Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 44. Korea 3


__ADS_3

Hari terakhir aku bebas, pagi-pagi aku  sudah bangun, aku  tak mau sarapan di hotel, aku  ke pasar Gwanjang ( Gwanjang Sijang) berburu makanan Korea, merasakan berbaur lagi dengan orang-orang lokal, aku menginap di sebuah hotel di Itaewon dan cuma perlu menempuh dua puluh menit perjalanan via halte bis  nomor 110 di dekat hotel.



Ini adalah pasar terbesar di Korea, Seperti umumnya pasar, pasar ini menjual semuanya dari pasar sayur dan buah, daging dan ikan sampai produk tektile dan turunan, hingga kerajinan tangan sampai ke makanan , dengan lebih dari 5.000 toko dan 20.000 karyawan yang bekerja disini.



Dan terutama aku ingin makan disini, duduk di stal street food, duduk makan mayak kimbab (kimbab tapi langsing dan lebih banyak sayuran, secara harfiah artinya kimbab narkotik karena katanya yang paling dicari dan menyebabkan ketagihan) dengan tteokbokki, fish cake yang mengebul panas , bindaetteok (pancake kacang hijau), gohyang kalkusu Yoon Sooncho  yang adalah hand cutting noodle dan dumplingnya yang harus mengantri jika duduk disana. Banyak stal seafood juga disini tapi tak mungkin makan seafood sendiri, jadi aku hanya mencari makanan-makanan yang membuatku kembali kesini.



mayak kimbab



bindaetteok


_______


Ada banyak turis disini, tak usah takut kau akan menjadi orang asing. Oppa hanya mengingatkanku hati-hati ketika dia tahu aku di Gwanjang market.


Aku pulang jam hampir jam 11. Seorang bibi tampak kesulitan dengan belanjaannya. Dia membawa banyak buah dan satu lagi kurasa kotak makanan. Dia nampaknya mencari seseorang,dia tak melihat jalan dan seseorang yang nampaknya terburu-buru menabraknya. Buah pear yang  dia beli berserakan.


“Aigooo...” Dan teriakan  khas pun sama-sama kami teriakkan.

__ADS_1


“Bibi maaf aku buru-buru, ...” Pemuda itu berteriak meminta maaf. Dan aku segera membantu mengumpulkan buahnya yang berserakan itu.


“Anak muda sekarang selalu buru-buru entah apa yang mereka kejar.”


“Ini Bibi, biarkan aku membantumu. Kau terluka...”


“Tidak, terima kasih...”Dia memperhatikanku, dan accentku yang aneh. “Kau turis ya?”


“Iya Bibi,...”


“Bahasa Koreamu kelihatannya fasih.”


“Saya pernah homestay, saya senang menonton drama Korea.”


“Terimakasih  pujiannya Bibi.” Seorang datang tergoboh-goboh menghampiri Bibi itu.


“Nyonya maafkan saya,  toko obat yang biasa kita beli kehabisan, aku mencarinya agak jauh.”Sepertinya pelayan yang pergi bersamanya.


“Baiklah, terima kasih. Ahh ini ada gimbab untukmu...” Dia mengeluarkan salah satu bungkusan di kantongnya.


“Tak usah Bibi, aku sudah beli, ...” Aku memperlihatkan bungkusan makananku. Dia ramah sekali. “Hati-hati Bibi, ...” Dan aku melambai padanya, mengejar bisku di halte, sudah tengah hari, aku . keasikan berkeliling, Oppa akan datang jam 2 dia bilang untuk mengajakku ke makam istrinya.


Aku bersiap dengan cepat, tak lama Oppa sampai  di lobby dan aku langsung turun ke bawah menemuinya. Sudah empat hari aku tak melihatnya. Aku merindukannya.


“Oppa...” Dia memakai baju kaos polo abu-abu dan celana hitam.  Dia tersenyum begitu melihatku.

__ADS_1


“Kau sudah makan siang?”


“Aku masih kenyang aku makan banyak di Gwangjang, masih ada makanan juga di atas.”


“Baiklah ayo kita  jalan.” Kami   turun ke parkiran lobby hotel, ternyata mobilnya sama Hyundai Palisade, seperti mobil yang dia beli di Jakarta. Nampaknya  ini semacam kecintaan terhadap produksi lokal.


“Sepertinya senang sekali. Sudah puas jalan-jalan?” Dia merangkul dan mencium keningku.


“Belum, besok sudah harus pulang lagi.” Dia tersenyum mendengarnya.


“Akhir tahun kita kembali lagi,...” Merayakan tahun baru disini. “Mungkin membawa Ibumu juga kesini merayakan bersama kita disini.”


“Bolehkah?”


“Tentu saja.”


“Ohh ya, aku sebenarnya telah bertanya kepada pengacara kantor, aku tidak melepas kewarganegaraan, karena  syarat pengajuan kewarganegaraan adalah minimal lima tahun di Indonesia terus  menerus harus di Indonesia atau sepuluh tahun tidak berturut-turut. Jadi kau akan menikah dengan warga negara asing untuk sementara.”


“Ohh begitu...” Aku tidak tahu, tapi ternyata Oppa sudah bertanya ke banyak orang.


“Dokter Vincent bilang  dia kenal salah satu kantor pengacara yang mempunyai layanan  untuk  konsultasi pengurusan dokumen ini, nanti  ada perjanjian pranikah juga yang harus ditandatangani, nanti kita konsultasi ke mereka.”


“Baiklah, apa Ibumu benar-benar tak  keberatan Oppa.”


“Tidak, dia lebih keberatan aku bersedih terus, sebenarnya saat aku ke Jakarta dia juga khawatir aku melakukan hal-hal buruk, tapi sekarang dia nampaknya lega aku  menemukan seseorang dan bisa punya keluarga kembali.”

__ADS_1


__ADS_2