Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 20. Berapa Banyak Ex-mu?


__ADS_3

“Aku membawakanmu Kimchi  Jjigae (Spicy Kimchi Stew) dan Tong Dak (Korean  BBQ Chicken Wing) untuk makan siang Dok. Ada sedikit tempe goreng, telur didalamnya juga didalamnya.” Dia berdiri  tersenyum lebar dan bersikap seperti matahari yang menyilaukan didepanku pagi itu dan membawakanku kotak makan siang lengkap.


Dia kembali setelah beberapa hari mendung, kenapa aku menemukan hal ini melegakan.


Masakan Yuna selalu enak, dia punya kemampuan memasak yang sangat baik. Hye-ri juga sangat suka memasak, buat Hye-ri memasak itu seperti rekreasi, dia selalu tersenyum dengan  bangga dan bahagia ketika aku memuji hasil masakannya. Dan sekarang aku seperti terlempar lagi kemasa itu.


“Thanks...”


“You’re welcome.” Yuna menghilang dengan cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Aku menghela napas. Yuna membuatku merasa punya teman, merasa punya sesuatu untuk diingat, membuatku merasa  bisa berpijak lagi di kehidupanku.


Aku harus mengakui itu. Disini dia yang membuatku merasa hidupku lebih mudah dijalani.


Aku melihat jadwalku yang dikirimkannya lagi kemarin, hari ini office day,  tapi ada permintaan mendadak dari dokter Sean untuk seorang pasienmasektomi( operasi pengangkatan pa**yudara karena cancer biasanya) untuk immediate reconstruction ( yang artinya pengankatan jaringan kanker langsung dengan rekonstruksi bedah plastik untuk memperbaiki tampilan) dari bagian bedah lain.


Aku berjumpa dengan Bu Melisa, tangannya masih dibalut, beberapa saat yang lalu seseorang menikamnya karena melaporkan sebuah kasus, walaupun keputusan akhir bukan  ditangannya. Wanita cantik itu terlihat bahagia sekarang, kurasa karena sekarang ada Dr. Vincent yang mengkhawatirkannya.


“Liat dirimu hari ini, dengan bunga-bungamu lagi...” Dia menyukai ornamen bunga di bajunya nampaknya.



“Dr. Joshua, apa kau punya bunga untukku.” Dia tersenyum melihatku menyapanya dalam perjalananku ke ruangan Dokter Sean.


“Kau tak perlu aku membawakanmu bunga. Sudah ada yang lain...”  Dia tertawa.


“Bagaimana si Miss Terserah,  kau sudah membawakannya bunga.” Gantian aku yang tertawa.


“Well, that’s complicated.”


“Mungkin tidak serumit yang kau bayangkan dokter. Sometimes flowers can do many thing that man can't do.” Saran yang bagus jika matahari tiba-tiba mendung lagi kurasa.


“I  know  your point.” Aku tersenyum padanya.


“Baguslah nampaknya kau sudah banyak belajar. Mana assistenmu yang cerewet itu.”


“Dia punya pekerjaan,  aku mau ke dokter Sean melihat pasiennya. Aku turun dulu, ...” Aku melambai padanya dan meneruskan langkahku ke bagian Dokter Sean.


“Hi doc, akhirnya kau datang. Tampaknya kau tak akan kesulitan dengan pasien ini.” Aku berpapasan dengan dokter Sean


“Kenapa  begitu?”


“Hmm, dia orang Korea...”


“Ohh benarkah?”


“Nyonya Park Joo-mi. Bagaimana kabarmu, aku akan mengenalkanmu ke dokter terbaik yang kami punya yang akan menangani rekonstruksi-nya, dr. Joshua  Woo.” Park Joo-mi, mungkin bukan satu orang yang punya nama itu di Korea, tapi mungkinkah. Aku melihat seseorang duduk di bed perawatannya sekarang.

__ADS_1


“Joo-mi...”


“Joshua...” Ternyata dia benar-benar Joo-mi yang kukenal.Teman high school-ku, dan well... pacar pertamaku.


“Kalian kenal?” Seseorang pria bersamanya. Kutebak itu suaminya.


“Ohh dia teman sekelas dulu saat high school, Joshua Woo, ini suamiku Yu-seok.”


“Dr. Joshua, sekarang aku mendapatkan bantuan teman dari kampung halaman. Tolong bantu kami.” Dia membuat bungkukan dan mengulurkan tangannya yang membuat aku ikut membungkuk.


“Ini sudah tugasku, aku selalu berusaha  melakukan yang terbaik. Demikian juga dengan  Joo-mi.” Tak kusangka aku bertemu dengan Joo-mi lagi hari ini. Sejak lulus SMA kami tak pernah saling kontak lagi. Kenangan yang sudah lama tiba-tiba membuat kilasannya di kepalaku. Dia terlihat sedikit kurus, mungkin stress karena penyakitnya.


“Aku lega, sepertinya keberuntunganku tak buruk kali ini.”


“Kau akan baik-baik saja sayang. Optimislah,... “ Aku membaca data pasien dengan cepat, stadium dua. Mereka mengambil keputusan masektomi plus kemo untuk menghindari resiko, karena ada riwayat di keluarga Ibunya.


“Jangan  kuatir, semua akan baik-baik saja. Kau ditangan dokter terbaik disini...”Aku menjelaskan prosedur operasi yang akan Joomi jalani kepada dia dan suaminya.


“Kalian  tinggal di Jakarta.” Sementara suaminya ke ruangan dokter Sean untuk mengurus administrasi operasi, aku berbicara pada Joo-mi.


