Jalan Cinta Sang Dokter

Jalan Cinta Sang Dokter
SEASON 2. Part 2. Pasien Pertama


__ADS_3

“Yun,...” Seseorang memanggilku , ternyata Leo, mau apa playboy ini. Dia punya kebiasaan mengibaskan poninya ke belakang yang aku benci. Seakan  bilang gue keren. Emang dia ganteng seperti kata Wenny, tapi gue gak tertarik sama kegantengannya. Dia sebenarnya satu alumni, lebih atas satu tahun dari aku, dia di akhir internship, sudah mendapatkan STR ( Surat Tanda Registrasi) dan SIP ( Surat Izin Praktek) sendiri. Kudengar dia sudah mendapatkan tawaran bekerja secara penuh disini.



Muka gantengnya itu sangat menolong buat mendapatkan  posisi kurasa. Pasien cewenya yang sakit  jadi sembuh sendiri karena adrenalin rush gara-gara muka gantengnya atau jika dia mengambil bidang spesialis Obstetri dan Ginekologi, emak-emak muda akan sangat senang bikin janji check up berkala.


“Apa?” Aku menjawabnya singkat sambil memeriksa janji pasien yang kudapatkan dari perawat yang bertugas. Hari ini pertama kami menerima pasien, ada lima orang yang sudah  membuat janji, ternyata iklan yang sudah dipasang itu mendapatkan hasil positive. Lima orang itu banyak lhoo untuk hari pertama bidang seperti ini.


“Sibuk banget belakangan?”


“Hmm, ada boss baru. Jadi kerjanya lebih rajin. Boss oppa ganteng...” Aku pamer padanya soal Oppa Jin Hee.


“Itu mah Om-om tua udah punya istri.”


“Sok teu.”


“Mau nonton gak besok?” Dia ngajak nonton. Lagi PDKT ama aku toh? Kok bisa, selama ini kita temen ya temen aja. Paling say hi dan  pernah  makan semeja sama-sama intern yang lain. Gak pernah ada tanda-tanda dia tertarik sama aku. Kok tiba-tiba ngajakin keluar berdua. Yang ngantriin dia banyak padahal.


“Sorry Leo, gue banyak kerjaan belakangan... Gue ke ruangan dokter dulu ya.” Aku langsung menghindarinya.


“Ya kan ada film Marvel baru Yun.”

__ADS_1


“Enggak, lagi banyak kerjaan. Kamu ajak aja yang lain. Bye dulu Leo.” Aku tersenyum padanya, melambai dan melangkah pergi menuju ruangan dokter Joshua.



Seminggu bersama dokter Joshua sangat menyenangkan sebenarnya. Dia dokter yang sabar, bicaranya teratur, tak pelit membagi ilmunya, cara kerjanya sangat terstruktur. Dan dia tak keberatan aku banyak bertanya padanya. Kecerewetanku tak dianggap sebagai gangguan olehnya. Ada beberapa dokter senior menggangap pertanyaan yang terlalu sering adalah gangguan.  Tapi dia sangat baik.Jadi aku akan berupaya membantuku sebisa mungkin.  Ini adalah temu pasien pertama kami  sebenarnya aku sangat bersemangat. Aku sudah menyiapkan ruangan, beberapa form standard  yang dia minta aku buat untuk data pasien.


Walaupun dia ramah kutemukan dia tidak membicarakan masalah pribadi. Aku tahu diri, aku tak berani  memulai bertanya macam-macam. Kesempatan bisa jadi assistennya saja sudah menjadi kesempatan yang merupakan keberuntungan.


“Annyeong hasimnikka.” Aku membuat sapaan secara formal ketika  dia masuk.


“Kenapa kau sopan sekali hari ini.” Dia langsung mengomentari sapaanku. Aku langsung tertawa.


“Dokter aku sedang bersemangat untuk pasien pertama kita. Rasanya seperti aku yang praktek sendiri.” Dia  yang sekarang tersenyum. Beberapa hari ini dia juga sudah mengetahui  cara menyapa dalam Bahasa Indonesia sedikit dariku. Jadi kami sudah siap untuk pasien pertama. Dia meneliti data lima pasien kami, yang sudah ada catatannya dalam map pasien. Aku sudah membaca duluan.


“Baik Dok.” Aku keluar untuk menyambut pasien pertama kami. Aku sendiri yang keluar Dokter Joshua ingin menjadikanku semacam penghubung kedua.


“Selamat siang Dok,..” Seorang wanita  berusia 43, bernama Leni masuk dan memberi salam pada dokter Joshua. Wanita dengan penampilan mahal. Yang kumaksud mahal adalah kau bisa melihat merk di tasnya, rambut yang tertata dan berwarna, kulit yang mulus dan baju yang rapi dengan gaya terkini.


