Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 4. Pesta Kecil


__ADS_3

Just for Info



Yang gak tahu breast impant itu kaya apa. 😁


Ini ada cc nya jadi tergantung mau yg normal apa jumbo. Yang biasa pake silicon atau ada juga isinnya saline.


Ini menyebabkan sakit punggung kalo CC nya gede, ada resiko pecah juga, kalo pemasangannya gak bener bisa geser. atau kasus yg kaya kemarin setelah beberapa tahun kulitnya kendor dll.



Cara menyisipkannya. Ini sebenarnya ada bekas luka operasi nya tapi di bagian bawah sayatannya jadi gak keliatan karena ketutup.


😎😎😎😎😎


Part 4. Pesta Kecil


Sejak pembicaraan kami, entah kenapa aku memperhatikan Oppa. Entah kenapa aku menjadi jatuh kasihan padanya. Kenyataan mungkin dia sendiri disini tanpa keluarga hanya memenuhi dirinya dengan pekerjaan membuatku seperti punya pikiran dia tak boleh dibiarkan sendiri. Aku tahu rasanya bagaimana merasa sendiri dan ditinggalkan. Dia seperti laki-laki depresi, tapi diluar dia seperti baik-baik saja.  Bekerja dengan penuh dedikasi, memimpin timnya dengan baik, bahkan bersikap seperti seorang guru yang sempurna untuk dokter juniornya. Tapi bahkan dia tak mau pulang rumah terlalu cepat, bukankah itu terlalu menyedihkan, menimbuni  dirimu dengan pekerjaan sehingga kau kelelahan setiap hari.


Hari ini aku membuat pesta di unit kami. Aku memasak banyak makanan kemarin di hari liburku, Japchae, Gimbab, Sotteok dan membawanya sekaligus hari ini. Sampai Mama bertanya kenapa aku memasak begitu banyak. Aku hanya ingin membuat acara makan-makan kecil-kecilan. Aku memberitahu dokter dan perawat yang berada di unit kami yang berada di satu group tapi tak memberitahu Oppa. Anggap saja ini pesta kejutan buatnya.


“Dok, kemarilah sebentar.” Dia menenggok ke arahku dari sheet data pasien yang dipegangnya saat aku mengetuk pintu ruangannya.


“Ada apa?”


“Kemarilah, kita sedang sedikit pesta.” Pagi-pagi disini biasanya belum terlalu sibuk disini.


“Pesta?”

__ADS_1


“Pesta...” Aku berjalan membawanya ke ruangan isturahat, dimana ada pantry kecil untuk unit kami, tempat kami berkumpul atau sekedar duduk.


“Boss kemari boss, Yuna sedang baik hati memasakkan semua ini dan ini enak semua.” Dokter dan perawat yang lain mengambilkannya piring dan sendok sterofoam yang sudah kusiapkan.


“Wooow... Ini Yuna yang membuatnya?” Dia menatap makanan yang  kubawa dalam kontainer plastik besar, aku pastikan cukup untuk semua dari mereka


“Tentu saja. Coba dan bilang apakah enak...” Aku mempersihlakan Oppa makan. Dia terlihat bersemangat mengambil bagian makanannya. Aku senang dia terlihat senang.


“Tak usah ditanya ini enak.”  Gilbert dokter yang lain menanggapi sambil makan. Demikian juga dokter dan perawat yang lain.


“Dokter Yuna, serius ini saya mau belajar masaknya, soon  gorengnya aja , yang lain kayanya susah.” Salah seorang perawat langsung  meminta cara  memasaknya yang  kuberikan langsung ditempat.


“Dok, enak kan?”Aku belum mendengar komentar apapun tapi piringnya sudah setengah kosong.


“Ini enak tentu saja.” Aku tersenyum lebar untuk pujiannya. Aku lolos kursus memasak, aku mencontoh  bagaimana memasaknya dari Youtube memasak orang Korea. Jadi harusnya rasanya tidak berbeda  jauh. “Ini seperti dirumah.” Tiba-tiba  dia tersenyum tapi aku bisa menangkap kesedihannya waktu mengatakannya. Walaupun kemudian dia berusaha mengenyahkannya, aku telah mengingatkannya akan sesuatu. Ini ternyata juga tidak berakhir begitu baik, sebenarnya apa yang diingatnya.


