
Aku diam lama, semua yang Mama katakan benar.
“Makanlah... Jangan sampe sakit karena mikirin Oppa. Semua ada jalannya...”
Menyadari Mama benar, mungkin Oppa tulus, dia tidak masalah dengan perbedaan umur kami, tapi ada satu masalah besar yang harus dia putuskan,
Apa dia bisa melepaskan indentitasnya, ...
Apa keluarganya bisa menerima jika dia pindah kesini, ...
Apa dia mau berusaha meyakinkan mereka, ...
Apa dia cukup mencintaiku untuk melakukannya,...
Aku tahu ini baru setahun, tapi aku tak juga tak mau menunggu empat tahun, jika dimasa depan kami punya anak, anak kami harus punya waktu menerima dukungan finansial kami, terutama dari Ayahnya. Aku harus melindungi keluarga masa depanku.
Hari itu aku mengurung diri berpikir panjang, sore Oppa datang ke rumah. Menyadari seharian aku tak membalas teleponnya, hanya mengatakan aku tidak mau keluar dan mau istirahat saja.
“Oppamu datang, bicaralah padanya.” Mama mengetuk pintu kamarku dan memberitahu Oppa datang. “Setidaknya dia memang kuatir padamu. Apa kalian bertengkar?”
“Tidak. Hanya bicara secara terbuka.”
__ADS_1
“Itu bagus, punya hubungan dengan yang lebih dewasa memang lebih tenang. Setidaknya kau belajar bersikap tenang.” Mama menepuk pundakku
“Bilang aku akan ganti baju dulu Ma,...”
“Ya sudah.” Aku akan bicara, aku sudah memutuskan apa yang akan kulakukan.
Oppa ada di ruang tamu bicara dengan Mama. Mama bersikap biasa saja, dia masih bisa tertawa dengan Oppa. Dia memang Mama yang bijaksana, dia tidak ingin terlihat mengintervensi hubungan kami, dia hanya memberikanku nasihat.
“Yuna,...” Oppa menyapaku.
“Ma, aku pergi ya...”
“Iya, baik-baiklah.” Aku mengulurkan tangan meminta tangannya, mengajaknya keluar.
“Kau ingin pergi kemana?”
“Kita ke apartmentmu saja, aku ingin bicara, kita bisa pesan makanan.”
“Kau marah soal kemarin, aku hanya bilang aku butuh waktu.” Oppa memegang tanganku.
“Tidak, aku tidak marah, aku menghargai kejujuranmu, bahwa kau bisa bicara terbuka. Kenapa aku harus marah, kita tidak bertengkar kemarin. Masing-masing dari kita sudah cukup mengerti masalah kita.” Aku tersenyum padanya. “Ohhh ya, ada restoran Itali baru buka di Mall, gimana kalo kita makan itu saja, sudah jam lima juga.”
__ADS_1
“Oke...” Aku tersenyum ketika dia mengiyakan.
“Thanks Oppa.” Dia menatapku.
“Kau membuatku takut, ada sesuatu di pikiranmu bukan.” Dia meneliti ekspresiku yang terlalu gembira walaupun dengan pembicaraan kami semalam.
“Sekarang, aku lapar dan teringat fettucini alfredo Oppa, enak, sudah keparan....” Aku tertawa menangapinya, sekarang aku memeluk lengannya dengan erat. Mungkin ini kali terakhir aku bisa memeluknya seperti ini. Aku tak tahu besok atau seterusnya. Tapi satu hal, aku tidak pernah menyesal pernah punya hubungan dengan Oppa walaupun ini nantinya harus berakhir aku akan melepasnya dengan rela.
“Baiklah. Kita makan dulu, setelah itu kita bicara...”
Kami makan malam kemudian di sebuah restoran yang bagus. Menikmati waktu kami dengan baik, berbicara seolah tak ada terjadi apapun.
“Oppa, kali ini aku yang membayar.”
“Kenapa begitu?”
“Aku ingin membayar. Selama ini kau selalu yang membayar, anggap saja kali ini aku berterima kasih.” Dia menatapku dengan berbagai pikiran yang mungkin berlari di benaknya.
“Kau benar-benar membuatku takut sekarang Yuna.”
“Oppa, semuanya akan baik-baik saja.” Aku tertawa, tapi aku tahu aku akan menangis setelah ini. Tapi sudah kubilang, aku punya banyak pengalaman pacaran. Ini hanyalah sebuah babak dalam kehidupanku yang harus kulewati.
__ADS_1
\=====
Jangan lupa vote dan hadiahnya