Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 1 Part 26. Terima Kasih


__ADS_3

"Sayang, ..." Dia memepetku akhirnya ketika kami semua sampai di resort hotel jam 3 dan bisa beristirahat sebentar sebelum harus hadir di acara makan malam penyambutan jam 6.30.


Aku mengerlingnya tapi tak menjawab sapaannya.


Terus saja ke kamarku sambil membawa koperku. Mendorong pintu kamarku dan bergegas masuk, tentu saja dia ikut masuk.


"Kenapa kau disini? Kemarin malam pun kau tak ingat menelepon sekalipun dalam tiga hari, kau mungkin pikir aku tak ada ..." Dia tersenyum kemudian melihatku yang memasang muka jutek.


"Maaf...maaf. Kemarin banyak hal berputar dikepalaku. Aku sempat membalas WAmu bukan."


"Kau membalasku. Ohh ya, kau bilang 'Aku sibuk, nanti kuhubungi balik'..., dan 3x24 jam setelahnya kau tidak muncul bahkan dengan satu kalimat pesan pun. Apa aku salah? Kau pikir aku tak ada? Atau mungkin kau lupa aku ada. Menelepon 5 menitpun kau tak bisa? Kita perlu bicara soal batas pengabaian ini... Bukankah begitu Bambang?" Aku menyilangkan tangan didepan dada tak mau berdamai... Dan aku memanggilnya Bambang kalo sudah kesal.


"Iya aku salah, mengabaikanmu selama tiga hari kumohon maafkan aku. Sekarang aku merindukanmu..." Dia memelukku, berharap pelukannya bisa mendamaikan kami. Tapi bukan begitu caranya berdamai.


"Mulutmu memang manis. Aku tak percaya mulut manis sayangnya, dan tidak ada maaf tanpa kesepakatan.."


"Baiklah , Ibu Melisa apa kesepakatannya." Dia masih tersenyum. "Kau mau sebuah aturan kan, baik kita sepakati aturan..." Dia duduk mendengarkan sekarang.


"Sesibuk apapun, malam kita harus meluangkan waktu bicara sebentar. Itu aturan komunikasi, kau tak bisa mengabaikan pasanganmu. Aku tak pernah bersikap meminta perhatian berlebihan, meneleponmu hanya untuk meminta perhatian, aku juga tahu diri, tapi meninggalkan pasanganmu tanpa kabar tiga hari, kau sangat kelewatan... Aku bukan hanya teman mesramu. Kau harus ingat itu, kita berdua saling terlibat hidup masing-masing." Aku masih menyilangkan tangan didepan dada.


"Baiklah. Saya mengerti Bu Melisa. Noted. Jika melanggar saya bersedia dimarahari. Udah marahannya. Baikan oke." Aku masih menatapnya dengan sebal.


"Dasar Bambang..." Aku membalikkan badan dan menaruh koperku di lemari.


"Aku Bambangmu yang tersayang. Please udahan marahannya. Aku beneran kangen..."

__ADS_1


"Dari kemarin darimana aja kangennya."


"Ditabung dulu biar banyak." Mau tak mau mengulum senyum mendengar jawabannya yang ada-ada saja.


"Gombalanmu Bambang..." Saat aku melihat wajahnya jadi tak bisa menahan senyum lagi. Dia maju ke depanku.


"Iya sorry, aku gak akan ulangi." Sekarang dia serius. Aku melihat matanya. Dan menerima rangkulan dan pelukannya yang kurindukan.


"Aku akan jadi keluargamu, kau tega tak memberi kabar tiga hari, apa kau melupakanku." Masih mencoba menyalahkannya.


"Iya aku salah. Aku tak mengatakan aku benar... Banyak yang aku harus urus kemarin, aku kadang ingat meneleponmu, tapi kurasa aku takut sudah terlalu malam kau ingin istirahat, iya aku salah ..aku tak akan mencari alasan lagi, mungkin kebiasaan karena aku terlalu lama sendiri. Dan aku berpikir kita akan bertemu disini. Jadi aku mengurus semuanya... Aku minta maaf okay." Akhirnya aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan membalas memeluknya.


