Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2 Part 12. Harapan Mama


__ADS_3

"Dok, aku duduk didepan saja,..." Oppa selesai membalut kakiku mengantarku membuatku merasa dia menjadi sopirku, aku benar-benar tak enak duduk sendiri dibelakang.


"Tak apa."


"Ini tak sopan."


"Aku pernah berlaku lebih tak sopan padamu." Aku diam sekarang. "Dan kau masih kesal sampai sekarang soal itu?" Apa dia sedang meminta maaf soal perkataannya yang sebelumnya.


"Kau tahu bukan itu maksudku, aku bukan marah soal ciumannya, aku juga tahu kau sedang tak sadar saat itu, yang kumaksud adalah aku hanya tak ingin melihatmu mabuk sendiri lagi. Itu perbuatan yang sia-sia..." Dia diam beberapa mendengar perkataanku.


"Sia-sia." Dia menghela napas panjang. "Kau pernah berpikir kenapa mereka diberikan padaku untuk kemudian diambil begitu saja, dan itu adalah mungkin kesalahanku, kenapa itu terasa hidupku lebih sia-sia. Lama aku memikirkan itu dan tak menemukan jawabannya..."


"Hidup seorang manusia bukan milik manusia lain. Bahkan bukan milik kita sendiri. Hidup dan mati sudah ditakdirkan, kita hidup dengan kebaikan masing-masing bertanggung jawab terhadap Pencipta. Kau sudah berusaha menjadi suami dan Ayah yang baik, mereka merasa bahagia bersamamu, kau lulus tugasmu. Hidup mati seseorang bukan kesalahanmu, kecuali kau membunuh mereka. Kecelakaan sudah takdir hidup, yang kau lakukan sekarang adalah  berjalan tanpa penyesalan menjalani hidup yang masih diberikan padamu, mungkin keluargamu yang lain masih memerlukanmu, Ayahmu dan Ibumu. Kau tidak bisa menentang takdir, menyalahkan takdir, atau bahkan menyalahkan dirimu..." Dia diam mendengar kata-kataku.


“Aku tak tahu  orang semuda kau bisa menjawabku seperti itu.”


“Apa aku salah?”


“Hmm...entahlah, hanya  kadang ...” Dia tak melanjutkan kalimatnya.


“Rasanya tak tertahankan.” Dan dia diam tak membantahku. “Sejalan waktu kau akan mulai mengiklaskannya. Tak akan ada siapapun yang akan bilang pengalaman seperti itu mudah.”


“Terima kasih.”


“Terima kasih untuk apa...”


“Membantu menarikku, mungkin sedikit memberikanku sudut pandang yang lain...” Dia melihatku melalui spionnya. 


“Hmm...” Aku tak mengatakan apapun soal itu. “Kau selalu mengatakan aku cerewet. Kau bahkan memarahiku cerewet saat kau mabuk...”


“Tenang saja  kecerewetanmu itu membantu.” Aku tertawa sekarang.


Kami sampai kerumah. Mama  kemungkinan  besar sudah tidur, dia  sudah kuberitahu akan pulang malam. Dia sudah terbiasa dengan jam kerjaku yang kadang bisa pulang pagi atau sangat malam. Tapi lampu ruang tengah masih menyala, biasanya dia duduk disana. Dia belum tidur?


“Yuna? Kau sudah pulang?” Mama ternyata belum tidur.


“Selamat malam.” Oppa menyapa Mama.


“Ehh, kenapa?” Aku berpegangan ke Oppa dengan kaki yang  dibalut, dia membawaku ke sofa ruang tamu. Mama menghampiriku.


“Aku terkilir karena tidak hati-hati. Ini atasanku yang sekarang Dokter Joshua Woo, dia tidak terlalu pandai bahasa.”

__ADS_1


“Ohh selamat malam Dokter Joshua, terima kasih sudah mengantarkan Yuna.”


“It’s okay. Ini salah saya juga tidak memperingatkannya”


“Dok, terima kasih sudah mengantar. Dokter bisa langsung pulang saja.” Aku tak ingin menahannya terlalu lama, bagaimanapun sudah malam.


“Baiklah. Selamat malam Bu saya kembali.”


“Biar saya antar.” Mama  yang mengantarnya. Sementara aku berusaha berjalan ke kamarku sendiri .


“Aduh kamu tuh jalan bukan hati-hati. Yun, itu boss kamu yang sekarang?” Mama datang ke kamarku setelah mengantar Oppa.


“Iya Ma.”


“Kok bisa pergi gathering sama kamu. Istrinya kemana?”


“Ohhh itu Dokter Joshua itu duda Ma, istrinya dan  anaknya meninggal kecelakaan pas di Korea. Kasian deh Ma. Baru pindah sekitar tiga bulanan ini, tapi pasiennya udah banyak. Aku ditunjuk jadi assisten dia karena dia fluentnya Korea ama English, bisa belajar banyak Ma gak pelit ilmu, tadi ke gathering pasien kita juga , pasiennya ngajakin sekalian ada temen-temennya mau konsul ...”  Mama menatapku sebentar.


“Umur berapa?”


