian kami teralih, seperti menonton drama Korea.
Gadis ini seorang dokter muda assistennya, benar-benar fasih bahasa Korea, dia berbicara sangat cepat, dan dengan logat hampir sama ketika kau menonton drama Korea. Joshua berdebat dengannya tapi sepertinya gadis itu berusaha mendebatnya balik dan berusaha mendapatkan kesepakatannya, kami tak tahu apa yang mereka bicarakan. Joshua dokter senior tapi dokter muda ini memperlakukannya hampir seperti teman sejawatnya.
“Dokter Vincent, maafkan saya. Saya tidak melihat dokter tadi, saya pergi sekarang, sekali lagi maafkan saya...”
“Aku akan menyusulnya.” Tampaknya perdebatan mereka belum selesai sama sekali. Bahkan Joshua meninggalkan makanannya.
“Dia jelas punya masalah.” Andreas menggelengkan kepalanya. “Ohh ya ngomong-ngomong masalah, apa kau tahu Sandra punya riwayat terapi psikiatri.”
🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️
Abis ini kita ke Dokter Joshua yakkk😁
🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️🔹️
__ADS_1
“Sandra, sebenarnya kami hanya pernah dekat beberapa bulan saat menjalani dokter muda dulu,aku tak tahu begitu dalam tentangnya, dia sebenarnya cukup tertutup. Beberapa tahun ini kami malah lost kontak sama sekali baru ini bertemu. Kenapa? Dia ada masalah? Sekarang nampaknya dia tidak mencoba mendekatiku lagi kepadaku.” Sandra memang tak mencoba apapun sekarang. Mungkin dia akhirnya tahu tak ada gunanya berkonfrontasi.
“Tidak aku cuma bertanya mungkin kau tahu.”
“Aku lapar. Mari makan...”Melisa tiba kemudian dan langsung makan.
Dia terlihat lebih banyak tersenyum belakangan, sejak kami kembali dari Bali dia sepenuhnya terlihat lebih percaya dan terbuka. Aku senang melihatnya nampaknya bahagia dengan hubungan kami. Sore ini aku tidak ada kesibukan, jadi kuputuskan mengajaknya bertemu Mama dan Papa. Dia belum tahu biarlah menjadi kejutan. Setelah ini Mama akan mendesak kami untuk secepatnya menikah pastinya. Entahlah aku tak tahu apa dia mau secepatnya atau bagaimana, dia mau pesta meriah atau tidak, terserah dia, ini sama-sama pernikahan kedua kami.
“Nanti sore kau tak punya jadwal meeting bukan.”
“Tidak.”
“Hmm...” Ponselku berbunyi. Dari kantor.
“Pak ada Pak Simon Ishak datang ingin bertemu.”
“Oke, suruh dia tunggu.” Ternyata dia akhirnya datang untuk meminta maaf.
“Simon datang, kau ingin menemuinya.”
“Hmm tidak..., kau saja.”
“Fine.”
“Aku boleh bergabung?” Seseorang menyapa, ternyata Sandra dengan nampan makanannya.
“Duduklah dr. Sandra ...” Melisa mempersihlakannya duduk. Andreas melihatnya, memberi tempat untuk gadis itu. Dia jadi duduk disamping Andreas sementara tampaknya dia tak berniat mencari masalah dengan Melisa sekarang. Apa mereka sudah berbaikan sekarang, tampaknya begitu. Tak ada yang bermusuhan disini.
“Kenapa kau melihatku apa aku punya salah padamu?” Sandra melirik ke Andreas.
“Tidak tentu saja tidak.” Andreas cuma tersenyum, aku dan Melisa melihat mereka. Entah kenapa kurasa mereka punya sesuatu. Baguslah, mungkin fokusnya sekarang ke Andreas. Aku sebenarnya tak menyangka menemukan Sandra masih single setelah sekian tahun kami tak bertemu. Tak kusangka juga dia masih mengharapkanku pada awal pertemuan kami.
“Aku ada tamu, kutinggal dulu kalian oke.” Sekarang waktunya menghadapi Simon. Kita lihat apa dia masih berani sombong.
💝💝💝
__ADS_1
Hari ini satu dulu yaaa
Jangan lupa komen+ vote+hadiah + likenya 😘