"Itu sama saja jika kau punya adik dan dia tak pulang tak memberi kabar satu katapun..."


"Hmm...kau benar. But I really...really miss you." Dia menatap mataku dan aku terpaku ke bibirnya.


Dan kali ini dia yang mengambil alih ciuman, menguasai tengkukku. Aku menempel seperti kecanduan padanya dan saat ciumannya menyentuh leherku, sebuah godaan asing menerpaku membuatku tersentak dan bibirku tak sanggup menahan desahanku sendiri.


"Vin ..." Alarm berbahaya menyala di pikiranku, tapi dia adalah candu yang sulit ditolak. Pikiranku bilang tidak tapi tubuhku ketagihan sensasinya dan mataku memejam menikmati sentuhannya.


Tapi ketika bagian lain dari dirinya terasa olehku. Aku tahu aku harus berhenti.


"Vin, ... udah, please." Dia tak menghiraukan perkataanku malah menarikku ke bed dan cumbuannya membuatku terengah. Tubuhku frustasi menginginkan lebih sementara pikiranku logisku mengatakan tidak...


"Kenapa?" Ketika dia menekan lebih dekat untuk mendapatkan lebih aku tahu ini adalah siksaan karena aku juga menginginkannya.

__ADS_1


"Aku gak mau kita kelewatan."


"Kita bukan anak..."


"Aku tahu..." Aku memotong perkataannya dan menghentikannya. "Aku takut aku akan membencimu jika ini tak berhasil. Tapi jika kau menghargai permintaanku, jika ini tak berhasilpun aku masih bisa mengingat bahwa kau sepenuhnya menghargaiku. Dan mungkin kita bisa menjadi teman baik setidaknya..."


"Kenapa kau berpikir kita takkan berhasil." Sekarang aku berhasil mengalihkan perhatiaannya ke pembicaraan kami.


"Aku tak tahu apa suratan takdir. Aku sudah mengalami berkali-kali kekecewaan sebelum ini sehingga kupikir aku lebih baik tak memulai sampai bertemu denganmu. Mungkin naif, tapi jika kau bersedia memulainya dengan benar mungkin jalan kita lebih baik kedepannya. Aku bukan orang suci, aku tentu saja pernah berjalan dengan kekuatanku sendiri, merasa aku akan baik-baik saja dan kemudian merasa gagal, kali ini aku hanya ingin memulainya dengan benar... Semoga Sang Pemilik Takdir membantu kita dengan sebuah keluarga bahagia dengan anak-anak di keluarga kita, dan kita bisa bersama sampai akhir... Jika kau tanya apa aku menginginkanmu... kau tahu pikiranku sudah berjalan terlalu jauh sebelumnya..."


Dia melihat ke mataku. Dan sesaat aku ingin berkata dia adalah sesuatu yang kuimpikan dan memohon padanya untuk mengabulkan permintaanku.


"Aku minta maaf..."


"Kau benar-benar sesuatu ya." Dia mengantinya dengan pelukan dan sebuah ciuman lembut dikeningku. Dan pelukannya membuatku ingin menangis.


"Terima kasih." Terima kasih dia mau mengerti permintaan sederhanaku. Berada di pelukannya seperti ini sudah cukup. Sangat cukup... "Aku takut kehilangan, jika aku kehilangan lagi. Aku tak akan mau mencoba lagi..."


"Kau tak akan kehilangan apapun."


"Kuharap begitu. Aku kadang berpikir ini mimpi dimana aku bisa terbangun kapan saja."


"Biarkan aku menciummu untuk membuktikan ini bukan mimpi." Aku tertawa menemukan bibirnya kembali menyentuhku dan pelukannya yang hangat menguasaiku.


"Kita tidak bisa melewati batasnya... Tapi mungkin aku bisa membantumu sedikit." Mata coklatnya memandangku dengan tertarik.

__ADS_1


"Sayang, kau penuh kejutan... Aku suka kau."


__ADS_2