
Mama ada di meja makan ketika aku turun, dia menatapku sambil mengupas buah apel di meja makan. Dia tidak menyiapkan apa-apa, kami memesan makanan tadi, dia sengaja mau mengetes apakah Oppa tahu sopan santun datang bertamu untuk pertama kalinya. Dan Oppa kurasa akan lulus tesnya.
“Oppamu itu berani datang siang ini.”
“Mama sayang, dia akan datang...” Aku tersenyum lebar.
“Kau yakin sekali?”
“Aku yakin Ma, Oppa sopan bukan Ma. Dia berani mengantarkanku walaupun mungkin Mama marah semalam melihatku minum, dia gentleman kan Ma.” Mama diam saja.
“Yuna, pacaran boleh, tapi ingat jangan melewati batasmu. Ingat itu, Mama sudah peringatkan kamu ini gak akan mudah. Oke benar katamu jika dia berani datang lagi kesini itu bagus, tapi selama belum ada kejelasan kau harus menjaga dirimu sendiri... Dia itu duda, beda negara, beda budaya, jangan coba-coba melewati batasmu.”
Aku tersenyum dan memeluk Mama tersayangku. Dia memang mengerti aku dan tak pernah memaksakan sesuatu.
“Iya Ma, Yuna ngerti. Yuna nurut nasehat Mama.”
“Mama ngomong ini buat kebaikanmu, buat kebahagianmu sendiri.” Masih dengan nasihatnya yang biasa kudengar.
“Iya Ma,... Yuna juga sayang Mama. Yuna gak akan bikin Mama kuatir.”
“Anak baik...” Mama akhirnya tersenyum mendengar kata-kataku. Dan membuatku mencium pipinya.
Dan bel pintu akhirnya berbunyi.
__ADS_1
“Itu Oppa Ma,...” Aku langsung berlari ke depan, Mama hanya geleng-geleng menatapku.
Aku tersenyum melihat Oppa. Dia membawa chese cake bluberry, beberapa makanan dari restoran yang Mama senangi, dan sekeranjang buah sesuai jenis yang kuminta. Dan ditambah sebuket mawar dan campuran bunga lainnya berwarna cerah. Astaga dia tak pernah memberikanku bunga.
“Kau tak pernah membelikanku bunga Oppa.” Aku mendelik padanya.
“Nanti-nanti,...”dia meringis mendengar protesku. Semua ini dia benar-benar berusaha ya.
Mama masih acuh duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya. Dia melihatku Oppa datang.
“Selamat siang Nyonya.” Mama bengong melihat semua bawaan kami. Aku membantu membawa kue dan makanan yang Oppa beli.
“Saya minta maaf atas kejadian semalam, dan saya belum datang kesini dan meminta izin. Saya bawa sedikit makanan, mohon diterima.”Dan Oppa membungkuk sambil mengangsurkan buketnya.
“Apa kau yang meminta ini semua Yuna.” Mama bertanya dalam bahasa padaku.
“Tidak Ma, suer ini ide Oppa, dia pagi-pagi nanyanya lengkap Ma, jam sepuluh dia udah ke mall Ma, niat dia, tapi itu bunganya kejutan Ma, aku aja gak tahu. Tukang nyogok nomor wahid kan Ma, aku aja belum pernah dikasih bunga Ma.” Mau gak mau emak nyengir. Sementara Oppa melihat kami bicara tapi gak tahu artinya.
“Well, terima kasih. Duduklah. Yuna keluarin makanannya taro dipiring aja.” Kalo makanannya sudah dikeluarin dan disuruh taro piring berarti Oppa selamet hari ini.
“Ini ada Blueberry chese cake... Kata Yuna Nyonya senang dengan cheese cake ini.” Dia bicara bahasa Inggris yang Mama bisa mengerti.
“Saya suka, terima kasih.” Mama akhirnya bisa tersenyum pada Oppa. Usahanya terbayar juga.
__ADS_1
Mama membiarkan aku mengeluarkan makanan, menaruhnya dipiring dan mencicipinya sebagai tanda dia menerima pemberian Oppa. Bunganya kukeluarkan dan langsung kutaruh di vas. Mama terlihat menyukai bunganya.
“Duduklah Yuna, kita ngobrol disini saja...” Mama memintaku duduk.
Kami ngobrol hal-hal umum awalnya sebelum Mama bertanya tentang keluarga Oppa. Mama bicara Bahasa dan aku menerjemahkannya ke English, sementara Oppa bicara English. Dia akhirnya sampai ke kenapa Oppa mengambil keputusan pindah kesini dan Mama ternyata stop sampai disitu. Dia diam sesaat setelah mendengar cerita Oppa.
“Saya menghargai kamu berani datang kesini dan meminta izin saya, saya pun tak bisa memaksa Yuna harus suka dengan siapa. Tapi kalian masih tahap saling mengenal, jadi jangan pernah melewati batasnya,...” Aku menerjemahkan ke Oppa.
“Maksudnya tidur bersama,...” Aku menjelaskan definisi batasan Mama.
“Ohhh...” Oppa mengerti maksudku. “Saya mengerti permintaan Nyonya. Dan tidak, saya tak akan melewati batasan yang Nyonya maksud.” Walaupun kebanyakan anak muda Korean menganggap s**ex before marriage adalah hal yang lumrah, tapi masih ada banyak bagian yang masih mempertahankan pandangan konservatif juga di Korea.
“Pesan saya cuma itu, kalian yang menjalaninya. Jika kalian berjodoh kalian akan bersama, tapi jika tidak, maka anggaplah itu sebuah babak kehidupan.”
Dengan itu Mama menutup pembicaraan.
__ADS_1