Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 16. Hyo-rim 1


__ADS_3

POV Joshua



“Bagaimana kabarmu?” Aku melihat Hyo-Rim lagi didepanku.


Dia  terlihat cantik, dia membantuku melewati semuanya di Seoul. Aku mungkin berhutang hidupku padanya. Tapi kenyataan bahwa aku tak  bisa menerima dia karena Hyeri tak suka padanya menghancurkannya. Entah bagaimana kurasa jika menerimanya, aku mengkhianati kenangan tentang Hye-ri. Hye-ri tak pernah menyukainya, dia selalu cemburu  dengan Hyo-Rim. Walaupun dia membantuku banyak untuk melewati masa-masa tergelapku, Mamaku bahkan menyarankan aku menerimanya, tetap aku tak bisa memberinya harapan apapun.


“Baik. Lebih baik...”


“Syukurlah.” Dia tersenyum dengan tulus.


“Kenapa kau kesini, aku sudah bilang aku baik-baik saja.” Sekarang dia bahkan menyusulku ke Jakarta dan sekarang ada  didepanku di Lobby rumah sakit.


“Aku ada kerjasama bisnis disini. Aku hanya ingin melihatmu, apa itu salah.” Wanita 35 tahun ini adalah sahabat keluargaku, kami dulunya adalah tetangga, Ibuku dan Ibunya berteman dekat, dia berhasil mengelola  bisnis cakenya, bahkan nama merk toko kuenya sudah ekspansi ke Asia Tenggara.

__ADS_1


“Hyo-rim, kau tahu apa maksudku...” Dia melepaskan pandangan menekuri koridor lobby rumah sakit.


“Aku sudah disini, jangan begitu kejam padaku... Setidaknya ajak aku makan malam. Besok malam? Dan juga Ibumu menitipkan sesuatu padaku...” Aku menatapnya kembali. Dia selalu punya cara untuk memaksaku. Membuat aku tak bisa menolaknya.


“Baiklah, aku akan bertemu denganmu besok malam, jadwalku penuh hari ini...”


“Oke kita makan malam di restoran hotel saja.” Dia bahkan bicara dengan sangat tenang. “Kali ini saja oke. Aku kembali ke Seoul dalam tiga hari.”


“Baiklah.”


Aku masuk ke kantor kembali. Yuna sudah ada disana dengan data pasien.


“Ini data baru Dok, dalam 20 menit.”


“Thanks.” Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


“Aku melihat kau di lobby tadi, keluargamu datang Dok?” Aku memandangnya, dia bertanya tapi menghindari pandanganku.


Assistenku ini sangat perhatian, sampai aku binggung apa orang Indonesia punya manner begini ramah. Awalnya aku sedikit binggung, aku punya dugaan dia menyukaiku, aku tahu  setiap hari kami bertemu, mungkin entah bagaimana dia menjadi terbiasa. Tapi umur kami cukup jauh, dan aku tahu dia mengidolakan beberapa group band muda yang jauh dari tipeku, jadi aku menarik kembali kesimpulanku.


Belakangan aku tahu dia tak punya figur Ayah, aku mengambil kesimpulan, dia menyukai figur Ayah yang tak pernah dia dapatkan. Dia menyukai  pria yang lebih dewasa, dia sering terlibat percakapan dengan dokter-dokter senior Atau bagaimana dia tertarik dengan pengacara senior seperti Erwin. Tapi dia sengaja meminggirkan Leo si dokter tampan yang terang-terangan mengejarnya.


Mungkin dia hanya ingin berterima kasih atas bimbinganku, tapi terkadang aku tak yakin karena dia kadang memandangku dengan tatapan yang aneh, walaupun dia tak mencoba melewati batas apapun. Tapi bagaimanapun dalam enam bulan ini aku sangat berterima kasih padanya, karena berkat dia belakangan semuanya jadi lebih mudah untukku. Entah pekerjaan atau pribadi. Kemampuan komunikasinya yang baik membuat banyak deal terjadi. Aku tak  menyangka bisa sesibuk ini di enam bulan pertama karierku disini.


“Hmm seorang teman yang kukenal dari Seoul...”


“Ohhh,  kupikir salah satu keluargamu.” Aku mengamatinya, tapi dia tak memberikan riak emosi apapun. Dia selalu terlihat bersemangat, berada didekatnya membuatmu ikut bersemangat tapi disisi lain dia punya pemikiran yang kadang kupikir terlalu dewasa untuk umurnya yang baru 25 itu. “Mantanmu? Sengaja melihatmu?” Tiba-tiba dia menjadi penasaran, dia melewati garisnya sekarang.


“Kenapa kau penasaran?”


“Ehh, tidak, maksudku  seseorang yang sengaja melihatmu dari Seoul, bukan keluarga... kurasa dia sangat special?” Dia  mengatakannya tanpa riak emosi apapun.  Kadang aku sangat penasaran apa yang  ada dalam pikirannya.

__ADS_1


“Hmm...” Kurasa aku tak akan bersedia menjawabnya lebih lanjut.


__ADS_2