Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 33. Bertemu Keluarga


__ADS_3

Aku sampai keruanganku. Kulihat Simon duduk di ruang tamu depan cluster ruanganku, dengan sekertarisku. Aku memang membuatnya menunggu, tadi aku sengaja mampir dulu ke bagian lain. Dia berdiri saat melihatku.


“Dr. Vincent, ...” Dia bahkan menyebutkan gelarku. Nampaknya dia kesini benar-benar minta maaf heh!


“Masuklah.” Aku mempersilahkannya masuk keruanganku. “Duduklah.” Aku mempersihlakannya duduk di sofa tamu. “Ada apa kau kesini? Langsung saja  aku tak punya banyak waktu.”


“Aku akan membayar foto itu,  sebutkan  harganya. Yang penting  kau tidak menyebarkannya.” Hmm, seperti dugaanku dia merasa terancam dengan foto itu. Tapi ada hal yang lupa dilakukannya, atau orang seperti dia memang tak peka dengan sopan santun. Aku mendiamkannya.


“Itu saja?” Dia melihatku tak mengerti. Memang benar-benar tak punya kepekaan sosial sama sekali. Dia benar-benar berpikir uangnya bisa menyelesaikan segalanya.


“Apa lagi yang kau mau?!” Belum apa-apa nada balasannya sudah tinggi, aku menghela napas.


“Memang apa masalahmu denganku, kau tetap berpikir kau bisa menyelesaikan semuanya dengan uang?” Dia menatapku sesaat.


“Kau ingin aku  minta  maaf ke Melisa? Baik aku lakukan. Setelah itu aku tak akan menggangunya lagi, atau menganggumu. Aku hanya ingin fotonya tak tersebar. Itu saja...” Akhirnya dia tahu juga apa yang harus dilakukannya.


“Dia tak mau menemuimu lagi. Dia hanya tak ingin kau mengusiknya lagi...”


“Jadi apa yang kau inginkan sekarang, katakan saja.”


“Aku tak mau apapun. Karena kau akan membayarnya sendiri sekarang.”


“Apa maksudmu.” Dia sekarang  menegakkan punggungnya.  Aku cuma tersenyum dan melipat tanganku didepan dada, benar kata orang sepandai-pandainya tupai melompat  akan jatuh juga. Kali ini aku ingin tahu bagaimana kejatuhan playboy ini.


“Salah satu pemegang saham perusahaan ini  adalah keluarga istrimu... Dan tebak mungkin Minggu lalu seseorang yang mengenal dengan baik siapa kau melihatmu juga.”


“Kau bercanda, aku tak  melihat ada nama Gunawan yang lain.” Dia tertawa, tapi sebentar lagi tawanya akan berakhir.


“Memang tak ada nama keluarga Gunawan yang datang, tapi Direktur Executive-nya. Dan tebak  siapa nama komisarisnya. Ayah Mertuamu.” Benar sekali dia  memamerkan pacarnya didepan orang Ayah mertuanya. Sekarang dia pucat dan tak  bisa bicara.


“Tidak mungkin...”


“Hmm... bersiaplah, sekarang keberuntunganmu sudah habis.” Dia terdiam sekarang. Sekarang dia akan terjatuh sendiri.  “Pergilah, aku tak akan memberikan fotomu. Jika kau berani muncul dan menggangu Melisa lagi kau akan tahu akibatnya.”


“Kau yakin ada orang Ayah Mertuaku disana? Siapa ? Apa nama perusahaannya?” Sekarang dia ketakutan dan berupaya mendapatkan info lebih lanjut.


“Kau pikir aku pesuruhmu, cari sendiri informasimu.” Dan aku memilih mengabaikannya. Aku tak mau terlibat urusannya.

__ADS_1


“Aku akan membayar informasimu, berapa yang kau minta...” Orang ini memang menganggap uang bisa menyelesaikan  segalanya. “Ayolah berapa yang kau minta, nama perusahaannya saja, setelah ini aku tak akan mengganggumu lagi.” Sekarang dia memohon membuatku melihatnya dengan sinis. Laki-laki ini termasuk suami takut istri juga rupanya. Kemarin dengan bangga memamerkan pacarnya dan mengatakan istrinya ada dirumah. Rendahan!


Hmm...Baiklah, anggap saja sebagai penganti biaya mendapatkan fotonya. Biarkan dia membayar dengan pantas!


🎈🎈🎈🎈


Aku senang mendapatkan penggantian yang lumayan tadi, selanjutnya aku tak berharap melihat mukanya lagi.Dan hari ini akhirnya, acara makan makan malam hari ini merupakan kejutan untuk Melisa aku tak sabar melihat reaksinya.


“Sayang, ayo pergi...”


“Hmm...sebentar.” Aku sudah duduk menunggunya. Dia masih mengawasi komputernya, ini sudah jam lima padahal, aku berjanji setengah tujuh   kami sudah sampai. Jika dia masih mengawasi komputer begini, bisa setengah jam lagi baru selesAI.


“Selesaikan besok saja.”


“Hmm tunggu..tunggu.” Tiga menit kemudian dia masih belum melihatku.


“Ayolah,...”


