Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 1. Joshua Woo


__ADS_3

*“Saekkia....(A*su!)”  Ishhh mataku tercemari melihat kelakuan si playboy stupid Leo itu, aku ingin menendang pantat dan bikin dia terdampar di Pluto sekalian melihat kelakuannya yang menggoda para perawat seakan dia anak kaisar di cafetaria karyawan RS.


“Napa lu Yuna?” Wenny yang rekan sejawatku  melihat arah pandanganku.


“Liat tuh, si brengsek Leo, dasar ba-lam dung-i (playboy), muka gak ada 0,1% Hyun Bin, tapi gaya melebihi Song  Joong-ki.” Wenny meringis melihat arah pandanganku dan cibiranku.



“Hati-hati lho, benci  sama cinta itu  beda tipis. Perhatian banget sama Leo.”


“Gue, jatuh cinta ama  dia. Ewww... kiamat dunia. Kalo belum mirip Lee Min Ho lebih baik minggir!”


“Awas kiamat beneran. Ya dia ganteng kok, lu-nya aja yang punya maniak oppa-oppa...” Dia tertawa melihat mukaku.  “Ehh,  Yun lu jadi jadi assisten dokter baru Korea itu.”


“Ehmm jadi, hari ini hari pertama kenalannya, aku udah di brief langsung dari Dokter Frangky, dia bakal pegang unit khusus. Dia katanya tahu bahasa Inggris juga sih, tapi kalo pasiennya gak tahu English ya butuh penerjemah juga.” Aku Yuna 24 tahun, baru setahun disini, dokter muda, aku belum tahu mengambil spesialisasi apa tapi sekarang aku mendapat bagian diperbantukan menjadi assisten dokter bedah plastik dari Korea. Mungkin setelah melihat lebih jauh aku bisa mengambil ini. Katanya dia sangat bagus, entah bagaimana dia bersedia pindah ke Jakarta dari Gangnam Seoul, tapi ternyata ilmu dari maniak Kpop, Kdrama terpakai disini.


Yup, aku  adalah maniak Korea. Bermula dari nge fans Big Bang, Super  Junior, TVXQ, di jaman-jaman SMA, kuliah sampai sekarang BTS, SuperM, NCT semua anggotanya hapal diluar kepala, sampai belajar bahasa Korea agar bisa nonton wawancara mereka, tapi sekarang jadi maniak K-Drama, aku bisa nonton tanpa terjemahan, bisa bicara dengan lancar Korea, sampai tahu umpatan khususnya. Tahu masak makanan korea, tahu budaya mereka, sudah pernah ke Korea tentu saja.


“Ohh ya udah, gue ke Ruangan Dokter dulu Wen.”


Sudah dua bulan ini pindah bagian ke Bagian ini untuk belajar mempersiapkan segala sesuatunya, dan dalam  dua minggu kedepan diharapkan kami sudah mulai menerima janji konsultasi  pasien. Sepertinya investasi untuk dokter ini tidak main-main.


Katanya dokternya ini umurnya baru 39 lhoo, belum 40, masih seumur ama Hyun Bin, ya belum tua-tua amat, masih mulus lah ya, apalagi dia kan dokter estetik gitu pasti penampilannya juga dijaga. Dia khusus  dokter bedah estetik, nantinya jika unit kami  berkembang kami akan punya unit sendiri, kami akan menerapkann teknik-teknik terbaru yang juga dipakai di Korea sana. Ya seengaknya gue bisa cuci mata dikit lah, gak hadepan ama professor botak. Aku nunggu di luar ruang Direktur RS, orangnya masih didalem katanya sama Kepala Unit Poliklinik Bedah Plastik,  sambil ngitung kancing tebakan , jelek dan gentengnya boss baru.


