
POV Yuna
“Sebenarnya bukan minta kau menerimaku, aku ingin kau tetap sebagai teman dekat, tidak membuat jarak. Aku memberi diri kita kesempatan untuk mengenal. Mungkin ini terlihat seperti tidak yakin, tapi kau juga tahu ini tak akan mudah, tapi semua orang yang kukenal menyuruhku menuruti kata hatiku...” Perkataan Oppa membuatku melihat ke arahnya.
Aku bersandar dagu ke sandaran lengan mobil menatapnya dekat. Aku tahu mungkin dia memikirkan suatu saat ingin kembali ke Seoul, apa ada hubungannya dengan teman wanitanya itu.
“Oppa, kenapa kau tidak menerima teman wanita yang tidur bersamamu itu?” Dia diam sebentar sebelum menjawabku.
“Dulu Hye-ri cemburu dengannya. Dia temanku dari kecil, di usia remaja kami kami teman dekat. Mungkin dia baik, dia membantuku melewati banyak hal, tapi aku seperti menghianati kenangan tentang Hye-ri, aku tak bisa melakukan itu. Dia tahu itu...lagipula dia sudah punya yang lain.”
“Jadi begitu ceritanya... Teman, benar-benar teman heh...” Oppa tak berkomentar soal itu. Hmm benar yang dikatakan Kak Erwin, dia menganggapnya teman. Tapi pertemanan mereka sangat ‘dalam’. Sedangkan aku memegang tangannya pun belum pernah. Kenapa ini terdengar menyedihkan.
“Kami teman, dan sampai kapanpun akan tetap begitu.”
“Bagaimana jika dia tiba-tiba mengaku hamil.” Aku memikirkan kemungkinan temannya itu menjebaknya.
__ADS_1
“Aku tahu cara mencegahnya. Tidak itu tidak akan terjadi, jangan berpikir terlalu jauh.”
Kami baikan. Dia memberi kami kesempatan. Rasanya seperti baikan, tapi tetap di tempat yang sama. Sudahlah... Lupakan saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kami baikan seperti semula. Tapi jangan bayangkan kami memulai sesuatu yang baru, pegangan tanganpun belum. Kemarin dia bicara hanya aku menyudahi kesalahpahamanku, Oppa nampaknya sangat berhati-hati memulai ini, ... entah kenapa. Atau memang dia orangnya sesopan itu? Aku binggung.
Di RS-pun dia tetap berlaku seperti biasanya, seperti kami tidak pernah bicara sesuatu yang sedikit romantis, tapi dia bilang dia merindukanku kemarin. Aku tidak mengerti kenapa dia bersikap begitu... Aku kesal, dia pun tidak memulai apapun.
“Oppa!” Aku menghenjakkan diri di kursinya didepannya dengan kesal.
“Maksudmu?” Dia tidak mengerti juga.
“Memegang tanganku pun kau tak pernah!”
“Ohh itu...” Dia tertawa sendiri. Bagian mana yang lucu dari pertanyaanku.
__ADS_1
“Apa yang lucu bagimu?”
“Tidak.”
“Apanya yang tidak,...” Oppa menghela napas dan memandangku dengan tersenyum.
“Ini kantor Yuna, tidak etis kita bermesraan disini, walau kita sudah suami istripun kerja tetaplah tempat kerja. Aku pimpinan, belum setahun berkantor disini, pandangan orang berbeda-beda. Jadi bukan tempatnya kita pegang-pegangan tangan. Jika yang lain tahu kita punya hubungan, dokter lain akan membandingkan perlakuan yang kau terima dengan yang mereka terima.”
“Hmm... “ Aku mengerti alasannya tapi tak bisakah dia berlaku sedikit lebih baik.
“Mungkin kita simpan ini untuk kita berdua dulu oke.”
“Simpan berdua dulu?”
“Iya, ini untuk kebaikanmu juga, mungkin lebih ke alasan aku harus menjaga etika kerjaku. Bisakah kau menerimanya?” Aku menghela napas dan mengangkat bahuku. Ya sudahlah, apa yang dia katakan memang benar.
“Baiklah, tapi kita harus makan berdua hari ini.” Apa yang dia katakan masuk akal.Jika aku pacaran dengan Leo yang seumurku tak ada yang akan mengunjingkannya, tapi Oppa di posisi lebih tinggi akan banyak dibicarakan jika tindakannya macam-macam.”
__ADS_1
“Baiklah. Bertemu di parkiran oke, kau tahu dimana mobilku.”
“Ya sudah.” Dan masalah pun untuk sementara berakhir.