“Iya dia atase diplomatik disini, kami kadang berganti negara, tapi tetap di sekitar Asia Tenggara.”


“Aku benar-benar tak menyangka bisa bertemu denganmu disini Joo-mi. Kau akan baik-baik saja, ini baru stadium dua.” Aku membesarkan harapannya.


“Aku juga berharap begitu, tenang saja aku tak putus asa. Aku shock awalnya, tapi dokter membesarkan harapanku, dan suamiku juga sangat suportif, jadi aku sekarang punya keyakinan semua akan baik.” Dia berhenti sebelum melanjutkan. “Aku mendengar kabar kau kehilangan keluargamu, aku turut  berduka, pasti berat buatmu, sampai harus ... pindah kesini. Kau sudah lama disini?”


“Hmm... tapi kau nampak baik sekarang.”


“Aku berusaha baik-baik saja.”


“Kau masih muda, ada kesempatan untuk punya keluarga lagi. Jangan putus asa. Kadang kebahagian itu datang dalam bentuk yang berbeda-beda dalam hidup  kita. Takdir bukan sesuatu yang  kita bisa salahkan, walau itu berat untuk dipahami, kau harus merelakan, dan kau akan mendapat kelegaan untuk kebahagian yang baru...” Dia tersenyum padaku. “Maaf, mungkin aku terlalu banyak bicara...”


“Kau memang terlalu banyak bicara dari dulu Nenek tua.” Dia tertawa. Itu julukannya dulu disekolah, dia pintar, cantik, juara kelas, plus entah kenapa dia bisa menasehati semua orang. Aku jatuh cinta  padanya karena melihat dia seperti  melihat pertapa sakti yang baru turun gunung.


“Bagaimana  perasaanmu sekarang disini? Lebih baik?” Dia menepuk lenganku dengan simpatik.


“Jauh lebih baik kurasa..”


“Baguslah, aku turut gembira untukmu.” Sekarang aku merasa, dia mengembangkan kemampuan menasehatinya jauh lebih baik.


“Ahh Dok, aku hanya ingin mengatakan pasien konsultasimu dalam 20 menit.” Yuna menyusulku ke atas ternyata.


“Heii kau bisa bicara Korean.” Joo-mi langsung tertarik dengan Yuna.


“Ini dokter Yuna assistenku, dia akan membantu operasimu juga nanti...”

__ADS_1


“Selamat siang Nyonya, saya Yuna, saya sudah menambahkan nomor Anda, sebentar saya kirimkan pesan. Anda bisa konsultasi jadwal dan after surgery check up ke saya. Ada pertanyaan saya nanti bisa saya bantu.”Yuna mengenalkan diri dan tugasnya.


“Ohh kau sangat fasih. Pantas saja Joshua merasa lebih baik...Aku teman lamanya, sekarang aku  tahu kenapa  dia bilang jauh lebih baik.” Aku menangkap rona di wajah Yuna, terkadang dia sangat mudah dibaca jika sedang tersipu.


“Joo-mi,...”


“Ohh maaf aku salah bicara-kah.” Joo-mi hanya tersenyum  lebar menggodaku.


“Baiklah, kita bertemu besok pagi Joo-mi. Bersemangatlah.”


“Kau juga. Dokter Yuna terima kasih.” Aku kembali ke ruanganku siap untuk konsultasi pasien baru.


“Temanmu Dok? Kau kenal?”


“Hmm... pacar pertamaku?”


“Ohhh....” Aku melihat reaksinya.


“High school friend?”


“Iya” Aku tergelitik membuat pertanyaan untuk Yuna. “Pertama kali  pacaran umur berapa?” Dia melihatku.


“Aku. Ehmm.. Junior high school kelas 8.”


“Really, kelas 8...”


“Hmm... bertahan berapa bulan?” Berapa masa pacaran anak 8 grade.


“Melewati 30 hari.”


“Ohhh 30 hari...”Itu masih bisa disebut bulan. Dia menyebutkan hitungan hari! “Karena kau menyebutkan hari. Berapa  banyak sebenarnya mantanmu?” Pertanyaan selanjutnya karena aku penasaran.


“Hmm...aku lupa, mesti kuhitung  dulu pelan-pelan. Aku sangat populer, yang mengantri banyak. Mungkin  aku akan lupa beberapa, kebanyakan hanya kumanfaatkan...” Aku melihat gadis muda disampingku dengan pandangan tak percaya.



“Kenapa kau bertanya Dok? Kurasa jumlahnya jauh lebih tinggi dari angkamu, sudah pasti melewati 10 orang, kau benar-benar ingin tahu.” Dia menaikkan alisnya padaku.


“Nampaknya kau sangat berpengalaman?” Tiba-tiba aku merasa gadis disampingku tidak sesederhana yang terlihat. Apa dia sangat ahli dalam permainan ini?


“Well, kau tidak sakit hati-kan?” Dia menatapku dan aku diam karena tak bisa membalas perkataannya.


“Tidak...”


“Kau yakin?” Sekarang aku diam-diam merinding, Yuna meringis senang melihat ekspresiku. Dan tepat lift terbuka dia berjalan mendahuluiku begitu saja.

__ADS_1


Apa selama ini dia memperhitungkan setiap langkah dan tindakannya? Apa sebenarnya aku yang jatuh dalam permainannya sekarang? Dan kenapa aku sekarang sangat penasaran?


Dia tidak senaif yang kukira...


__ADS_2