Tugasku selain assisten klinis juga termasuk asisten khusus, gajiku ditambah gara-gara ini, bahasa Korea gue yang sempurna jadi nilai plus sekarang, plus mungkin bisa ngeliat  dan belajar banyak soal spesialisasi ini, karena boss ini buta sama sekali soal Jakarta. Aku kok ngerasa jadi secretary Kim sekarang. Andaikan bossku seganteng Park Seo Joon, ... rela, aku rela.


“Kalau begitu selamat bertugas dokter Joshua Woo.” Pertemuan dengan dokter Vincent direktur rumah sakit ini berakhir. Pintu dibuka dan aku mulai  deg-degan. Dokter Frangky keluar bersama seseorang di belakangnya,  membuatku langsung berdiri. Ya gak keliatan mukanya, tapi dokternya cukup tinggi, kurasa sekitar 180, beda lumayan gue cuma 165, ahjussi ini moga-moga juga ganteng.


*oppa : kakak, ahjussi \= biasanya dipake buat beda umur 20 tahun keatas atau mendekati.


“Ahh ini dokter Yuna, dia akan jadi assisten dokter disini, dia akan menunjukkan semua faselitas dan penunjuk jalan ke apartment dokter hari ini, dokter bisa bertanya apapun soal pekerjaan dan Jakarta padanya..”

__ADS_1


“Annyeong haseyo....” Aku langsung membungkuk duluan sebagai perkenalan karena aku adalah assistennya. Annyeong  haseyo arti dalam bahasanya sebenarnya adalah Apakah kamu damai(baik) atau cara menggucapkan hallo di bahasa kita. Jika diucapkan dengan seumuran biasanya kita cuma menyebutkan annyeong.


“Ye... annyeong haseyo.” Dia membalasku dan sekarang  gue bisa mengangkat muka ngeliat muka boss.


“Jin-hee...”Sekarang aku  menggumam karena terperangah melihat mukanya. Jin-Hee adalah cast  aktor drama medical Korea Blood. Astaga si dokter Joshua Woo ini mirip banget ama Oppa Jin-hee.



“Apa maksudmu?” Oppa Jin-hee kebingungan dan bertanya dalam Bahasa Korea. Gosh, aku harus berenti manggil dia Jin-hee, dia dokter Joshua.


“Maaf, Anda seperti seseorang yang saya kenal. Saya  Yuna Anda bisa minta bantuan apapun pada saya.” Asli ganteng boo, kaya oppa Jin-Hee, mirip banget. Aku mengulurkan tanganku.


“Yoona...” Dia menjabat tanganku sekarang.


“Yuuna.” Aku mengulang dan mengoreksi pengucapan  namaku sambil tersenyum.


“Ohh maafkan. Yuna, aku akan mengingatnya.” Oppa membalas senyumku, dia ramah. Aduh langsung meleleh ngeliat senyumnya, hariku langsung berasa lebih  cerah. Aku punya atasan dokter  ganteng, oppa-oppa Korea lagi. Langsung semangat. “Mohon bantuannya.”


“Baik Dok.”


“Dok, Anda punya jadwal pengambilan foto, dan sedikit tanya jawab dengan tim pemasaran. Setelah itu aku akan mengantarmu ke apartmentmu.” Langsung ngasih jadwalnya setelah kami memasuki ruangannya sendiri.


“Oh,baiklah. Ayo kita pergi. Bahasa Koreamu bagus sekali. Kau belajar khusus...”


“Tidak dok, aku sedikit kursus sebelumnya, sering mendengar dan punya komunitas belajar korea dimasa high school dan kuliah, pengemar K-Pop, K-drama, aku memanggilmu Jin-hee, karena kau mirip salah seorang  aktornya. Aku tak bisa bicara terlalu resmi, kau tahu vocabularyku terbatas di drama korea, youtube, realityshow. Aku  fluent English juga. Kau bisa bertanya apapun padaku tentang kebiasaan disini, apapun yang ingin kau ketahui, cara belanja, jalan-jalan, hiburan. Apapun tidak terbatas...” Termasuk ngajak gue kencan, otak gue yang masih membayangkan Jin-Hee mulai konslet.


