
“Kau ke Seoul lagi liburan ini?”
“Mama mau ke Seoul, bagaimana kalau kita liburan Ma.” Aku telah menceritakan bagaimana akhirnya kami baikan.
“Ehmm sepertinya tidak, Tante-tantemu mau ngajak jalan-jalan ke Bali, Lombok, Mama baru mau nanya kamu mau ikut apa engga.” Mama berpikir sebelum bertanya lagi. “Apa ada kemungkinan keluarganya tak setuju?”
“Oppa bilang dia hanya ingin memberitahu Mama pelan-pelan karena kesehatannya sedikit tidak bagus sekarang, dia bilang tidak akan ada masalah.”
“Hmm... jika belum bisa bertemu tak usah memaksa sayang. Keputusan berpindah negara adalah hal yang besar, memang harus pelan-pelan mengatakannya. Mungkin kesana, tapi jika keadaan belum memungkinkan jangan memaksa bertemu dengan keluarganya, bawalah beberapa hadiah untuk persiapan...”
“Iya Ma. Aku nanti ngomong begitu ke Oppa...” Aku menuruti nasehat Mama.
__ADS_1
Aku sudah menghubungi keluarga Park bahwa aku berkunjung ke Seoul jauh-jauh hari, aku akan hangout bersama mereka, mereka berkeras aku harus tinggal bersama mereka tiga hari paling tidak, jadi aku akan bersama mereka tiga hari pertama dan tidak akan mengganggu Oppa. Hari ke 4 dan 5 baru aku akan pindah ke hotel, sementara hari ke 6 kami sudah akan kembali lagi ke Jakarta.
Mereka tinggal di Itaewon, tak jauh dari rumah orang tua Oppa yang berada di Hannam.
“Ohh rumah orang tuamu di Hannam?” Itaewon yang crowded tentu saja berbeda, Hannam adalah tempat itu adalah tempat rumah-rumah dan apartment mewah, daerah paling banyak expatriate ,artist dan pengusaha di Seoul, sedangkan Itaewon terkenal dengan rumah-rumah bertumpuk yang crowded yang lebih membumi, walaupun ada juga daerah yang berisi rumah elit.
“Iya,...”
“Wow.” Orang tuanya pasti kaya.
“Hmm itu daerah elite, banyak artis dan expatriate tinggal disana.”
__ADS_1
“Ohh kau tahu Hannam?”
“Dulu aku tinggal di Itaewon, area sebelahnya. Tak asing dengan Hannam, teman-teman disana kadang sering bertemu artist K-pop di café-café lokal disana, kami kadang sengaja duduk dan berjalan memperhatikan mereka-mereka yang memakai topi dan jaket, kadang kami beruntung.” Aku tertawa mengingat bagaimana beberapa tahun lalu kami senang sekali menghabiskan waktu dengan memperhatikan oppa-oppa ganteng.
“Tampaknya sangat menyenangkan...”
“Tiga hari pertama aku akan di rumah keluarga Park, di Itaewon, aku tak akan menganggumu Oppa, nanti aku jalan-jalan sendiri, kau bisa menemuiku kalau kau tak sibuk. Dan aku kira jika Mamamu tidak dalam keadaan baik, tak apa aku tak bertemu dengannya dulu, kau bisa menghabiskan waktumu dengannya.” Aku memperlihatkan rencana perjalananku padanya.
“Kita akan lihat nanti oke, kurasa tak akan ada masalah. Terimakasih kau mau mengerti.”
“Kau tak punya tempat tinggal di Seoul?”
__ADS_1
“Aku punya apartment keluarga di Gangnam, tapi begitu aku pindah, aku telah menyewakannya ke temanku bersama semua isinya. Aku hanya membawa beberapa barang kenangan bersamaku, ada dirumah Ibu.” Ehmm dia akan kembali ke Seoul lagi, apakah dia akan merasa sedih, kenangan tentang anak dan istrinya pasti masih tetap ada.
“Jika bisa, aku ingin mengajakmu ke makam anak dan istriku. Mengenalkanmu pada mereka.” Benar, bagaimanapun mereka adalah bagian tak terlupakan dari hidup Oppa. Dia membawaku kepada salah satu bagian hidupnya yang paling penting, sebuah kenangan yang akan dia tetap ingat seumur hidupnya.