Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 7. Kesempatan Kecil Yang Terbuka


__ADS_3

Aku masuk keruangan Oppa. Mengantar data pasien, dia tidak ada operasi tapi  ada tiga janji konsultasi baru dan satunya diminta mengunjungi pasien limpahan dari  unit lain.


“Pagi Dok,...” Dia mungkin tidak ingat apapun tentang kejadian Sabtu malam. Aku tak berniat membicarakannya, akan rumit jika dia tahu, tapi sekarang aku sendiri yang jadi canggung sendiri. Senyumku yang biasanya merekah entah hilang kemana. Aku jadi salah tingkah sendiri, aku tidak salah apapun tapi entah kenapa rasanya serba salah, mungkin  karena aku mengorek masalah pribadinya atau karena aku jadi menyentuhnya seperti aku memilikinya. Tapi ciuman itu  salahnya!


“Pagi.” Dia melihatku aku tahu, tapi aku bahkan tak berani beradu pandang dengannya. Aku langsung menyerahkan data pasien, membacakan schedule, memberikan notes dari dokter lain. Dan berpura-pura sibuk dengan notesku. Sial! Memangnya apa salahku padanya,dia yang bersalah padaku! Akhirnya aku menatapnya dan  dia memandangiku, bukan pekerjaan yang kuberikan.


“Apa ada sesuatu terjadi kemarin selain kau mengantarku pulang?” Pertanyaannya membuatku terhenti. “Kemarin aku bahkan hanya ingat kau menghampiriku di bar... Apa aku membicarakan sesuatu denganmu?” Aku diam. Apa aku harus bilang aku sudah tahu ceritanya.


“Tidak...” Aku tak berani entah kenapa mengusik kenangannya soal keluarganya. Rasanya ini seperti memanfaatkan keadaan dan mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya kau ketahui.


“Kenapa kau diam sekali? Kau bahkan tak mau melihatku... Pasti ada sesuatu? Apa aku melakukan hal tidak pantas, atau mengatakan sesuatu padamu?”


“Tidak ada, cuma aku mengantar dokter pulang. Ehm... aku ada... hasil lab harus diambil. Aku pergi dulu.” Aku langsung berniat kabur, demi apapun ini canggung sekali. Mungkin lebih baik ini berlalu saja, anggap saja tidak terjadi apapun.


“Yuna!” Panggilannya membuat aku terpaku ditempatku. Gawat! Dia tidak percaya padaku. Aku terpaksa berbalik menghadap kearahnya lagi.


“Ada perintah apa Dok?” Dia sekarang berdiri dan mendatangiku. Apa yang dia inginkan? Wangi parfumnya lansung menghambur ke arahku, jantungku langsung berdetak tak terkendali karena mengenalinya.

__ADS_1


“Katakan ada apa, apa yang kukatakan, apa yang terjadi,  aku mengingat sedikit, tapi bahkan aku tak tahu ayang kuingat itu  masuk akal...” Maksudnya dia mengingat dia mencium istrinya, tapi nyatanya itu aku. “Apa aku mengatakannya padamu tentang keluargaku?”


“Iya Hye-ri, So Young... Kau ... menyangka aku Hye-ri.” Dia diam.


“Apa aku ... melakukan hal yang  tidak sopan padamu.” Aku melengos, apa yang harus dikatakan tentang  itu... Tapi jika dia tak tahu, aku yang hanya menanggungnya sendiri. Itu tidak  adil bagiku, aku yang kelimpungan memikirkannya sendiri, tenggelam dalam pikiranku sendiri, tapi dia ... Aku memutuskan dia harus tahu kebenarannya.


“Kau membantingku ke bed,   dan menciumku ...memanggilku Hye-ri.” Aku menentang matanya. Kami bertatapan beberapa saat. Sekarang aku ingin tahu apa yang akan dia katakan.


“Aku tidak sampai... Ehmm...selain ciuman, apa aku... “ Maksudnya sampai dia menyentuh yang lain.


“Tidak, kau jatuh tertidur...” Dia langsung menghela napas lega. Jadi rupanya dia tidak berani meneleponku kemarin  kerena dia berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk. Dasar bodoh!


“Dok! Bangun  apa yang kau lakukan? Kau sudah minta maaf tak usah berlutut.” Aku langsung menariknya berdiri.


“Kau memaafkanku?” Dia mungkin tak menyangka aku secepat itu memaafkannya.


“Kau sedang mabuk, aku tahu kau tak sengaja. Aku membawamu pulang, mengurusimu sepanjang malam, malah  memasakkanmu bubur, harusnya kau meneleponku dan bilang terimakasih kemarin. Dasar tak tahu ditolong, kupikir kau jatuh sakit,harus aku yang mengirimkanmu pesan duluan.. Apa susahnya menelepon sebentar! Kau tahu sopan santun atau tidak, kenapa kau malah berlutut disini!” Dia terperangah aku memarahinya, aku menutup mulutku  karena  kelepasan memarahinya. “Maaf Boss, aku hanya kesal...”Ini situasi yang aneh dia atasanku malah berlutut minta maaf padaku. Ini memang perbedaan budaya yang kentara.

__ADS_1


“Aku memang tidak sopan...” Dia membungkuk lagi padaku. Astaga! Sampai kapan Oppa mau membungkuk seperti ini. Aku tahu itu cara meminta maaf  bagi mereka tapi tetap saja itu aneh.


“Berhentilah membungkuk!”


“Aku memang mengacau...” Dia mengaruk kepalanya. Aku mulai bisa tersenyum sekarang. Entah kenapa aku melihat kesempatan dalam kesempitan.


“Aku memaafkanmu Dok, tapi kau harus mengabulkan  dua permintaanku, pertama karena kau kurang ajar, dan kedua kau tak tahu sopan santun.”


“Permintaan apa?”


“Aku belum punya permintaan, nanti saja kupikirkan. Bukan permintaan yang akan menyulitkanmu. Oke Dok.” Bagaimanapun dia bergantung padaku disini walaupun dia atasanku,tak bisa disangkal setengah dealnya karena aku yang pandai menjelaskan ke pasiennya. Dia belum pandai bahasa sama sekali walaupun dia sedang belajar. Dia sangat perlu aku, dan  karena dia sudah bersalah padaku... mungkin aku bisa memanfaatkan rasa bersalahnya ini.


“Hmm...oke.” Dia terlihat tidak yakin,  tapi tampaknya dia tahu dia tidak punya pilihan.


“Oke deal. Case close. Aku punya pekerjaan lain.” Sekarang  tiba-tiba aku merasa entah bagaimana aku dan Oppa mungkin bisa lebih dekat. Mungkin dia bisa melupakan masa lalunya sedikit demi sedikit.


Bagaimanapun sainganku hanya bayangan masa lalu yang tak berbentuk. Masa aku mengalah begitu saja dan mundur demi sebuah bayangan tak berbentuk.

__ADS_1


Oppa, kau harus membayar ciuman itu dengan pantas!


__ADS_2