Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 37. Gadis Licik Yang Kucintai 1


__ADS_3

Jangan lupa klik jempol dan hadiahnya ^_^ Makasihhh


-----------------------------


POV Joshua Woo


Aku memang berpikir ini tak akan mudah. Tapi bisa dilakukan, ...aku mungkin bisa punya kehidupan disini. Tapi semua semalam berjalan terlalu kacau, aku merasa dia sangat mendesakku saat itu juga. Saat dia berkata ingin langsung putus, mau tak mau aku terpancing untuk emosi...begitu mudahnya dia berkata putus. Semalam aku membiarkannya pergi karena aku juga tak percaya dalam kali pertama pertengkaran kami dia mengatakan putus...


Aku harusnya membicarakan ini pada Ibu dan Ayah setelah kembali ke Seoul bulan depan. Ibu sedang dalam kondisi tidak terlalu baik saat ini, itu yang membuatku menunda memberitahunya di telepon. Aku ingin mengecek kesehatannya  dulu dan duduk berdua bicara dengan mereka dengan tenang.


Aku perlu waktu untuk pelan-pelan membicarakannya, bukan aku tidak mengindahkan hubungan kami. Tapi dia sudah terlanjur emosi dan marah duluan.

__ADS_1


“Data pasiennya sudah  Doc, dia akan datang dalam setengah jam, ...”


Dia membawa data pasien pertamaku pagi ini. Dan sekarang dia sama sekali tak mau melihatku, dia memanggilku Doc. Matanya di tempat lain dan menolak melihatku. Aku melihat matanya yang sedikit merah tanda dia banyak menangis semalam. Aku memang mungkin salah karena membiarkan yang lain mengetahui  hubungan kami. Dan itu membuatnya berpikir soal banyak hal dan menarik kesimpulan aku tak menganggap hubungan kami serius.


“Kau sudah sarapan...”


“Sudah Doc...” Dia bersiap pergi, aku  berdiri dan menjangkau tangannya.


“Baiklah, aku minta maaf tentang apa yang terjadi semalam.” Dia tetap tak menjawabku. “Aku salah, jika kau ingin kita mengumumkannya sekarang, kita bisa berpegangan tangan mulai hari ini , kau bisa mengakuiku menjadi pacarmu kepada semua orang, aku akan mengiyakannya seperti yang kamu mau, bukan aku tak meu mengakuimu. Aku tak pernah berniat hubungan kita hanya sebagai pengisi kekosongan, jika aku mau begitu aku tak akan bersusah payah menemui Ibumu.”


“Apa aku yang salah?” Akhirnya dia bicara.

__ADS_1


“Tidak, aku yang  salah.” Kau tahu aturan pertama bicara dengan wanita yang sedang marah adalah mengakui kau salah. Jikapun kau merasa kau benar, akui  saja kau salah duluan.Itu kupelajari dengan pengalaman bertengkar bertahun-tahun.“Maafkan aku oke...”


“Oppa,...kau  memang jahat.” Dan dia menangis lagi didepanku. Membuatku merasa bersalah padanya kali ini. Wanita  ini memang jatuh cinta padaku...Dia mengusahakan banyak hal untukku, bagaimana aku bisa melepasnya.


“Jangan menangis. Aku minta maaf...” Kali ini aku memeluknya untuk meminta maaf. “Jangan putus denganku oke, kita bicarakan ini baik-baik.” Isakannya berhenti, mata merahnya bertambah merah, pertengkaran kami pasti membuatnya tak bisa tidur semalaman. “Kita baikan oke...”


“Aku mau ikut ke Seoul.” Kata-katanya berikutnya membuatku terperangah.


“Apa?”


“Kita hanya bisa baikan kalau aku bisa ikut ke Seoul.” Dia berkeras sekarang. Aku padahal ingin bicara berdua saja dengan Ibu dan Ayah dulu. “Apa jawabanmu, jika membawaku saja kau tak mau kita putus sekarang!” Gadis licik ini sangat tahu bagaimana bernegosiasi dengan memaksa.

__ADS_1


“Baiklah-baiklah,...” Mungkin aku bisa menjelaskan dulu kepadanya nanti, jika aku mengatakan tidak bisa sekarang, maka sepanjang hari dia akan menjadikan dirinya sebagai musuhku.


“Mana jadwal penerbanganmu, belikan aku  tiket yang sama sore ini...” Dan dia selalu memastikan aku tak mengingkari janjiku.Tak ada celah negosiasi nampaknya sekarang.


__ADS_2