“Ini baru  jam lima, biasanya kau jam 7 baru pulang, aku setengah jam lagi, pergilah sana.” Dia malah mengusirku, ini tak bisa dijadikan kejutan ternyata kalau tidak diaakan menyuruhku menunggu lebih lama lagi. Alasan apa yang harus kupakai. Aku beralih ke dekatnya.


“ Ini  makan malam spesial, ayo bawa kerjaanmu ke mobil saja.”


“Kita makan malam dengan Mama dan Papa, Mama  bilang harus datang setengah tujuh.” Baiklah, aku tak bisa memberikannya kejutan. 


“Kenapa kau tak bilang!” Dia langsung berhenti bekerja dan melihatku, sekarang dia malah marah.


“Aku kan  sudah  bilang kita pergi jam lima.”


“Apa susahnya bilang kita mesti kerumah Mamamu. Kau ini benar-benar...”


“Aku hanya ingin jadi kejutan.”


“Aku tidak suka kejutan seperti ini. Kau tidak bisa serius sedikit ya!”Sekarang dia tambah marah-marah padaku.


“Kenapa kau tegang sekali ini hanya bertemu Mama.”


“Bagaimana kau bilang ‘hanya’, dasar Bambang!” Dia berberes cepat-cepat, mungkin Ibu Mertuanya yang lalu punya sifat nyonya besar yang harus dipatuhi para menantunya. Sehingga sekarang dia pikir Mama akan melihatnya dengan pandangan Ibu Mertua judes. “Kau benar-benar menyebalkan. Bukannya ngomong dari  awal tadi.” Dia terlalu cepat berberes sehingga dia menyenggol tasnya yang isinya berhamburan. Kenapa dengan dia... Dia kelihatan  panik sendiri. Aku harus membantunya kemudian.

__ADS_1


“Tidak usah cepat-cepat, terlambat sedikit tidak masalah. Mama tidak akan marah...” Dia  tidak bicara padaku sekarang fokus membereskan mejanya.


“Lain kali jangan beri aku kejutan Bambang. Bagaimana jika aku punya sesuatu yang penting. Kau ini...”


“Iya iya,...” Ini akhirnya jadi kejutan yang kacau. Dia sudah marah-marah duluan dan mulai memanggilku Bambang lagi. Akhirnya dalam lima menit dia selesai, sekarang giliran dia yang  menyuruhku cepat-cepat. Aneh, aku tak terganggu saat dia marah-marah. Biasanya aku tak suka orang memarahiku, aku punya  sisi pemberontakan terhadap otoritas, mungkin karena terbiasa merasa aku biasa mengatur sejak muda, tapi sekarang melihatnya marah-marah malah menjadi  hiburan.


“Katanya takut telat, tapi jalannya kaya siput!” Dia menarikku  jalan secepatnya di tempat parkir, membuatku meringis melihatnya. “Malah senyum-senyum, cepetan  jalannya!”


“Cepetan! Gak ada yang lupa kan?!” Aku baru menutup pintu, sekarang dia sudah mengomel lagi.


“Bu Melisa, bisa tenang dikit.” Aku gemas sekarang.


“Ini salahmu sendiri!” Dia masih merepet. “Siapa suruh tidak bilang kita mau kemana....”


“Mamaku itu orangnya ramah, kamu tenang sedikit. Gak usah tegang begitu.”


“Dasar Bambang.” Dia masih manyun. Aku menjalankan mobil akhirnya, nanti jika dia sudah ngobrol dengan Mama dia juga mengerti betapa ramainya Mama dan betapa Mama sudah menunggu calon menantunya ini sekian lama.


“Rumahnya kemana, nyetirnya cepetan dikit, ntar telat...” Dia masih saja tegang sepanjang jalan, sudahlah biarkan saja.


“Aku gak bawa apa-apa Vin. Kok kamu gak bilang sih, seenggaknya aku kan bisa beli dessert atau apa , kamu tuh kadang nyebelin banget jadi orang.” Dia menantu yang tahu sopan santun, Mama pasti menyukainya. “Vin! Kamu gak denger aku yaa...”


“Aku kan bilang Mama  gak seribet itu. Nanti aku ngomong kalo aku kasih tahu baru sekarang.”


“Kamu emang ribet, pake kejutan segala, aku kan pertama ketemu Mama kamu. Seengaknya bawa sesuatu gitu.”


“Iya iya sorry oke, jangan ngomel lagi. Kita mau ketemu Mama bukannya seneng malah marahan.” Dia diam sekarang. Aku merangkul bahunya sekalian minta maaf. “Sorry, aku akan bilang ke Mama ini salah aku.”


“Hmm ya sudah.” Akhirnya dia melihatku.


“Seneng mau ketemu Mama Mertua?” Dia  mulai bisa tersenyum sekarang.


“Iya seneng. Makasih..." 


"Makasih? Buat apa?" 


"Buat selalu melakukan yang baik buat aku." Karena  aku percayadia wanita yang baik, menjaga keluarganya yang ada padanya dan aku percaya dia akan menanamkan nilai yang baik juga untuk keluarga masa depan kami. 

__ADS_1


Aku tak sabar melihatnya jadi Ibu anak-anakku.


__ADS_2