“Tentu saja aku belajar dari kokinya langsung.” Aku tak membiarkannya menghiraukan kesedihannya. Lebih baik mengalihkan perasaan sedihnya. Mungkin dia pindah kesini juga untuk melupakan banyak kenangan di Seoul.


“Karena kau berjanji memberiku A+++.” Dia tertawa. Aku tak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, dia terlihat lebih ganteng saat dia tertawa lepas. Kurasa aku sekarang agak berlebihan soal Oppa ini. Ini sepertinya berbahaya , tapi aku hanya suka memperhatikannya atau ini hanya karena aku sering berada didekatnya.


“Kau memang pantas mendapatkannya.”


“Thanks Dok. Aku akan berusaha lebih keras.” Setidaknya dia  kerasan disini. Apapun yang sedang dia pendam  dalam hatinya. Mungkin sejalan waktu dia bisa membaginya untuk meringankan beban hatinya.


\=\=\=\=\=’’



Kami ada sebuah operasi siang hari ini, rekonstruksi neck lift akibat kecelakaan yang dialami seorang pria, kulit lehernya bergelambir dari pemulihan sebuah kecelakaan yang merusak otot dan kulit luar lehernya, ini operasi rumit dan lama karena ada dua tahap, kami perlu mengambil latissimus dorsi, otot dibawah lengannya untuk memulihkan otot lehernya yang cedera. Dokter lain berkesempatan melihat operasi ini untuk pertama kalinya. Aku tidak akan ikut operasi kali ini, aku harus mengecek beberapa persiapan operasi lain dalam beberapa hari kedepan.

__ADS_1


Jam tujuh, belum ada tanda operasinya selesai. Tapi harusnya sebentar lagi.Aku akan menunggunya sekalian untuk sedikit laporan pada Oppa soal status pasien.


Dia akhirnya masuk ke ruangan saat aku masih membalas telepon pasien yang akan masuk operasi besok. Dari wajahnya terlihat dia lelah.


“Dok pulanglah, besok kau ada konsultasi jam 10 dengan dua orang. Tapi ada satu bertanya padaku tentang butt implant.” (butt implant\= implant b*okong)


“Hmm... Aku tak mau menangani butt implant, mungkin iya dengan brazilian butt implant. Kita lihat besok...” Technically said butt implant adalah solid silicone yang dimasukkan  ke area bo*kong, hasil operasinya sering tidak sesuai dengan yang diinginkan, dan kebanyakan dokter tidak  mau melakukannya. Sedangkan brazilian butt implant adalah prosedure mengambil lemak tubuh dari tempat lain dan menyuntikkannya ke bokong.


“Oke dok. Pulanglah kau terlihat kacau.”


“Iya operasinya lebih lama dari perkiraanku. Ini sudah jam delapan kau belum pulang?”


“Aku baru selesai.”


“Ayo pulang. Ini sudah malam,  lain kali kau bisa melapor dengan email, tak usah menunggu selesai operasi.” Dia mengambil jasnya dan berjalan keluar.


“Dokter sudah  makan?”


“Hmm belum,seharusnya cafetaria masih buka, aku akan mampir sebentar.”


“Aku temani?” Dia melihatku.


“Kau belum makan? Sampai jam segini?” Sekarang dia terdengar seperti orang tua yang perhatian. Entah kenapa aku menyukainya. Aku tak punya kakak, tak punya Ayah, cuma Ibu yang terkadang juga sibuk  dengan pekerjaannya. Ditanya orang yang lebih tua itu jarang, aku kebanyakan mandiri mengurus diriku sendiri. Pacar tidak punya hampir tiga tahun ini, aku mengurus diriku sendiri. Aku sering merasa berhadapan dengan Oppa itu rasanya sama seperti punya kakak kandung, walaupun dia adalah bossku tapi aku tak  pernah merasa perkataannya sebagai boss. Aku merasa dia memperlakukanku sebagai putrinya, atau mungkin pembawaan karakternya yang seperti itu.


“Tadi seorang pasien mengajakku ngobrol di chat, aku lupa waktu...” Iya aku lupa waktu, tapi tak  apa karena sekarang aku bisa menemani Oppa makan.


“Kau ini, perhatikan kesehatanmu sendiri.”


“Maaf...”

__ADS_1


“Kenapa kau minta maaf. Ayo makan.” Dia mengetuk kepalaku. Aku tersenyum dan berjalan duluan keluar dari kantor.Aku menganggap itu tanda perhatian.


------***


__ADS_2