“Selamat siang Ibu Leni. Saya dokter Joshua Woo, saya masih belajar bahasa Indonesia. Apa Anda bisa Inggris? Jika tidak assisten saya dokter Yuna akan menerjemahkan...”


“Ohhh, baiklah. Saya tidak terlalu fluent, jadi saya minta diterjemahkan.”

__ADS_1


“Baik Bu Leni, saya dokter Lena, saya akan  bantu...”


“Ahh baik, kita mulai dengan keluhan Ibu.” Dokter Joshua mulai dengan mendengarkan pasiennya. Dia bicara bahasa inggris sementara aku akan menerjemahkan apa yang dikatakannya ke Oppa  JinHee dalam English atau Korea.


“Ahh saya  punya breast implant, sekitar 15 tahun yang lalu, dan sekarang rasanya tubuh saya tidak baik lagi, saya merasa seperti punya dua dada dengan tinggi berbeda dan bentuknya membuat saya tidak percaya diri. Punggung saya sakit, saya punya diare bahkan setiap pagi, kepala pusing, saya bertanya pada dokter pribadi saya, menjalani banyak macam tes, saya sekarang bertanya apa ada hubungannya dengan  implan saya, tapi dokter saya bilang tidak karena mereka tidak menemukan yang salah dengan hasil tes mereka. Jadi saya kesini untuk mendengar pendapat kedua dokter, saya melihat iklan di website rumah sakit tentang dokter. Dan mungkin saya berpikir saya tidak memerlukan implan ini lagi jika benar ini membuat saya merasa  selalu sakit atau saya ingin memperbaiki bentuknya...” Dia tidak yakin apa yang dia harapkan itu  bisa dipahami.


“Saya ingin memeriksa implan Anda... Sihlakan ke sana. Dokter Yuna akan membantu.”


Jadi sekarang aku bisa melihat sendiri kasus ini sekarang. Saat dia membuka penutup dadanya. Impant yang dipakainya seperti membentuk kuping snoppy. Jadi implantnya seperti menggantung diatas, dan dadanya yang turun membuat landaian sendiri kebawah. Dokter Joshua menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. Bertanya berapa cc impan yang dia pakai. Bagaimana dia bisa memperbaikinya, prosedur yang akan dia gunakan, dalam bahasa Korea yang lebih dia kuasai, sementara aku menerjemahkan.


“Apa sakit  yang saya rasakan benar karena implant saya.”


“Iya, banyak kasus setelah bertahun-tahun seseorang menerima implant maka tubuh  punya gejala seperti itu. Memang pengetesan tidak menemukan apa-apa, para dokter tadinya menolak dengan menghubungkan implant dengan keluhan ini. Tapi setelah penelitian lebih lanjut, dan banyak kasus pasien yang menderita gejala ini pulih setelah impant mereka dikeluarkan, maka sekarang mulai diakui. Satu-satunya  cara adalah mengeluarkan implannya dan saya akan berupaya memperbaiki apa yang bisa saya perbaiki untuk mengembalikan bentuk semula...” dia menjelaskan expektasi terbaik dan terburuk yang pasien bisa dapat. Dalam kasus seperti ini hasil setiap pasien tidaklah sama. Pada dasarnya kami akan membuang banyak kulit kendur semacam melipatnya kembali  ke arah atas dan membuat bentuk dadanya kembali lebih baik.


Pasien itu mengangguk dengan puas mendengar penjelasan Dokter Joshua.


“Saya berpikir saya tidak memerlukan implant ini lagi Dok. Saya bersedia menghilangkannya. Sekarang saya lebih mengejar kesehatan.” DoktorJoshua mengangguk, bahkan memberikan  semacam konsultasi psikologi kecil untuk pasiennya. Ternyata tarif konsultasi mahalnya memang sebanding dengan apa yang dia berikan. Kemudian bahkan  kami langsung menyetujui bahwa dia akan mengambil operasi ini disini. Keren Oppa bisa menutup konsultasi dengan jadwal pertama operasi kami. Ternyata walau kami punya sedikit hambatan bahasa, dengan penjelasan lugasnya dia bisa langsung mendapatkan kepercayaan.


“Dok,keren!” Aku mengacungkan jempolku ke  atas memujinya soal keberhasilannya mendapatkan jadwal operasi pertama. Dia mengerutkan kening  karena tak tahu artinya sebelum aku menjelaskanya kemudian


“Belum keren,aku punya target unit sendiri secepatnya, kau masih harus bekerja keras!Bersemangat, pasien selanjutnya!”

__ADS_1


“Siap Dok!” Bekerja dengan dokter Joshua ternyata memang membuat semangat.


__ADS_2