Dia tersenyum melihatku  yang menjelaskan semuanya  dengan bersemangat. Dia ramah dan tidak kaku, syukurlah.


“Kau sangat baik. Aku sangat terbantu.”


“Jangan sungkan padaku Dok.”

__ADS_1


Aku mengantarkannya ke divisi Marketing, menjadi penerjemah untuk mereka, mereka ternyata , melakukan sesi shoot video promosi juga yang mengharuskan pertanyaan dijawab dengan bahasa Korea dan aku menjadi penerjemahnya. Lalu sore jam lima kami menembus macetnya Jakarta dengan sopir untuk membawanya ke apartmentnya yang sudah kusiapkan sendiri.


“Dok, kau cuma membawa ini.” Dia hanya membawa dua  koper besar. Apa keluarganya akan bergabung atau tidak. Seharusnya Oppa ini sudah memiliki keluarga di umur begini.


“Iya, aku orang yang praktis...”


“Ohh, keluargamu akan datang dalam waktu dekat.”


“Saya sendiri.”


“Ohh...” Aku tak berani komentar. Sendiri?! Ceritanya pasti tidak sederhana...


Dia bertanya lebih banyak soal Jakarta, tempat tinggalnya. Tentang jalanan yang  harus kami tempuh. Dia masih akan diantar jemput oleh sopir rumah sakit sementara, aku yang memastikan dia tak mempunyai kesulitan soal transportasi. Tak lama kami sampai di  komplek apartementnya. Aku memperlihatkan kepadanya apartmentnya, apartment dua kamar itu cukup lega, design interiornya pun cukup bagus, dan dalam komplek  dengan mall dimana dia tidak takut tidak bisa mendapatkan kebutuhannya.


“Saya membeli sedikit bahan makanan Korea untuk dokter.” Aku memperlihatkan kulkas yang sudah ku-isi  dengan makanan dan minuman ala Korea dan ramyeon yang sudah kubeli dari supermarket.


“Astaga, terima kasih. Kau baik sekali. Tempat ini sangat nyaman, aku menyukainya. Aku harus membayarnya.”


“Tidak Dok. Tidak usah ini tidak seberapa dibanding pelajaran dari mengikuti  dokter dimasa depan.” Dia diam dan tersenyum mendengar penolakan  sopanku.


“Kalau begitu, saya harus traktir makan malam. Kamu tak bisa menolak...” Aku tersenyum, yang ini memang tak dapat  ditolak.


“Saya tahu restoran bagus di bawah.” Jadilah hari itu aku menunjukkan padanya akses mall dari tempat tinggalnya. Menujukkan supermarket, area restaurant, memberi tahu apa yang dia harus tahu. Dan berakhir dengan kami mampir di sebuah restoran Korea yang bagus.


“Ini rasanya tak terlalu jauh dari rumah. Banyak sekali restoran Korea di Jakarta. Bahkan aku bisa menemukan kimchii dan bahan makanan lain dengan mudah.” Aku tertawa.


“Kimchi disini karena impor rasanya lebih asam Dok. Fermentasinya lebih lama. Tapi senang dokter bisa merasa nyaman disini.”


“Dan tentu saja bantuan yang tidak kusangka kudapatkan. Assisten yang bisa berbahasa Korea, aku harus memberimu makan enak selalu...” Aku tertawa.


“Jal meok ke-sseum-nida!” Aku mengucapkan selamat makan secara harfiah berarti ‘saya akan mulai makan’. Aku berterima kasih atas traktiran boss ku yang baik hati ini.

__ADS_1


“Ma-ni deu-se-yo.” Artinya ayo makan yang banyak. Senyumannya ramahnya membuatku bersemangat makan.


Aku sangat beruntung ternyata, punya  atasan baik hati plus seperti artis drakor ini. Rasanya hari-hari kedepan akan menyenangkan.


__ADS_2