“Hmm 40 pas. Masih ganteng ya Ma...” Aku tersenyum memikirkannya, gak ganteng kaya Leo, kalo dijejerin mungkin pasti lebih setengah bilang Leo lebih ganteng, tapi dia terlihat dandy, dan pasti sayang keluarga.


“Gantengan Leo...” Mama nyeletuk.


“Bisa kaki kamu? Itu dibalut? Bisa jalan sendiri”


“Nanti aku pake plastik  aja. Bisa Ma pelan-pelan, ini udah dibenerin posisinya ama Oppa, gak begitu sakit lagi.”


“Kamu manggil boss kamu Oppa?” Mama langsung heran.


“Ohh engga, ... suka kelepasan. Aku manggilnya Dokter tetep, mana berani Ma...”


“Oooo... Ya sudah, Mama tinggal dulu. Kamu ada yang  mau dibantu lagi. Perlu mama ambilkan obat?”


“Engga Ma.”


“Oke. Kamu besok libur kan.”


“Iya Ma.”


Mama pergi kemudian. Entah apa dia menyadari sesuatu dengan kedatangan Oppa kesini.

__ADS_1



Mama menjalankan toko bangunan, dulu Kakek juga buka toko bangunan. Minggu begini adalah satu-satunya jadwal liburnya selain hari raya, jadi biasanya dia pasti dirumah. Aku mengaguminya tentu saja, dia bisa masuk ke bidang yang rata-rata dikuasai oleh laki-laki. Tapi awal perjalanannya tak semulus ini, pertama merintis dia jatuh bangun, kadang ditipu, kadang orderannya sulit, aku tahu malam-malam dia melihat pembukuannya sendiri dan tak bisa tidur. Tapi dia tetap berusaha disana, sampai sekarang dia sudah punya dua toko.


Tapi anehnya dia tak ingin aku menjalankan usahanya, dia bilang ini bukan bidang buat perempuan. Persaingannya ketat, banyak hal yang sulit, aku tak tahu maksudnya dia tak pernah cerita, dan yang aku  bisa lakukan adalah tak membuatnya mengkhawatirkanku. Malah seorang sepupu laki-lakiku yang sekarang ikut dia. Tapi aku menurut, aku ingin jadi dokter dan dia bilang dia akan berusaha mewujudkannya.


“Yun, Mama udah masak. Makan yuk...” Kadang hari Minggu dia menyempatkan masak sendiri.


“Iya Ma.” Ini kesempatan kami  ngobrol panjang biasanya.


“Leo  kok gak pernah datang lagi Yun?”


“Leo? Hmm ngapain dia  dateng.”


“Bukannya kayanya dia  suka kamu ya...” Aku mengangkat bahu.


“Yahh, Yuna gak ada feeling apa-apa sama dia. Temen aja Ma...” Aku bicara terus terang ke Mama.


“Iyakah, padahal Mama liat anaknya baik.” Kenapa Mama tiba-tiba bicara soal Leo.


“Gak  kita temen doang Ma.”


“Bukannya seumur itu lebih nyambung daripada yang jauh umurnya?” Tiba-tiba Mama bicara yang membuatku melihatnya,  apa dia tahu aku suka Oppa.


“Maksudnya Ma?”


“Kamu sangat berusaha menyenangkan dokter Joshua, bahkan masak-masak kemarin buat dia kan? Kamu dengan senang hati berdandan buat dia, kamu muji dia depan Mama, kamu suka sama boss  kamu kan. ” Mama membuatku gak bisa bicara. Aku  begitu jelas terbaca di depan Mama.


“Beda umur kalian jauh, beda pemikiran, belum lagi beda kebiasaan, beda budaya, beda negara.” Belum apa-apa Mama sudah bicara sangat jauh.


“Ma,... “ Aku ingin mengatakan aku gak suka Leo, bagaimana mungkin memaksa menyukai yang tidak kita suka.


“Mama tahu suka sama siapa gak bisa dipaksa. Tapi coba pikirin kata-kata Mama soal Dokter Joshua. Mama gak mau kamu ikut dia balik ke Korea. Mama cuma punya kamu disini... Dia mungkin cuma kesini buat ngelupain trauma kehilangannya, dia akan kembali ke Korea, kamu ngapain ngarepin dia, terlalu sulit, kalian beda umur jauh, dia  gak mungkin menganggap kamu serius, pikiran dia dan kamu itu beda, kenapa kamu suka sama sesuatu yang bakal menyulitkan seperti itu. Coba kamu pikirkan itu, jangan sampai kamu berharap yang ke gak pasti." Salah satu kekhawatiran Mama paling besar adalah aku akan meninggalkannya jika aku bersama dengan Dokter Joshua.


"Aku gak akan meninggalkan Mama." Aku bicara dengan memegang tangan Mama. "Jika dia memang ingin kembali ke Korea, aku gak akan sama dia... Itu janji aku ke Mama."


"Mama cuma takut kamu akan patah hati..."


"Aku tahu Mama selalu mikirin aku. Aku kalo patah hatipun gak kenapa-kenapa Ma, ada yang namanya move on. Tenang aja...." Sekarang Mama tertawa.


Akhirnya aku lega dia tak menentang sepenuhnya. Dia hanya takut aku akan meninggalkannya.

__ADS_1


❤❤


Next part jam 8 malam ya


__ADS_2